
Kencan adalah suatu hal paling mengesankan dalam suatu hubungan, dimana kau akan menghabiskan satu hari bersama kekasihmu. Apakah kalian pernah berkencan?
“Baiklah, Alana. Malam ini kita akan pergi berkencan, aku akan menjemputmu tepat jam 7 malam.” ucap Juno yang membuatku terkejut.
“Tapi, Juno. Akukan…” Tangan Juno tiba-tiba saja menutup katup bibirku yang hendak berbicara.
“Anggap saja ini hadiah untukmu, bukankah 20 besar itu sudah luar biasa? Aku menghargai segala perjuanganmu, Alana.” jawabnya kali ini diiringi senyuman manis yang melebar di bibirnya. Lagi-lagi tatapan mata dan senyumannya membuat jantungku berdegup kencang tak karuan. Kuberanikan diri menatap Juno dengan mata yang terbinar-binar seakan aku tak percaya dengan ucapan Juno siang itu. Aku akan berkencan dengannya, momen inilah yang kutunggu kedatangannya.
“Jangan menatapku dengan bola mata kasihanmu itu. Aku tidak suka!” Aku hanya meringis unjuk gigi menatapnya.
“Terima kasih, Juno. Aku mencintaimu.” bisikku dengan mesra padanya.
“Ya, aku tahu itu.” jawabnya dengan cuek sembari berjalan di hadapanku.
Ada suatu hal yang tak bisa kuutarakan dengan kata-kata. Pertama, aku bisa membuktikan bahwa aku ini tidak bodoh dengan menjadi 20 besar dari 39 siswa di sekolah dan yang kedua, Juno mengajakku berkencan. Ini adalah kencan pertamaku dengan Juno. Kurasa aku harus berterima kasih pada Ji Hoon, karena berkat dialah aku bisa mendapatkan nilai baik dalam ujian matematika sehingga mengangkat nilaiku.
Memang benar kata pepatah, ketika kau sudah mengenal cinta apapun akan dilakukan demi melihat pujaan hatimu bahagia. Siang itu, kuputuskan untuk mencari keberadaan Ji Hoon di sekitar taman belakang sekolah. Taman ini adalah tempat dimana aku dan dia duduk dan bercengkrama. Sudah sekian lama, aku tak duduk dan bercerita dengan Ji Hoon.
“Alana? Apa yang kau lakukan disini?” tanya seseorang dengan suara khasnya, dia adalah Ji Hoon.
“Ji Hoon, terima kasih telah membantuku dalam belajar hari itu. Aku senang peringkatku naik.”
Terlihat Ji Hoon menyeringaikan bibirnya dan duduk tepat di sebelahku.
“Tak masalah, selamat ya kau berhasil melakukannya.” ucap Ji Hoon yang terus menatapku.
Suasana menjadi hening seketika, seakan tak ada suatu hal yang bisa kami obrolkan. Jarak masih memisahkanku dengan Ji Hoon pasca aku berpacaran dengan Juno.
“Aku akan berkencan dengan Juno, Ji Hoon.” kataku yang menatap wajah sampingnya.
Terlihat Ji Hoon mulai terbelalak kaget mendengar ucapanku hingga membuatnya tersedak air minum yang baru saja ia tenggak.
“Benarkah?”
“Ya, dia akan datang menjemputku nanti malam. Rasanya aku seperti bermimpi.”
“Itu luar biasa. Selamat, Alana.”
Aku hanya tersenyum membalasnya.
Di sebuah ruangan yang penuh dengan barang, aku mulai menatap langit yang mulai berubah menjadi gelap dari jendela. Rasanya tak sabar jika menunggu Juno datang menjemputku. Berkali-kali kutengok jam di dinding apakah sudah menunjuk pukul 7, rasanya lama sekali. Jam dinding tak mau berputar. Pakaian demi pakaian kukeluarkan dari dalam lemari, polesan make-up sudah kulakukan. Kali ini, ku akan membuat Juno semakin jatuh cinta padaku. Kurasa aku yang akan semakin cinta dengan Juno.
