
Ada rasa yang tak mungkin bisa kuucapkan, aku mencintai Juno namun hatiku takut kehilangan Ji Hoon. Perasaan macam apa ini.
Apa kau juga pernah merasakannya?
Ji Hoon adalah orang yang baik, dia selalu ada kapanpun jika aku membutuhkannya. Sikap hangatnya kini berubah menjadi dingin, senyum tulus dibibirnya kini mulai memudar, ia menjauhiku, semua gerak-geriknya seakan memberikanku jawaban bahwa aku telah mengecewakannya.
" Jika aku mencintaimu bagaimana, Alana?" ucapan Ji Hoon selalu teringat dalam pikirku. Aku kini benar-benar terbelenggu dalam dua hati. Benarkah jika Ji Hoon mencintaiku sedalam ini? Apakah cinta Ji Hoon lebih tulus dibandingkan Juno? Mengapa aku mulai meragukannya?
" Alana, apa kau baik-baik saja?" tanya Yui padaku yang menyadarkanku dari lamunan di Kantin sekolah.
Aku hanya tersenyum melihat perkataan Yui.
" Lihatlah, itu pacar Juno. Dia buruk sekali ya lebih baik jika Juno berpacaran dengan Rebecca daripada gadis kumal seperti dia." ucap setiap gadis sekolah yang berwara-wiri menuding diriku yang tengah duduk bersama kedua sahabatku.
"Apa?! Kau bicara apa?!" sentak Mia dengan mengangkat kepalan tangannya memberikan isyarat bahwa ia siap tuk melawan.
" Siapapun yang berani mencari masalah dengan Alana, dia akan berhadapan dengan tinjuku." tambah Mia dengan mengumumkannya di Kantin sekolah sontak membuat suasana kantin yang tadinya ramai kini berubah menjadi hening mencekam tanpa adanya pergerakan.
" Mia, sudahlah aku tidak apa-apa." bisikku pada Mia dengan memintanya tuk duduk dan menenangkan diri dari emosi yang memuncak.
" Kau dihujat seperti itu kau hanya diam saja, Alana?" sahut Mia dengan menatap penuh kesal pada orang-orang yang ada disekitar.
" Jika aku jadi kau kursi ini akan melayang mengenai kepala gadis tukang gosip itu."
Aku hanya diam memandang Mia yang sedang kesal, aku sangat bingung apa yang harus kulakukan saat ini pikiranku sedang kacau, membuat hariku terasa suntuk.
Kuputuskan untuk pergi ke taman belakang sekolah dimana disana aku bisa mendapatkan ketenangan dari hirup pikuk kehidupan.
Di taman sekolah ini, Ji Hoon mengatakan semua rasanya padaku, di kursi taman sekolah ini juga Ji Hoon menghapus segala luka pada hatiku. Aku mulai menghela napas panjangku lagi.
" Alana?" panggil seseorang menyebut namaku, suara ini sangat tidak asing di daun telingaku. Sepertinya aku sangat mengenali suara serak ini.
" Sedang apa kau disini?" tambahnya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
" Taegyeon? M..mau apa kau kemari?" ujarku dengan gugup melihat sosok itu adalah Song Taegyeon beserta jongos-jongosnya yang sialan itu. Mereka berdiri berjajar menatapku.
" Sudah lama kita tak bertemu, kau terlihat semakin cantik saja." godanya kini ia mulai berani melangkah mendekatiku.
" Jangan mendekat, jika kau mendekat aku akan berteriak." ancamku dengan menudingkan telunjukku padanya.
" Berteriaklah sesuka hatimu, Sayang taman sekolah ini sepi takkan ada seorangpun yang mendengar suara merdumu itu." cakapnya dengan menunjukkan gigi rapinya padaku.
Jantungku mulai berdegup kencang, aliran darahku mulai mengalir deras, aku mulai berjalan mundur ke belakang, terlihat ketiga lelaki pengecut dari Kagite team ini menghadang jalan keluarku, satunya berdiri menjulang disebelah kiri dan satunya lagi dengan melipat tangannya dan berdiri kokoh di sisi sebelah kananku.
