The Hidden Love

The Hidden Love
Pengenalan



Pagi yang amat cerah, secerah mentari yang sinarnya membawa kehangatan pagi bagi bumi.


Seorang remaja cantik tengah mempersiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah. Dengan pakaian seragam putih abu-abu ia berdiri didepan cermin sambil memoles wajahnya dengan bedak serta sedikit liptint untuk menambah warna rona di bibirnya.


Setelah itu ia merapikan rambutnya yang panjang dan bergelombang, ia sengaja membiarkan rambutnya tergerai begitu saja.


Gadis itu adalah tipe orang yang tidak ribet, tapi jika sedang riweh dengan urusan tugas sekolah ia tidak akan membiarkan rambut indahnya itu mengusik saat-saat ketegangan jika sedang mengerjakan tugas. Terkadang ia memilih untuk mengikat atau menggulung rambutnya itu. Dia adalah Sarya Saras Wati.


Setelah merasa dirinya sudah sempurna, ia pun lanjut dengan menyangklong tas di pundaknya. Yang sudah pasti isinya adalah peralatan sekolah juga buku-buku pelajaran.


Eits tapi yakin cuma itu aja isinya? haha tentu tidak, seperti kebanyakan remaja perempuan lainnya ia juga membawa cermin berukuran kecil serta Liptint yang biasanya dia kenakan untuk menambah rona di bibirnya. Biasa namanya juga anak remaja apalagi pas lagi mau ketemu si doi pasti ingin terlihat menarik gitu kan. Jadi itu bukanlah hal asing lagi.


"Pagi Mama." Sapa Sarya pada mamanya yang bernama Luna.


"Eeh tuan putri udah selesai semedi nya, mama tu ya nungguin kamu dari tadi lama banget sar.'' Jawab mama Luna sambil membuatkan teh manis untuk anaknya.


"hehe mama nih kaya gak pernah muda aja deh." Saut Sarya yang langsung duduk di meja makan dan mengambil selembar roti dan mengoleskan selai rasa kacang kesukaannya.


"Yaudah cepet habisi sarapannya udah mau siang kasihan tuh Reyhan nungguin kamu dari tadi.'' Jawab mama Luna sambil menunjuk ke Reyhan yang tengah minum teh nya.


"Ih iya lho kakak ni lama banget aku dapat jadwal piket nih.'' Saut Reyhan.


"Iya iya bawel sabar dikit Napa, oiya ma kak Radit kemana ma kok gak ikut sarapan?.''


"Ohh kakak kamu udh berangkat duluan ke kampus katanya mau persiapin emm apa ya pokoknya gitu deh mama gak tau apa tadi lupa." Jawab mama Luna sambil mengingat-ingat apa yang di katakan Radit tadi. Tapi ujung-ujungnya gak ingat juga.


Ya Sarya adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Sarya mempunyai kakak laki-laki dan adik laki-laki yang masih duduk di kelas delapan SMP. Mereka hanya tinggal berempat saja di dalam sebuah rumah sederhana.


Sebenarnya papa Sarya masih hidup, tetapi tidak tinggal serumah dengan mereka, mama dan papa nya juga tidak bercerai hanya saja mereka tinggal terpisah. Emmm kira-kira karena apa ya? ah nanti aja di bahas.


Setelah selesai sarapan Sarya dan Reyhan mencium punggung tangan mamanya dan mengucapkan salam. Sarya dan Reyhan biasa pergi ke sekolah naik angkot. Berhubung jalan menuju sekolah Sarya satu arah dengan sekolah Reyhan jadi mereka pergi sama-sama.


Mereka sudah terbiasa hidup sederhana semenjak papanya pergi meninggalkan mereka. Maklum, mama Sarya hanya mengandalkan uang dari hasil jualan di warung sembako miliknya sendiri, jadi bisa ditebak hasil uang nya tidak seberapa.


Sarya dan Reyhan dibiasakan untuk hidup sehemat mungkin dan dianjurkan untuk menabung apabila uang jajannya sisa. Sedangkan Radit kakaknya Sarya, ia memilih kerja paruh waktu di Bengkel milik ayah temannya.


Radit memilih kerja sampingan supaya meringankan beban mamanya. Dan untuk uang kuliah dia mengandalkan dari Beasiswa, ya Radit termasuk anak yang pintar dan cerdas jadi tidak heran bila ia mendapat beasiswa.


Pagi itu Sarya langsung masuk kelasnya padahal biasanya dia nongkrong dulu di depan perpustakaan sambil menunggu teman-teman nya. Karena waktu sudah hampir menunjukkan jam masuk kelas jadi dia berpikir bahwa teman-teman nya sudah berada di kelas. Dan benar saja setiba nya di kelas, teman-teman nya sudah sampai duluan.


"Heh sar kamu kok tumben agak telat?." Kata Rini salah seorang teman Sarya.


''Iya nih biasa ritual awet muda ku kan lama,, haha". Balas Sarya yang sudah duduk di kursi nya.


''Eh eh kamu tau gak katanya akan ada anak baru di kelas kita." Kata Nanda.


"Oya bagus dong, biar makin rame kan nih kelas, btw itu muridnya cowok apa cewek?" kata Sarya.


"Yealah mana ku tau kan aku baru denger-denger aja.'' saut Nanda sambil mengeluarkan buku pelajarannya.


''Pasti kalo itu murid cowok si Rini bakalan kecentilan tuh goda-godain.'' Jawab Sarya.


''ihh Sarya kamu tau aja kesukaan aku, habis mubazir nanti kalo gak di goda hahaha.''


Jawab Rini tertawa sambil memukul lengan Sarya yang duduk di samping nya.


"Eh eh gimana kalo kita taruhan aja.'' Kata Nanda.


''Ayyook.'' Jawab Rini bersemangat.


"Gak mau ah aku gak mau kayak gitu habis nanti kalo aku yang kalah kalian nindas aku.'' Jawab Sarya dengan memperlihatkan wajah cemberut nya.


"Halah Sarya nih tuman, sekali aja plisss ya ya ya.. aku jamin kamu gak akan kalah.'' Jawab Rini meyakinkan Sarya sambil mengantupkan kedua tangannya dan mengedipkan matanya berulang kali.


Sarya yang mudah terhasut dan gak tegaan akhirnya dengan terpaksa menyetujuinya dengan menganggukkan kepalanya.


"Yeey gitu dong kan makin sayang.'' Jawab Rini sambil memeluk lengan Sarya.


"Iihh apaan sih lebay deh,, jadi mau taruhan gimana nih.'' Jawab Sarya.


Kemudian Nanda menjelaskan apa itu taruhannya kepada mereka berdua. Para best friends nya. Emm kira-kira apa ya taruhannya?


Tidak lama kemudian bel masuk telah berbunyi. Para siswa di dalam kelas yang tadinya sedang sibuk dengan urusan masing-masing segera menghentikan aktivitas nya. Selang beberapa waktu kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang....