
Akhirnya mau tidak mau Sarya harus menepati ucapannya tadi. Supaya gak di bilang curang sama teman-temannya. Tapi sesuatu kejadian diluar dugaan Sarya pun terjadi. Saat hendak mengajak Amar pulang bareng. Benar-benar diluar dugaan Rini, Nanda, Sarya, dan Amar.
Siapa sangka setelah kejadian itu hidup Sarya akan berubah.
Kini Sarya dan Amar akhirnya pulang bersama. Setelah sebelumnya Sarya berbicara dengan Amar bahwa ia ingin pulang bersama Amar. Karena Amar ternyata diam-diam menaruh rasa kepada Sarya akhirnya ia pun langsung menyetujui nya.
Perjalanan pulang kali ini, Sarya di bonceng dengan Amar mengendarai sepeda motor milik Amar.
Karena Sarya memakai rok pendek di bawah lutut, jadi ia harus duduk miring.
Amar dengan santai nya mengendarai motornya. Ia sengaja memperlambat kelajuannya agar ia bisa berlama-lama dengan Sarya.
Karena Sarya terasa kepanasan hari ini memang cuacanya lumayan terik jadi Sarya memutuskan untuk berbicara.
"Amar kenapa lama sekali jalannya, aku benar-benar kepanasan.'' Kata Sarya sambil menutup matanya dengan tangan akibat kilauan sinar matahari karena tidak memakai helm.
"Aaa maaf Sarya, kalau gitu kamu pegangan aku ya. Aku akan tambah kecepatan nya.'' Jawab Amar sambil menarik gas motornya.
Karena Amar menambah gas nya secara tiba-tiba sontak membuat Sarya terkejut, hingga reflek dia memeluk pinggang Amar.
Amar yang merasa Sarya mengeratkan lengannya di pinggang Amar. Ia pun merasa sedikit senang dan ada sedikit getaran yang membuat hatinya bedetak lebih kencang. Entah perasaan apa yang sedang ia alami sehingga ia begitu gugup tapi juga senang.
Saat tengah keasyikan memikirkan Sarya yang tiba-tiba memeluk pinggangnya, tanpa di sadari Amar hampir saja menabrak mobil yang secara mendadak berhenti didepannya.
Amar pun langsung mengerem motornya dengan mendadak dan Sarya pun mengernyitkan dahinya karena merasa kaget.
"Kenapa sih mar, kok tiba-tiba berhenti.'' Ketus Sarya dengan nada sedikit kesal.
"Ma maaf sar, ini tiba tiba saja mobil depan berhenti mendadak jadi aku reflek ngerem mendadak." Jawab Amar dengan sedikit gugup takut kalau Sarya akan marah.
Tidak lama kemudian Amar menepikan motornya dan turun dari motor. Sarya pun juga ikut geram karena kelakuan si sopir mobil, yang berhenti secara tiba-tiba.
Sarya yang sudah kesal segera jalan menuju mobil tersebut dan menggedor kaca mobilnya secara kasar.
Kesal karena tidak ada jawaban dari yang punya mobil, Sarya nekat mengambil batu dan mengancam akan memecahkan kaca mobil itu.
Amar yang melihat tindakan kriminal yang hampir Sarya lakukan segera menahan lengan Sarya dan mencoba menenangkannya
"Sarya sabar apa yang kamu lakukan. Ini tidak baik tindakan kamu jangan sampai membuat kita dalam masalah besar.'' Kata Amar sambil mengambil batu dari tangan Sarya dan segera membuangnya jauh.
"Iiih apaan sih kamu Mar. Aku pingin kasih pelajaran yang punya ni mobil. Sadar gak sih, dia itu hampir saja membuat nyawa seseorang dalam bahaya.'' Jawab Sarya dengan nada yang sedikit membentak.
Mendengar percekcokan kedua orang diluar mobil. Kini sang pemilik mobil keluar dari mobil.
Dan tampaklah seseorang lelaki dengan kaca mata hitam dan memakai kemeja serta jas layaknya orang kantoran.
Dia adalah Lino Nuha. Seorang anak dari CEO perusahaan terbesar di kota tersebut.
Dengan harga angkuh dan sombongnya ia menghampiri Sarya dan Amar.
"Hei ada apa kalian ribut-ribut, dasar bocah ingusan tidak punya sopan santun memaki maki di depan mobil orang.'' Kata Lino dengan nada yang penuh kegeraman.
"Hah apa kau bilang apa tuan, kami tidak punya sopan santun? Harusnya kata-kata anda barusan itu lebih cocok menggambarkan sifat anda yang begitu tidak tau malunya, mengatakan kami bocah ingusan, sudah tua beraninya sama anak kecil.'' Ketus Sarya dengan nada yang sangat kesal. Ia benar-benar dibuat kesal oleh laki-laki yang ada di depannya ini.
"Dasar perempuan gila......
bersambung....