The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Misi di Kediaman Peridot



Casilda yang selesai mandi kembali pergi menuju goa tadi. Ia ingin membaca beberapa arsip sebelum mendatangi klien Jade Assassin.


Casilda mengambil sebuah arsip secara acak. Dirinya mendapatkan arsip aneh yang berbentuk lembaran kertas yang digulung dengan menggunakan pita berwarna biru.


'Aneh, bukannya para Dryad suka segala sesuatu yang berwarna hijau?' batin Casilda heran. Dirinya pun membuka gulungan itu. Rupanya, itu bukanlah gulungan utuh yang sempurna. Gulungan itu hanya bagian kanan dari bagian aslinya.


Di sisi paling atas tertulis "HIRE" yang tidak diketahui artinya.


'Apaan, tuh? Fire? Here? Typonya sungguh terlalu...'


Gulungan itu memiliki bau dan aura yang aneh, seperti laut. Bahkan teksturnya pun seperti air yang gemercik. 'Jangan-jangan Hire itu adalah kata dari Sapphire? Kalau itu benar, seharusnya ada bagian yang lainnya, kan?'


Casilda mencari arsip lainnya yang memiliki aura serta bau yang sama seperti arsip tadi, namun tidak ketemu. 'Kok nggak ada, sih?' heran Casilda sambil meletakkan tangannya di pinggang.


••Nona, klien sudah datang••


Casilda kaget saat ada sebuah telepati yang masuk dari salah satu bawahannya. "Eh? Dia sudah sampai? Cepet banget..."


Casilda segera keluar dari goa itu dan melakukan penyamaran. Ia menyamar menjadi laki-laki dengan rambut berwarna abu-abu gelap. Matanya masih berwarna biru. Casilda pun ber-[Teleport] menuju gedung Jade Assassin yang berada di luar Hutan Keramat.


"Maaf, apakah Anda sudah menunggu lama?" tanya Casilda yang baru datang.


Klien Casilda menengok dan menggeleng sekilas. "Tidak, saya juga baru datang, Tuan" balasnya datar.


Casilda duduk di depan kliennya. "Jadi, Anda ingin menyuruh kami melakukan apa?"


Klien itu memberikan beberapa lembar kertas kepads Casilda. "Tugas kalian adalah membunuh Keluarga Peridot, cabang Keluarga Emerald."


Casilda menaikkan sebelah alisnya. "Hm? Kenapa?" Klien itu hanya diam dan membuat Casilda mengangguk pelan. "Yah, kalau tak mau memberitahu juga tak apa, sih. Toh, itu kan privasi.."


Casilda dapat melihat bahwa kliennya tersenyum tipis. "Terima kasih.."


'Keluarga Peridot, kah? Mereka adalah keluarga cabang yang paling akrab dengan Emerald. Bahkan aku sering melihat mereka bolak-balik ke Kediaman Emerald saat aku masih tinggal di sana..'


'Itu artinya, ada kemungkinan jika Peridot juga menjadi salah satu penyokong Emerald. Peridot adalah keluarga yang memiliki ekonomi yang sangat luar biasa, bahkan digadang-gadang kemampuan ekonomi mereka setara dengan Kak Lou. Semoga saja ada sebuah petunjuk atau bukti di sana..'


"Jadi, bagaimana? Apa Anda menyetujuinya?" tanya klien itu.


Casilda tersenyum. "Tentu saja."


Mereka pun membicarakan tentang kerja sama kontrak dan pendapatan yang diperoleh Jade Assassin. "Terima kasih. Saya akan memberitahu Anda jika misi telah selesai" kata Casilda saat kliennya hendak pulang.


SET


Seorang Komandan Jade Assassin muncul di belakang Casilda. "Apa perlu saya panggilkan anggota yang lainnya, Nona?" tanya orang itu.


Casilda menggeleng. Ia melepas penyamarannya. "Tak perlu, lagipula aku ingin menyelesaikan misi itu sendirian."


Orang itu kaget. "No-Nona, itu terlalu berbahaya!" pekiknya.


"Aku tak peduli, karena ada kemungkinan jika terdapat bukti tentang kebusukan mereka di sana. Kau kan tahu sendiri jika aku tak suka orang lain ikut campur dalam urusan keluargaku, bukan?."


Orang itu hanya menghela napas. "Baiklah jika itu yang Nona inginkan. Tapi, izinkan saya dan Bent mengawal Anda sampai di luar Kediaman Peridot."


"Itu benar, Nona. Biarkan kami mengawal Anda." Seorang anggota Jade Assassin bernama Bent yang disebut sebelumnya ikut bersujud di samping orang itu.


Casilda sweatdrop. "Hey, hey. Sudah kubilang, itu tak perlu" sergahnya.


"Anda adalah nona kami, pemimpin Jade Assassin dan merupakan kakak dari Tuan Charles. Jika Anda terluka sedikit saja, kami tidak akan memaafkan diri kami, Nona" sahut Bent dengan monoton.


Casilda menatap mereka dengan tatapan datar. 'Bilang aja kalau kalian mau ikut(¬_¬)' "Haaahh, ya sudah. Cepat, kita harus pergi sekarang." Pada akhirnya Casilda mengalah, membuat kedua orang itu menjadi sangat bersemangat.


"Baik, Nona!"


