The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 28 English in Love



Pernahkah kau belajar bersama orang yang kau cintai? Menyenangkan bukan? Kau bisa terus memandanginya dan juga menghabiskan waktu bersamanya.


" Alana, menikahlah denganku." ucap Juno yang tengah mengeluarkan sebuah cincin bermata putih ke arahku.


" Juno, kau?"


" Jadilah istriku, Alana dan hiduplah bersamaku selamanya hingga ajal datang memisahkan kita." tutur Juno yang membuatku kembali tersenyum bahagia. Juno melamarku dengan manisnya, ia menyodorkan sebuah cincin dan mulai menyelipkannya pada jari manisku. Aku tersipu malu dibuatnya.


" Alana! Kim Alana!" teriak seseorang yang memanggil keras namaku sembari diikuti suara buku yang di jatuhkan pada sebuah meja yang ada di hadapanku sontak hal ini membuatku terkejut dan terbangun dari mimpi indah. Nampaknya, aku bukan berada di taman bunga dimana Juno meminangku tuk menjadi istrinya melainkan aku masih duduk dan tertidur pulas di ruang kelas. Lagi-lagi aku berhalusinasi.


" Hey, kau tertidur lagi?" tanya seseorang dengan suara serak basah dengan mengelus lembut rambut hitamku.


Aku hanya mengusap mataku melihat seseorang berjaket putih berdiri kokoh di depan mataku, ya dia adalah Kwon Juno, kekasihku yang kali ini akan menjadi guru privatku.


" Apa yang kau impikan? kulihat tadi kau tersenyum-senyum geli dalam tidurmu."


" Juno, janganlah meledekku seperti itu, aku tidak suka." elakku yang memukul lengannya.


Ia hanya tertawa memandangku.


" Baiklah, ini buku yang harus kau baca. Aku sudah memilihkannya di perpustakaan."


Aku terbelalak kaget, seketika kedua mataku terbuka lebar dan tak ada rasa kantuk lagi yang datang menyelimuti.


" Haruskah aku membaca buku sebanyak ini, Juno? Apa kau sudah gila?"


Juno hanya mengangguk manja mengiyakan sembari sorot matanya menatap indah wajahku yang kala itu diam dan tertegun menatap segunung buku yang terpampang jelas di depan mataku.


" Baiklah, aku harus mengajarimu mulai dari pelajaran mana? Bagian bab apa yang tak kau pahami?" tanya Juno dengan nada lembutnya dan duduk tepat menghadapku sembari tangannya terus membuka dan memeriksa sebuah buku catatan.


" Juno, tapi aku tak mengerti semuanya." jawabku dengan meringis dan tertunduk malu di depannya.


Juno mulai terbelalak kaget, bola matanya terbuka lebar seakan ingin melompat keluar.


" B..bagaimana bisa kau tidak memahami satu materipun? Apa yang kau lakukan selama pelajaran ini, Alana?" kejutnya dengan mulut yang sedikit terbuka.


Aku mulai menghela napas panjangku dan menahan rasa malu.


" Apa kau ingin memutuskan hubungan kita karena aku ini bodoh? Baiklah, ceraikan aku saja. Memang aku tak pantas bersanding denganmu, Juno. Seharusnya aku tak terus memaksakan kehendak seperti ini dan seharusnya aku juga sadar diri. Kau itu pintar sementara aku tidak pintar sama sekali." ucapku padanya sembari menaruh kepalaku di atas meja.


" Bukan begitu maksudku, tapi bagaimana bisa kau ..."


" Kau apa? Kau ingin bicara apa? Mengatakan bahwa aku ini gadis paling bodoh di sekolah? Katakan saja, aku tidak apa-apa. Aku sudah sering mendengar hinaan itu." tantangku yang memotong pembicaraan Juno yang tiba-tiba terhenti.


" Ah, sudah lupakan saja. Aku akan mengajari bahasa Inggris padamu, bukankah esok kita ada ujian bahasa Inggris?"


Ucapan Juno mulai membuatku ingat hingga membuat kepalaku terangkat penuh nafsu tuk belajar.


" Kau benar, ayo ajari aku, Juno!" ucapku yang mulai mengepalkan tangan kananku dengan semangat api yang menggebu-gebu.


