
Sore hari ini, terlihat begitu damai dan sunyi. Matahari perlahan mulai pergi meninggalkan kilauan sinarnya.
Sore itu Sarya terlihat murung di depan jendela kaca rumahnya yang menghadap ke arah matahari terbenam. Memandangi sunset sore itu membuat pikiran Sarya kembali pada masa kanak-kanak yang kurang menyenangkan. Dimana tak banyak ia habiskan dengan sang ayah.
''Aku kangen ayah. Tapi disisi lain aku juga takut.''
Sarya berkata sambil menahan isak di dadanya.
Tak mau lama-lama terlarut dalam kesedihan. Sarya teringat akan surat pernyataan yang di minta pak Harto.
''Astaga suratku! Bagaimana ini. Aku takut Mama marah besar sama aku. Aduh,, emm oiya minta bantuan kak Radit aja. Oke Sarya kamu memang pandai.''
Sarya ingin menemui kakaknya, namun jam segini kakaknya itu masih sibuk bekerja di bengkel. Jadi ia akan menemuinya setelah makan malam nanti.
________
Seorang gadis tengah berlari tergesa-gesa, Gadis itu pergi menuju rumahnya.
''Aduh sudah hampir malam, aku harus cepat-cepat pulang. Sebelum Mami pulang kerja.''
Gadis itu berkata masih dengan berlari.
Akhirnya beberapa saat kemudian ia sampai di depan rumahnya. Ia berdiri di depan pintu sambil mengatur nafasnya agar tenang. Gadis itu menarik nafas dalam dan membuangnya pelan.
Perlahan ia memegang gagang pintu lalu membukanya.
Kliiikk!!
Pintu terbuka. Gadis itu mengedarkan pandangannya kearah ruang tamu, merasa tidak ada orang ia masuk kedalam.
Ketika pintu terbuka, "Dari mana saja kamu?.'' Terdengar seorang wanita yang tak lain adalah Maminya sendiri.
''Mami, mami kok udah pulang kerja?'' Meli berfikir sejenak untuk mengalihkan perhatian Maminya. ''Aa mami pasti capek ya.. Ayok Meli pijit.'' Lanjut gadis itu sembari memegang pundak Maminya untuk di pijat.
Ya gadis itu adalah Melidya Kinanti. Seorang gadis yang memiliki masalah trauma dengan masa lalunya.
Namun, tangan Meli ditangkis oleh Bu Ayu yang tak lain adalah Mami nya Meli. Dengan nada tinggi Bu Ayu berkata.
''Jauhkan tanganmu dari Mami. Mami tahu, pasti kamu mencari dia lagi kan. Sudah berapa kali mami bilang mami gak suka kalau...'' Perkataan Bu Ayu terpotong.
''Cukupp Mi!!'' Meli membentak Maminya sambil menutup telinga dengan kedua tangannya.
''Aku gak mau mendengar mami lagi. Mami gak pernah ngertiin aku..hiks hikss.''
Meli sudah tak dapat menahan tangisnya lagi.
Dengan gerakan cepat, Meli pergi meninggalkan Maminya dan masuk kedalam kamar.
''Mel, Meli mami belum selesai bicara,, heyy berhenti!!''
Namun perkataan Bu Ayu sama sekali tak dihiraukan. Gadis itu terus berjalan sambil menahan isaknya.
Bruakk!
Suara bantingan pintu dari kamar Meli.
Di dalam kamar, Meli bersimpuh di lantai kamarnya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Sakit hati, sedih, takut, trauma dan frustasi itu lah yang dialami Meli.
Meli adalah seorang gadis yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis.
Ibunya adalah seorang single parent. Kedua orang tuanya telah pisah sekitar 3 tahun yang lalu. Karena ada masalah salah paham.
Meli merupakan tipe anak yang tidak bisa hidup tanpa kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Dulu sewaktu orang tuanya bersama. Mereka masih hidup dengan rukun. Hingga suatu saat terjadilah kesalahpahaman yang berujung perceraian diantara kedua orang tuanya.
Orang tua Meli sering bertengkar, kehidupan yang harmonis kini berubah menjadi sadis. Terkadang perkelahian di antara kedua orang tuanya itu berakhir dengan kekerasan.
Itulah penyebab Meli menjadi trauma dan cenderung lebih menutup diri. Bahkan sangking depresinya dia sampai susah tidur. Dan sering mengonsumsi pil penenang.
Meskipun begitu, Meli adalah gadis yang berprestasi di sekolahnya. Karena kepintarannya itu banyak juga siswa lain yang tak suka padanya.
Semenjak orang tuanya berpisah, kehidupannya menjadi susah. Ia menjauh dari orang-orang yang ia sayangi. Dan pergi bersama ibunya ketempat tinggal baru.
Tak banyak yang ia kenal di lingkungan barunya. Harapan Meli satu-satunya adalah, ia ingin bertemu dengan sepupu kesayangannya. Yang entah sekarang berada di mana.