“Alana! Ada temanmu di bawah.” teriak Ibuku dengan suara lantang hingga terdengar dari lantai dua. Aku bergegas membereskan penampilanku dan mulai memakaikan parfume di tubuhku. Aku yakin dia adalah Juno.
“Iya, Ibu.” balasku yang bergegas keluar menuruni tangga dan pergi menuju lantai satu.
Mataku terbelalak kaget melihat seorang pria berjas coklat dan penampilan kerennya yang menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.
“J..Juno” gumamku dalam hati sembari merasakan detak jantung yang semakin lama semakin kencang dan napas yang kian tak beraturan. Bagaimana bisa ia berpenampilan luar biasa seperti ini, sedangkan aku berpakaian sederhana dengan gaun pendek biru yang kubeli dua tahun yang lalu saat perayaan natal. Rasa percaya diriku sudah menurun. Juno mulai meminta izin untuk mengajakku pergi, dan dengan sigap Ibuku mengizikannya.
Di halaman rumah terlihat sebuah mobil hitam mengkilap bagai kristal terparkir. Juno mulai membukakan pintu mobilnya untukku.
“Masuklah.” bisik manisnya diiringi dengan senyuman khas milik Juno.
Dalam perjalanan menuju aku hanya diam tanpa sepatah kata yang terucap. Aku hanya mampu menundukan kepalaku menatap kedua kakiku.
“Juno, bagaimana jika kita tak usah berkencan saja? Antarkan aku pulang.” Ucapku dengan lirih hingga membuat Juno menginjak rem mobilnya dan menatap aneh diriku.
“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti.” sidiknya yang mulai memarkirkan mobilnya di pinggiran jalan.
“Aku takut membuatmu malu, lihatlah apa artinya diriku. Penampilanku dan kau berbeda, apa yang akan orang katakan tentangku ketika mereka melihat bahwa aku berkencan dengan seorang pangeran sepertimu. Bawa aku pulang, Juno.” jawabku dengan nada lirih yang lesu tanpa semangat.
Juno hanya tersenyum geli, nampaknya ada yang salah dengan ucapanku.
“Alana, dengarkan aku. Apapun yang mereka katakan, aku tak peduli. Bagiku, kau luar biasa.” Juno yang mencoba untuk menenangkan hatiku.
“Tidak, aku berkata sesuai apa yang ada dalam lubuk hatiku.”
Aku masih tertunduk lesu, ucapan Juno tak bereaksi apapun bagiku. Aku masih merasa kecil dengan diriku sendiri. Terdengar Juno mulai menghela napas panjangnya.
“Baiklah, Alana. Jika kau malu dan merasa rendah diri karena penampilanku yang seperti ini, aku akan membuka jas dan pakaianku. Jadi, aku akan makan malam denganmu hanya mengenakan celana panjang tanpa pakaian saja.” ucapnya yang mulai mencoba membuka jasnya namun kuberhasil menghentikannya.
“Jangan Juno, jangan kau lakukan itu.” tahanku yang mulai menahan tangannya tuk membuka jasnya.
“Mengapa? Bukankah lebih baik seperti itu, kau merasa malu dan aku juga harus merasakannya.”
Aku hanya menggigit bibirku. Aku tak tahu bahwa Juno akan melakukan hal nekat seperti ini.
“Maafkan aku. Aku tidak akan malu lagi, aku akan percaya pada diriku. Tapi, tolong pakai jasmu lagi.”
Terlihat Juno mulai tersenyum menatapku dan mulai mengenakan jasnya. Mobil melaju dengan kecepatan minimun sembari menikmati indahnya malam aku hanya bisa menatap ke luar jendela. Malam itu, aku percaya bahwa cinta tak selalu memandang penampilan dan kasta, kupikir itu hanya ada di negeri dongeng tapi aku salah dalam realita kisah itu masih ada. Aku juga yakin, diantara seribu pria di dunia ini pasti ada seorang pria yang akan menerimamu apa adanya tanpa mengeluhkan kekurangan yang ada pada dirimu.
Cinta dan ketulusan hatilah yang akan menyempurnakan segalanya. Aku bersyukur bisa bertemu dengan sosok Juno, dia yang terlihat acuh bagai batu tapi memiliki hati hangat sehangat mentari pagi.
