The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 22 Balada Cinta



" Kau berani melecehkan, gadisku!" bentak Juno yang menghampiri markas Kagite team dengan penuh emosi.


Juno mulai mencengkram erat kerah baju Taegyeon dan menariknya secara paksa menuju halaman sekolah.


Juno menatap Taegyeon dengan penuh amarah terlihat wajahnya yang kian memerah karena api yang berkobar dalam jiwanya.


" Kau berani sekali!" bentak Juno dengan menghantam keras pipi Taegyeon bertubi-tubi. Kali ini tak ada yang bisa menghalangi kemarahan sang pria tampan anggota Ex Boys itu. Taegyeon mengelus halus pipinya dan menyerang Juno dengan tendangannya.


Juno membanting tubuh Taegyeon di halaman bagaikan seorang pegulat dalam siaran langsung acara smack down di televisi, ia menduduki punggung Taegyeon dengan lututnya yang kini tengah merintih kesakitan dan memohon ampun pada sosok laki-laki yang bermarga Kwon itu.


" Jika kau melakukan hal yang memancing kemarahanku lagi dan berani menyentuh dan mendekati gadis sekolah siapapun orangnya, aku takkan segan-segan mematahkan kaki dan tanganmu ini." ancam Juno dengan menarik tangannya hanya tinggal satu pukulan saja ia mampu mematahkan tangan kanan Taegyeon yang kini ada di genggamannya.


Semua orang yang ada di sekolah pagi itu hanya diam mematung melihat aksi yang menegangkan, ini pertama kalinya Kwon Juno marah besar.


" Hei Juno, jika Alana itu kekasihmu, seharusnya kau menjaganya supaya tidak sendirian. Kau sebagai kekasihnya saja tidak bisa menjaganya dan selalu membiarkannya sendirian." sindir miring Taegyeon yang mulai memprovokasi amarah Juno.


"Kau ini!" Juno mulai menghampirinya lagi namun dihadang oleh Ex Boys.


" Juno, kendalikan dirimu. Ini sekolah." bisik Namjin sang leader Ex Boys padanya dengan menarik pergelangan tangannya. Semua siswa-siswi mengerubungi mereka seakan pagi ini mereka menyaksikan sebuah pertarungan sengit diantara dua kubu yang tengah Konflik. Beberapa orang bergumam "Ada apa dengan Kwon Juno?"


"Mengapa ia marah besar?" gumaman mereka


Pagi ini, langit sedikit mendung dan menyimpan penuh tanya dalam awan hitamnya, aku pergi ke sekolah dengan sikap seperti biasa walaupun hatiku merasakan hal yang tak biasa.


"Alana, Juno menghajar Taegyeon." teriak salah seorang siswi padaku yang menghampiriku di gerbang sekolah.


" Juno bertengkar?" ucapku yang tak menduga sebelumnya, bagaimana bisa pagi-pagi buta seperti ini ia bertengkar dengan pria brutal macam Taegyeon dan antek-anteknya itu. Ada hal yang tidak beres yang mungkin telah terjadi diantara mereka.


" Iya, cepatlah." ujarnya dengan menarik tanganku membimbingku agar lekas sampai di halaman.


Kulihat di halaman mulai penuh dengan kerumunan siswa, Juno dan Taegyeon saling mencaci maki satu sama lain. Suasana pagi ini berubah menjadi panas dan mencekam, pantas saja hari ini mendung dan tidak hujan.


" Sudah Juno, jangan kau ambil pusing perkataan pria seperti dia." saran Sung Wan dengan nada sinis menatap Taegyeon dan kawan-kawannya.


" Dia ini penyebab semua kerusuhan, pria semacam dia harusnya dihancurkan." jawabnya dengan menuding keras dan berniat menghabisi Taegyeon cs yang ada dihadapannya.


Tapi tetap tangan Namjin menghalangi niat buruknya,


" Juno!" bentakku yanh memanggil keras namanya. Sontak membuat semua orang terdiam begitu juga dengan Taegyeon.


Kulihat pipi Juno yang lebam karena perkelahian yang tak jelas diantara dua tim yang terpandang di sekolah.


" Hentikan, untuk apa kau berkelahi dengannya. Perkelahianmu terlambat." kataku yang berdiri dihadapannya.


Kumenatap wajah Juno yang mulai mereda amarahnya. Wajahnya yang memerah perlahan-lahan mulai mereda


" Alana, tapi dia.." ucapnya yang kupotong


" Cukup! aku tak mau mendengar sepatah katapun dari mulutmu. Semuanya bubar apa yang kalian tonton, bubar!" sahutku dengan membubarkan barisan para penonton sekolah.


Taegyeon cs pun mulai pergi meninggalkan halaman dan Ex Boys.


" Alana." panggil Juno sembari menarik tanganku tuk mencegahku pergi meninggalkannya. Jujur saja, aku kasihan melihat wajahnya yang lebam karena pukulan Taegyeon tapi apa boleh buat aku harus tetap berpegang teguh pada prinsipku, dia harus belajar dari pengalamannya agar tidak menuduh orang sembarangan.


