The Hidden Love

The Hidden Love
Sisi lain Sarya dan gengs part 2



Seorang laki-laki tengah berlari tergesa-gesa menuju ke ruang perpustakaan.


''Woyy yang namanya Amar berdiri.'' Teriak laki-laki yang tak lain bernama Dito saat sampai di depan pintu perpustakaan.


Semua orang yang berada dalam perpustakaan menoleh ke sumber suara.


''Shuutt!! Diam! ini perpustakaan pelankan suaramu.'' Kata salah satu murid lain yang sedang membaca buku. Karena merasa terganggu dengan teriakan Dito.


Merasa namanya di panggil Amar menghampiri Dito.


''Ada apaan sih Dit?. Kenapa kamu ngos-ngosan kayak orang habis wikwik aja.''


''Gawat Mar gawat.. Cewek-cewek Lo semuanya pada perang.''


Jawab Dito dengan nada bicara yang ngos-ngosan akibat berlari. Sehabis dari toilet dan meyaksikan bahwa geng Sarya sedang berkelahi dengan geng Wenda, Dito segera menyusul Amar dan memberitahunya.


''Eh yang bener kamu kalau ngomong. Cewek ku yang mana satu?.''


''Itu gengs gesrek Lo lagi tempur di toilet sama geng nya Wenda.''


Dito berbicara sambil menepuk pundak Amar.


''Maksud nya? Sarya dan geng nya? Wenda itu siapa lagi? Kok bisa tempur gimana? Alasannya apa?.'' Amar bertanya secara bertubi-tubi.


''Aaah pokoknya gitu,'' Dito berkata sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. ''Katanya lagi membela kebenaran, udah jangan banyak tanya sebelum toiletnya hancur dan cewek-cewek Lo yang suruh ganti rugi. Mendingan sekarang Lo samperin tuh di toilet.''


Tanpa menunggu lagi Amar langsung berlari menuju toilet dengan tergesa-gesa. Tak peduli sudah berapa kali ia menabrak orang yang ada di depannya.


Sesampainya di toilet, Amar begitu syok melihat sisi lain yang lebih ganas dari diri Sarya dan the gengs.


Bagaimana tidak, pakaian yang mereka kenakan sudah tidak karuan ditambah lagi rambut yang sudah tertata indah. Sekarang bagaikan seorang gembel jalanan.


Mereka saling jambak - menjambak, cakar-menyakar, saling melemparkan kata-kata sumpah serapah, bahkan hampir tonjok-tonjokkan.


Hilang sudah rasa lapar di perut Sarya dan geng nya, niat mau makan di kantin malah tidak jadi. Karena membela kebenaran adalah hal yang utama dari segalanya, meskipun lapar melanda. Itulah semboyan geng gesrek.


Diantara mereka berenam. Perkelahian yang paling sengit adalah antara Wenda dengan Rini. Karena kedua perempuan itu sama-sama selevel.


Sedangkan Rima dan Sarya hanya mempermasalahkan ukuran dada mereka saja. Dimana yang satunya tempos dan satunya berisi.


''Heh apa Lo bilang, gue dan geng gue penakut. Lihat aja sore ini rambut bau kepet Lo ini akan berodol semua. Rasakan ini hiyaaaa..''


Rini terus menjambak rambut Wenda. Sesekali ia juga menarik kerah baju Wenda.


Wenda yang tak mau kalah semakin memperkuat cekekan di kerah baju Rini.


''Hey comberan, Lo bilang rambut gue bau.. padahal Lo itu yang gak pernah keramas, rambut kunyel kek gini .. rasain ini.''


Wenda semakin erat menarik kerah baju Rini. Secara tak sengaja ia ikut menarik kalung yang dipakai Rini.


Dengan satu tarikan, kalung itu terputus dari leher Rini.


''What kalung tunangan gueeee..'' Rini berteriak histeris ketika kalung kesayangan nya putus. Seketika Sarya, Nanad, Rima, dan Sherly menoleh kearah Rini.


Sarya dan Nanad saling melempar pandang. Seolah tak percaya bahwa kalung yang pakai Rini adalah pemberian tunangan nya.


Sejak kapan dia punya tunangan? Kurang lebih itulah arti pandangan Sarya dan Nanad.


''Ihhh jablay. Lo udah kelewat batas. Gua bener-bener murka sama Lo,, rasakan ini tonjokan wanita serigala.''


Lanjut Rini, kemudian ia mengepalkan tangannya untuk menonjok wajah Wenda. Namun tonjokkan itu malah meleset salah sasaran.


Buuggghh...


"Aaaawwww..." Teriak Amar.


Satu bogeman mendarat di wajah tampan milik Amar saat mencoba memisahkan perkelahian antar gadis cabe-cabean itu.


Dia terkena tonjokan wanita serigala dari tangan kekar Rini.


Jika saja Amar telat datang, sudah dipastikan wajah Wenda akan bonyok akibat ulah Rini. Untung saja Amar datang disaat yang tepat. Walaupun ia harus merasakan rasa sakit akibat terkena bogeman dari tangan kekar Rini.


