
Di bawah langit yang mulai gelap, gemintang mulai menghiasi langit malam menemani sang rembulan, aku berjalan menyusuri dinginnya malam bersama Ji Hoon dengan menggiring sepeda melewati kota, kami benar-benar menikmati tiap menit dan detik bersama.
“ Sudah lama sekali kita tak berjalan bersama seperti ini ya, Alana? Rasanya sangat menyenangkan bisa menghabiskan waktuku bersamamu lagi.” ucap Ji Hoon yang menghela napasnya sembari menikmati dinginnya angin malam yang menghembus syahdu. Aku hanya tersenyum menatap wajah sampingnya, memang benar semenjak aku berhubungan dengan Juno, aku jarang sekali berbicara dan pulang bersama dengan Ji Hoon, jangankan itu akupun juga jarang menyapa Ji Hoon Ketika di sekolah, aku terlalu sibuk dengan urusan percintaanku dengan Juno hingga melupakan siapapun yang selalu ada untukku.
“ Terima kasih banyak, Ji Hoon karena kau telah mengajariku hari ini. Aku senang sekali, setidaknya aku bisa memahami sedikit demi sedikit materi untuk ujian matematika besok, aku akan berusaha semampuku.” ucapku pada Ji Hoon yang kini berdiri di sampingku. Terlihat Ji Hoon mulai melirik ke arahku dan memandangi wajah sampingku dengan lembut.
“ Tak masalah, sesama teman harus saling membantu, bukan?” jawab Ji Hoon dengan tertawa kecil merespon ucapanku.
Aku hanya bisa tersenyum menatap Ji Hoon. Hari ini, aku pulang pukul 7 malam sembari menggiring sepeda berjalan menyusuri jalanan kota bersama Ji Hoon. Cahaya jingga yang keluar dari lampu jalanan membuat kesan romantis di setiap langkah kaki yang melangkah, rasanya aku seperti kembali hidup di zaman dimana Ibuku masih muda. Hari ini, aku sudah berjuang mati-matian belajar bersama dengan Ji Hoon demi meraih peringkat 15 besar dan pergi berkencan dengan Juno. Kuharap esok aku bisa mengerjakan soal itu dengan mudah tanpa hambatan sedikitpun.
“ Hey Alana! lihatlah, bintang itu.” ucap Ji Hoon sembari jari telunjuknya menunjuk sebuah bintang di angkasa yang bersinar paling terang diantara ribuan bintang lainnya.
“ Bintang itu bersinar paling terang diantara bintang lainnya ya, Ji Hoon. Malam ini sangat indah.” dercak kagumku menatap bintang yang ditunjuk oleh Ji Hoon. Langit malam ini sangat indah ribuan bintang ikut bertabur di sana.
“ Kau tahu, bintang itu bernama Sirius, dialah bintang yang paling terang diantara semua bintang, tapi ada satu bintang lagi yang terangnya lebih terang dari Sirius.”
“ Benarkah? Apa nama bintangnya?”
“ Bintang itu adalah bintang hatiku, Alana.”
“ Kau ini, Ji Hoon. Kau sama seperti Juno sangat suka menggoda wanita.”
Ji Hoon hanya tertawa merespon ucapanku. Lagi-lagi Ji Hoon mulai mengeluarkan jurus andalannya, ya jurus rayuan mautnya. Aku mulai menggelengkan kepala dan terheran-heran apakah setiap pria itu sangat hobi merayu wanita? Kurasa merekalah raja gombalnya.
Jam sudah menunjuk pukul 10.30 malam, rasanya lelah sekali hari ini namun menyenangkan. Kurebahkan tubuhku di kasur biru nan empuk di kamarku sembari mengingat kembali rumus yang dijelaskan oleh Ji Hoon. Kali ini aku takkan menyerah begitu saja, jika menurut anak zaman sekarang “ Tak semudah itu, Ferguso.”
“ Aku akan berusaha sekuat tenagaku, aku takkan menyerah begitu saja. Sebelumnya aku berada di peringkat 39 dan aku harus melompat 24 kali lebih tinggi agar aku bisa mencapai peringkat 15 besar, mengapa banyak sekali langkah yang harus kukerahkan demi menggapai 15 besar ini, amat mustahil jika aku bisa masuk 15 besar dengan kilat. Semoga saja nilai bahasa Inggris dan matematikaku cukup untuk membuatku masuk dalam 15 besar dan juga cukup untuk membawaku ikut ujian perguruan tinggi.” gumamku dalam hati sembari memandangi langit-langit kamar yang ada dan terus menghela napas panjangku seakan ada sesuatu yang berat yang tiba-tiba saja mengganjal.