Juno mulai tersenyum manis menunjukan giginya dan membuka sebuah bab dalam buku catatannya.


Ia mulai menjelaskan satu persatu materi yang ia tulis.


" Dia pria yang sangat pandai, tak salah jika aku jatuh cinta padanya. Kurasa suatu hari nanti jika aku benar-benar menikah dengan Juno dan menjadi istri sah-nya pasti aku bisa memperbaiki keturunanku. Pasti suatu hari nanti anak-anakku tampan dan pandai seperti dirinya. Betapa indahnya merangkai kisah cinta bersama Juno dalam satu atap rumah tangga yang harmonis." gumamku dalam hati sembari menatap wajahnya yang teduh yang kini tengah menjelaskan sebuah materi bahasa Inggris padaku.


" Alana, apa yang kau perhatikan? Apa kau mendengarkan penjelasanku?" tanyanya sembari tangannya mulai mengetuk-ketuk meja yang ada di hadapannya.


" Iya? Bagaimana Juno?" jawabku yang terkejut karena ucapan Juno yang tiba-tiba saja menebakku dengan benar.


Juno mulai menghela napas kesalnya. Sepertinya baru pertama kali ini ia terlihat kesal menatapku atau mungkin ini pertama kalinya ia mengajarkan sosok wanita yang susah diajari seperti diriku?


" Bisakah kau berkonsentrasi sedikit saja, perhatikan penjelasanku baik-baik dan hentikan semua halusinasi yang tidak penting milikmu itu, Alana." cetus Juno dengan nada yang sedikit pedas menegur sikap semena-menaku padanya.


" Bagaimana kau bisa tahu jika aku sedang berhalusinasi?" kejutku dengan pernyataan yang ia lontarkan padaku.


" Sudah lupakan saja, fokus Alana fokus dan dengarkan baik-baik, kau mengerti? " pintanya kali ini dengan menatap tajam kedua bola mataku, tak ada lagi senyuman yang terhias dalam bibirnya, kali ini Juno benar-benar serius mengajariku, ia tak mau aku bermain-main lagi dalam pelajaran yang sedang ia jelaskan.


Aku mulai mengangguk sebagai responku pada penjelasan yang ia berikan.


" Biasanya ditandai dengan kata everyday, every morning, every week, always, often, sometimes dan lain-lain. Nah, tapi kau jangan lupa di tense ini memiliki rumus, rumusnya itu ada yang ditambahkan s/es untuk kalimat yang verbal dan tambahan to be (is, am, are) untuk kalimat dalam bentuk nominal. Dari sini kau bisa pahami, Alana?" sidiknya yang menatapku dengan tajam.


Aku kembali mengangguk mengiyakan untuk kesekian kalinya, entah mengapa jika Juno yang menjelaskan rasanya semua pelajaran langsung masuk ke dalam otak dan syaraf-syarafku, sepertinya ia memiliki sentuhan ajaib yang mampu mengontrol seluruh isi pikiranku atau mungkin ini karena kekuatan cinta?


" Baiklah, akan kuberikan contohnya, Aku minum susu setiap pagi, jadi apa bahasa Inggrisnya?" tanya Juno yang mulai menguji pemahamanku tentang materi yang ia sampaikan sebelumnya.


" Berarti bahasa Inggrisnya menjadi I drink milk every morning, apa itu benar?" ucapku sembari meringis ragu atas jawaban spontanku.


Juno mulai memetikkan jarinya,


" Kau benar!"


Aku kembali tersenyum dan bertepuk tangan karena rasa bahagiaku bisa menjawab pertanyaannya dengan mudah dan lancar , setidaknya aku tidak terlihat bodoh di depan kekasihku sendiri.


" Jadi, Every morning atau setiap pagi dari kalimat aku minum susu itu bentuk dari..."


" Simple present tense." jawabku dengan sigap, Juno mulai tersenyum menatapku sembari sesekali ia juga menganggukkan kepalanya karena pelajaran yang ia sampaikan berhasil menancap tajam di memoriku.


