The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 31 Soulmate or Soulmath



Suasana semakin menegang, aku masih memikirkan bagaimana caranya supaya aku bisa meningkatkan nilai dalam ujian matematikaku esok. Aku harus berbuat apa. Aku ingin pergi berkencan, tapi mengapa rasanya sesulit ini. Cobaan selalu datang bertubi-tubi menghalangi semua keinginanku, aku lelah jika harus seperti memaksakan segala sesuatu di luar kendaliku.


“ Aku yang akan mengajarimu belajar matematika dan aku juga yang akan membantumu pergi berkencan dengan Juno.” ucap seseorang itu dengan suara yang serak basah namun sedikit khas di telinga yang membuatku beserta kedua sahabatku tercengang kaget.


“ Ji Hoon, apa kau yakin?” sidikku yang terkejut ternyata pria itu adalah Ji Hoon, teman satu grup Juno yang dikenal sebagai sosok yang ringan tangan.


“ Mengapa tidak? Apapun akan kulakukan untukmu, Alana.” tambahnya dengan senyum yang terpampang jelas di bibirnya. Aku bahagia mendengar salah satu tutor yang akan mengajariku matematika. Kali ini hutang budiku semakin banyak pada Ji Hoon, semua masalah ia selalu datang membantuku, ia seperti sosok malaikat pelindung bagiku.


“ Apakah kami boleh ikut bergabung juga? Apa belajar matematika ini hanya untuk Alana saja, Ji Hoon?” tanya Yui dengan nada yang sedikit cetus.


“ Tentu kalian bisa bergabung, belajar bersama lebih menyenangkan, bukan?” jawab Ji Hoon dengan tertawa kecil menanggapi sindiran halus milik Yui.


“ Ya!!!” teriak Yui dan Mia secara bersamaan hingga membuat pengunjung perpustakaan mulai menatap sinis mendengar suara bising yang sedari tadi datang di kelompok kami.


 


Hari itu di sepanjang waktu istirahat kami menghabiskan waktu untuk belajar bersama di perpustakaan bahkan hingga senja menjelang aku masih bersama Ji Hoon di ruang kelas tuk memecahkan beberapa soal matematika yang sulit, karena esok adalah hari dimana ujian matematika berlangsung maka dari itu aku harus bisa mengejar segala ketertinggalanku. Aku harus mencapai peringkat 15 besar semester ini, semua ini bukan hanya untuk Juno tetapi untuk diriku sendiri.


 


“ Apa kau lelah?” tanya Ji Hoon dengan penuh nada perhatian melihatku yang mulai pusing dengan semua soal yang ada di hadapanku. Aku hanya mengangguk mengiyakan sembari menyangga kepalaku, benar sekali hari ini kepalaku rasanya sedikit terasa berat seakan ingin meledak. Rasanya ingin sekali aku menyerah dengan semua soal ini, tapi apalah daya nasibku tergantung pada ujian kali ini. Jika nilaiku tidak meningkat, aku tidak bisa ikut tes perguruan tinggi, aku tidak bisa berkencan dengan Juno dan juga aku tak bisa bersama Juno lagi. Sungguh aku mendapat kesialan yang bertubi-tubi, mengapa sangat susah menjadi sosok Alana yang dicintai kekasihnya.


“ Jika kau lelah, istirahatlah jangan kau paksakan, tidak baik bagi kesehatanmu juga, Alana.” nasihat Ji Hoon dengan menatap wajahku yang kini tengah tertunduk lesu di atas meja dengan buku yang berserakan.


“ Tapi, aku belum paham materi ini, Ji Hoon. Bisakah kau menjelaskan sedikit lagi? Aku mohon.” pintaku pada Ji Hoon dengan menggigit bibirku.


“ Disini kau harus hapal dulu sudut sin cos tan-nya, baru kau bisa memahami isi soalnya. Jadi,


Sin 0° \= 0, Sin 30° \= ½, Sin 45°\= ½√ 2, Sin 60°\= ½ √3, dan Sin 90° \= 1


Cos 0° \= 1, Cos 30 \= ½√3, Cos 45° \= ½√2, Cos 60° \= ½ dan Cos 90° \= 0


Tan 0° \= 0, Tan 30° \= 1/3√3, Tan 45°\= 1, Tan 60° \= √3, dan Tan 90° \= -. Seperti itu kau coba ingat rumus dasar ini pasti nanti kau bisa menyelesaikan soal yang kau tanyakan barusan.” Jelas Ji Hoon dengan nada lembutnya menjelaskan rumus mengerikan itu padaku.


“ Ini sudah rumus, kan ? hasilnya tak bisa di ganggu gugat?” tanyaku dengan menunjuk heran pada rumus yang tengah ditulis oleh Ji Hoon pada selembar kertas di buku catatanku.


