The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 29 Love Study



Belajar bersama merangkai kisah indah yang tak terlupakan sebelum dijauhkan oleh sebuah perpisahan.


" Apa dari sini kau bisa mengerti apa yang kujelaskan padamu, Alana?" tanya Juno yang mulai menyidikku


Aku mengangguk mengiyakan, kurasa belajar dengannya mengasyikan dan membuat otakku kembali segar dan menerima materinya dengan sangat baik.


" Syukurlah, kalau begitu. Kau harus ingat kedua rumus dalam tenses ini, setelah pulang nanti, pelajari kembali apa yang kukatakan ya, Alana." ujarnya sembari mengangkat kedua alisnya.


Aku mulai mengangkat jempolku tinggi-tinggi sebagai bentuk responku padanya bahwa aku sangat paham akan semua materi yang ia berikan padaku.


" Baiklah, bagaimana kalau dengan past tense? "tambahnya dengan mencoba meneguk sebotol air minum yang ia bawa.


" Past tense, Juno? Apa itu? " tanyaku yang mulai terkejut dengan apa yang ia katakan. Terlihat Juno mulai mengangguk lembut kepalanya


" Benarkah kau tidak tahu?"


Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku yang membuat Juno semakin jelas dalam menghela napas panjangnya.


" Sebenarnya apa yang kau tahu, Alana? Kurasa hampir semua hal kau tak pernah tahu." ejek kerasnya padaku sembari tangannya kembali menepuk jidatnya


" Yang kutahu, aku hanya mencintaimu, Juno."


Juno kembali menggelengkan kepalanya.


" Kau ini keterlaluan, Alana." ucapnya dengan memukul dahi licinku dengan sebuah pensil yang ada di genggamannya.


" Maafkan aku, tapi, tak bisakah kau jelaskan secara singkat tentang apa itu past tense padaku? Aku sungguh-sungguh tidak mengerti." ucapku yang mengusap dahiku sembari menundukkan kepalaku menatap meja yang ada di depanku.


" Baiklah." Juno kembali menghela napas panjangnya.


Terlihat Juno mulai membuka buku catatan yang lainnya. Aku kembali terheran heran seberapa banyak buku catatan yang ia punya, apa saja yang ia tulis, dan bagaimana ia melakukannya semua pertanyaan itu selalu terlintas dalam pikirku. Apa setiap orang pintar selalu memiliki buku catatan sebanyak ini?


" Baik, dengarkan aku. Jangan bermain-main dan fokus." pintanya yang membuatku mengangguk mengiyakan.


" Simple past tense itu kebalikan dari simple present tense, jadi ini menjelaskan pekerjaan yang terjadi di masa lampau dan tak ada hubungannya dengan masa sekarang." ucapnya dengan menatap bola mataku.


" Untuk rumusnya kau bisa gunakan Subjek + Verb 2 + Objek atau jika dalam bentuk nominal kau tinggal tulis saja Subjek + To be (was/were) + Objek." tambahnya lagi dengan mata yang serius menatap buku yang kini terbuka jelas di hadapannya. Aku benar-benar dibuat kagum dengan sosok pria yang kini ada di hadapanku.


" Untuk contohnya bisa kau gunakan Verb 2 biasanya tenses ini di tandai dengan akhiran kata seperti Last year, two years ago, yesterday, last week, dan sebagainya yang penting kau harus menggunakan Verb 2."


Aku mulai mengangguk paham, benar-benar mudah jika ia yang menjelaskan.


" Contohnya I drank milk yesterday jadi artinya aku minum susu kemarin. Jadi, maknanya sekarang aku tidak minum susu, begitu. Nah, kalau sebelumnya di present tense itukan I drink milk every morning dan karena kita buat contoh ini ke bentuk lampau jadi drink berubah menjadi drank dan every morning diubah menjadi yesterday."


Aku kembali menganggukkan kepala untuk kesekian kalinya. Rasanya semua penjelasannya langsung menancap dan meresap pada otakku.


Kulihat Juno mulai tersedak dan terbatuk karena ucapanku, matanya kini mulai terbelalak lebar menatapku.


" Ada apa? Apa aku salah?" panikku melihat tingkahnya yang seperti seorang yang tengah terkena serangan jantung.


" Tidak, tidak. Dari sini kau sudah benar, tapi apa benar kau tak lagi mencintaiku, Alana?" ledeknya kali ini mampu membuat jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya.


" Apa maksudmu, Juno? Aku tidak mengerti." ucapku dengan menggaruk kepala karena kebingungan


" Kau bilang I loved you two years ago berarti kalimat ini menunjukkan bahwa kau mencintaiku dua tahun yang lalu dan kau takkan lagi mencintaiku di waktu sekarang ataupun yang akan datang, jadi apa kau anggap aku ini hanya sebagai serpihan masa lalumu, Alana? Apa kau tak ingin selamanya hidup bahagia bersamaku?" jelas Juno dengan menatap lucu wajah polosku yang tiba-tiba saja terperangah aneh.