__________
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, kini Sarya sedang makan malam bersama Mama, Kakak, dan Adiknya.
Namun, sang kakak tetap makan dengan khidmat tanpa memperdulikan tingkah konyol sang adik.
"Ihhh Kak Radit kok gak peka-peka sih, udah dikasih kode malah gak nengok-nengok juga. Pantes aja sampai sekarang masih jomblo. Dasar gak pekaan!.''
Sarya berkata dalam hati.
Merasa sebal karena di cuekin, akhirnya Sarya mencoba mencari cara lain untuk mendapatkan perhatian sang kakak. Sarya mencari keberadaaan kaki kakaknya. Dia mulai meraba-raba dengan kakinya. Untuk menyenggol kaki kakaknya agar melihat kearahnya.
Namun tiba-tiba,
''Awww sakiiittt'' Teriak Sarya ketika kakinya diinjak oleh seseorang.
Spontan orang-orang yang berada di meja makan menoleh kearah Sarya.
''Kamu ngapain sih Sar?. Ngapain nyenggol-nyenggol kaki Mama.'' Ternyata yang menginjak kaki Sarya adalah sang Mama. Mama Luna duduk di seberang Sarya tepatnya sebelah Radit.
''Eh eh,, enggak kenapa-napa kok Ma. Tadi cuma olahraga kaki aja pegel soalnya.'' Jawab Sarya berbohong.
Merasa ada yang tak beres dengan sang anak, Mama Luna berkata.
''Gak mungkin kalau gak ada apa-apa. Mama perhatikan sikap kamu aneh banget dari pulang sekolah tadi. Kamu nyembunyikan sesuatu ya?.''
Tanya Mama Luna curiga.
Sarya berusaha untuk menghindari tatapan introgasi dari mamanya.
''Gak ada apa-apa Mama cantik,, Sarya kenyang nih mau ke kamar ya ma. Besok udah mulai simulasi.. Babay semuanya.!"
Kata Sarya sambil berdiri meninggalkan meja makan, dan tak lupa memberikan ciuman di pipi sang Mama.
Sebelum pergi, Sarya menyempatkan untuk memberikan satu kedipan mata pada Radit. Seolah memberi isyarat ada hal penting yang harus dikatakan.
Radit yang mengerti maksud dari sang adik, hanya menganggukkan kepalanya. Memberi tanda bahwa ia paham.
Begitulah kekompakan antara kakak dan adik itu. Saling memahami satu sama lain.
Melihat interaksi tak biasa dari kedua anaknya, Mama Luna menjadi curiga. Namun ia berusaha menutupi kecurigaannya itu, dan berpura-pura tak tahu menahu.
Kini Radit berada dalam kamarnya setelah selesai makan malam dan menyelesaikan sholatnya.
Radit adalah tipe pria yang baik, rajin, pekerja keras, penurut, sangat menyayangi adiknya dan taat beribadah.
Kepribadian Radit sangat berbeda jauh dari adik-adiknya. Bahkan ayah kandungnya sendiri. Seolah tak ada kemiripan sikap yang diturunkan kedua orang tuanya.
Radit sangat bijaksana dalam menyelesaikan masalah, hal itulah yang membuat Sarya nyaman untuk berbagi masalahnya pada sang kakak.
Cekklekkk!!
Pintu kamar Radit terbuka.
"Kakak boleh aku masuk?.'' Tanya Sarya didepan pintu. Belum sempat Radit menjawab dia langsung nyelonong masuk.
''Tidak boleh!.'' Jawab Radit dari dalam kamar. Namun, gadis nakal itu tak mematuhi perintah kakaknya. Bagi Sarya larangan adalah sebuah perintah.
''Kakak pelit banget, aku cuma mau masuk aja.''
Kemudian Sarya langsung menghempaskan tubuhnya di kasur kakaknya.
''Aduhhh enaknya.....uuuuu'' Sarya berkata sambil menggeliatkam tubuhnya.
Melihat tingkah konyol sang adik, Radit hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Mau apa kemari? Pasti ada masalahkan?.'' Tebakan Radit memang benar. Dia sudah hapal betul kelakuan adik perempuannya itu. Pasti akan masuk ke kamarnya jika ada masalah yang tidak mau sampai Mama mengetahuinya.
Dengan wajah yang dibuat semanis mungkin Sarya bangun dari kasur dan berkata. ''Hehehe kakak... tau aja deh.'' Sarya berkata sambil tertawa nyengir. Namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah menjadi kesal.
''Tapi aku kesel sama kakak. Tadi di kasih kode-kode pas makan, malah gak peka. Jadinya salah sasarankan jadi kena kaki Mama. Pantesan aja belum punya cewek. Kakak tuh terlalu sibuk sama diri sendiri sampai gak menengok para cewek yang mengantri buat berdampingan sama kakak. Dasar gak pekaan!!.''
''Hey bandel, kok jadi nyalahin kakak...''
Bersambung........
jangan lupa like dan vote..
semoga kebaikan kalian dibalas tuhan...🤗