The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 25 Kembalinya Dua Hati



Pernahkah kau merasa berat tuk melepas sesuatu yang kau cintai?


Aku kembali duduk termenung di taman belakang sekolah, kupandangi pohon besar yang berdiri menjulang di hadapanku, ucapan Madam Yuri tentang upacara hari kelulusan membuat hatiku kacau, mood-ku menjadi semakin berantakan. Baru saja aku merasakan indahnya lika-liku bercinta, namun mengapa malah seperti ini jadinya.


Aku baru saja mengenal sosok Juno sebagai belahan jiwaku dan sekarang aku juga akan dipisahkan oleh waktu. Mengapa semua tak ada yang berpihak padaku?


" Alana! Aku mencarimu ternyata kau disini." panggil Mia yang menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya melambaikan tanganku dengan lesu sebagai bentuk responku padanya.


" Apa yang sedang kau lakukan disini di tempat sepi seperti ini?" tambah Mia dengan menatap sekeliling taman yang hanya di penuhi pohon dan tanaman liar.


" Hatiku kacau. Kalian tahu, perpisahan sebentar lagi datang tapi aku tak mau berpisah dengan Juno. Baru saja aku merasakan indahnya bercinta dan sebentar lagi aku juga akan segera dipisahkan dari Juno." curhatku dengan menundukkan wajahku menatap sepasang sepatu yang terpakai di kedua kakiku.


" Astaga, Alana kau ini kekasihnya kau bisa tanyakan hal apapun pada Juno. Tanyalah pada Juno, dimana ia akan berkuliah nanti baru kau bisa menyusulnya agar bisa satu universitas dengannya." gumam Yui yang dari tadi menepuk jidatnya sembari duduk di sampingku.


" Apakah bisa?" tanyaku yang mulai sedikit ragu


" Bisa." jawab Mia dan Yui dengan serempak seakan ia sangat yakin bahwa aku bisa satu universitas lagi dengan Juno.


" Tapi, kau harus belajar dengan giat supaya kau bisa satu kampus dengan kekasihmu itu, kau tahukan Juno bisa masuk ke kampus manapun yang ia mau, ingat dia itu sangat pintar, Alana." tambah Yui dengan menasehatiku agar tak terus bermain-main dalam pelajaran.


Aku mulai menghela napas panjangku, setidaknya masih ada satu harapan untukku bisa seuniversitas dengannya. Tapi, apa mungkin aku bisa satu universitas lagi dengan sosok Juno, otakku saja tak selevel dengannya. Ia adalah raja dari segala mata pelajaran.


Bakat? Bakat apa yang ku punya, aku hanya pecinta seni tak seperti dia yang ahli dalam segala bidang. Aku jadi semakin meragukan diriku sendiri untuk bersanding dengannya.


Hari itu, ku melihat Juno berada di perpustakaan bersama Robi dan Namjin, nampaknya mereka tengah belajar bersama terlihat banyak buku yang bertumpuk dihadapannya. Rasanya agak canggung jika aku harus menghampiri mereka dan bertanya dimana mereka akan berkuliah walaupun aku tahu akulah pacar dari salah satu anggota Ex Boys, tapi tetap saja pacar hanyalah sekedar pacar bukan istri atau tunangannya.


Aku kembali merasa kesepian dihari-hari kosong seperti ini . Ku lihat akhir-akhir ini, Ji Hoon juga tak hadir bersama mereka, kurasa Ji Hoon sangat sibuk dengan urusannya. Mengapa aku jadi memikirkan sosok Ji Hoon. Tapi, sungguh aku benar-benar merindukan sosok Ji Hoon disisiku jika merasa sepi seperti ini. Biasanya dialah yang selalu datang menghapus kesedihanku. Dialah pelangi kebahagiaanku.


" Alana?" panggil seseorang menepuk bahuku dari belakang yang tengah mengintip Juno dengan teman-temannya.


" Ji Hoon?" Gugupku menatap sosok yang baru saja ku pendam dalam diam kehadirannya.


" Sedang apa kau disini? Kau memperhatikan Juno lagi?" tanyanya yang membuat tubuhku berbalik menghadapnya. Aku ketahuan lagi.


Aku hanya meringis merespon ucapannya. Terkadang aku sangat heran, Ji Hoon selalu datang di kala aku merindukannya dan di kala aku memendam namanya dalam hati, apa Ji Hoon tahu semua rasaku yang ku pendam dalam diam. Apa dia bisa membaca pikiran dan isi hati seseorang?


