The Hidden Love

The Hidden Love
Eps. 21 Misunderstand



Saling tuduh menuduh bermain api, pernahkah demikian**?


Hari ini hampir saja aku celaka, jika Ji Hoon tidak datang mungkin Taegyeon dan jongos-jongosnya bisa memperlakukanku seenaknya dan bahkan melakukan sesuatu diluar dugaanku sebelumnya. Lagi-lagi Ji Hoon yang menolongku, aku jadi semakin bingung apakah aku dengannya memiliki keterikatan batin? Atau jangan-jangan Ji Hoon punya indera keenam sehingga ia bisa merasakan apa yang aku rasakan? Mengapa aku selalu bertanya-tanya tentang hal bodoh seperti ini?


Terkadang aku juga tak mengerti tentang cinta dan persahabatan. Aku menganggap Ji Hoon sebagai sahabatku yang lebih dari seorang Mia dan Yui, tapi disisi lain Ji Hoon juga sebagai pahlawan bagi hidupku dan juga lebih dari seorang Juno kekasihku. Memang rumit jika dipikirkan, tapi ini benar-benar nyata dan aku yang merasakannya.


" Alana tunggu!" panggil seseorang dengan lantangnya hingga membuat gema disetiap lorong sekolah.


Aku mulai memberhentikan langkahku dan mencoba menoleh ke belakang kulihat Juno tengah berdiri tegap dengan seragam tim bolanya.


" Juno, ada apa?" tanyaku dengan menatap teduh matanya.


" Mengapa kau berteriak padaku?" tambahku dengan nada sedikit heran akan tingkahnya hari ini.


" Apa yang kau lakukan dengan Ji Hoon di taman sekolah?" sidiknya kali ini wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya. Wajahnya mulai memerah dan menatap tajam mataku. Tanpa senyum yang terlukis ia memandangiku.


" A..Aku cuma"


" Jawab jujur, Alana! Aku tanya sekali lagi, apa yang kau lakukan bersama Ji Hoon?" kali ini suaranya sangat tegas dan keras sembari tangannya menudingku. Aku terkejut mengapa sikap Juno berubah drastis dan menjadi overprotective seperti ini. Aku tak suka bila ada seseorang yang menudingku keras seperti apa yang ia lakukan.


" Apa tidak bisa kita bicarakan ini baik-baik, Juno? kau selalu meneriakiku. Apa salahku!" bentakku kali ini aku benar-benar terbawa suasana. Siang ini terasa sangat panas ditambah lagi dengan pertengkaran yang tiba-tiba saja datang diantara aku dengan Juno yang baru saja berhubungan.


Terlihat Juno mulai menghela napas panjangnya.


" Kau bermesraan dengan Ji Hoon, kan?" tegasnya dengan jelas memojokanku dan menudingku dengan sikap yang tak kuduga.


" Apa maksudmu? Bermesraan apa?"


" Kau memeluk dan menggenggam tangan Ji Hoon di taman benar, kan? Alana kau anggap aku apa, aku ini kekasihmu tapi kau malah berbuat demikian di belakangku. Kau berkhianat." ujarnya dengan nada tinggi hingga membuat siswa siswi yang berlalu lalang memperhatikanku dan Juno yang tengah bertengkar hebat.


" Jaga ucapanmu itu, Juno! Aku tak pernah sedikitpun berniat untuk melukai apalagi mengkhianatimu." sahutku kali ini aku benar-benar marah dengan semua tuduhan yang ia utarakan padaku.


" Terus saja kau membela diri. Benar kata Rebecca bahwa kau bukan wanita yang baik-baik. Seharusnya aku tidak jatuh cinta dengan gadis licik sepertimu."


" Juno??" gumamku dengan nada yang penuh misteri, aku tak menyadarinya bahwa Juno akan berkata demikian padaku.


" Kau tega berkata seperti itu padaku? Aku tak menyangka bahwa kau akan memperlakukanku seperti ini. Aku benar-benar kecewa padamu."


Aku pergi meninggalkan Juno di lorong sekolah, aku tak peduli lagi tentang apa yang akan dikatakan satu sekolah tentangku dan Juno hari itu. Hatiku hancur mengapa ia lebih percaya dengan ucapan Rebecca, si Diva sekolah yang jahat itu padahal aku ini kekasihnya. Juno tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku di taman sekolah, jika dia tahu pasti dia akan berterima kasih pada Ji Hoon karena tanpanya mungkin sekarang aku sudah putus asa dan menyerah dalam hidup.


