
Apakah kau percaya tentang cinta sejati, cinta yang benar-benar datang dari hati tanpa memandang kekurangan yang ada pada diri?
Di malam hari yang indah dengan langit yang penuh gemintang, terlihat sebuah meja dengan dekorasi romantis lengkap dengan lilin yang menyala dan sekuntum bunga yang tergeletak manis sebagai dekorasi manja.
Terlihat Juno mulai menghampiri segerombolan gadis yang sedari tadi menatap aneh dan berdesis sadis ke arah kami.
“Juno, kau mau kemana?” panggilku sekali lagi kali ini Juno mengabaikan panggilanku dan terus berjalan lurus menghampiri meja 12 yang ada dekat kami. Aku tak tahu apa yang ada dipikiran Juno malam itu, makan malam romantis kembali terhenti.
“Apa yang kau bicarakan tentang gadisku?” tegur Juno pada segerombolan gadis modis yang sedari tadi menggodanya sembari matanya menatap dengan tajam satu persatu gadis yang sedari tadi mulai berdesis miris.
“Jadi, itu kekasihmu?” ucap salah satu dari mereka yang mulai terperangah kaget dan mata yang terbelalak. Juno hanya memutar bola mata malasnya.
“Kalau begitu kenalkan namaku, Rin. Aku adalah anak dari pengusaha mall terbesar di Daegu.” Tambah sosok gadis itu dengan menyodorkan tangannya dan memandang Juno dengan tatapan centilnya. Juno tetap mengabaikannya dan tak mau menyebutkan nama ataupun identitas lainnya kepada sosok gadis yang baru saja ia kenal.
“Aku tak peduli siapapun kau, yang terpenting kau jaga saja ucapanmu. Percuma jika kau cantik tapi hati dan mulutmu busuk, itu tak ada artinya!” balas Juno kali ini membuat sekolompok gadis modis itu terdiam, begitupun juga dengan diriku aku tak menyangka bahwa Juno akan berbicara dengan kata-kata yang pedas seperti itu pada gadis cantik seperti mereka.
“Dasar pria sombong! Apa kau tidak bisa melihat dengan baik, lihatlah aku ini lebih baik daripada gadismu itu. Jadi, berkencanlah denganku. Aku kasihan melihatmu seperti itu.” ucap salah seorang gadis bernama Rin yang mulai berdiri dari kursinya sembari tangannya terus memainkan rambutnya.
“Dialah yang terbaik dan aku sama sekali tak tertarik dengan wanita seperti dirimu, seorang wanita yang tak bisa menghargai wanita lain bahkan gadis seperti dirimu itu lebih rendah dari sampah.” ujar Juno yang membuat Rin dan teman perempuannya mulai diam mematung. Aku juga tak menyangka bahwa Juno akan mengatakan hal sepedas itu bahkan lebih pedas dari sambal bajak. Juno mulai menarik tanganku dan mengajakku pergi.
“Kita pergi dari sini saja, Alana.” ucap Juno yang mulai menarik tanganku hingga membuat semua orang yang ada di restoran indah itu menatap heran. Kali ini, kencan romantisku gagal hanya karena wanita perusak keharmonisan hubungan itu.
Juno sepertinya sedang marah, raut wajahnya berubah masam. Suasana kembali menegang, selama di perjalanan aku hanya diam tanpa kata menatap wajah Juno yang kesal dengan kejadian yang baru saja terjadi. Pendingin dalam mobil seakan tak bisa mendinginkan pikiran dan hati yang tengah memanas.
“Alana?” ucap halus Juno yang menyebut syahdu namaku.
“I..iya, Juno.” jawabku sembari menggigit bibir bawahku.
“Mengapa kau diam saja?” tanyanya yang kali ini mencoba untuk mencairkan suasana yang sedari tadi membeku.
“A..aku..” jawabku kali ini dengan menundukan kepalaku, entah mengapa tiba-tiba saja lidahku menjadi kelu.
“Lalu mengapa sekarang kau malah gugup? Aku kan hanya bertanya padamu, maka jawablah.” sahut Juno dengan menyeringaikan bibirnya sembari sesekali ia menoleh ke arahku yang sedari tadi diam tanpa kata.
“Aku tak pernah melihatmu diam seperti ini, biasanya kau akan berbicara sepanjang hari bagai seekor burung.” tambahnya yang kali ini mulai meledekku.
“Maafkan aku, karena aku telah merusak mood-mu.” ucapku dengan suara yang sayup-sayup penuh dengan penyesalan.
Tiba-tiba rem mobil diinjak dengan kuat hingga membuat mobil berhenti disisi jalan malam yang ramai dengan kendaraan yang lalu lalang.
