The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Bertemu Kembali



Pelelangan dilanjutkan dengan acara melelang budak. Acara ini adalah acara terakhir pada pelelangan. Lima orang budak dibawa dan diseret di atas podium. Mereka memakai pakaian yang sangat lusuh dan kotor, membuat Casilda ikut sedih.


'Aku dulu... Juga seperti mereka, dan aku tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti budak... Aku tahu, jadi.. Tenang saja, aku akan membebaskan kalian...' batin Casilda.


"Mereka adalah budak dari Dataran Timur yang melarikan diri. Mereka kami jual secara berkelompok, dimulai dari satu juta rupiah!"


Casilda membolakan matanya. Satu juta katanya?! Ini terlalu murah, tahu! Memangnya ada, manusia yang dijual dengan harga serendah itu?!


Benar-benar tak manusiawi!


"Harganya terlalu rendah.. Walau mereka budak, ini sangatlah keterlaluan!" geram Casilda.


Gadis itu meremat pegangan kursi yang didudukinya hingga hancur.


"Tiga juta!"


"Lima juta!"


"Sepuluh juta!"


"Sepuluh juta lima ratus!"


Casilda menggertakkan giginya. Sudah cukup, ia benci. "Satu milyar!" Casilda mengangkat tangannya keluar dari balik tirai.


Orang-orang dari Keluarga Amethyst mencibir, sementara Tuan Muda Citrine tersenyum lembut.


"Baiklah, budak-budak ini terjual dengan harga satu milyar! Harga yang sangat fantastis untuk lima orang budak..."


Budak-budak lainnya dibawa ke panggung, dan Casilda membeli mereka semua dengan harga yang tinggi untuk menghormati hak asasi manusia. Pada akhirnya, pelelangan berakhir. Kini Casilda sedang berada di lantai bawah untuk mengurus administrasi.


"Ini adalah hasil dari penjualan barang-barang Anda, Tuan. Hasilnya sudah dibagi rata 90:10" jelas Bos Pelelangan.


Casilda mengangguk dan memberikan uang harga para budak. Gadis itu kemudian berbalik dan pergi dari tempat itu.


"Terima kasih, Tuan. Silahkan datang kembali". Bos Pelelangan membungkuk, diikuti para bawahannya.


Saat berjalan menyusuri lorong, Casilda bertemu dengan Keluarga Amethyst. Gaya mereka sangat angkuh dan sombong. Casilda sedikit menepi ke pinggir untuk memberi orang-orang itu jalan—walau sebenarnya lorong ini lebar.


Putri Amethyst menyadari bahwa Casilda adalah orang yang ingin merebut kristal miliknya saat di pelelangan. Putri Amethyst dengan sengaja menyenggol Casilda yang sedang menepi untuk memberinya jalan. Ia ingin menuntut Casilda dengan alasan menyenggol seorang putri keluarga kerajaan.


"Hei! Apa yang kau lakukan?! Dasar sampah tak ber—" Putri Amethyst sontak terdiam. Penutup jubah milik Casilda terbuka karena senggolan tadi. Putri Amethyst dapat melihat wajah Casilda yang menyamar.


Casilda menggunakan wajah laki-laki untuk menyamar. Kan tidak lucu jika ada perempuan yang menggunakan suara laki-laki, bukan?


Putri Amethyst langsung terpesona dengan wajah Casilda itu. 'Sangat tampan!' pikirnya dengan wajah memerah total.


Casilda dengan segera memakai tudung jubahnya dan pergi dari tempat itu dengan cepat.


"Putriku? Ada apa? Kenapa kau bengong?" tanya ayah Putri Amethyst.


".... Ayah...." Putri Amethyst berucap.


"Ya, Putriku?"


"Aku ingin lelaki itu, Ayah... Dia harus menjadi milikku!" tunjuk Putri Amethyst ke arah Casilda yang sedang berlari.


Ayah Putri Amethyst melihat ke arah yang dituju oleh putrinya. Ah, anak ini sedang jatuh cinta. "Kau tenang saja, Putriku. Apapun akan aku berikan padamu. Tenang saja." Ayah Putri Amethyst mengusap kepala anaknya dengan lembut.


"Eum! Pokoknya, Ayah harus janji!"


Sang ayah mengangguk. "Hei, kau!" Ia menunjuk ke salah satu pengawal mereka. "Cari tahu identitas anak lelaki itu sekarang juga!"


"Baik, Tuan!"


Putri Amethyst tersenyum senang. 'Kau akan jadi milikku. Tunggu saja, Tuan Tampan.'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


'Ukh, siapa yang membicarakan aku, sih?' Casilda merinding. Gadis itu sekarang berdiri di depan budak-budak yanh tadi ia beli. Mata mereka kosong, tidak ada harapan untuk hidup.