Ku berlari menuju ruang kelas sembari mengusap air mataku yang jatuh, sudah dua kali air mataku ini jatuh dengan sia-sia. Satu karena ulah si biang kerok Taegyeon dan satu lagi karena tuduhan kejam Juno padaku.


" Alana, ada apa denganmu?" tanya Mia padaku dengan nada panik melihatku yang berderai air mata.


Aku kembali memeluk erat tubuh kedua sahabatku dan menangis tersedu-sedu.


" Hei, kau kenapa?" tanyanya sekali lagi tapi tetap aku tak mau berkata cukup perih untukku mengungkapkan cerita.


Kejadian hari itu aku tak mau menceritakannya kepada siapapun termasuk kepada Mia dan Yui. Biarlah aku yang memendamnya sendiri, aku bisa melakukannya. Aku yakin esok akan baik-baik saja.


Bell pulang sekolah mulai berdering nyaring, jam menunjuk pukul setengah empat sore murid-murid mulai bersorak bergembira menyambut berakhirnya jam sekolah. Akhirnya hari yang menjengkelkan ini berakhir, terlalu banyak masalah rumit hari ini.


Kulihat Juno menarik tasnya dan pergi begitu saja meninggalkanku tanpa sebuah kata yang terucap. Rencana untuk pulang bersama dihari pertama jadianku gagal karena rumor aneh yang beredar.


" Alana, kejar Juno bukankah kau ingin pulang bersamanya?" ucap Yui sembari menyenggol lengan kananku


" Tidak, aku akan pulang sendiri. Juno sedang terburu-buru, jadi kumemintanya untuk pulang terlebih dahulu." jawabku yang menutupi semua masalah yang mengganjal dalam batinku.


" Oh, dia sangat sibuk ya? Memang pria tampan dan eksis seperti Juno takkan pernah bisa diam dan bersantai." tambah Yui dengan menepuk pundakku "Sabar ya Alana, inilah resikonya kalau punya pacar bintang sekolah."


Aku hanya tersenyum menatapnya. Yui tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sore ini, dibawah cahya jingga yang menyinari aku kembali mengayuh sepedaku sendirian, tanpa seseorang disebelahku rasanya tak asing sama seperti saat aku menyukai diam-diam sosok pria setengah jutek itu, Kwon Juno.


Hari ini mungkin menjadi hari yang terburuk dalam sejarah perjalanan hidupku. Kekasihku yang baru satu hari jadian saja sudah mulai meragukan perasaanku dan menuduh bahwa aku telah menduakannya. Buruk sekali ya nasib cintaku.


" Kriingg..Krriinngg..Kriingg."


terdengar bunyi bell sepeda dipetik nyaring sembari terdengar sayup-sayup seseorang memanggil namaku.


"Selamat sore, Kim Alana!!" sapa Minho kepadaku yang kini mengayuh sepeda disampingku.


" Hai, Minho."


" Berhentilah sebentar, ada yang ingin ku bicarakan padamu." pintanya padaku. Sontak hal ini membuatku menarik rem sepedaku kuat-kuat hingga membuat kedua rodaku berdecit dan berhenti berputar.


" Baiklah, jadi kau ingin bicara tentang apa?" tanyaku dengan menatap wajah Minho yang sayup-sayup tersorot cahya senja.


" Tapi, kau janji jangan marah ya." pinta Minho sekali lagi padaku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk mengiyakan permintaannya.


" Apakah benar jika kau dan Ji Hoon bermesraan di taman?" tanya Minho dengan nada yang sedikit agak canggung sembari tangannya menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.


Aku mencoba menghela napasku untuk kesekian kalinya rasanya sangat sesak apabila ada seseorang yang menyinggungku dengan pertanyaan yang tak bermutu seperti ini.


" Tidak, aku tidak bermesraan dengan Ji Hoon. Dia datang karena dia menolongku, aku memeluknya karena dia ingin menenangkanku." jawabku dengan jelas menatap wajah Minho yang tengah tertunduk memandang sepeda merahnya.


" Ji Hoon menolongmu? Apa yang terjadi sebenarnya?" Minho mulai terkejut dengan pernyataanku. Ia mulai mengintrogasi sedikit demi sedikit tentangku dan Ji Hoon hari ini.