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


Casilda berdiri di depan Kediaman Peridot dengan menggunakan [Ketiadaan Keberadaan] yang membuatnya tak terlihat dan tidak bisa dirasakan maupun diraba. Dirinya melihat seorang pelayan keluar dari Kediaman Peridot sambil membawa cucian. Casilda membuntuti pelayan itu dan membuatnya pingsan.


'Huft, untung saja pelayan ini perempuan. Aku bisa meminjam pakaiannya tanpa harus malu.' Casilda memakai pakaian maid dan memakaikan sebuah kain ke tubuh pelayan itu. 'Oke, saatnya menyamar.'


Casilda memasuki Kediaman Peridot dengan penyamarannya. Ia meneliti bagian dalam kediaman itu dengan indra pengelihatannya yang sangat tajam dan sensitif. 'Tidak ada pengamanan sama sekali? Mereka pede banget...' batin Casilda.


"Hei, kau!"


Casilda tersentak, ia menengok ke belakang. Di belakangnya terdapat Tuan Besar Peridot, pemimpin keluarga. "Sa-saya?" tanya Casilda.


"Ya, kau. Cepat datang ke kamarku, jangan lupa bawakan aku makanan" perintah Tuan Besar Peridot.


"Baik."


Casilda berjalan dengan lancar menuju dapur. Ia harus berterima kasih kepada instingnya yang sangat kuat. Dirinya mengambil beberapa makanan dan membawanya menuju kamar Tuan Besar Peridot. Berterima kasihlah pada instingnya yang dapat dengan mudah menebak dimana kamar pria itu.


Tok tok


"Permisi, Tuan. Saya sudah membawakan Anda makanan" ucap Casilda.


"Ya, masuk!"


Cklekk


Casilda memasuki kamar itu.


"Tutup pintunya."


Casilda dengan heran menutup pintu kamar itu. Ia kemudian menghampiri Tuan Besar Peridot sembari membawa nampan makanan.


"Ini dia, Tuan."


"Hm." Hanya deheman saja yang diucapkan oleh Tuan Besar Peridot.


"Kalau begitu, saya pergi sekarang." Casilda pamit undur diri, tapi tangannya ditarik oleh Tuan Besar Peridot hingga dirinya terjatuh di pangkuan pria paruh baya itu. "E-eh?!" Casilda memekik saat tangan pria paruh baya itu memeluk pinggangnya.


"Kau yakin ingin pergi dari hadapanku sekarang, hm?" tanya Tuan Besar Peridot dengan suara serak.


"Tuan, mohon lepaskan saya💢" ucap Casilda dengan kesal.


Pria itu tidak menggubris ucapan Casilda. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya ke pinggang Casilda yang ramping.


"Tuan, lepaskan saya💢💢." Casilda mulai meronta dan menjauhkan muka Tuan Besar Peridot dari wajahnya. 'Tahan, Casilda. Kau tak boleh marah. Kau tak boleh menghancurkan wajah pria brengshake ini.. Kau harus tahan.. Tahan...'


Casilda mencoba sabar. Namun, kesabarannya seketika putus saat Tuan Besar Peridot menenggelamkan kepalanya di dada gadis itu.


"MATI KAU SYALAND!" Tanpa sadar Casilda menggunakan [Penghancuran Atom] dan membuat Tuan Besar Peridot hancur dan menghilang seketika.


"Waduh⊙︿⊙" Casilda termenung sebentar. "Sudahlah, lagipula, ini kan memang misiku." Ia kemudian keluar dari kamar Tuan Besar Peridot dengan rasa kesal yang masih ada.


Casilda pergi ke sebuah lorong yang gelap. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik dinding lorong itu. Casilda menaruh tangannya di dinding lorong. Ia bisa merasakan ada beberapa orang yang berada di balik dinding itu.


Gadis muda itu menengok sekeliling. Tak ada pintu di sana. Ia kemudian menemukan sebuah gantungan lampu yang aneh.


'Gantungan ini sangat aneh, masak nggak ada lampunya, sih? Padahal yang lainnya ada. Berarti, bisa jadi gantungan ini adalah kunci untuk membuka ruang rahasia.'


Casilda menggoyangkan gantungan lampu itu setelah memastikan tak ada orang di sana.


Krieeettt


Benar saja, ada sebuah pintu rahasia yang berada di tengah-tengah dinding. Dirinya segera memasuki pintu itu dan menutupnya secara perlahan.


Di dalam pintu itu terdapat lorong tangga yang sangat gelap dan curam. Casilda menggunakan [Sinar Api Biru] miliknya untuk menerangi perjalanannya. Lorong tangga itu menuju ruang bawah tanah yang lembab dan kotor. Casilda penasaran, ada apa di dalam sana?


Baru masuk saja dirinya sudah dikagetkan dengan kumpulan laba-laba raksasa yang menerjangnya.


"[Atom]"


Kumpulan laba-laba raksasa itu langsung hancur menjadi debu setelah Casilda mengeluarkan kekuatannya.


Tak hanya laba-laba saja, ada pula kalajengking raksasa, tembakan panah yang jumlahnya ribuan, dan lainnya yang langsung dihancurkan oleh Casilda dengan santainya.


Tap


Pada akhirnya, Casilda sampai di ruang bawah tanah yang sangat dalam itu. Di sana ada sebuah pintu besi yang sangat kokoh.


PSHHH


BLARR


Api biru milik Casilda langsung melelehkan besi yang sangat kokoh itu. Ia berjalan memasuki ruang bawah tanah dengan santainya.


"Hah?! Ap-apa apaan ini?!"


TBC.