Teringat kala itu ketika Taegyeon dan berandal-berandalnya itu menghadangku di taman belakang sekolah dan mereka juga nyaris melecehkanku. Namun, ketika aku menjerit memanggil nama Ji Hoon dan meminta pertolongan padanya dalam tangisku. Tapi saja dengan waktu yang sekejap mata ia datang dan membantuku dari cengkraman para pria murahan itu, kurasa ini bukan hanya sebuah kebetulan saja, aku merasa bahwa aku dengan Ji Hoon memiliki keterikatan batin antar satu sama lain.


" Alana, mengapa kau melamun? apa kau sedang ada masalah?" tanyanya kali ini tangannya menyentuh pundakku. Sudah lama aku tak berbicara dengannya jadi kali ini kumerasa sedikit kikuk


Tiba-tiba dengan sigap Ji Hoon menarik tanganku dan membawaku ke sudut perpustakaan dimana semua barang-barang siswa di titipkan.


" Ceritakan padaku, Alana. Akulah yang akan mendengarkan keluh kesahmu." ujar Ji Hoon dengan menatap tajam mataku.


Aku terdiam memandang Ji Hoon yang memandang tulus diriku. Lagi-lagi dia yang menjadi pendengar setiaku.


" Tak apalah Ji Hoon, aku baik-baik saja. Hanya saja aku bingung memilih studi apa yang pantas untukku nanti." ucapku dengan menatap wajah Ji Hoon sembari menyodorkan senyum padanya. Aku tak mau Ji Hoon tahu tentang masalahku.


" Memang waktu cepat sekali berputar ya, Alana. Baru kemarin kita berkenalan, esok waktunya kita berpisah." gumam Ji Hoon dengan menyandarkan lengannya pada sebuah loker hingga membuatku berada dekat di depannya.


Aku hanya mengangguk dan menghela napas panjangku.


" Alana?" panggilnya menyebut halus namaku


Aku hanya kembali menengadahkan kepalaku dan menatap sorot matanya.


" Iya?"


Terlihat Ji Hoon mulai menggigit bibirnya sembari matanya mengawasi suasana sekitar. Ia kembali menatapku dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya seakan ada sesuatu yang membuatnya ragu untuk mengatakan suatu hal itu padaku. Suatu hal yang berat dan besar dalam dadanya.


" Ji Hoon, Ada apa?" panggilku lagi.


Tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya padaku, menatapku dalam-dalam, menyentuh pipiku dengan tangannya dan tak kuduga ciuman pertamanya kini mendarat pada pipiku.


Aku tertegun melihat sikap Ji Hoon yang agresif seperti ini. Mataku kembali terbelalak lebar.


" Maafkan aku, tapi aku tak bisa menghilangkan semua rasaku padamu, Alana." Desisnya dengan terus menatapku hingga nyaris membuat hidungnya menyentuh hidungku.


" J..Ji Hoon, tapi aku dan Juno..." ucapku yang masih shock atas ciumannya, namun dengan sigap jari telunjuk Ji Hoon menyentuh bibirku memintaku untuk berhenti berbicara tentang hubunganku dengan Juno.


" Aku tahu, kau tak perlu menjawab semua rasaku hari ini, aku akan terus menunggumu sampai kau siap menjadi pendampingku." bisiknya dengan halus sembari menatap teduh wajahku tak luput senyumnya itu masih terhias dalam wajah manisnya.


" Aku juga akan selalu menjadi teman setiamu, Alana, kau tak perlu merasa sendiri. Aku akan ada dan selalu bersamamu." Gumam Ji Hoon sembari mengelus kepalaku dan melangkahkan kakinya menjauhiku. Aku hanya mampu menatap sembari menyentuh pipiku yang berhasil ia kecup.


Aku kembali terbelit dalam dua hati, satu sisi Juno telah menjadi kekasihku namun di sisi lain Ji Hoon masih teguh menungguku untuk menjadi kekasihnya, apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka? Mengapa mereka berlomba seperti ini. Apa ini masih ada hubungannya dengan mendiang Min Hyorin yang di ceritakan oleh Min Ho sebelumnya? Amat rumit jika ku rasakan. Aku tak kuat lagi menahan beban ini sendirian, aku harus meminta pendapat pada kedua sahabatku, Mia dan Yui hanya kepada mereka berdua aku bisa merasa lapang, merekalah tempat dimana aku mengadu.