" Karena Taegyeon dan berandal-berandalnya itu datang dan menahanku, mereka juga nyaris ingin melecehkanku, asal kau tahu dan supaya tidak menjadi bahan gosip satu sekolah, secara tak sengaja Ji Hoon datang dan melindungiku dari perbuatan kotor para Kagite Team." jelasku dengan sangat jelas tanpa ada yang kututup-tutupi.


Minho hanya terdiam menatapku.


"Jika Ji Hoon tak datang siang itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku hari ini." tambahku sembari menatap serius mata Minho


" Jadi, rumor yang kudengar dari Rebecca dan Juno ini salah?" herannya dengan mulut yang terbuka lebar.


" Iya, semua itu salah, jika kau tidak percaya tanyalah pada Ji Hoon. Oh iya satu hal lagi, sebelum kau menghakimi seseorang lebih baik jika kau pastikan dulu, apakah berita yang kau dengar itu benar atau cuma gosip dan ujaran kebencian saja." jawabku yang sedikit pedas mengomentari perilaku Minho.


Minho hanya melongo menatapku, ia tidak berkutik sama sekali.


" Jangan sampai membuat hati orang terluka karena berita murahan seperti itu." tambahku dengan kata yang makin sadis sembari kakiku mengayuh pedal sepeda meninggalkan Minho yang masih terdiam dan membisu seakan ia tak percaya bahwa ia menanyakan hal yang salah tentang diriku.


" Tak kusangka, gosip itu cepat sekali menyebar." gumamku dalam hati. Sebenarnya hatiku was-was karena berita ini sudah menyebar luas tapi apa boleh buat semuanya sudah terjadi, nasi telah menjadi bubur dan tak ada yang bisa untuk kuulangi. So, take it easy! Mereka tak pernah tau apa latar belakang kejadian ini terjadi.


" Alana, kau sudah pulang." Sambut Ibuku dengan penuh sukacita atas kedatanganku


"Iya, Bu." jawabku dengan nada lesu dan bergegas pergi menuju kamarku.


Kubanting pintu kamar dan kurebahkan tubuhku di atas ranjang biru favorite-ku. Kupandangi lagi langit-langit kamar dengan hiasan lampu hias diatasnya sesekali aku juga turut memejamkan mataku dan merileksasikan otot-otot yang menegang hari ini.


Lagi-lagi aku harus menarik napas dan menghela napas panjangku agar aku bisa tenang.


Terdengar handphone-ku mulai bergetar. Kulihat ada sebuah pesan hangat yang baru saja masuk ke ponselku.


"Hah? Ji Hoon? Kenapa dia mengirimkanku pesan." gumamku dan bergegas membuka pesan itu


" Aku sudah dengar dari Minho dan Robi bahwa kau bertengkar dengan Juno, aku minta maaf, Alana. Aku tidak bermaksud untuk merusak hubunganmu dengan Juno. Aku janji akan menjelaskan ini semua pada Juno, agar hubunganmu dengannya tak kacau lagi." bacaku yang tengah membaca pesan singkat dari Ji Hoon


Sebenarnya dalam hatiku juga merasa tidak enak dengan Ji Hoon, dia yang menyelamatkanku tapi dia juga yang harus meminta maaf dan meluruskan semua masalahku. Apa yang harus aku lakukan dengan semua ini. Juno juga tidak memberiku pesan hari ini sepertinya ia masih marah atas kejadian yang ia dengar siang tadi.


" Aku tidak apa-apa, Ji Hoon. Kau tak perlu khawatir, aku dan Juno akan baik-baik saja." balasku pada pesan Ji Hoon, kali ini centang biru mulai menghiasi kolom percakapan kami.


" Aku takut menjadi benalu dalam hubunganmu dengan Juno. Kalau begitu, aku takkan lagi menghubungimu supaya kau bisa fokus pada Juno." balasnya pada pesanku , kali ini sangat dramatis perkataan Ji Hoon membuatku menjadi khawatir, apa ini pertanda bahwa Ji Hoon akan pergi meninggalkan Seoul dan memilih tuk pindah dan melanjutkan studinya di luar kota.


"Ji Hoon, jangan seperti ini. Kau adalah yang terbaik bagiku. Jangan tinggalkan aku. Hari ini Juno sedang emosi makanya ia berbuat itu padaku." balasku yang mencoba meyakinkannya bahwa aku dan Juno akan baik-baik saja. Terlihat hanya centang satu dengan warna abu-abu yang terhias disana, Ji Hoon benar-benar mematikan data internetnya dan mengabaikan pesanku.


Ji Hoon, apa kau baik-baik saja?