The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Rencana²



Casilda dan Charles berjalan beriringan menuju Kediaman Emerald guna melakukan sesuatu yang 'sangat penting'.


"Memangnya, apa hal yang penting itu, Kak?" tanya Charles penasaran.


Casilda diam sebentar, lalu menjawab, "Nanti kau juga akan tahu. Aku jamin, ini pasti akan sangat menyenangkan."


Charles mengangguk kecil. Jika Casilda masih belum ingin memberi tahu rencananya, tak masalah. Toh, apapun yang akan dilakukan oleh gadis itu pasti akan selalu benar di mata Charles.


Tiba-tiba Casilda menghentikan langkahnya, membuat Charles menyeritkan alisnya dengan heran. "Ada apa, Kak?"


"Sst." Casilda menaruh telunjuknya di depan mulut, mengisyaratkan Charles untuk diam selama beberapa waktu. Diambilnya sesuatu berbentuk bulat bak jam antik kuno dari sakunya.


'Jam antik? Bukan, itu.... Alat komunikasi?' batin Charles. 'Dari siapa? Rasanya Kakak tak pernah membeli alat seperti itu.' Pemuda itu memperhatikan gerak-gerik Casilda yang entah mengapa menjadi kesal dan jengah.


'Ada apa dengan Kakak? Kenapa dia mendadak kesal? Apa ada sesuatu yang membuatnya kesal? Siapa yang dengan berani melakukan hal itu?! Tak akan kumaafkan!!'


Sementara itu, Casilda menatap jam tangan antik—alat komunikasi—itu dengan malas. 'Duh, gimana, ya? Angkat nggak, ya? Angkat nggak, ya? Au ah, angkat aja.'


"Ada perlu apa?" tanya Casilda dengan suara laki-laki.


Charles tersentak kecil. 'Kenapa Kakak memakai suara laki-laki? Jangan-jangan, yang berkomunikasi dengan Kakak adalah.....'


«"Kyaaaa!!! Suaranya bass banget!!"»


«"Ya ampun!! Aku meleleh!!"»


'Ternyata benar, itu mereka💢' batin Charles disertai urat-urat kekesalan yang tercetak di wajah tampannya. 'Kenapa mereka harus mengganggu waktuku dengan Kakak, sih? Nyebelin!!'


"Ada perlu apa, Putri Emerald, Putri Amethyst?" tanya Casilda lagi.


«"A-anu, be-begini... A-apa Anda bisa datang ke kediaman Misha saat ini?"» tanya Viona dari balik alat komunikasi.


"Sayangnya itu tak bisa, Putri Amethyst. Saya dan adik saya ingin pergi ke pelelangan di Dataran Utara sekarang. Kami tak bisa pergi ke tempat Putri Emerald" balas Casilda sambil mengedip-ngedipkan matanya pada Charles.


'Woaahh!! Kakak keren!! Dia sudah terlatih untuk berbohong!!' komentar Charles yang mendadak menjadi seorang fanboy lagi.


«"Be-begitu, ya... Sayang sekali..."» Dari nada suaranya, Viona nampak sedih.


'Bagus, jangan ganggu kami lagi' batin Casilda di dalam hati dengan bangga.


«"Ah! Bagaimana kalau kita berdua pergi ke pelelangan di Dataran Utara, Viona?"» usul Misha.


'Anj—sabar, Charles, sabar... Kau tak boleh marah. Kalau kau marah, identitas Kakak akan ketahuan, kau tak boleh marah....' Dengan susah payah Charles menenangkan dirinya sendiri.


«"*Wah! Itu ide yang bagus, Misha!!"»


«"Bagaimana menurut Anda, Tuan Alkemist*?"» tanya Misha pada Casilda.


Gadis bersurai safir itu menggertakkan giginya dengan kesal. Kenapa duo cabe-cabean itu malah mengganggu rencananya?! Ini tak bisa dibiarkan, Casilda harus—


'Bentar bentar, kayaknya ini ide yang bagus' batin Casilda. 'Kalau aku dan Charles bertemu dengan mereka berdua di pelelangan, aku mendapat alibi yang kuat. Dengan begitu, mereka tak akan tahu kalau aku akan mencuri benda-benda antik di Kediaman Emerald. Hehehe, itu adalah rencana yang hebat..'


«"A-anu, Tuan Alkemist? A-apa Anda baik-baik saja?"»


Casilda tersentak, membuatnya sadar dari lamunannya. "Ah, maafkan saya, Putri Amethyst, Putri Emerald, saya sedang banyak pikiran. Omong-omong, soal tawaran Anda, akan saya lakukan. Kami akan menunggu di pelelangan" balasnya.


Misha dan Viona tentu saja merasa senang. Akhirnya mereka bisa bersama dengan lelaki tampan—yang sayangnya adalah perempuan itu.


«"Baik!! Kami akan segera kesana!!"»


Pembicaraan mereka pun selesai. Casilda kemudian menatap sang adik yang juga tengah menatapnya. "Kita ganti rencana, Charles."


Gadis itu pun menjelaskan rencana barunya pada sang adik. Rencananya, mereka berdua akan pergi ke pelelangan di Dataran Utara sebagai Master Alkemist dan Charla, adik dari Master Alkemist.


Kemudian, mereka akan melihat jalannya pelelangan bersama dengan Duo Cabe—Misha dan Viona. Bersamaan dengan itu, Casilda dan Charles akan membuat [Bayangan] yang di-[Teleportasi]-kan ke Kediama Emerald untuk mengambil—mencuri—beberapa benda antik.