Casilda membutuhkan bantuan mereka, namun di sisi lain, ia tak ingin mengekang mereka. Ia sangat tahu bagaimana rasanya dikekang dan tidak ingin membuat mereka merasakan hal yang sama lagi.


Oleh karenanya, Casilda membuat penawaran. "Siapapun yang ingin hidup bebas, angkat tangan kalian!" ucap Casilda dengan suara keras.


Para budak menatap Casilda dengan tatapan tak percaya.


"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Casilda tak peka.


Seorang budak ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkan niatnya.


Casilda menyadarinya, "Tak apa, katakanlah. Aku tak akan menghukummu."


Pada akhirnya, budak itu bertanya pada Casilda. "Kenapa Anda bertanya hal itu? Bukankah Anda membeli kami untuk menyiksa kami?"


Casilda membelalakkan matanya. Begitu rupanya, jadi itu yang dipikirkan oleh mereka. Ia tersenyum sendu sembari mengusap pucuk kepala budak yang lebih muda darinya itu.


"Kenapa? Yah, karena... Setiap orang pasti ingin hidup bebas, kan? Aku juga pernah menjadi kalian, hidup sengsara dan dikekang. Aku tak ingin membuat kalian merasakan hal itu lagi" jawab Casilda sambil mengusap bagian belakang kepalanya.


"Lalu, apa yang akan Anda lakukan jika kami ingin pergi?" tanya seorang budak dengan ragu.


"Aku akan memberi kalian uang" sahut Casilda watados.


Para budak kaget. "Apa?!"


"Ya? Kenapa? Apa itu aneh? Bukannya kalau hidup di dunia luar butuh biaya? Lagipula, aku sudah membeli kalian, itu artinya kalian adalah tanggung jawabku. Wajar saja jika aku memberi kalian uang" jelas Casilda.


Para budak masih tak percaya.


"Tapi ya, kalau kalian ingin mengikutiku, kalian harus siap mati. Karena aku ingin mendirikan kelompok pembunuh bayaran" imbuh Casilda lagi. "Jadi, kalian ingin yang mana? Bilang aja, aku nggak bakal gigit, kok."


Para budak saling berpandangan. Sebagian dari mereka ingin bebas, dan sebagian lagi ingin mengikuti Casilda agar menjadi lebih kuat. Sesuai apa yang dikatakan Casilda, gadis itu memberikan uang kepada mereka yang memilih bebas untuk dapat bertahan hidup.


Masing-masing ia berikan sebesar 5 juta rupiah untuk 50 orang budak. Uangnya sudah berkurang 250 juta.


'Hiks, uangku....' Casilda sedih. 'Tapi ya sudahlah, itung-itung sedekah...' Ia kemudian mengambil 100 buah kertas budak yang mengekang orang-orang itu. Para budak terlihat kaget dan menegang.


Apa yang ingin Casilda lakukan?


Gadis itu menaruh kertas-kertas budak itu di tanah dan membakarnya dengan sihir api miliknya. Ia menepuk-nepukkan tangannya. "Nah, dengan begini, kalian bukanlah budak lagi" ucapnya.


Para budak bersorak gembira. Mereka saling memeluk satu sama lain. Mereka yang ingin bebas pun pergi dari tempat itu, menuju daerah yang diinginkan mereka.


'Siapapun Anda, terima kasih... Kami dapat bebas sekarang.. Kami tidak akan melupakan jasa Anda...' batin para budak itu.


Casilda berbalik dan melihat budak—ukhm, mantan budak yang ingin mengikutinya. Ia memberikan mereka kesempatan lagi.


"Kalian tak mau mengikuti mereka?" tanya Casilda sambil menunjuk ke arah budak-budak yang sudah bebas.


Budak-budak di depan Casilda menggeleng.


"Kenapa? Kalau mau pergi ya silahkan, aku nggak maksa, lho. Lagipula, jika kalian ingin tetap bersamaku, bisa saja kalian akan mati." Casilda kembali berucap.


Para budak itu tetap tidak mau. Mereka tetap ingin bersama dengan Casilda. Gadis muda itu menghela napas. "Kalau begitu ya sudah, lho ya.. Jangan salahkan aku jika pelatihan kalian akan sangat sulit."


Para budak mengangguk dengan cepat. Mereka akan melakukan segala sesuatu agar menjadi kuat dan semakin kuat. Mereka tak ingin menjadi orang yang lemah lagi.


