
" Ceritakanlah, semuanya pada kami, Alana." ujar Yui padaku. Aku mulai menarik napas dan mulai bercerita kepada kedua sahabat sohibku ini.
Aku menceritakan segalanya tanpa ada yang kusembunyikan tentang apa yang terjadi diantara aku dengan Juno begitu juga dengan kejadian Taegyeon dan Ji Hoon hari itu.
" Jadi, karena hal itu kalian bertengkar dan kemarin kau menangis juga karena hal ini, Iyakan?" sidik Yui yang mulai shock mendengar permasalahan sepele yang membuat hubunganku dan Juno agak renggang.
" Iya, Juno salah paham padaku karena rumor yang ia dengar dari Rebecca." jawabku dengan nada yang sedikit lesu
" Keterlaluan gadis itu." geram Mia dengan mengepalkan tangannya.
" Tapi, tak apa semuanya sudah jelas. Juno sudah tahu kebenarannya, tadi pagi dia juga sudah meminta maaf padaku." jawabku dengan meyakinkan hati kedua sahabatku yang tengah panik dalam menangani kasus percintaanku. Maklum saja, ini adalah kali pertama aku jatuh cinta dan berpacaran, aku belum punya pengalaman akan hal ekstrem semacam ini.
" Astaga, Alana jika kau punya masalah serius seperti ini janganlah kau pendam sendiri, berbagilah pada kami. Kami akan mendengarkan dan membantumu dalam mengatasi masalah." ucap Mia dengan menepuk pundakku sebagai bentuk dukungannya padaku.
" Aku malu karena aku selalu menyusahkan kalian dan selalu melibatkan kalian dalam setiap urusanku." jawabku dengan menyudutkan bibirku dan tertunduk lesu.
" Aku selalu merepotkanmu, Yui, Mia."
" Apa yang kau bicarakan? Alana, dengarkan aku, apa gunanya kami sebagai sahabatmu kalau tidak membantu satu sama lain. Jangan egois, Alana." nasihat Mia padaku
" Baiklah, maafkan aku. Aku takkan mengulangi lagi." sesalku sembari menundukkan kepalaku. Aku sangat beruntung memiliki seorang sahabat seperti mereka.
" Syukurlah kalau begitu, kurasa kau harus selalu bersama dengan Juno, Alana. Jangan sampai terlepas cintamu, kau kan sudah berjuang mati-matian demi mendapatkannya, dan sekarang waktunya untukmu menjaga ikatan cintanya." saran Yui dengan melempar sedikit senyuman padaku.
Aku hanya tersenyum menatap kedua temanku ini, merekalah pendukungku di kala susah senangku.
Jam pelajaran berlangsung, siswa-siswi serius memperhatikan penjelasan dari masing-masing guru pelajaran begitu juga dengan kelasku dan ini waktunya pelajaran seni yang diampu oleh Madam Yuri, guru seni kesukaanku. Ya, aku sangat suka dengan hal yang berbau dengan seni.
" Bsst, Alana." desis Juno yang duduk di sebelahku.
" Apa kau masih marah padaku?"
" Tidak." Jawabku dengan ikut berbisik sembari menatap wajah Juno yang kala itu masih terlihat memar.
" Kalau begitu, istirahat nanti makan sianglah denganku." tawarnya dengan memberikan isyarat dengan tangannya, dia terlihat lucu bila seperti ini.
" Tidak mau." cetusku dengan singkat sembari menulis catatan pada bukuku.
" Kalau aku yang mentraktirmu, bagaimana?" tawarnya lagi padaku, kali ini aku mulai tertarik dengan tawaran opsi keduanya. Lumayan juga jika makan gratis bersama orang tersayang.
" Okay, aku mau." jawabku dengan menunjukkan jempol tanganku ke arahnya.
Juno tertawa dan menyenggol lenganku.
" Kau ini suka dengan hal gratisan yaa." bisiknya kali ini diiringi dengan gelak tawa renyahnya dapat kulihat giginya yang tertawa kecil menatapku.
" Kwon Juno! Kim Alana! Berdiri!" bentak Madam Yuri dengan sangat lantangnya hingga membuat satu kelas memandangi dimana kami duduk sepertinya Madam Yuri mendengar tawa cekikikan kami. Aku dan Juno mulai berdiri.
" Apa yang kalian lakukan? Suara tawa kalian mengganggu konsentrasi belajar teman sekelas." singgung Madam Yuri dengan melipat kedua tangannya.
Madam Yuri adalah guru seni yang sangat disiplin, tegas dan bijaksana, beliau memperlakukan semua muridnya dengan sangat adil, jika salah mereka akan dihukum dan jika benar ia akan diberikan penghargaan oleh Madam Yuri setinggi-tingginya, tanpa ada pengecualian mau dia bintang kelas, anak pejabat atau bukan, baginya keadilan-lah yang harus di junjung tinggi. Beliau juga adalah wali kelasku di kelas tiga ini, beliau yang akan mendampingi sampai kelulusan tiba.
" Maaf, mam." jawabku dan Juno dengan serempak sembari menundukkan kepala menatap meja.
" Keluar dari kelas saya, bersihkan halaman sekolah sebagai hukum kalian karena berani berbuat gaduh di kelas." ujar Madam Yuri dengan mengangkat tangannya menunjuk keluar kelas
Aku dan Juno mulai beranjak dari kursi dan mulai pergi ke halaman tuk membersihkan halaman dari kotoran. Tak pernah menduganya bahwa aku akan diusir ke luar kelas bersama Juno.