Aku kembali terkepung dalam lingkaran setan. Sial, tak ada lagi jalan untukku keluar dari cengkraman pria ganas macam Kagite team.
" Kudengar rumor bahwa kau telah berpacaran dengan Juno, benarkan?" dedas pria gila itu dengan menatap mataku. Aku mulai menelan ludahku karena takut.
Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apa yang akan dilakukan pria gila macam Taegyeon dan kawan-kawannya ini padaku? Apa mereka tidak kapok telah dihajar habis-habisan oleh Ex Boys beberapa waktu lalu.
" Itu bukan urusanmu!" bentakku dengan memberanikan diri melawannya kali ini aku akan berusaha melawannya
" Jelas itu urusanku, kau menolakku karena pria itu, bukan?" ucapnya lagi kali ini aku kalah telak, aku diam tanpa kata yang terucap. Ia mulai berani menyentuh pergelangan tanganku.
" Aku tak sudi disentuh pria tak tahu adab sepertimu!" bentakku kali ini aku sudah terpancing emosi ucapannya sudah kelewat batas.
" Janganlah kasar seperti itu, sayangku. Kau tahu hatiku juga hancur ketika kau menolak cintaku."
" Pergi!" bentakku. Kali ini aku mulai terdesak, punggungku sudah menyentuh pohon besar yang ada disana, Taegyeon tetap melangkah maju mendekatiku. Ujung sepatunya kini mulai menyentuh ujung sepatuku, aku menegakkan punggungku sebagai pertahanan terakhirku agar aku tak terhimpit oleh tubuhnya.
" Sstt, jangan kau berteriak. Kau nikmati saja momen berdua bersamaku." desisnya sembari jari telunjuknya menyentuh bibir halusku.
" Karena kali ini kekasihmu tidak ada, maka aku yang akan menciumimu, Alana." ucapnya yang diiringi gelak tawa dari komplotannya. Nampaknya mereka merasa bahagia ketika mereka berhasil melemahkan seorang wanita. Tapi aku tak mau kalah, aku akan terus melawan komplotan kejam tak punya akal macam Kagite Team.
Wajah Taegyeon mulai mendekati wajahku hingga dapat kurasakan hembusan napas yang keluar dari lubang hidungnya. Aku tak berani lagi untuk menatapnya, kuputuskan untuk menutup mata dan bibirku rapat-rapat dan berusaha memalingkan wajahku dari wajahnya sembari tanganku terus mendorongnya dengan kuat namun tetap saja tidak bisa, kedua tanganku kini benar-benar ditahan oleh kedua teman sialannya.
Hal ini membuatku semakin sulit untuk bergerak. Terlihat satu per satu kancing pakaian Taegyeon mulai dilepaskan. Apa yang akan dilakukan bedebah ini padaku.
Aku berteriak dan meronta-ronta agar mereka mau melepaskan pegangannya, namun aku salah mereka malah mencengkeram lenganku semakin kuat.
Taegyeon mulai berjalan mendekatiku. Aku masih terus berusaha untuk melepaskan diri. Dalam hatiku semoga ada seseorang yang datang membantuku.
" Siapapun itu aku mohon tolonglah aku, Ji Hoon datanglah, Ji Hoon aku membutuhkanmu." teriakku dalam hati menyebut nama Ji Hoon berulang kali.
Air mataku kini mulai berlinang membasahi pipiku. Aku sudah tak kuasa menahan rasa takut yang menyelimuti dadaku, pria ini sangat nekat kepadaku hanya karena aku menolak cintanya beberapa waktu yang lalu.
"Dasar kau bedebah jalanan!" teriak seseorang sembari mendorong keras tubuh Taegyeon dari belakang hingga membuatnya jatuh terjengkang.
" Kau berani menyentuhnya!" bentak pria itu dengan nada yang penuh amarah. Tangannya kini mulai mengepal sementara tangan satunya lagi mulai menarik kerah baju Taegyeon.
Satu bogem mentah diluncurkan ke wajah pria yang hampir saja melecehkanku.
