The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Rencana



Casilda mendengus kesal sepanjang perjalanan. Padahal mereka berdua sudah jauh-jauh datang ke perpustakaan, ternyata tak diperbolehkan masuk oleh kedua penjaga syaland itu.


'Tapi nggak papa, lah. Yang penting aku juga udah mendapatkan informasi-informasi lainnya yang sekiranya dapat membantuku mengalahkan mereka.' Casilda terus berjalan, di sampingnya terdapat Charles yang terus menatap tajam orang-orang yang tengah menatap kakaknya dengan wajah memerah.


'Orang-orang syaland ini menatap Kakak seperti itu, benar-benar ingin mati!! Tak apa, tenang saja, kalian akan benar-benar mati di tanganku. Ufufufu~' batin pemuda itu dengan wajah yang super duper mengerikan.


Walau Casilda memiliki rambut yang pendek seperti laki-laki, tak dapat dipungkiri bahwa ia adalah gadis yang cantik dengan pesonanya yang khas.


Wajah tirus dengan mata yang tajam bak predator, tubuh yang indah bagaikan jam pasir, serta auranya yang unik membuat para lelaki tak bisa memalingkan pandangan mereka darinya.


Casilda nampak seperti seorang gadis tomboy yang memiliki sifat keibuan. Kecantikan dan sosoknya yang terlihat kuat memberi nilai plus pada setiap lelaki yang melihatnya. Tipe tomboy yang feminin, itulah dia.


'Kakak memanglah sangat cantik seperti seorang dewi, tapi aku tak suka jika Kakak dilihat oleh orang lain, terutama cowok-cowok gaje itu!! Aku nggak suka, titik!!' Charles merengut kesal. Ia semakin merengut kala ada lelaki lain yang menatap sang kakak. Sayangnya Casilda terlalu tidak peka untuk menyadari semua itu.


Mereka terus berjalan hingga tak sadar jika telah memasuki wilayah Hutan Keramat. Hantu-hantu yang lewat di dekat mereka menyapa kedua orang itu. Hewan-hewan serta anggota Jade Assassin juga menyapa mereka.


Tenang, damai, dan asri adalah gambaran suasana pada hutan yang katanya angker itu. Sangat banyak tumbuhan di sana, termasuk tanaman yang berasal dari tunas tanpa batas yang dibeli Casilda di pelelangan dulu.


"Seger banget... Inilah kenapa aku suka banget sama Hutan Keramat.." gumam Casilda sambil meregangkan tubuhnya yang kaku.


Charles tersenyum simpul menanggapi gumaman Casilda yang bisa didengarnya. Ditatapnya hamparan dedaunan rimbun yang berada di atasnya. 'Kakak benar... Tempat ini sangat nyaman hingga aku tak ingin pergi dari sini. Mengingat kenanganku, dimana aku ditemukan Kakak di tempat ini membuatku yakin bahwa di sinilah rumahku.'


Charles kemudian menatap kakaknya yang masih meregangkan tubuhnya. Senyumannya menjadi lebih lembut dan lebar. 'Begitu banyak kenangan yang kami tinggalkan di sini, tak kusangka kami akan pergi meninggalkan tempat ini demi membalas dendam. Tapi, tak masalah, Kakak adalah rumahku yang sebenarnya. Selama aku bisa terus bersama Kakak, aku rela melakukan apapun.'


Casilda yang masih meregangkan tubuhnya pun menghentikan kegiatannya saat ia menyadari bahwa sang adik terus menerus menatapnya. "Kenapa, Charles?" tanyanya sambil menoleh pada sang adik.


Pemuda bersurai hijau pucat itu menggeleng kecil. "Tak apa-apa, kok, Kak. Aku hanya mengingat kenangan kita di sini."


Casilda menatap sang adik dengan lembut. "Ah, kau benar. Kita telah menciptakan banyak kenangan di sini. Semoga saja hutan ini dapat mereka jaga dengan baik selagi kita pergi."


"..Kakak benar.... Semoga saja..."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Eeeehh?? Kalian akan pergi dari hutan ini?!" pekik Gneer kala Casilda memberitahunya apa rencana gadis itu. "Kenapa ini begitu mendadak??"


Gadis bersurai safir itu menghela napas sambil bersandar pada kursinya. "Mau gimana lagi, Kak. Ini juga tak termasuk dalam rencanaku. Apa boleh buat" helanya dengan lemas.


Gneer yang mendengarnya pun ikut menghela napas. "Haaahhh... Kalau begitu, aku tak bisa melakukan apa-apa lagi. Mencegah kalian untuk pergi juga tak akan bisa kulakukan, mengingat kalian adalah orang yang sangat keras kepala dan ambisius" katanya.


Kedua kakak beradik berbeda warna rambut itu saling tertawa getir. "Ahaha, itu tak lucu, Kak Gneer. Haha..." Casilda tertawa dengan nada datar.