" Kau yang mulai, Juno. Seandainya kau tidak mengajakku berbicara pasti aku tak diusir keluar seperti ini." desisku dengan menggenggam sapu di tanganku.
" Bukankah kau senang jika bisa keluar bersamaku?" sidik Juno dengan mencolek pipi kananku.
" Alana, apa kau ingin memukulku dengan sapu itu?" tanyanya dengan nada panik memandangku yang kini tengah mengangkat sapu ijukku padanya.
" Iya, karena ucapanmu sering menggodaku."
" Jika kau berani memukulku akan kutuntut kau ke polisi atas tindak asusila terhadap suamimu." goda Juno kali ini dengan tersenyum menatapku. Aku hanya mengulurkan lidahku tuk meledeknya.
" Kau suamiku? Aku tak percaya ucapan para buaya." cetusku dengan nada pedas.
" Jadi, kau menantangku rupanya, baiklah kalau begitu akan kubuktikan padamu, suatu saat nanti saat kelulusan tiba aku akan menikahimu." ujar Juno dengan menaruh tangannya pada pinggangnya.
" Benarkah itu? perkataanmu menarik sekali." Tanyaku yang meledeknya. Ia hanya mengangguk dan mengangkat alisnya.
" Hey!! Juno akan menikahiku! Juno akan menjadi suamiku!" teriakku berulang kali sembari berlarian mengelilingi halaman sekolah seperti seorang anak-anak yang tengah bahagia tanpa beban.
" Hey, iya benar kini Kim Alana istriku, Alana telah menjadi istriku." teriaknya juga sembari berlari mengitari halaman sekolah mengikutiku.
Aku tak tahu apa yang kupikirkan dalam benakku, aku berlarian bersamanya di halaman bagaikan seorang anak kecil.
" Cukup, Juno. Aku lelah." pintaku padanya agar berhenti berlari dengan napas yang terengah-engah.
Ia juga berhenti berlari dan duduk bersamaku di tanah sembari meluruskan kedua kakinya.
" Ku rasa aku akan menjadi gila apabila selalu di dekatmu, Alana." Ucap Juno dengan napas yang sesak.
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya, aku juga merasakan hal yang baru apabila Juno selalu ada di sampingku. Rasanya hidupku telah lengkap sudah apabila dia bersamaku.
" Sungguh, kau gadis yang menyenangkan, Alana. Aku beruntung bisa memilikimu." ujar Juno dengan menatapku yang bercucuran keringat.
Aku mulai mencubit keras lengannya, terdengar Juno mulai teriak kesakitan.
" Apa yang kau lakukan? Mengapa kau mencubitku." tanyanya sembari meringis kesakitan dan mengusap kulit bekas cubitanku.
" Kau selalu menggodaku." marahku padanya dengan mengerucutkan bibirku layaknya seekor bebek.
" Tapi, kau menyukainya, kan?" Aku hanya mengangguk dan tersenyum malu menatapnya.
" Aku takkan pernah bisa berpaling darimu, Juno." bisikku di telinganya. Ia terlihat tersenyum menatapku sembari mengusap keringat di dahiku dengan tangannya.
" Aku juga takkan melepaskanmu, Alana." balasnya dengan menarik hidungku.
Aku dan Juno tertawa bersama seakan-akan kamilah pemilik sekolah ini takkan ada yang bisa mengganggu keromantisan kami hari itu. Dunia serasa milik berdua.
Terlihat sosok bayangan hitam datang menjulang menghampiriku dan Juno yang tengah duduk bersama bercanda ria.
"Juno, Alana, Madam Yuri meminta kalian untuk masuk kelas." ucap seseorang pria itu dengan nada agak meragu dan lirih karena memandang kami yang tengah duduk berdua bercengkrama mesra.
" Baiklah, Ji Hoon. Kami akan segera ke sana." jawab Juno pada pria itu yang nampaknya dia adalah Ji Hoon, teman satu genk-nya di Ex Boys.
Ji Hoon hanya mengangguk mengiyakan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal sepertinya ia merasa canggung dan tidak enak hati mengganggu keasyikanku dengan Juno, tapi apa boleh buat Madam Yuri yang memintanya tuk memanggilku dengan Juno yang diusir keluar beberapa menit yang lalu.
" Ayo, istriku kita masuk kelas." ucap Juno dengan mengulurkan tangannya padaku. Lagi-lagi ia menyebutku sebagai istrinya, benar-benar pria ini membuat hatiku terus meleleh karena sikap manisnya. Aku mulai meraih uluran tangannya.
" Baiklah." Aku mulai berdiri di genggamannya layaknya seorang putri raja bersama pangeran impiannya.
Hari itu, Ji Hoon memalingkan wajahnya dan memilih untuk tidak memperhatikanku. Dia memilih untuk diam tanpa sepatah kata yang terucap.
Sesekali aku menoleh ke arahnya namun ia memilih tuk membuang mukanya dan menatap ke arah lainnya selain padaku.
" Maafkan aku, Ji Hoon." gumamku dalam hati. Sebenarnya tidak enak jika aku bermesraan dengan Juno di depannya.