The Hidden Love

The Hidden Love
Eps.26 Two Hearts In Love



Pernahkah kau merasakan rasa yang luar biasa, kau dicintai oleh sosok dua orang yang berbeda dalam satu waktu?


Hatiku kembali berdegup kencang mengingat belenggu dua asmara yang kini datang membelit atma. Dilema dan bimbang itulah yang kurasa.


" Maafkan aku, tapi aku tak bisa menghilangkan semua rasaku padamu, Alana." ucapan Ji Hoon hari ini masih terngiang jelas di gendang telingaku. Apa yang harus kulakukan?


Hatiku kini seutuhnya milik Kwon Juno namun disisi lain ada hati yang masih setia menungguku tuk menerima pinangan kasihnya, dia adalah Soo Ji Hoon, sahabat yang selalu ada untukku dan siap kapanpun menjadi pahlawanku.


Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar dilema menentukan kisah cinta ini.


Aku kembali berjalan menyusuri lorong kelas sembari tanganku dengan sigap memukul-mukul kepalaku. Betapa bodohnya aku yang tak bisa memilih satu diantara dua hati yang sedang menunggu.


" Jika aku memilih Juno, apakah aku akan menyakiti hati Ji Hoon? Namun, jika kupilih Ji Hoon apa tak membuat Juno terluka?" gumamku dalam hati sembari menerka-nerka semua kejadian yang ada.


" Alana?" panggil seseorang dengan suara khas dan lantangnya hingga membuat langkahku terhenti.


" Eh, Minho? Kau memanggilku?" jawabku yang sedikit kikuk dengan kehadiran Minho di hadapanku.


" Hey, Alana apa kau baik-baik saja?" cemas Minho sembari tangannya menyentuh bahuku dan sorot matanya menatap teduh wajahku


Aku hanya mengangguk mengiyakan sembari melempar senyum paksa pada sosok pria yang tengah berdiri menjulang di sampingku.


" Apa kepalamu sakit?" tambahnya kali ini dengan menyentuh suhu pada keningku memeriksa apakah suhu tubuhku normal atau sedang demam.


" Tidak, aku tidak apa-apa hanya saja aku sedikit pusing. Banyak sekali masalah yang datang menghampiri hidupku, aku bingung untuk menyelesaikannya, Minho." rengekku padanya dengan mengerucutkan bibirku bak seorang anak kecil yang tengah kesal.


Minho hanya mengangguk mengiyakan sepertinya ia tahu apa yang ada dalam pikiranku selama ini. Dia selalu punya insting yang hebat, dia ahlinya menebak perasaan seseorang hanya lewat tatapan mata saja.


" Kau pilihlah sesuai pilihan hatimu, cinta datangnya dari hati, bukan? Jika kau yakin dengan pilihanmu itu, maka jagalah." ucap Minho yang menaruh tangannya pada pinggangnya dan tersenyum memandangi parasku.


" Tapi, Minho..." ucapku yang terhenti karena telunjuk Minho yang menyentuh bibirku memintaku untuk tak bicara sepatah katapun.


" Kau akan tahu jawabannya nanti, ketika kau benar-benar siap. Percayalah, Alana siapapun yang paling tulus mencintaimu maka ia yang akan bertahan demi kau." ucap Minho sembari menyenggol jahil lenganku dan kedua alisnya bermain ke atas dan ke bawah.


" Baiklah, agar kau tak suntuk lagi, lihat apa yang kubawa, ada seseorang yang menitipkanku sebuah coklat untukmu. Kuharap sakit kepalamu segera mereda karena coklat ini." tambah Minho yang menghela napas panjangnya sembari tangannya menyodorkan sebatang coklat dengan pita merah di atasnya dan bergegas pergi meninggalkanku begitu saja.


Aku mulai terperangah dengan sikap Minho yang penuh tanda tanya, coklat? Coklat dari siapa? Mengapa ia memberikannya padaku?


Kulihat langkah Minho mulai menjauh tak mungkin jika aku harus mengejarnya atau berteriak lantang meminta penjelasan tentang coklat yang kugenggam.


Kukembali berlari menuju ruang kelas, aku harus mencari kedua sahabat setiaku, Mia dan Yui secepatnya. Aku sudah tak tahan dengan belenggu dua tali asmara ini.


Di sebuah kursi kosong tepat di pojok ruang kelas, terlihat tiga orang gadis berseragam putih duduk melingkar.