"Oke, lah..." pasrah Casilda. Gadis itu memanggil salah satu bawahannya dari Hutan Keramat untuk menunjukkan jalan kepada para budak itu. "Tolong antarkan mereka ke rumahku. Suruh mereka untuk mandi terlebih dahulu di sungai" perintah Casilda.


"Baik, Nona!"


Para budak awalnya ragu, siapa makhluk halus yang sok kenal ini?


"Ah, dia bawahanku. Ikuti saja dia, aku masih ada urusan di sini" ucap Casilda yang mengerti pikiran para budak itu.


Para budak pun pergi mengikuti bawahan Casilda itu dari belakang. Casilda menatap mereka dari tempatnya berdiri. Ia menutup kedua matanya dan menaruh tangannya di saku jubah.


"Sampai kapan kau bersembunyi, Kak Lou?" tanya Casilda.


Louise—Tuan Muda Citrine—keluar dari tempat persembunyiannya dengan senyum kecil. "Tak kusangka kau menyadari keberadaanku, Casilda" kekeh Louise kepada adik kecilnya itu.


Lelaki bersurai kuning itu memeluk Casilda dengan lembut. Casilda juga memeluk kakaknya itu. "Sudah lama sekali kita tak bertemu. Apa Kakak sehat?" tanya Casilda.


Louise memukul pelan kepala gadis itu. "Hei! Kami sangat khawatir padamu, dan kau malah bersikap santai seperti itu?!" kesalnya.


Casilda mendengus. "Lalu, masa kita harus panik, sih? Kan aku sudah baik-baik saja" gerutunya.


Louise menghela napas. Sejak kapan Casilda menjadi sangat santai seperti ini?


Mereka duduk sebentar di atas batu yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Oohh, jadi begitu. Kau selama ini tinggal di Hutan Keramat, yah...". Louise mengangguk paham setelah Casilda menceritakan kisahnya.


Lelaki itu menengok ke arah Casilda. "Tapi, kau sudah bisa membuat pil dengan level tertinggi seperti itu. Itu sangat mengagumkan, kau tahu!" hebohnya.


Casilda menggeleng kecil. "Tidak juga. Itu bukan apa-apa dibandingkan kemampuan yang Ibu miliki."


Louise tersenyum kecut. Dari dulu Casilda memang selalu rendah diri seperti ini. "Memangnya, apa alasanmu membeli para budak itu?" tanya Louise penasaran.


"Aku membutuhkan kekuatan untuk melawan Emerald. Dan juga, aku merasa Amethyst-lah yang memberikan bantuan secara diam-diam kepada Emerald. Kakak tahu sendiri, bukan, ibu tiriku adalah putri sulung Amethyst?"


Louise mengangguk.


"Dengan adanya Amethyst yang menyokong Emerald dari belakang, kekuatan mereka akan semakin besar. Dan bisa saja itu adalah penyebab kenapa bawahan yang diperintahkan Kak Gneer tidak kembali" imbuh Casilda lagi.


Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Jika Emerald dan Amethyst bersatu, akan timbul masalah yang serius. Untuk mengalahkan mereka aku harus membutuhkan bantuan dari ketiga Keluarga Utama, dan kalau bisa aku juga harus mendapat dukungan dari keluarga cabang kekaisaran." Mata Casilda dipenuhi tekad yang kuat. Menyatukan ketiga Keluarga Utama adalah hal yang sulit dilakukan.


Ketiga Keluarga Utama memiliki ego yang sangat tinggi. Namun, bila tidak dilakukan, Emerald dan Amethyst akan semakin menjadi-jadi. Casilda tak peduli apapun resikonya, ia akan tetap mencari ketiga Keluarga Utama untuk mendapatkan bantuan.


Louise tersenyum lembut. Casilda sekarang semakin dewasa. Gadis itu bukanlah anak kecil yang selalu berada di dalam bayang-bayang Emerald lagi. Tangan Louise terulur. Ia menaruh tangannya di atas kepala Casilda dan mengusapnya dengan lembut.


"Casilda... Aku, Pewaris Citrine, Louise Citrine akan selalu mendukungmu kapanpun, dimanapun, dan dalam keadaan apapun juga. Ini adalah sumpahku untukmu" kata Louise dengan tekad yang kuat.


Casilda sedikit terkejut. Ia kemudian tersenyum lebar. Tentu saja Louise akan membantunya, dia kan kakak dari gadis itu. Senyum Casilda semakin merekah, seperti bunga yang sedang mekar. Napas Louise seakan tercekat saat melihat senyum Casilda yang sangat menawan itu.


"Terima kasih, Kak Lou..."


TBC.