''Omegattt pangeran ku...'' Rini berkata dengan terkejut. Karena niatnya akan menonjok Wenda malah terkena wajah tampan Amar.


Seketika perkelahian itu terjeda.


Sarya dan gengs nya menghampiri Amar yang tepar di lantai akibat puyeng yang melanda kepalanya.


''Eh tolongin dong, bawa ke UKS. Heh Dito ngapain malah ngelihatin aja bantuin napa?.'' Kata Sarya.


Akhirnya Amar di bawa ke ruang UKS.


''Ingat perkelahian ini belum tuntas.. '' Ancam Rini sambil menatap tajam kearah mata Wenda dan geng nya. Untuk memberikan peringatan.


''Ayokk kamu ikut kita ke UKS.'' Ajak Sarya pada perempuan korban pembuliyan.


Sedangkan Wenda dan geng nya, hanya menatap kepergian geng gesrek itu tanpa ingin menyela lagi. Mungkin karena sudah kehabisan tenaga. Apalagi penampilan mereka sekarang sudah macam gembel saja.


''Biarin aja mereka pergi, kita serahkan aja sama Papi ku. Biar mereka yang kena akibatnya..''


Kata Wenda pada geng nya.


_________


Di ruang BK


BRUAAKKK!!


Terdengar suara gebrakan meja dari ruangan. Itu adalah ulah pak Harto, sebagai guru BK yang menangani kasus-kasus seperti yang dilakukan geng Sarya dan Wenda.


''Apa-apaan ini, sudah kesekian kalinya kalian semua membuat masalah di sekolah ini. Apa kalian mau saya skors dan tidak bisa ikut ujian akhir sekolah?.''


Pak Harto sangat murka kepada murid-murid gesrek itu. Kini anggota geng gesrek dan juga si korban pembuliyan tengah berada dalam ruang BK, setelah beberapa waktu yang lalu masalah ini sampai di telinga Pak Harto.


''Pak ,, tapi mereka duluan yang cari masalah. Masa mereka melakukan pembuliyan sama siswa ini. Ya kami harus membela kebenaran lah pak.''


Rini berkata demikian, gadis itu seolah tak peduli dengan amarah dari pak Harto.


''Setidaknya kalian lapor dulu sama saya kan bisa. Jangan asal ambil tindakan sendiri.''


''Tapi percuma juga pak kalau ujung-ujungnya, bapak akan berpihak sama Wenda. Sama seperti kasus-kasus sebelumnya juga gitu kan.''


Ucapan pedas dan mengandung kebenaran yang di lontarkan Rini itu, membuat pak Harto diam seribu bahasa.


''Iya pak betul kata Rini. Buktinya sekarang, cuma kita kan yang kena sanksi.''


Sarya pun ikut membela diri.


Memang benar apa yang di katakan Rini. Jika pihak sekolah menyalahkan Wenda maka reputasi sekolah itu akan hancur dalam sekejap.


Itulah yang dibenci Sarya dan geng. Bahkan guru saja tidak berani melawan apapun yang berhubungan dengan Wenda.


''Diam!'' Seru pak Harto. ''Saya tidak mau mendengar lagi kalian bertengkar dengan Wenda. Hari ini saya biarkan kalian lolos. Nanti akan saya berikan sanksi ringan yaitu berupa, kalian harus membuat surat pernyataan tidak akan mengulangi hal ini lagi. Harus disertakan tanda tangan orang tua diatasi materai.


Dan ya Kalian harus minta maaf pada Wenda dan teman-teman nya.''


''What,, gak mau saya pak. Mereka juga bersalah, kenapa cuma kita yang minta maaf?. Kalau untuk buat surat pernyataan kita masih mau pak.''


Kata Rini dan diangguki oleh yang lain.


''Hentikan kegengsian dan keras kepala kalian! Ini semua menyangkut masa depan SMA ini. Kalau kalian gak mau melakukan apa yang saya minta sekarang juga nama kalian akan saya coret dari daftar ujian. Mau?.''


''Tapi pak...'' Perkataan Sarya terpotong.


''Lakukan atau saya coret nama kalian?. Masih baik bapak kasih keringanan! Coba contoh Amar itu.


Sangat rajin, walaupun murid pindahan tapi baru beberapa bulan saja kemampuannya sudah bisa mengimbangi pelajaran di sekolah ini.


Bagus mar, pertahankan. Dan jangan ikutan berbuat masalah kayak geng ini ya.''


Kata pak Harto panjang lebar, dan diakhiri tepukan kecil di pundak Amar.


Amar hanya mengangguk dan tersenyum canggung. Berbeda dengan raut wajah kesal dari Sarya dan geng nya.


Bagaimana bisa mereka dibanding-bandingkan dengan Amar, yang sudah jelas bibit unggul.


Sedangkan Wenda dan gengnya, kini berada di depan pintu ruang BK melihat pak Harto sedang meluapkan emosinya kepada Sarya dan geng.


''Rasain tuh, siapa suruh macem-macem sama kita. Walaupun badan gue sakit semua. Tapi gue bener-bener puas sekarang.''


Kata Wenda dengan bangga karena melihat Sarya dan geng nya di marahi pak Harto.