" Aku minta maaf, ini semua salahku." ucapnya kali ini membuat bulu kudukku berdiri.


Aku tetap diam tanpa membalas perkataannya, aku juga memalingkan pandanganku terhadapnya. Aku tak mau melihat wajah lebam milik Juno itu, karena jika aku memandanginya aku takkan bisa lagi untuk marah pada Juno.


" Alana."


" Maafkan aku, aku salah menilaimu, aku sudah tau kebenarannya dari Minho."


" Cukup, tinggalkan aku sendiri Juno." pintaku dengan tegas menatapnya dengan keras


" Apa maksudmu?" Juno mulai kebingungan sembari menahan rasa sakit pada wajahnya.


" Kau tau bagaimana rasanya dituduh sembarangan, peristiwa kemarin masih menyakiti hatiku. Bukankah kemarin kau bilang bahwa kau menyesal karena mencintaiku? Jadi, untuk apa kau datang mengemis maaf padaku, bukankah aku tak penting lagi bagi hidupmu?" ujarku dengan menyidiknya dengan mataku.


" Tidak, tidak bukan begitu, Alana, aku terbawa suasana kemarin, aku termakan omongan Rebecca dan kawan-kawannya." jelasnya sembari tangannya menyentuh bahuku


" Sudahlah Juno, hari ini aku ingin sendiri dan aku mohon padamu jangan ganggu aku." tegasku dengan melepaskan rengkuhan tangannya pada bahuku dan bergegas pergi meninggalkannya bersama Ex Boys di halaman.


"Alana! Aku benar-benar mencintaimu!" teriak Juno padaku


"Alana!!"


Aku tetap melangkah maju menuju ruang kelasku mengabaikan teriakan cintanya pagi itu. Aku tak peduli lagi dengan ucapannya. Walau aku tahu hubunganku dengan Juno masih seumur jagung, baru sehari berpacaran saja aku sudah mendapat tuduhan berselingkuh.


Cinta memang tak bisa ditebak alurnya, kini Juno malah membelaku dan menghajar Taegyeon atas perbuatannya kemarin. Membingungkan memang.


" Sudahlah, Juno. Alana butuh ruang agar ia mengembalikan semuanya, semua pasti akan baik-baik saja." ucap Robi padanya. Juno hanya mengangguk mengiyakan walau kutahu ia amat berat tuk mengacuhkanku kesekian kalinya.


Di sebuah ruang kelas yang masih sepi tanpa penghuni hanya ada meja dan kursi, aku kembali terduduk dan menatap ke luar jendela. Memang aku sekelas dengan Ex Boys tapi sebelum masuk ke kelas mereka selalu berkumpul di markasnya, ya ruang basket itulah markas para Ex Boys. Maka dari itu, walaupun aku berkata pada Juno untuk menjauhiku tapi tetap saja aku masih bisa melihatnya dari kelas ini.


" Alana, apa yang terjadi dengan Juno dan Taegyeon?" sidik Yui dengan menggebrak mejaku sontak membuatku kaget.


" Dia bertengkar." jawabku dengan jutek dan malas untuk membicarakannya.


" Bertengkar di pagi buta seperti ini? Aku tak habis pikir." ucap Yui dengan menatapku. Aku mengangguk lagi.


" Apa benar kau dilecehkan oleh Taegyeon cs?" tambah Mia dengan sangat jelas dan menatapku sini, sepertinya berita ini mulai mencuat lagi. Aku mulai mengangguk mengiyakan sebagai responku pada pertanyaannya.


" Kurang ajar pria itu, ingin kuhajar rupanya." Mia mulai menyisingkan lengan bajunya dan ingin menghajar Taegyeon cs lagi. Namun, aku menghalanginya.


" Jangan Mia semua sudah berakhir." jawabku yang terus menggenggam pergelangan tangannya.


" Apanya yang berakhir? Jelas-jelas dia tetap menggodamu, Alana." sanggah Mia dengan nada yang sedikit emosi pagi ini.


Nampaknya pagi yang sedikit mendung ini membawa malapetaka dan penuh dengan emosi bagi orang-orang yang ada disekitarku.


" Tidak perlu, kau tahu Juno sudah menghajarnya habis-habisan."


" Itu Juno, bukan aku. Sekarang giliran aku yang menghajarnya." tutur Mia dengan bersikeras untuk pergi namun tetap Yui dan aku menghalangi.


" Mia! Kau ini perempuan, jangan bertindak bodoh." sahut keras Yui pada Mia.


" Sekarang duduk!" bentaknya pada Mia yang nampaknya Yui juga mulai terpancing kemarahannya atas suasana buruk pagi ini.


Mia hanya menghela napasnya dan duduk di sebelahku.


" Baiklah, Alana ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa kau dan Juno bertengkar?" tanya Yui dengan nada yang sangat peduli pada hubunganku dengan Juno.


Apakah hubungan Juno dan aku akan baik-baik saja?