"Woaahh!! Itu adalah ide yang cemerlang, Kakak!!" puji Charles, membuat Casilda merasa bangga pada diri sendiri. "Tapi, bagaimana jika kita ketahuan?"


"Aku jamin, kita tak akan ketahuan" balas gadis itu. "Untuk rencana berikutnya, kita ikuti alur saja. Instingku mengatakan bahwa.... Akan ada sesuatu yang dapat menyelamatkan kita dari kecurigaan mereka."


Charles mengangguk mengerti. "Kalau itu yang Kakak inginkan, aku akan mengikutinya!"


Casilda membalas dengan senyum tipis. Sifat adiknya ini membuat hatinya menghangat. Setidaknya, ia masih memiliki adik yang sayang padanya, tak seperti Si Busuk Misha itu.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Singkat cerita, Casilda dan Charles sudah tiba di pelelangan. Tentu saja mereka telah mengganti penampilan serta suara masing-masing. Casilda sebagai Master Alkemist yang namanya masih belum diketahui, dan Charles sebagai adik dari Sang Master Alkemist, namanya Charla.


Kini mereka berdua tengah duduk di ruang tunggu VVIP, menunggu datangnya Duo Cabe. Casilda duduk dengan tenang, sementara Charles duduk sambil menyilangkan kakinya dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


"Hmph!! Mereka kemana, sih?! Lama amat!! Cewek selalu lama, ih!! Nyebelin!!" kesal pemuda yang sedang menyamar menjadi perempuan itu.


Casilda sweatdrop mendengarnya. "Berarti, aku nyebelin, dong?" gumamnya yang masih dapat didengar oleh sang adik.


Charles pun gelagapan sendiri. "Bu-bukan gitu, Kakak!! Kakak nggak nyebelin, kok!! Sama sekali nggak!! Aduhh, gimana, nih??Maaf, Kak, aku nggak bermaksud untuk.... Ukh... Gimana, nih?..."


Casilda terikik kecil kala Charles sedang panik sendiri. Menggoda adiknya ini memanglah sangat menyenangkan. Charles adalah orang yang sangat pas untuk diganggu.


Sedetik kemudian, Casilda merasakan datangnya beberapa energi yang menuju ke arahnya. Ia kemudian berdiri sambil menatap arah datangnya energi itu.


"Eh? Kenapa, Kak?" tanya Charles.


"......Mereka datang."


Charles pun ikut berdiri dan melihat ke arah dimana Casilda menatap. Samar-samar ia melihat beberapa orang yang berjalan menuju ke arah mereka.


"Master Alkemist!!!" Dua orang yang berada di barisan yang paling depan pun berlari menuju Casilda. Ya, mereka adalah Duo Cabe.


"Putri Amethyst, Putri Emerald, tolong jangan berlar—"


Hug


Tanpa sempat melanjutkan perkataannya, Casilda sudah dipeluk oleh kedua gadis itu di lengan kanan dan kirinya.


"Tuan Alkemist, Misha sangat rindu padamu~" rengek Si Hijau dari Emerald dengan manja.


Si Ungu dari Amethyst juga tak mau kalah. "Viona juga kangen! Lebih kangen daripada Misha!!" Dipeluknya lengan Casilda dengan lebih erat.


Misha membalas perkataan Viona dengan tatapan tajam, sementara gadis bersurai ungu itu melayangkan tatapan sombong.


Charles menggigit ujung pakaiannya, menahan untuk tak mencabik-cabik tubuh kedua gadis yang sangat amat lancang di hadapannya ini. Sedangkan Casilda kembali sweatdrop dengan apa yang sedang terjadi.


'Kayaknya kalau aku membuat mereka berdua bertengkar, akan ada perang dunia. Ah, mending itu rencana terakhirku saja' batin Casilda sambil menutup kedua matanya.


"Putri Amethyst, Putri Emerald" panggil Casilda, membuat kedua gadis yang sedang bertatap-tatapan itu menoleh pada Casilda.


"Ya, Sayang?" jawab kedua gadis itu secara bersamaan. Mereka berdua kemudian saling melempar tatapan tajam. 'Kenapa kau memanggil Tuan Alkemist dengan sebutan"Sayang"?! Seharusnya hanya aku yang boleh melakukannya!!'


'*Ck, dua orang jal*ng ini benar-benar nyebelin!! Bisa-bisanya mereka manggil Kakak dengan sebutan menjijikkan kayak gitu! Ini nggak boleh dibiarin!! Lagipula, Kakak juga nggak suka sama panggilan itu*.' Charles melirik ke arah Casilda yang berusaha tersenyum walau wajahnya dipenuhi urat-urat kesal.


Memang benar, Casilda tak menyukai panggilan menggelikan seperti itu. Ia kan perempuan, bukan laki-laki! Menghembuskan napasnya, ia kembali menatap kedua gadis yang ada di depannya ini dengan wajah (pura-pura) lembut.


"Tak baik kalau kita berada di sini tanpa melihat jalannya pelelangan. Bagaimana kalau kita masuk ke sana sekarang, hm?" tawar Casilda dengan lembut.


Kedua gadis itu seakan telah terkena heart attack dadakan karena sifat gentle Casilda. Ukh, cowok—yang aslinya perempuan—ini adalah tipe ideal mereka!!


Bahkan kini dapat terlihat dengan jelas jika pupil mata kedua gadis itu berubah. Bentuk pupilnya seperti...... Ekhm.... Cinta?


"Baik, Tuan Alkemist~"


Casilda diam-diam menyeringai kecil. 'Ini baru permulaan, aku akan menghancurkan kalian dengan menggunakan kedua perempuan ini!! Tunggu saja!!'


TBC.