“ Ya, ini mutlak dan pasti.” jawabnya dengan tersenyum lebar menunjukan giginya.


Aku mulai mengangguk mengiyakan.


“ Lalu Ji Hoon, mengapa di tangen 90 ini bertuliskan tanda - ?” tanyaku yang mulai agak sedikit heran.


Aku mulai tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon receh milik Ji Hoon.


“ Kau ini Ji Hoon, bisa saja. Lihatlah, aku jadi malu.” ucapku dengan menyenggol lengannya. Ji Hoon hanya mulai tertawa menatapku yang mulai memerah bagai tomat karena malu.


“ Nah, kau perhatikan soal selanjutnya, ini membahas tentang median. Apa kau tahu apa itu median, Alana?” tanya Ji Hoon yang mulai menunjuk soal selanjutnya pada sebuah buku pelajaran matematika.


Aku mulai menggelengkan kepalaku, sepertinya kepalaku mulai mendidih karena pelajaran matematika ini, benar kata orang matematika itu makin tekun makin tidak karuan. Ji Hoon hanya tersenyum menatap wajah polosku.


“ Baiklah, baiklah akan aku jelaskan.” jawab Ji Hoon dengan membuka buku catatannya.


“ Ji Hoon, apa kau tidak marah jika aku tidak tahu semua hal yang kau tanyakan?” tanyaku yang mulai menyidik perasaan dalam hati Ji Hoon.


“ Tidak.” jawabnya sembari menggelengkan kepalanya.


“ Apa kau juga tidak kesal ketika aku sangat sulit tuk diajari?” tanyaku lagi untuk memastikan bahwa ia benar-benar tidak kesal mengajari otakku yang masih keras sekeras batu.


“ Tidak juga, mengapa kau bertanya demikian, Alana? Ada apa? Apa kau tak nyaman dengan metode belajar seperti ini?” sidik Ji Hoon yang mulai penasaran dengan semua hal yang kutanyakan dengan tiba-tiba.


“ Tidak, bukan begitu, Ji Hoon hanya saja kemarin ketika Juno mengajariku Bahasa Inggris ia memarahiku karena aku tak bisa mengikuti penjelasannya dan ia juga kesal karena aku tak tahu semua pelajaran, hingga ia mengulangi semua pelajaran yang ada.” ucapku yang mulai tertunduk lesu tanpa gairah untuk belajar Ketika aku mengingat momen dimana Juno mulai mengejekku karena kapasitas otakku yang tak selevel dengan otak dewanya.


“ Aku takut jika kau juga seperti itu. Kau diam-diam risih dan kesal dalam mengajariku.” tambahku dengan menenggelamkan kepalaku menatap sepasang sepatu yang terpasang di kedua kakiku.


Ji Hoon hanya tersenyum menatapku dan sesekali ia juga menghela napas panjangnya.


“ Ah sudahlah, jangan khawatir aku akan mengajarimu hingga kau benar-benar mahir, Alana. Kau tak perlu takut, aku takkan memarahi apalagi mencelamu. Kita akan belajar bersama-sama ya.” jawabnya yang membuat hatiku semakin tenang. Kepalaku mulai terangkat dengan penuh rasa semangat sepertinya gairahku mulai bangkit karena Ji Hoon tak marah padaku. Sikap Ji Hoon memang berbeda dengan Juno, ia lebih lembut dan perhatian. Tidak seperti Juno yang keras dan cueknya tidak tahu diri,


“ Benarkah itu, Ji Hoon?”


“ Iya, Alana. Ya sudahlah mari kita selesaikan sekarang juga sebelum hari semakin gelap dan kau juga harus segera pulang dan istirahat, bukan?” kata Ji Hoon dengan suara yang lembut dan penuh perhatian. Aku hanya mengangguk mengiyakan sembari menyungging senyuman sebagai balasan untuknya.


“ Baik, pak guru.”


“ Kau ini, Alana.” jawabnya dengan tersenyum manis menatapku sembari ia melempar kertas kotor padaku.


Lagi-lagi bisa kulihat senyuman indah milik Ji Hoon yang melengkung manis di bibirnya setelah sekian lama aku tak menghabiskan waktu bersamanya, mungkin karena aku terlalu sibuk dengan urusan percintaanku dengan Juno hingga aku melupakan sosok malaikat penjagaku yang selama ini selalu membantuku di kala susah dan sedih.


Entah mengapa, aku lebih merasa tenang jika Ji Hoon berada di sisiku. Auranya sangat mengayomi dan tenang berbeda dengan Juno, Juno memang membuat hatiku senang tetapi tidak seperti apa yang Ji Hoon lakukan. Aku benar-benar kagum terhadap dua sosok insan yang rupawan ini.