The Hidden Love

The Hidden Love
Siapa yang mau menikahi aku?



Sudah beberapa hari ini Lino kembali tinggal di Negera kelahirannya. Memang sangat berbeda suasananya dengan Amerika pikirnya.


Bagai hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri. Itulah pepatah yang cocok menggambarkan keadaan Lino.


Di sana tak banyak orang yang ia kenal. Hanya beberapa teman saja yang ia punya.


Selama di Amerika Lino hanya menghabiskan waktunya untuk belajar, belajar, dan terus belajar bagaimana menjadi pengusaha yang baik. Kesehariannya sering di habiskan dengan terus membaca dan mengerjakan tugas kuliahnya.


Oleh karena itu, tak heran diusia yang masih muda dia sudah dipercaya untuk belajar memimpin perusahaan sang Papa.


Terlihat Lino masih memejamkan matanya di sofa nan empuk setelah selesai menghadiri rapat tadi. Pikirannya berputar pada kejadian beberapa hari yang lalu.


Saat ia pulang dari bandara menuju kediaman kedua orang tuanya. Saat itu ia bertemu dengan sesosok gadis aneh yang amat menjengkelkan menurut nya.


Flashback on


"Halo kamu dimana? Saya sudah sampai di parkiran cepatlah sangat panas disini." Kata Lino pada seseorang di seberang telepon sana.


Tak banyak pembicaraan antara mereka, setelah mengatakan hal itu Lino menutup teleponnya.


Tiiinnn tiinnn


Suara klakson mobil mewah menghampiri Lino.


Orang dalam mobil Berkata ''Silahkan masuk tuan, maaf saya membuat anda menunggu lama tadi macet di jalan."


Sambil membukakan pintu mobil pada tuan mudanya itu.


Orang itu tak lain adalah Reno, sekretaris sang papa Lino. Yang ditugaskan untuk menjemput Lino di bandara.


Tanpa banyak bicara Lino segera masuk karena cuaca di Indonesia sangat berbeda dengan Amerika.


Mobil mewah itu melaju menuju jalan raya.


Saat perjalanan menuju rumah mobil mewah itu melewati jalan yang tak banyak kendaraan berlalu lalang.


Tiba-tiba terdengar dering handphone Lino, ia pun mengangkatnya.


''Iya ada apa?.'' Tanya Lino pada orang diseberang sana yang tak lain adalah Vany. Seorang wanita yang beberapa tahun belakangan terus mengejar Lino. Padahal Lino sama sekali tak menganggap wanita itu.


"Kamu pulang ke indo kok gak kabarin aku sih Lin, Kamu sekarang di mana aku mau jemput kamu." Kata wanita yang cantiknya standar nasional Indonesia itu.


"Gausah, gak perlu repot-repot aku udah di jalan."


"ih kok gitu sih, yaudah pokoknya kamu berhenti sekarang juga dimana pun tempatnya cepetan".


"Kamu mau ngapain sih, gak usah macem-macem deh,, aku capek." Kata Lino dengan ketus, karena merasa jengkel dengan wanita yang selalu merecokin hidupnya.


"Aku gak mau tau, kamu berhenti sekarang juga atau aku lompat dari mobil ini." Ancam Vany pada Lino.


"Hentikan mobilnya Ren!". Perintah Lino secara mendadak.


Kebetulan dibelakang mobil mewah itu ada, sepasang siswa dan siswi yang mengendarai motor, siapa lagi kalau bukan Amar dan Sarya.


Mereka juga sama kagetnya melihat mobil didepan tiba-tiba berhenti secara mendadak.


Terlihat dari luar dua manusia labil itu sedang beradu argument. Si pemeran wanita sedang ngomel-ngomel sedangkan pemeran pria nya mencoba menenangkannya.


Lino langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Vany dan keluar mobil menghampiri kedua mahkluk riweh itu. Karena beberapa saat yang lalu gadis labil itu sempat menggedor-gedor kaca mobilnya.


"Hei ada apa kalian ribut-ribut, dasar bocah ingusan tidak punya sopan santun memaki-maki di depan mobil orang.'' Kata Lino dengan nada yang penuh kegeraman.


"Hah apa kau bilang apa tuan, kami tidak punya sopan santun? Harusnya kata-kata anda barusan itu lebih cocok menggambarkan sifat anda yang begitu tidak tau malunya, mengatakan kami bocah ingusan, sudah tua beraninya sama anak kecil.'' Ketus Sarya dengan nada yang sangat kesal. Ia benar-benar dibuat kesal oleh laki-laki yang ada di depannya ini.


"Hei jaga bicaramu anak kecil, kamu itu kayaknya tidak pernah diajari ngomong sopan ya sama orang tua, gadis cabe-cabean kayak kamu itu jaga omongan sama orang yang lebih tua." Kata Lino sangat geram pada gadis yang dianggapnya cabe-cabean itu.


"Ohh jadi om ini udah tua ya, Ohh om maafkanlah cabe-cabean yang khilap ini." Kata Sarya dengan wajah melas seolah-olah memohon pengampunan pada pria yang dipanggil dengan sebutan Om itu.


"Apa kamu bilang aku om, emang aku setua itu sampai kamu panggil aku om?."


''Lah kagak sadar diri ya om, terus mau dipanggil apa kan emang sudah om om.'' Sarya berbicara seolah tak punya dosa.


Mendengar hal itu, secara spontan entah sadar atau tidak Lino mengangkat tangannya dan


PLETTAK...


Si om ganteng itu menjitak kepala gadis didepannya itu.


''Aww sakit tau,, sembarangan aja jitak kepala aku, ntar kalau aku bodoh siapa yang mau menikah sama aku hah? om mau nikahin aku emngnya?.'' Entah apa yang merasuki Sarya hingga berani berbicara seperti itu.


Sedangkan Amar, laki-laki bau kencur itu hanya terdiam dan tak berani ikut campur, karena sebelumnya telah diancam Sarya untuk tidak ikut campur.


Melihat sang tuan muda mulai kehabisan kesabaran, sekretaris Ren, keluar dari mobil dan menenangkan sang tuan muda.


''Tenang tuan muda, tindakan anda bisa dianggap kriminal karena melawan anak kecil.'' Reno mencoba menenangkan Lino sambil memegangi lengannya agar tak berbuat lebih pada anak labil dihadapannya itu.


''Sudahlah Ren, kau jangan ikut campur ini urusanku dengan gadis cabe-cabean ini. Dan ya baiklah jika kau ingin kunikahi, ayok sekarang kita ke KUA. Biar ku bantai kau habis habisan karena berani melawan aku, akan ku pastikan saat malam pertama kau tidak akan bisa tidur hahahaha..'' Tanpa sadar Lino malah mengatakan hal itu.


Perkataan nya malah membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


Bagaimana bisa tuan berkata seperti itu, aku tak menyangkanya. Batin sekretaris Ren dalam hati.


Tanpa Lino sadari, kata-kata yang barusan ia ucapkan tadi bisa menjadi kenyataan.


"Cuih,, aku tak Sudi menikah dengan om-om mesum seperti kau, berani sekali berpikiran seperti itu pada gadis suci ini. Ayok Mar, kita pulang aja bisa gila nanti kelamaan sama om ganjen ini." Ajak Sarya pada Amar yang terlihat masih mematung mendengar ucapan Lino tadi.


"Dasar perempuan gila......"


Kata Lino setelah kepergian dua manusia labil itu.


Falasback off