"Memangnya, berapa lama Nona dan Tuan Muda pergi?" tanya Bent yang sedari tadi hanya diam.


"Gyah!! Kau mengagetkanku, Bent!!" kaget Casilda. "Sejak kapan kau di sana?! Ah, iya, ya. Kita sekarang kan sedang melakukan rapat. Pantas saja kalian ada di sini. Hehe, maap yak. Aku lupa."


Harkin yang berada di samping Bent pun sweatdrop kecil. 'Tunggu, berarti aky juga dilupakan oleh Nona, dong?' Ia kemudian menyusul temannya dan pundung di dekat tembok bersama-sama.


"Ahaha.... Maap, yak" ujar Casilda dengan watadosnya. Terkadang, kepikunannya kambuh pada saat-saat yang tak terduga.


Gneer menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Dari dulu, Casilda memang seperti itu. Ia selalu menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. "Jadi, Casilda, berapa lama kau dan Charles pergi?"


"Kurasa tak lama, Kakek Tua. Hanya 1 bulan saja" balas Charles sebelum Casilda dapat bersuara. Pemuda itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap Gneer dengan tajam. 'Hanya karena Kakak mengakuimu, bukan berarti aku juga. Ingat itu!!'


Gneer tersenyum tertekan. Hadehh... Kenapa orang-orang di sekitarnya menjadi kurang waras semuanya? Casilda dengan segala tingkah absurdnya, Bent dan Harkin yang semakin hari semakin aneh, serta Charles yang dari dulu tak pernah menyukainya.


'Apa salahku, Tuhan....?' batin Gneer tertekan.


"Charles benar, Kak Gneer. Butuh waktu bagi kami untuk pergi ke lokasi ujian, dan sekitar 2 sampai 3 minggu untuk menyelesaikan ujiannya. Kurang lebih kami akan pergi selama sebulan, itu pun belum termasuk hari-hari dimana kami akan singgah di beberapa tempat" balas Casilda mengiyakan perkataan Charles.


"1 bulan, ya... Itu waktu yang lama.." pikir Gneer. "Lalu, ujiannya kan akan dilaksanakan sekitar 2 bulan lagi. Apa yang akan kalian lakukan sebelumnya?"


Casilda tersenyum mengerikan, matanya yang berwarna safir menyala-nyala. Giginya yang tajam dan mengkilat terlihat jelas kala mulutnya tersenyum. Auranya menguar dengan liar dan seolah tak dapat dikendalikan.


"Itu adalah pertanyaan yang bagus, Kak Gneer. Menurut rencanaku, kami akan mencari uang tambahan untuk perbekalan. Ihihihi...." balas Casilda dengan senyumnya yang aneh.


Charles pun ikut menimpali, "Kakak benar, Wahai Kakek Tua. Doakan kami agar bisa mendapatkan banyak uang, ya. Ufufufu~"


Gneer kembali sweatdrop. 'Kedua anak dari orang tua yang berbeda ini.... Kenapa sangat mirip? Mereka creepy banget. Ih, serem....'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Casilda menutup pintu kamarnya dengan pelan. Ia berjalan menuju nakasnya yang letaknya cukup jauh dari kasur. Diambilnya sebuah pedang dengan gagang berwarna hijau yang dulu ia temukan di sebuah goa yang terletak pada bagian dalam Hutan Keramat.


Pedang itu adalah peninggalan Keluarga Tourmaline yang entah mengapa diberikan padanya. Aneh memang, seharusnya pedang itu diberikan pada Charles saja. Namun anehnya, pedang itu menolak keberadaan Charles, begitu pula pemuda itu yang menolak keberadaan pedang.


Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, Casilda pun memilih untuk tetap menyimpan pedang itu—walau sampai sekarang belum pernah ia gunakan. Pedang itu memiliki aura kematian yang sangat unik dan menarik, namun juga sangat berbahaya, seperti pisau bermata dua yang setiap ujungnya diolesi dengan racun tanpa penawar.


Benar-benar mengerikan, sama seperti pemiliknya.


'Kurasa, ini adalah waktu yang tepat untuk memakainya' batin Casilda sambil membuka sarung pedangnya. Bilah berwarna hitam dan putih pun terlihat. Bahkan panjang pedang itu hampir sama dengan pinggang Casilda.


'Sesuai dengan namanya, pedang ini memakan auraku. Untung saja sumber utama kekuatanku adalah 'indra', sehingga aku masih dapat bertahan' batin Casilda lagi.


Gadis berambut safir itu pun mengangkat pedangnya tinggi-tinggi hingga menutupi lampu kamarnya yang berada di langit-langit.


'Mulai sekarang, mohon bantuannya, ya, Pedang Pemakan Aura!'


TBC.