The Hidden Love

The Hidden Love
Perasaan lain



Seorang pria terlihat sedang berbincang dengan beberapa orang, pria itu adalah Pak Bimo yang tak lain adalah papa Sarya.


''Mana janji kamu, sudah berapa hari aku menunggu kau melunasi hutangmu tapi kau masih tetap belum membayarnya.'' Kata pria yang bernama Samuel. Dia adalah orang yang dihutangi oleh pak Bimo.


Seorang pria berumur sekitar 40 tahun, dengan perawakan sedikit berisi dan memiliki kumis tipis di wajahnya.


''Saat ini saya belum mendapatkan uangnya tuan, beri saya sedikit waktu lagi. Saya janji akan segera melunasi hutang saya.'' Jawab pak Bimo dengan wajah yang dibuat semelas mungkin.


''Kau bilang mau memberikan jaminan putri kandungmu yang cantik itu. Mana buktinya?.''


''Sabarlah tuan sabar,, perlahan aku akan menepati semua ucapan ku. Anda jangan khawatir.'' Jawab pak Bimo


''Dasar pria bodoh, bukankah istrimu adalah orang kaya raya? Kalau begitu minta saja uang padanya. Percuma saja punya istri kaya jika kau tak bisa memanfaatkan nya.''


Pak Bimo menundukkan kepalanya memikirkan yang di bilang Samuel adalah benar adanya. Namun apa daya, dia tak berkuasa untuk meminta uang pada istrinya. Karena pasti tidak akan diberikan.


Istrinya itu adalah orang yang pelit, meskipun dia orang kaya namun sedikitpun tak pernah bersedekah pada orang yang membutuhkan.


''Bukannya begitu tuan, hanya saja waktunya belum tepat. Jika saat itu telah tiba, maka bukan hanya hutang ku yang akan kulunasi bahkan bunga-bunganya juga akan kubayar.''


Mendengar semua itu, Samuel merasa jengah. Lantaran hanya kata-kata itu terus yang diucapkan oleh mulut berbisa pak Bimo.


Di sisi lain, istri pak Bimo yakni Anita terlihat sedang berkumpul dengan teman-teman sosialitanya. Seolah tak peduli dengan pekerjaan rumah tangga yang segalanya di serahkan kepada para pembantu, sedangkan kesehariannya hanya di habiskan dengan mempercantik diri dan shopping.


_________


Hari semakin siang, matahari terlihat sangat terik bahkan sampai membuat keringat bercucuran dari dalam seragam sekolah para gengs gesrek itu.


Hari ini seperti biasanya Sarya diantar oleh Amar pulang. Semenjak tantangan pulang bersama itu hingga saat ini Amar dan Sarya sering berangkat dan pulang sekolah bersama.


Kedekatan ini perlahan menimbulkan perasaan lain terhadap Amar. Perlahan ia mulai terbiasa dan nyaman saat bersama Sarya.


''Udah sampai sar.'' Kata Amar ketika motor matic nya berhenti di halaman rumah Sarya.


''Makasih banyak ya,, maaf keseringan nebeng kamu.'' Balas Sarya diselingi tawa ringan.


''Mau mampir dulu kah?.'' Lanjut tanya Sarya.


Mendengar tawaran itu, hati Amar seolah di hantam ribuan bunga-bunga asmara. Sungguh bahagia bantinnya.


Namun belum sempat menjawab ajakan Sarya, tiba-tiba saja Sarya berkata sambil menepuk jidatnya.


''Ehh lain kali aja ya mar, soalnya aku ada urusan nih baru keingat. Maaf ya.''


Terlihat raut wajah kecewa dari Amar. "Padahal aku kan mau mampir sar, sekalian silahturahmi sama camer." Amar berkata demikian tentunya dalam hati.


Sambil tersenyum manis Amar berkata.


''Tidak apa-apa sar, yaudah aku langsung cabut ya.. Babay jangan lupa makan dan istirahat yang cukup.''


Motor matic itu berlalu meninggalkan halaman rumah Sarya. Diselingi lambaian selamat tinggal dari Sarya.


''Ekhhemmm..''


''Astagfirullah mama, Kaget aku ma.'' Sarya terkejut pasalnya ia tidak mengetahui keberadaan sang mama.


''Anak perawan mama sudah besar ya sekarang.'' Goda Mama Luna pada putrinya.


''Apaan sih ma, emang aku kan udah gede. Apalagi ininya gede banget kan.'' Pamer Sarya pada sang mama sambil membusungkan dadanya. Menunjukkan dua buah aset berharganya.


''Iya gede banget itu mah, tapi bukan itunya yang mama maksud dasar anak mesum.'' Melihat tingkah konyol sang putri membuat Mama Luna jadi gemes.


Hingga menjitak pelan kepala sang putri.


Pletakkkk...


''Aww mama,, sakit ma. Ntar kalau aku...''


''Bodoh siapa yang mau menikahi aku.'' Mama Luna memutus perkataan Sarya sambil menirukan gaya centil sang anak.


''Ihh mama jangan gitu...'' Sarya seolah salah tingkah karena perkataan andalannya sampai di hafal oleh sang mama.


''Dasar anak mama,,, sini mama peluk.'' Kata Mama Luna sambil merentangkan kedua tangannya dan disambut pelukan hangat dari Sarya.


Begitulah sekarang keadaan Mama Luna, semenjak ia mulai bangkit dari kesedihannya karena ulah sang suami. Perlahan kondisinya mulai membaik. Bahkan sekarang sudah lebih sering tertawa dan bercanda pada anak-anak nya maupun pada anggota geng gesrek Sarya yang lain.


''Oh iya tadi belum jawab perkataan mama, Siapa tadi yang antar kamu pulang? Mama perhatikan dari beberapa Minggu ini kamu sering sama dia.'' Kata Mama Luna, saat ini mereka berdua duduk di ruang tamu.


Begitulah keseharian Sarya dan mamanya. Ketika pulang sekolah Sarya akan bercerita hal-hal yang ia alami di sekolah. Bukan karena apa, hal itu ditujukan agar antara mereka berdua tidak ada jarak.


Semenjak Mama Luna terpuruk akibat penghianatan pak Bimo, dirinya jarang memperhatikan keseharian anak-anak nya. Oleh sebab itu perlahan ia ingin memperbaiki kerenggangan diantara diri Mama Luna dan anak-anaknya.


''Tadi itu anggota baru geng gesrek kita ma, Namanya Amar.'' Jawab Sarya yang kini masih menempelkan kepalanya di pundak sang mama.


''Kenapa gak diajak masuk, mama juga pingin kenalan.''


''Entaran aja ya ma, waktu aku dan geng ku kumpulan. Biar sekalian.'' Jawab Sarya.


''Yakin cuma teman? Mama perhatikan kayaknya lebih deh.''


''Perasaan mama aja itu.. Aduhh bentar ya ma perutku mules banget. Tadi kebanyakan makan bon cabe di kantin. Aku buang hajat dulu ma..'' Kata Sarya sambil berlari secepat mungkin meninggalkan sang mama yang kini terlihat bingung pada sikap sang putri.


''Huuftt..'' Sarya membuang nafasnya kasar ketika pintu kamarnya sudah tertutup.


''Aku sudah tahu mama akan membahas hal ini, hampir saja aku tadi membiarkan Amar mampir untung nya aku berhasil menghentikan Amar supaya tidak jadi mampir, ehh masuk rumah malah di goda mama.''


Sarya mencoba agar Amar tidak bertemu dengan sang mama dalam keadaan berdua saja. Karena sudah di pastikan Amar bisa saja mendapat lampu hijau dari sang mama, apalagi jika mama nya tahu bahwa Amar adalah kategori calon mantu idaman sang mama.


Sarya memang sudah tahu bahwa Amar memiliki perasaan lebih terhadapnya. Hal itu dapat dilihat dari sikapnya beberapa hari ini yang sepertinya bukan ditujukan untuk sebatas teman.


Apalagi Amar sering mengirimkan pesan chat pada dirinya, tentunya dengan kata-kata romantis seperti menanyakan ia sudah makan atau belum, jangan lupa istirahat, jaga kesehatan dan lain-lain yang terdengar aneh bagi Sarya.


Untuk itu, Sarya mencoba menjauh dari keadaan ini, perlahan ia akan sedikit menjaga jarak pada laki-laki baik hati itu, agar kedepannya tidak terjadi salah paham karena ia hanya menganggap Amar sebatas sahabat saja tidak lebih.


bersambung...