
Hari ke hari telah di lalui dan kini tinggal beberapa bulan lagi Sarya dan the gengs akan mengikuti ujian akhir sekolah. Ujian yang menentukan lulus atau tidaknya mereka dan ujian yang akan menentukan masa depan mereka.
Hari ini Sarya dan the gengs mengikuti pelajaran salah satu guru favorit mereka yang bernama pak Salim.
''Anak-anakku sekalian, sebentar lagi kita sudah memasuki ujian simulasi ya .. Itu tandanya waktu kalian di SMA ini tidak banyak lagi. Bapak sedih tidak akan bisa bertemu kalian lagi.'' Kata pak Salim yang saat ini tengah berdiri di depan papan tulis.
''Bapak harap kedepannya kalian bisa menjadi orang sukses dan berguna bagi bangsa dan negara. Semakin kesini kalian dituntut untuk bisa bertahan dalam kehidupan. Mungkin kedepannya akan banyak hal-hal yang tak terduga akan menghampiri kalian.
Tapi ingatlah, sesulit apa pun masalah itu kalian harus mampu menghadapi nya dengan tabah, jangan mudah menyerah, dan berserah diri pada Allah.'' Sambung pak Salim yang kini sedang memberikan wejangan dan motivasi pada murid-muridnya.
Mendadak suasana menjadi hening, sebagian dari mereka ada yang berfikir kedepannya ingin manjadi apa namun sebagian lagi ada yang bersedih karena semakin kesini pasti hidup tidak akan bertambah mudah.
Semakin bertambah dewasa banyak beban hidup yang harus di pikul, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, dan lain-lainnya.
Tak terkecuali dengan tiga makhluk riweh yang terkenal centil dan konyol itu. Mereka memikirkan tentang masa depan mereka masing-masing.
''Eh gais,, emangnya selama ini kita gak berguna ya buat bangsa dan negara?.'' Kata Rini dengan polosnya.
Padahal sudah jelas apa yang mereka lakukan kebanyakan unfaedah semua.
Namun Sarya dan Nanad tidak mau menanggapi ucapan Rini. Dan hanya membiarkan saja sahabatnya itu berbicara sepuas hatinya.
Jam istirahat telah tiba. Para anggota gengs gesrek itu ingin mengisi perutnya di kantin. Namun ada yang kurang, Amar tidak ikut.
Tadi Amar telah ijin pada mereka bahwa dirinya akan pergi ke perpustakaan. Itulah Amar, si laki-laki yang rajin dan senang menimba ilmu. Karena sebentar lagi mendekati ujian jadi mencari ilmu jauh lebih penting dari segalanya. Kata Amar.
''Si Amar rajin banget ya gais, hebat loh dia. Murid baru pindahan tapi sudah mampu mengalahkan kecerdasan kita-kita ini.'' Kata Nanad. Kini ketiga gadis beranjak dewasa itu berjalan menuju kantin.
''What? Gak salah denger aku ya Allah. Aku di bilang pintar loh sama Nanad ku sayang.'' Kata Rini dengan heboh. Karena tak menyangka dirinya di anggap cerdas oleh sahabat karibnya.
Melihat sikap konyol para sahabatnya, Sarya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan berkata.
''Gak heran lagi aku nad, bisa dilihat jelas Amar itu bibit unggul. Udah baik pinter lagi. Kalau sampai mama ku ketemu sama dia udah pasti masuk list calon menantu idaman.''
''Yang bener sar? Wah kabar bagus dong. Kalau gitu suruh ketemuan aja Mama Luna sama Amar pasti langsung mmmppp.....'' Ucapan Rini terputus karena Sarya membungkam mulut Rini yang sudah bisa ditebak ujungnya akan berkata apa.
Asyik berbicara, mereka sampai kurang memperhatikan keadaan sekitar hingga mereka salah jalan. Harusnya menuju kantin tapi malah belok ke lorong dekat WC.
Tanpa sadar mereka terus berjalan saja. Hingga Nanad yang otaknya masih sedikit berkerja berkata.
''Heuyy gais salah jalan,, belok kiri harusnya kita ke kantin kok malah ke ******.''
''Eh iya ya bund.. keasyikan jalan kita.'' Kata Rini dan diakhiri tawa terbahak-bahak dari Sarya dan Nanad.
Namun, ketika akan kembali memutar jalan dari arah lorong samping toilet, gengs gesrek itu mendengar suara sekumpulan orang yang sepertinya sedang berteriak-teriak dan tertawa senang.