Aku terbelalak kaget dengan penjelasannya, kulihat bibirnya mulai tersungging sebuah senyum yang penuh misteri ke arahku.


" Tapi, tidak apa aku tetap teguh pada pendirianku I always love you, Alana." goda Juno padaku sembari tertawa melihatku kali ini ia membuatku malu dan salah tingkah. Mengapa ia selalu menggodaku seperti ini?


Tanpa terasa hari semakin larut, jam menunjuk pukul 5 sore dan kulihat langit biru mulai berubah warna menjadi jingga. Untuk pertama kalinya di sepanjang hidupku, aku belajar hingga lupa waktu.


Kuraih sepedaku dan pulang bersama Juno menyusuri kota yang hampir malam. Kami bersepeda berdua bercerita sambil menikmati pesona cahaya senja yang sekejap lagi akan menghilang di telan malam.


" Belajar dengan giatlah, Alana jika kau sungguh-sungguh ingin satu kampus denganku." Juno berkata dengan tiba-tiba seakan ia tahu apa yang kupikirkan dan yang menjadi beban pikiranku akhir-akhir ini.


" Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, Juno."


Juno hanya tersenyum memandangku, kulihat wajahnya sayup-sayup terkena pantulan cahaya senja yang membuatnya semakin terlihat seksi dan mempesona.


" Asal kau tahu, Alana, aku akan mengambil jurusan kedokteran di Universitas Seoul. Kuharap kita bisa satu tempat lagi. Aku menaruh harapan besar padamu, karena hatiku masih tersimpan olehmu." ujar manis Juno yang kini mulai mengayuh sepedanya menjauhiku. Aku kembali tertegun, dia akan pergi ke Universitas Seoul dimana universitas itu adalah universitas terbaik yang ada di Korea Selatan, hanya orang-orang pilihan yang bisa masuk dan lolos menjadi mahasiswa di sana. Mengapa Juno gemar membuat hidupku susah, kemungkinan besar untukku lolos dalam seleksi sangat kecil jika aku harus mengambil universitas Seoul itu. Bukan hanya saingannya tapi mungkin juga karena nilaiku yang tak memadai untuk menjadi seorang mahasiswa kelas atas di universitas bergengsi itu.


Amat berat rasanya jika mengingat hari dimana perpisahan itu akan segera tiba. Jika suatu saat aku tidak lolos atau tidak bisa satu kampus dengan Juno, aku akan coba untuk mengikhlaskannya dan aku juga sadar akan kemampuan diriku yang super minim dibandingkan dengan dirinya yang super bisa.


Senja kian berganti malam, aku kembali merenungkan apa yang terjadi hari ini di kamarku.


Di sebuah kamar lengkap dengan warna sprei dan hiasan dinding yang serba biru sebiru langit, ku mencoba tuk membuka lagi buku catatanku. Aku harus tetap belajar semampuku untuk ujian bahasa Inggris besok. Aku tak mau mengecewakan Juno yang sudah bersusah payah meluangkan waktunya untuk mengajariku, dan aku juga harus bisa lolos ke universitas Seoul demi dia. Kubaca dan kupahami catatan itu berulang kali sesuai dengan apa yang Juno di katakan sore itu.


" Aku harus semangat, kau tidak boleh menyerah begitu saja. Alana, kau pasti bisa!" gumamku dalam hati sembari mengobarkan semangat yang hampir saja padam karena lelah.


Terdengar suara ponselku berdering nyaring, kuraih ponselku yang ada di atas meja. Kubuka, terlihat ada sebuah pesan singkat yang baru saja masuk di sana.


" Belajarlah hari ini, jangan lupa kau ingat rumus dan contoh yang telah kuberikan." ucapku yang membaca sebuah pesan singkat yang ternyata berasal dari Juno.


" Laksanakan komandan." balasku dengan memberi emoticon senyum malu padanya.


" Alana, fokus dan ingatlah materi yang kuberikan jangan kau ingat momen ketika aku memelukmu di sana." balas Juno dengan senyum tertawa terbahak-bahak, lagi-lagi ia mencoba menggangguku dari konsentrasi belajarku.


Juno memang pria yang lucu terkadang ia baik terkadang juga ia menyebalkan. Tapi, kali ini aku benar-benar ingin terus bersamanya. Bagaimanapun caranya aku harus lolos dalam seleksi perguruan tinggi itu. Aku juga sudah siap dengan ujian bahasa Inggris yang akan Madam Yerin berikan padaku.