" Lalu, bagaimana dengan kata I always love you? Apa artinya dan bagaimana alasannya?" uji Juno lagi padaku sepertinya ia belum puas karena aku telah menjawab pertanyaannya dengan benar. Aku mulai menggaruk-garuk kepalaku, rasanya lumayan berat dan pertanyaannya mampu membuat otakku berpikir keras.


" I always love you? Juno, arti dari kata Always itu apa? Aku tidak tahu." gumamku yang menggigit bibir bawahku. Terlihat Juno mulai menepuk dahinya.


" Bukalah kamusmu itu, Alana. Kau membeli kamus tapi kau tak pernah menggunakannya, kau hanya membuang-buang uang saja." cetus Juno dengan nada yang sedikit kesal sembari tangannya terlipat rapi di dada bidangnya.


Aku dengan sigap membuka kampusku dan mencari kata "always" yang nampaknya kata ini sedikit asing di telingaku tapi aku juga sering mendengar kata ini, namun aku tak tahu apa artinya. Nampaknya aku sangat kuno dan buta ilmu.


" Always artinya selalu, benarkah itu Juno?" tanyaku padanya lagi kali ini dengan menggigit bibir bawahku menatap takut wajah jutek Juno. Kulihat Juno mulai mengangguk mengiyakan.


" Jadi?"


" I always love you berarti aku selalu mencintaimu. Alasannya adalah...."


" Alasannya adalah? Adalah apa, Alana? Mengapa kau diam?" tanya Juno dengan sigap melihatku yang tiba-tiba terdiam tanpa sepatah kata yang keluar.


Aku hanya diam membatu memikirkan alasan dari contoh yang dibuat oleh Juno. Hatiku juga ikut berdegup kencang mengapa ia memberi contoh seperti ini, mungkinkah ia ingin menggodaku lagi?


" Alasannya adalah kalimat I always love you menyatakan Simple present tense dalam bentuk kebiasaan, iya ini bentuk kebiasaanku yang tak tahu kapan akan berakhir tuk mencintaimu, Alana." jawabnya dengan penuh percaya diri menatapku yang tengah kebingungan menggigiti tutup pulpenku.


" Juno, kau..." ucapku dengan nada yang tak percaya menatap wajah indahnya yang di terpa cahaya dari luar jendela.


" Mengapa kau menatapku seperti itu?" sidik Juno dengan mengernyitkan dahinya.


" Aku juga mencintaimu, Juno." jawabku sambil memasang senyum malu padanya.


" Iya, aku sudah tahu itu." responnya yang semakin membuatnya percaya diri.


Aku masih terus memandanginya dengan takjub entah apa yang merasuki jiwanya hingga ia bisa berkata kata romantis seperti ini.


" Mengapa kau terus melihatku, Alana? Apa kau tak ingin memelukku karena ucapanku barusan?" godanya kali ini mata dan wajahnya ikut tersenyum memandangku.


Aku mulai mendekap erat tubuh Juno hari itu. Kali ini, suasana belajar kami sangat berbeda tak ada lagi rasa tegang yang mengganggu jiwaku. Jika terus seperti ini nampaknya bukan hanya meningkat drastis nilaiku tapi juga meningkat drastis cintaku padanya. Juno kali ini kau benar-benar mencuri seluruh isi hatiku. Aku tak tahu lagi bagaimana jika hidupku tanpa dirinya di sisiku.


" Esok ada ujian bahasa Inggris, kuharap kau bisa memahami betul bentuk tenses ini, Alana." gumamnya dengan suara yang halus sembari mengusap kepalaku yang kali ini tertempel manja di dada bidangnya.


" Aku memahaminya, Juno. Terima kasih."


Juno hanya tersenyum dan mulai mendekapku lebih erat.


" Juno, lepaskan nanti akan ada siswa yang tahu kita berpelukan massal di kelas."


" Biarlah, karena I always love you, Alana." jawab Juno dengan santainya yang terus memeluk tubuhku erat.


Hari ini, hari yang sangat mengesankan bagiku, aku belajar sambil berpacaran dengan Juno. Aneh memang aneh rasanya, tapi lebih herannya aku bisa memahami semua materinya dengan betul. Kurasa pelajaran bahasa Inggris ini membawa perekat cinta untukku dan Juno, ya perekat untuk tali cintaku dengannya.