
Selang beberapa waktu kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang....
Sesaat para siswa diam di tempat duduknya masing-masing. Dan benar saja seseorang tersebut adalah Bu Dinda, guru mata pelajaran matematika sekaligus wali kelas Sarya.
"Selamat pagi semuanya." Sapa Bu Dinda yang tengah menuju meja nya dan menaruh buku-buku yang akan dipakai mengajar.
"Pagi juga Bu.'' Sorak para siswa di dalam kelas bersama-sama.
"Baiklah,, ibu rasa tidak usah basa basi hari ini, langsung saja ibu mau bilang kalau kita kedatangan kawan baru.'' Kata Bu Dinda.
Sontak para siswa dikelas sudah mulai bertanya tanya siapa kira-kira siswa baru itu, dan untuk para jomblo pasti sangat senang apabila itu adalah siswa laki-laki.
Salah satu murid pun bertanya
"Siapa Bu? laki-laki atau perempuan? dimana dia Bu, haduh udh ga sabar mau kenalan nih, tapi kalo dia cowok kalo cewek yaa udah B aja.'' Ya siapa lagi kalau bukan Rini yang bilang begitu. secara dia kan yang paling centil.
"Rini bisa diam tidak. Boleh bertanya tapi bukan seperti itu caranya, bisa sopan gak?." Bentak Bu Dinda dengan nada bicara yang sedikit kesal karena kelakuan muridnya yang memang seperti itu dia sudah menduganya.
"Eh iya nih sih Rini mulutnya kok centil juga yaa.'' Sahut Sarya sewot. Ya begitulah Sarya dia tidak terlalu suka apabila temannya suka centil.
Sontak para siswa kembali berisik dengan semua pertanyaan dibenak mereka masing-masing tentang siapakah siswa baru itu.
Mendengar kegaduhan di kelas Bu Dinda langsung menggebrak meja dengan kedua tangannya untuk menenangkan muridnya.
Bruuakkkk!!!
Para murid langsung diam semua, membisu tak mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Ya itu sudah jadi kebiasaan Bu Dinda untuk menenangkan siswa yang banyak gaya.
Dan bukan hal baru lagi bagi siswa di kelas itu. Bu Dinda memang guru yang sangat tegas dan agak sulit diajak bercanda. Terkadang dia tidak segan-segan untuk membawa siswanya ke ruang BK apabila masalahnya sudah terlanjur parah.
"Kalian bisa diam tidak!. ibu paling tidak suka jika sedang berbicara dan kalian pada ribut.'' Kata Bu Dinda dengan nada yang agak mengancam, seolah berkata jika kalian tidak mau diam akan dihukum hormat bendera sampai waktu pulang.
"Yasudah kalian ibu maafkan untuk hari ini karena ibu sedang berbaik hati. Daripada nanti kita gak jadi belajarnya lebih baik langsung saja ibu panggil kan dia. Nak kamu boleh masuk.'' Kata Bu Dinda sambil berjalan dan melambaikan tangannya didepan pintu kelas memberi aba-aba jika siswa baru itu boleh masuk.
Dan yaa saat siswa itu masuk semua mata tertuju pada nya tidak terkecuali di centil Rini. Ya jelas karena siswa baru itu adalah seorang laki-laki yang memiliki paras tampan, berbadan tinggi namun sedikit kurus dengan garis wajah yang menampakan tampang ceria, supel dan senyuman manis.
Semua mata tertuju pada siswa baru itu, terlebih para siswi yang jomblo. Bagaimana tidak mereka sangat terpana dengan pesona laki-laki itu.
"Baiklah nak, kamu bisa memperkenalkan diri kamu.'' Yang dianggukin oleh siswa itu, dan ia mulai bicara.
Dengan senyuman yang manis ditambah paras yang tampan membuat hati para siswi di kelas tersebut jadi lumeeer kaya keju mozzarella.
Tapi tidak dengan satu orang siswi ya siapa lagi kalau bukan Sarya. Ya mungkin dia agak sedikit aneh tentang masalah cowok. Sarya kurang tertarik dengan cowok apalagi yang manis-manis begitu.
"Oke Amar kamu bisa duduk di bangku kosong itu.'' Tunjuk Bu Dinda di salah satu bangku kosong di samping meja sebelah kanan Sarya karena yang sebelah kiri adalah tempat Rini, iya Sarya duduk dengan Rini.
"Baik bu terima kasih.'' Jawab Amar dengan senyum yang mengembang indah di wajahnya. Saat Amar berjalan menuju bangku yang ditunjuk tadi si Rini mulai beraksi.
"Sarya sayang kamu pindah duduknya sebelah sini ya aku mau duduk disitu ya ya ya.'' Kata Rini sambil memainkan rumah raut wajah yang sok manis.
''Iihh apaan sih km Rin, aku gamau ya pindah-pindah lagi aku udah terlanjur nyaman sama yang ini.''
Tidak mau menyerah begitu saja Rini terus memprovokasi Sarya supaya pindah tetapi hasilnya zonk. Sarya tetap tidak mau pindah. Rini yang kehabisan akal akhirnya menyerah juga.
Saat Amar sudah sampai di bangkunya Amar mencoba menyapa teman sebangku nya dan juga tidak lupa si Sarya, tapi yang di sapa malah menjawab seadanya saja. Hal ini membuat Rini jadi tidak diam saja.
"Hai,, boleh kita kenalan?.'' Sapa Amar kepada Sarya yang duduk di sampingnya tapi agak berjarak. Sarya pun hanya menjawab seadanya saja.
"Sarya namaku Sarya. Dan kamu gak usah nyebutin lagi nama kamu, aku udh denger kok tadi kamu perkenalan jadi gausah basa basi juga ya.''
Mendengar jawaban Sarya Amar pun hanya membalasnya dengan senyuman. Dalam hati ia berkata.
"ni cewek agak rese ya.. diajak kenalan baik-baik tapi sewot gitu.. em tapi dia menarik beda dari siswi lainnya yang gak mungkin nyuekin aku.''
Rini yang melihat pemandangan itu langsung angkat bicara dia menyenggol lengan Sarya dengan sikunya dan langsung memberikan kode supaya Sarya agak minggir dari duduknya agar Rini bisa berkenalan dengan Si babang tampan.
Begitulah julukan yang di berikan oleh Rini. "Hai kenalan sama aku aja ya, biasa Sarya suka buang-buang rejeki. Aku Rini Wulandari panggil aja aku Rini. Tapi kalo mau manggil sayang juga gak apa apa kok.''
Sahut Rini sambil menyodorkan tangannya untuk salaman kepada Amar. Dan Amar pun langsung menyalami Rini. Tidak lupa ditambah senyuman manis.
Mendengar kata-kata Rini membuat Sarya jadi sedikit merinding. "Entah apa yang merasukimu Rin Rin.''
Batin Sarya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Nanda yang duduk di depan bangku Sarya juga tidak mau kalah saing ia pun ikut-ikutan mengenalkan diri. Dengan gaya yang lumayan centil juga tapi lebih centilan Rini.
Setelah perkenalan yang penuh drama tadi kegiatan belajar mengajar pun dilanjutkan hingga tuntas. Dan seperti biasanya mereka sangat anteng didalam kelas itu karena yang mengajar adalah guru Galaksi (galak tapi seksi) ya itu lah sebutan yang sering dilontarkan siswa-siswa yang iseng kepada Bu Dinda.