
''Iya tau Sar, selera mu kan om-om.. dasar Sarya, Kamu masih kecil suka sama yang om-om." Kata Nanda dengan potongan lagu diakhir kalimatnya itu.
Mendengar kata Om, membuat ingatan Sarya berputar pada kejadian beberapa hari yang lalu.
''Oh iya gengs, untung keingat. Kalian tau gak? Waktu aku pulang sama Amar, masa di jalan kita ketemu sama om-om genit. Iya kan mar?.'' Ucap Sarya, seolah meminta kebenaran ucapannya pada Amar.
Amar hanya mengangguk, sembari menyeruput minuman dalam gelasnya.
Yang genit mulai bertingkah, Rini si gadis centil nan anggun itu berkata.
''Wah,, kita keduluan Sarya nih nad.'' Kata Rini sambil menyenggol siku Nanad alias Nanda.
''Ih apaan sih, nad nad nad emangnya aku Nanad gendang apa? Jangan panggil aku Nanad.'' Sewot Nanda yang tak ingin dipanggil Nanad.
''Terus gak mau di panggil Nanad mau dipanggil apa? Panggil aku anak kecil paman gitu kah?.'' Kata Rini tak kalah sewotnya.
''Biarin aja nad, itu panggilan sayang kita buat kamu. Udah terima aja.'' Lanjut Rini.
Akhirnya si Nanda pasrah dengan nama panggilan anehnya itu. Meski bagaimanapun itu adalah ungkapan rasa sayang teman-temannya pada dirinya.
''Lanjut sar, si om nya udah ngapain kamu aja?..'' Dengan tidak tahu malunya Rini berkata demikian.
Mendengar hal itu, membuat Amar tersedak minumannya.
''Uhhuukkkk...''
Sarya refleks menepuk pundak Amar. Kini Sarya paham kenapa Amar sampai tersedak minumannya, itu karena teringat akan omongan om yang membahas akan membantai Sarya saat malam pertama.
''Enak aja.'' Pletak...
Sarya menjitak kepala sahabat somplaknya itu.
''Aww sakit tau,, jangan sembarangan jitak kepalaku. Ntar kalo aku bodoh siapa yang mau nikahin aku. Emangnya kamu mau mar?.'' Ucap gadis somplak itu
Lagi-lagi Amar tersedak mendengar ucapan Rini barusan, tentu hal itu masih mengingatkannya dengan kejadian saat bertemu dengan om-om genit itu. Apalagi Rini menanyakan apakah dia Sudi menikahi gadis somplak itu. Tentu saja jawaban Amar tidak mau.
Sarya kembali menepuk pundak Amar, sambil berkata dengan nada lirih. ''Sabar ya mar,, aku paham kok apa yang kamu pikirkan.''
Amar hanya mengangguk sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
''Ehh Rini, Tolong budayakan bahasa Indonesia yang tepat artinya ya, salah-salah kamu bilang gitu ke orang lain. Bisa lain lagi pengertiannya.'' Ucap Sarya pada teman seperjuangannya.
''Beneer banget Rin, untung kamu bilangnya ke Sarya coba ke orang lain, bisa salah arti. Kamu nanti yang kena imbasnya. Lihat tuh, Amar aja sampe kesedek dua kali gara-gara denger omongan mu.'' Timpal Nanad.
Dan obrolan ke empat manusia abstrak itu, terus berlanjut hingga kearah yang lebih luas lagi.
___________
Vany telah membuat rencana untuk datang memberikan makan siang pada Lino.
Sedikit membahas tentang Vany.
Gadis muda berusia 22 tahun bernama lengkap Vaniya Margaretha itu merupakan seorang model sekaligus chef.
Bagi sebagian orang masakan Vany cukup di gemari bahkan bisa dibilang enak, tapi menurut Lino pribadi masakan Vany biasa-biasa saja.
Vany adalah anak dari orang golongan atas, Ayah dan ibunya merupakan pengusaha yang cukup sukses.
Gadis muda itu, beberapa tahun belakangan ini berusaha mengambil hati Lino. Sebelumnya orang tua Lino dan Vany telah sepakat akan menjodohkan mereka berdua. Namun, perjodohan ini seolah tak diinginkan Lino.
Meskipun Lino adalah pria yang suka berganti-ganti pasangan, namun urusan menikah sama sekali tak tersirat dalam benaknya.
Seberapa seringnya Lino mencoba menghindar dari Vany, tapi Vany tetap gencar untuk mendapatkan hati Lino.
Kini Vany telah sampai di kantor Lino, sebelumnya dia tak mengatakan bahwa dirinya akan datang ke kantor.
Ketika wanita cantik itu menginjakkan kakinya di halaman perusahaan megah yang tertera logo dan tulisan NH'Group. Banyak pegawai lain yang memperhatikan kedatangan Vany.
Bagaimana tidak, seorang model cantik dan berprestasi itu datang ke kantor mereka. Tentunya adalah untuk menemui sang bos junior Lino Nuha.
Beberapa dari karyawan kantor Lino sudah ada yang tahu akan hubungan mereka, dan sebagian ada yang belum. Karena baik pihak Vany atau Lino belum ada yang bisa membeberkan keterangan mengenai hubungan mereka dengan jelas.
Alasannya tak lain adalah, karena Lino masih belum serius akan hubungannya dengan Vany.
''Lino nya ada di ruangan?.'' Tanya Vany lada resepsionis.
Resepsionis bernama Dini itu menjawab. ''Iya nona, sekarang tuan Lino ada di ruangan baru selesai menghadiri rapat. Apakah anda mau bertemu? Biar saya hubungin sekretaris tuan muda.''
''Tidak usah,, saya mau memberikan kejutan untuk dia. Katakan saja saya harus pergi ke arah mana?.'' Tanya Vany sembari memberikan senyuman termanis nya.
Kemudian, resepsionis itu memberitaukan letak ruangan Lino, tanpa berpikir panjang Vany segera menuju ruangan Lino.
Sangking tak sabarnya ingin bertemu sang pujaan hati, Vany sampai tak mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja. Tentunya dengan gaya angkuh nya.
''Nah kan, kumat lagi tuh watak aslinya.'' Kata resepsionis itu ketika Vany pergi begitu saja.
Tak banyak pegawai wanita yang mengenal sifat asli Vany, ya seperti itulah, pura-pura manis jika ada maunya. Namun dibalik itu tersembunyi sifat judes nan licik.
bersambung.....
jangan lupa like agar author ini gencar dan semangat dalam menuju cerita yang lebih seru lagi.
happy reading..😘😍