“ Kau belum tidur, Alana?” tanya seseorang dengan suara lembut dari depan pintu kamarku karena melihat lampu kamarku masih menyala terang.
“ Belum, bu. Aku masih memikirkan ujian untuk besok, aku ingin peringkatku naik dan aku juga ingin ikut dalam ujian seleksi masuk perguruan tinggi, tapi apakah aku bisa?”
Kulihat Ibuku mulai tersenyum manis memandangku yang kini merenung di atas kasur kesayanganku sembari menggenggam erat sebuah buku matematika.
“ Dengarkan Ibu, Ibu tidak pernah memaksamu untuk menjadi seorang bintang kelas atau sebagainya, kau tahu setiap orang yang terlahir di dunia ini pasti memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tapi percayalah peringkat yang baik di kelas itu tak selamanya baik, yang penting kau sudah berusaha dengan keras, berapapun dan bagaimanapun hasilnya Ibu tak peduli yang terpenting kau telah melakukannya dengan jujur dan sesuai dengan jerih payahmu. Peringkat 30 itu sudah memuaskan daripada kau peringkat 1 tetapi kau tidak jujur pada dirimu sendiri. Percayalah setiap manusia pasti punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing.” nasihat Ibu yang mulai mendekatiku dan duduk di sampingku yang tengah frustrasi dengan semua tekanan dan pelajaran yang ada, sepertinya ia sangat tahu bagaimana perasaanku kali ini, aku benar-benar terbebani dengan semua ini.
Terlihat seseorang mulai ikut masuk ke dalam ruangan pribadiku dan mendengar semua pembicaraanku bersama Ibuku.
“ Tak perlu khawatir, aku dan Ibumu akan selalu mendukungmu walaupun di seluruh dunia mengucilkanmu.” sahut seorang pria dengan suara yang serak basah namun penuh wibawa, ya itulah ayahku yang tiba-tiba saja ikut menyelinap masuk ke dalam ruanganku. Kali ini, aku mulai merasa tenang dan semangatku mulai berapi-api, aku masih memiliki seseorang yang selalu mendukungku dengan apa yang aku mau dan mereka juga tidak pernah menekan apalagi memaksakan kehendakku, mereka adalah kedua orang tuaku, supporter sejatiku.
“ Ya sudah lebih baik, sekarang kau tidur. Kau harus istirahat dan punya tenaga yang cukup untuk menghadapi ujian esok, bukan?” ucap Ibuku yang mulai berdiri dan ikut membereskan buku-buku pelajaranku yang sedrai tadi berserakan di atas kasurku. Aku mulai mengangguk mengiyakan dan mematuhi semua ucapan Ibuku. Aku tak peduli lagi, aku sudah bekerja sangat keras untuk ujian kali ini, aku yakin setiap usaha takkan mengkhianati hasil. Aku pasti bisa melompat ke 15 besar walaupun amat mustahil jika dibayangkan menaikkan satu peringkat ke peringkat 38 besar saja sangat sulit.
Terdengar ponselku kembali berdering nyaring, sepertinya ada sebuah pesan singkat yang baru saja hinggap di sana. Kuraih ponselku yang ada di atas meja, kulihat Juno mengirimiku sebuah pesan singkat.
“ Selamat malam, semoga kau mimpi indah. Semangat untuk ujian besok, kuharap aku bisa berkencan denganmu, Alana.” gumamku yang membaca pesan singkat dari Juno hatiku kembali berdegup untuk kesekian kalinya.
“ Aku juga ingin berkencan denganmu, Juno. Tapi mengapa kau memberiku sebuah syarat yang mustahil untuk kucapai? Nampaknya kau hanya ingin mempermainkan perasaanku saja.” ucapku sembari memandang foto profil Juno pada akun media sosialnya. Kutekan saklar lampuku dan bergegas untuk tidur, otakku sudah sangat lelah seharian berpikir dan menghitung angka.
“ Bisakah aku mengerjakan soal matematika itu? Mungkinkah aku bisa masuk 15 besar dan pergi berkencan dengan Juno?” pertanyaan itulah yang selalu menghantuiku di setiap detik dan menitku.
Aku ingin kencan dengannya!