“Apa yang kau pikirkan lagi, Alana?”
“Tidak ada, aku beruntung bisa memilikimu.”
“Cukup, Alana. Kau selalu memberikanku kata-kata romantis hingga membuatku hapal dengan kosakatamu itu. Juno aku mencintaimu, Juno aku sangat senang bertemu denganmu, dan juga aku sangat beruntung memilikimu. Apa taka da kata lain?” sindir Juno yang menirukan gaya bicaraku.
Aku tertawa kecil.
“Jadi, kau selalu memperhatikanku ya?”
“Bagaimana tidak, suaramu selalu terngiang dalam otakku.”
Aku mulai memukul lengan Juno hingga membuat mobilnya keluar dari jalur utama dan terbelok sekejap hingga membuat mobil yang ada di belakang maupun di depan membunyikan klaksonnya. Kami hanya menatap tajam satu sama lain dan kemudian tertawa bersama.
“Kau ini benar-benar sudah tak waras ya, Alana hampir saja kita menabrak mobil orang lain.”ujar Juno yang mulai mengelus dadanya karena kaget.
“Biarlah, aku tak waras karena cintamu, Juno.” Juno hanya menggelengkan kepalanya seakan ia tak bisa berkata-kata lagi dengan rayuan mautku.
Malam itu, Juno mengajakku makan malam di sebuah restoran pusat kota dengan meja yang bernuansa romantis dengan lilin yang menyala di hadapan kami. Tiba-tiba ia mulai berlutut dan mengeluarkan setangkai bunga mawar yang terselip dalam saku jasnya.
“Hei, maukah kau menerima cinta tulusku, Alana? Kau telah mencuri hatiku di setiap hariku dan kau berhasil menjadi matahari dan rembulanku.” ucap Juno yang menyodorkan bunga hingga membuat seluruh pelanggan restoran menatap di mana kami duduk. Melihat pemandangan seperti ini, wanita mana yang tak leleh hatinya jika pujaan hatinya memberikan bunga padanya.
“Juno, apa yang kau lakukan? Lihatlah, semua orang menatap kita.” Bisik lirihku padanya yang masih berlutut manis di hadapanku.
“Biarlah, biar mereka tahu bahwa kau adalah milikku. Terima ini sebagai wujud cintaku padamu.”
Aku mulai meraih setangkai mawar merah indah itu dari tangan Juno. Sontak terdengar beberapa orang berbisik dan mengomentari penampilanku yang tak serasi dengan Juno.
“Lihatlah, apa pria itu buta. Mengapa ia mau dengan wanita jelek dan tak modis seperti dia?” bisik keras segerombol wanita yang duduk tepat di sebelah meja makan malamku dengan Juno.
“Apa tak ada wanita lain selain gadis kuno itu?” tambah seseorang yang kali ini membuat Juno menyidik tajam kea rah mereka yang mulai menggunjing diriku hingga membuatku menundukan kepalaku sekali lagi.
Telingaku mulai mendengar suara lirih Ji Hoon yang mengatakan untuk jangan menangis dan menundukan kepala nanti mahkota yang ada di kepalaku jatuh. Tapi, kali ini aku tak bisa menahan apapun yang ada di dalam hatiku, apa yang kutakutkan kini terjadi.
Juno mulai menatapku yang masih tertunduk, cacian dan hinaan terus terjadi di dalam restoran dan sekelompok gadis modis itu mulai menggoda Juno yang tengah berdiri membelai kepalaku.
“Hei, tampan. Apa kau tak mau bergabung dengan kami? Tinggalkan saja pacar kunomu itu, berkencanlah dengan kami.” ucap salah satu diantara mereka dengan wajah yang putih, rambut halus dan tentunya berpakaian modis nan mahal.
“Maafkan aku, Alana.” ucap Juno padaku. Juno tiba-tiba menghampiri tempat dimana gadis itu duduk bersama kawannya.
“Juno, kau mau pergi kemana?” tanyaku tetapi tetap Juno tak membalas ucapanku dan terus melangkah menghampiri gadis-gadis itu.
Apa yang akan dilakukan Juno? Apakah Juno akan meninggalkan Alana dalam kencan romantisnya?