“Apa yang kau bicarakan, Alana?” tanya Juno kali ini wajahnya memandangku dengan menatap penuh keheranan.
“Iya, karena aku kau jadi melawan gadis itu dan membuatmu malu di depan umum.”
Juno mulai menyentuh dan menepuk halus kepalaku.
“Aku tak apa. Asalkan bersamamu, aku tetap bahagia.” kataku sembari menyunggingkan senyuman manisku yang membuat Juno tertawa terbahak-bahak.
“Apa aku salah?”
“Tidak. Baiklah, kemana kita akan pergi sekarang? Menonton film atau kemana? Katakanlah, kau ingin pergi kemana?”
“Bagaimana jika kita pergi ke taman kota saja? Aku sangat rindu dengan suasana taman malam hari. Kurasa itu tak terlalu buruk.” jawabku. Terlihat Juno mulai berpikir sejenak.
“Baiklah.” sahut Juno yang mulai menarik perseneling mobil dan menjalankan mobilnya.
Kali ini, taman kota menjadi destinasi kencanku dengan Juno. Bukan karena apa, ini semua kulakukan agar aku tak lagi membuat masalah baginya. Pemandangan malam taman kota sangat indah dan menurutku cocok untuk berkencan walau sekedar bercengkrama berdua.
“Wah, indahnya. Sudah lama aku tak pergi kesini di malam hari.” kagumku yang melihat lampu-lampu taman yang menyala indah dengan berhiaskan langit yang terang bertabur bintang dan bulan menambah suasana romantis di sekitar taman kota. Juno hanya tersenyum yang melihat tingkahku bagai anak kecil.
“Kau tahu Juno, bahagiaku itu sederhana. Cukup ada kau disisiku menemani setiap menit detikku, aku juga tak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu.” ucapku dengan kepala yang menengadah menatap langit yang ramai dengan gemintang yang bergelantung manis berkelap-kelip di angkasa.
“Kalau begitu, aku juga sama. Aku juga tak peduli apa yang akan kuhadapi nanti, aku akan tetap bersamamu sampai akhir waktuku.” tambah Juno yanga membuatku menoleh menatapnya.
“Kau ini mengikutiku saja.” sahutku dengan menyenggol lengannya.
“Tidak, aku bicara sesuai dengan apa yang ada di hatiku, itu saja. Karena kau segalanya bagiku.” jawabnya dengan menjulurkan lidahnya seakan tengah meledekku.
Malam itu, aku menghabiskan waktu bersama Juno. Hal yang kami lakukan hanyalah makan makanan di taman kota dan bercengkrama membahas hal yang tak pernah bisa kukira. Juno berubah menjadi sosok pria yang menyenangkan malam itu.
“Juno?” panggilku. Ia hanya menolehkan pandangannya sembari fokus menyetir mobil untuk menuju rumah.
“Ketika kau lulus nanti, kau akan melanjutkan studimu kemana?” tanyaku yang mulai memberanikan diri, karena ini adalah pertanyaan yang selama ini kupendam.
“Entahlah, aku belum tahu. Kurasa aku tak ingin melanjutkan studiku.”
“Mengapa begitu? Bukankah kau sudah mendapatkan banyak tawaran untuk kuliah gratis karena prestasimu?” tanyaku lagi dengan membelalakan mataku merespon ucapan Juno yang agak aneh.
Juno hanya menggelengkan kepalanya seakan ia tak tahu lagi apa yang akan dibicarakan. Aku hanya mengangguk dan menyandarkan kepalaku di kursi mobil sebelah Juno. Padahal aku hanya ingin tahu dimana Juno ingin melanjutkan studinya supaya aku bisa bersiap-siap masuk ke universitas yang sama dengan Juno dan mengira-ngira berapa nilai yang harus kuperbaiki.
“Terima kasih, Juno atas malam ini. Ini takkan pernah terlupakan untukku.” ucapku pada Juno
“Tak masalah, maafkan sikapku yang di restoran tadi hingga membuat kita gagal makan malam.”
“Kau ini, Juno. Aku tak mempermasalahkannya. Ya sudah aku masuk ya, sudah malam kau hati-hati mengemudinya, jangan lupa hubungi aku ketika kau sudah sampai di rumah, oke?
Juno hanya mengangguk paham dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan halaman rumahku.
Malam ini menjadi memori terbaik yang pernah ada, aku mulai percaya tentang cinta sejati, cinta yang benar-benar datang dari hati tanpa memandang kekurangan pada diri itu nyata adanya. Juno sudah membuktikannya padaku. Benar kata sang pujangga cinta bahwa jika kita sudah mencintai sesuatu bagaimanapun bentuk dari sesuatu itu sudah tak dipedulikan lagi.