Rini, Sarya dan Nanad mengehentikan langkah kaki. Dan ikut menguping pembicaraan orang-orang tersebut.
''Eh gais diam dulu, dengarkan.. Kasihan banget kayaknya mereka lagi melakukan pembuliyan deh.'' Kata Sarya sambil menempelkan telunjuknya dibibir, menyuruh teman-temannya untuk diam.
''Hahha rasain loh,, mangkannya jadi orang jangan sok pintar. Lo mau ngalahin Wenda yang udah jelas-jelas dapat juara bertahan di kelas. Dan Lo juga mau ngerebut perhatian Kevin kan? Hah jawab jangan diem aja. Mendadak bisu lo?.'' Kata perempuan didalam toilet sana.
''Kenapa Lo diam aja hah? Cepetan ngomong atau kita siram loh sekarang juga. Sekali lagi kita kasih kesempatan Lo buat ngomong ayok cepetan.''
Sedangkan ketiga gadis gesrek yang menguping di luar toilet, masih diam dan mendengarkan lebih lanjut lagi.
''Dasar Lo cewek gatel kan, kelihatan diem di luar tapi kelakuannya kayak l*nt*.'' Kata perempuan yang lain.
Mendengar hal itu membuat hati gengs gesrek menjadi panas, bagaimana bisa seorang perempuan berkata demikian dengan sesama perempuan.
Namun mereka bertiga masih tetap diam, mendengarkan lebih lanjut. Mereka tidak mau gegabah dan mencoba memahami permasalahannya.
''Yaudah gais, siram aja pake air. Muak gue ngelihat mukanya yang sok cantik itu.''
Sarya dan gengs sudah tidak bisa diam lagi, kali ini mereka harus membela kebenaran.
Ketika orang yang di dalam toilet itu akan mengguyur si korban pembuliyan dengan air di ember, Tiba-tiba Sarya dan the gengs muncul secara mendadak seperti superhero yang ada di film-film Hollywood.
Rini yang memang sedari tadi sudah tak tahan mendengar hal-hal kejam yang dilontarkan para perempuan jahanam itu. Dengan kasarnya mendobrak lalu membanting pintu toilet tersebut.
Bruakkkkkk...
Pintu toilet terbuka dengan kasarnya.
"Ih Rin tau tau Lo kalau mau dobrak pintu. Ntar rusak kita suruh tanggung jawab gimana?." Kata Nanad yang khawatir dengan kelakuan temannya itu.
"Kalau rusak ya suruh apakan? Ya diganti lah. Tenang aja anak sultan ini." Dengan bangganya Rini berkata demikian.
Kembali fokus pada kasus pembuliyan itu.
"Hey cewek-cewek jablay stop hentikan ini semua." Kata Rini dengan emosi yang membara. Karena tak terima melihat seorang perempuan lemah di bully habis-habisan seperti itu.
Sarya pun tak mau kalah dengan Rini, inilah sifat Sarya yang tersembunyi. Di balik sikap dewasa, kalem dan sopannya ternyata tersembunyi jiwa yang barbar.
"Apa kalian gak tahu malu hah? Muka kalian tuh masih standar banget dibandingkan orang yang kalian bully. Sok banget sih. Ngaca dulu dong ya bund...".
Nanad yang juga merasa kesal, ikutan nimbrung.
"Nih kaca ni,, ngaca dulu sini. Kurang gede ntar suruh anak sultan ini belikan. Ya kan Rin." Kata Nanad sambil menyodorkan cermin kecil yang diambil dari saku bajunya kemudian menunjuk bangga kearah Rini si anak sultan.
Dan inilah sisi tersembunyi lainnya dari Sarya dan gengs. Saat-saat inilah jiwa barbar mereka keluar dan menunjukan jati diri sesungguhnya sebagai seorang wanita yang tak terima melihat wanita lain di perlakukan dengan tidak adil.
Segesrek-gesreknya mereka, mereka semua masih memiliki sisi kepedulian terhadap sesama. Walaupun tak jarang jalan yang ditempuhnya kelewat jalur kebenaran.
Ketika pintu terbuka, Di dalam sana terdapat tiga mahkluk jablay yang menjadi tersangka pelaku pembuliyan.
Inilah saatnya gengs gesrek vs geng jablay.
bersambung....
jangan lupa like.
happy reading..😘