" Iya, aku bingung harus apa. Apakah kalian bisa membantuku?"


" Jika aku jadi kau, aku akan meninggalkan Juno dan memilih berhubungan dengan Soo Ji Hoon. Kau tahu, bukankah selama ini Ji Hoon yang telah banyak berkorban untukmu, Alana?" saran Mia kali ini dengan memetikan jari telunjuk dan tengahnya diiringi Yui yang mulai mengangguk setuju dengan semua ucapan yang diucapkan seorang guru bela diri ini.


" Tapi, hatiku tetap mencintai Juno dan takkan ada yang lain di dunia ini selain Kwon Juno." rengekku kali ini dengan menghentak-hentakkan kakiku seperti seorang anak kecil yang meminta balon.


" Kalau begitu kau pertahankan Juno." Ucap Yui dengan tertawa kecil menatap tingkahku


" Aku harus bagaimana? Mia? Yui?" rengekku sekali lagi sembari menatap mengharap simpati padanya.


" Baiklah, saranku kali ini lebih baik jika sekarang kau fokuskan saja pikiranmu untuk ujian sekolah. Jangan hanya cinta yang kau pikirkan, Alana. Kau ingin mengejar Juno agar kau bisa satu universitas dengannya, bukan?" nasihat Mia padaku kali ini tangan kekarnya yang ahli bela diri itu menyentuh pundakku sebagai bentuk dukungannya padaku.


Aku hanya tersenyum menatapnya. Nampaknya, benar jika hari ini aku harus mulai fokus pada ujian sekolah dan ujian perguruan tinggiku. Aku tak mau kehilangan Juno begitu saja, aku akan mengejar ketertinggalanku dan mengikuti langkah Juno supaya bisa satu universitas lagi dengannya, aku tak rela jika ia dimiliki wanita lain selain aku. Walau aku tahu, nanti saat ia sudah berada di universitas mungkin akan lebih banyak lagi gadis-gadis yang mengidolakannya dan ini akan membuat posisiku semakin terancam jika aku tak ada di sisinya tuk mengawasi setiap gerak-geriknya dari rayuan para gadis centil universitas.


Aku akan memanfaatkan momen ini untuk belajar bersama Juno, aku akan belajar dan secara tak sengaja aku juga akan berkencan dengannya, seperti sebuah pepatah yang bilang sekali mendayung dua pulau terlampaui.


Tiba-tiba seorang siswa berpakaian rapi lengkap dengan dasi datang menghancurkan forum curhat hati ke hati kami.


" Kim Alana, Madam Yuri memanggilmu. Ia memintamu untuk menemuinya di kantor." ucap sosok siswa itu dengan napas yang tersengal-sengal karena terburu-buru memanggilku.


Seperti ada yang tidak beres jika Madam Yuri memanggilku dengan mengutus seorang siswa lain seperti ini. Aku kembali bertanya-tanya dalam batinku. Apakah aku melakukan kesalahan lagi?


Aku dengan sigap berdiri tegak menghadap sosok pria pembawa berita dari sang guru tercinta dan terdisiplin di sekolah.


" Aku? Mengapa aku yang dipanggil?" protesku kali ini dengan melipatkan tanganku pada dadaku.


" Entahlah, sepertinya ada suatu hal yang penting yang akan madam Yuri bicarakan padamu, sepertinya ada hubungannya dengan nilai akademismu akhir-akhir ini." jawab siswa laki-laki itu yang kini duduk dan memandang aneh wajahku.


" B..Bagaimana bisa?" kejutku kali ini mood-ku berubah drastis, wajahku mulai panik tak karuan bahkan aliran darahku mulai mengalir dengan deras.


" Entahlah, aku tak sengaja mendengarnya dari Tuan Ary." jelas lelaki itu padaku sembari mengusap lehernya yang berkeringat.


Aku hanya menelan ludahku, kali ini aku akan benar-benar mendapatkan omelan dan peringatan yang lebih keras dari Madam Yuri atas kesalahanku.


" Mati aku! Mengapa aku bodoh sekali?!" gumamku dalam hati sembari menggigit jari jemariku karena rasa gerogi dan takut yang mulai berkecamuk dalam batinku.


Apakah yang akan Madam Yuri lakukan padaku?


Apakah aku tak berhak mengikuti ujian sekolah atau ujian masuk perguruan tinggi karena nilaiku yang semakin hari semakin menurun?