" Pria macam apa kau, hah!!" pria itu mulai memberinya tinjuan yang kedua sontak membuat kedua temannya melepaskan cengkraman tangannya dari tanganku dan berusaha memukul pria yang membantuku.
Pukulan demi pukulan dilepaskan oleh sosok pahlawan yang menyelamatkan hidupku.
" Kau! Sekali lagi berani berbuat senonoh pada seorang gadis, kupastikan tulangmu remuk di tanganku." ancam pria itu dengan sangat gagahnya, nampaknya napasnya kini mulai terengah-engah karena perkelahian tadi.
Pria itu juga melemparkan seragam sekolah kepada wajah Taegyeon
" Pakai pakaianmu itu, tidak ada yang mau melihat tubuh kurus kering milikmu." sentaknya dengan melempar seragam Taegyeon tepat di wajahnya.
Taegyeon dan kawan-kawannya hanya terdiam dan meringis menahan sakit atas hantaman yang diberikan oleh sosok pria yang datang dan kemudian lari terbirit-birit.
" Terima kasih kau telah menolongku." ujarku dengan menundukan kepalaku sebagai salam hormat kepada sosok Hero yang menyelamatkan hidupku dari sikap senonoh Kagite Team.
" Aku datang karena kau yang memanggilku, Alana." jawab pria itu dengan suara serak basah yang khasnya.
" Ji Hoon?" kejutku yang tak percaya melihat Ji Hoon berdiri kokoh di depanku.
Dia melempar senyum tulus padaku, senyuman hangatnya kini kembali merekah di bibir manisnya. Entah mengapa hatiku selalu bahagia apabila aku bisa melihat senyuman yang terhias di bibirnya.
" Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" tanyanya dengan penuh khawatir dan matanya mulai memeriksa seluruh tubuhku dan memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
" Aku tak apa, kau datang tepat waktu Ji Hoon. Jika tidak aku tidak tahu apa yang ia lakukan padaku."
" Aku datang karena kau yang memanggil namaku. Kau tahu tiba-tiba saja telingaku mendengar sayup-sayup suaramu yang meminta tolong dan menyebut namaku. Maka dari itu aku langsung datang kemari hatiku yang membawaku bertemu denganmu." jawab Ji Hoon padaku, aku hanya diam menatapnya dengan mulut yang sedikit ternga-nga.
" Maafkan aku yang membuat hatimu terluka, Ji Hoon." ucapku dengan nada sedikit menyesal
" Minta maaf untuk apa, Alana? seharusnya aku yang meminta maaf padamu karena ucapanku yang menyakitimu."
Aku mulai mendongakkan kepalaku memandangnya
" Tadi aku terbawa emosi, karena orangtuaku ingin aku kuliah di luar kota Seoul." tambahnya dengan berbalik menatapku
" Maka dari itu aku tak bisa mengontrol emosiku. Moodku sedang kacau." tambahnya lagi dengan sedikit senyum yang terpampang disana
" Baiklah, Ji Hoon aku memaafkanmu." jawabku dengan membalas senyum padanya. Ji Hoon mulai membelai halus rambutku.
" Kau ini." ujarnya sembari mengacak-acak rambut hitam lebatku.
Aku senang bisa melihat Ji Hoon lagi, aku juga senang Ji Hoon tidak bersikap dingin lagi padaku.
Hari ini, Ji Hoon ku telah kembali bersamaku.
" Kau kemarin kemana saat pesta kembang api? Mengapa kau menghilang?" tanyaku yang membuka topik pembicaraan antara aku dengannya.
" Aku tertidur di tenda. Kau tahu, mencari kayu bakar untuk api unggun itu sangat melelahkan tubuhku. Jadi, aku terlelap di tenda Minho kemarin." jelasnya padaku. Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya.
" Tapi, tak apa melihatmu bahagia aku juga bahagia." ujar Ji Hoon padaku
" Ji Hoon berhentilah menggodaku." kataku sembari menyenggol lengannya. Ia hanya tertawa mendengar ucapanku.
Ji Hoon, dia adalah pria yang ideal menurutku.
Lalu bagaimana dengan Juno?