![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
"Eh? Kak Lou?" kaget Casilda.
Mereka semua sontak melihat ke arah gadis itu. "Kamu kenal dia, Casilda?" tanya Sonya dengan kaget.
Casilda mengangguk. "Kak Lou adalah kakakku" balasnya.
"APA?!" Para Onyx terkejut, begitu pula dengan Charles.
"Kak Casilda adalah... Adiknya Pewaris Citrine?" kaget Ellen dengan suara pelan. Tangan yang diletakkan di depan mulut menunjukkan rasa keterkejutannya.
"Kakak" panggil Charles pada Casilda. "Kakak adalah adiknya dia? Kok nggak ngasih tahu aku?" Pemuda ini cemberut.
"Lah iya, lupa. Hehe" ujar Casilda sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Soalnya, Kakak ketemu sama Kak Lou sebelum kamu ada, sih."
Charles semakin cemberut. 'Jadi, orang itu mengenal Kakak lebih dulu dari aku? Nyebelin!' ketusnya pada Louise.
"Kakak? Aku baru tahu kalau kamu punya adik." Louise mendekati Casilda.
"Ah, iya. Aku lupa bilang juga. Haha." Gadis bersurai safir itu kembali menggaruk bagian belakang kepalanya dengan tampang watados.
Para Onyx speechless. 'Ca-Casilda..'
Berbeda dengan keluarganya yang speechless, Eden malah senyam-senyum sendiri. 'Casilda kalau lupa tetep cantik. Hehe... Jadi tambah suka, deh' batinnya.
Louise seketika menoleh pada Eden. 'Kenapa dia senyam-senyum seperti itu? Dari auranya, ia terlihat seperti..... ORANG YANG MENYUKAI CASILDA?!'
Charles yang tengah menatap Louise pun menoleh ke arah Eden yang sedang dipandangi oleh pemuda bersurai kuning itu. 'Kenapa dia menoleh pada iblis itu? Jangan-jangan, dia tahu lalau iblis itu menyukai Kakak?'
Perlahan, Charles melirik ke arah Louise guna melihat ekspresi macam apa yang ia tampilkan. 'Kira-kira, dia mendukung hal itu atau tidak, ya?'
Nampak Louise tengah tersenyum ke arah Eden hingga matanya tertutup sempurna. Namun, itu bukan senyum normal seperti biasa, melainkan senyum penuh aura mengerikan.
'Dia menyukai adikku?! Beraninya dia💢💢' batin Louise dengan kesal.
Cahaya penuh kekaguman keluar dari tubuh Charles. 'Dia tak merestui hubungan Kakak dan iblis itu!! Kami satu server!!' batinnya senang.
"Anu, Kak Louise" panggil Casilda.
Louise pun menoleh dengan wajah tersenyum, kali ini senyum normal. "Ya, Adikku?"
"Perkenalkan, ini Charles Tourmaline, adikku" kata Casilda pada sang kakak. "Dan Charles, perkenalkan, ini Louise Citrine, Kakakku."
Louise mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Charles. "Kalau kamu adalah adiknya Casilda, berarti kamu adikku juga. Salam kenal" ucapnya.
••Charles Tourmaline, apa kau menyukai kalau Eden Onyx menjalin hubungan dengan Casilda?•• tanya Louise lewat [Telepati]
••Aku? Menyetujui Kakak bersama dengan iblis itu? Nggak sudi•• balas Charles dengan kesal.
Senyum Louise semakin merekah. ••Oke, mulai sekarang, kita adalah aliansi yang akan melindungi Casilda dari lelaki macam Eden Onyx!••
Charles seketika mengangguk setuju. ••BAIK!!•• Dijabatnya tangan Louise dan diayun-ayunkan dengan kencangnya.
Casilda tersenyum puas. 'Untung aja mereka akur.. Aku sempat khawatir kalau Charles tak akan menyukai Kak Lou...'
Eden pun menghentikan senyumnya karena merasakan hawa-hawa yang tak mengenakkan. 'Kenapa aku merinding? Apa karena kedua orang itu?' batinnya sambil melihat ke arah Louise dan Charles yang bersalaman dengan tawa aneh.
'Kok Casilda bisa tahan sama orang-orang kayak mereka, sih?' batin Eden frustasi.
Ellen yang sedari tadi diam pun akhirnya menghampiri kedua orang tuanya yang masih speechless. "Ternyata Kak Casilda mengenal banyak orang penting, ya" komentar gadis itu.
Deirn dan Sonya mengangguk. "Ya.. Kami pun terkejut dengan hal ini.."
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
"Casilda, apa kamu tahu apa alasanku datang kemari?" tanya Louise pada sang adik saat mereka telah tiba di taman.
"Emm.. Kakak mau memberiku selamat atas masuknya aku ke Knight?" tanya Casilda sembari berpikir.
"Yah, itu memang tak salah" balas Louise sambil mengusap sebuah bunga yang berada di depannya. "Tapi, ada hal lain yang membuatku datang kemari."
"Apa itu?"
Louise menoleh ke arah Casilda dengan wajah seriusnya, membuat gadis itu tercekat kecil. 'Pasti ada hal yang penting' pikir Casilda.
"Sebenarnya, Ibu ingin pergi ke sini, tapi ada urusan mendadak. Jadi, Ibu menitipkan sebuah barang padaku" kata Louise. Ia merogoh sakunya dan memberikan sebuah kotak seukuran telapak tangannya pada Casilda.
"Ini adalah barang titipan Ibu yang harus kuberikan padamu" jelas Louise.
Casilda mengambil barang itu. "Apa ini?" Ia membukanya. "Sebuah kalung?"
Louise mengangguk. "Kamu ingat, kan, kalau Ibu dan Bibi Iris sangat dekat dulu?"
Casilda pun juga mengangguk. "Tapi, apa hubungannya dengan kalung ini?"
"Kata Ibu, itu adalah kalung peninggalan Bibi Iris."
Dengan tersentak kecil, gadis itu kembali melihat ke arah kalung yang dipegangnya. Itu adalah kalung permata yang indah, berbentuk oval dan berwarna biru.
"Itu adalah kalung dari batu safir, simbol khas Pewaris Sapphire. Kata Ibu, dulu Bibi Iris menitipkannya pada Ibu, karena Bibi Iris merasa tak aman jika ia terus memakainya. Bibi Iris berpesan agar memberikan kalung itu pada putrinya saat berusia 15 tahun" jelas Louise.
"Ibu..." Casilda mengelus kalung itu dengan lembut. Pandangannya kemudian teralih pada Louise. "Terima kasih, Kak Lou.." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Louise tersenyum sendu. "Sama-sama" balasnya. "Hanya ini yang bisa kami lakukan untuk menghubungkanmu dengan Bibi Iris."
Pemuda bersurai kuning itu pun mendekati Casilda dan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut, karena ia tahu sang adik tengah menangis.
"Hiks... Te-terima... Ka-kasih.. Hiks..." isak Casilda dengan wajah menunduk. 'Setidaknya, aku masih memiliki barang peninggalan Ibu...'
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
Casilda membuka kedua matanya. Ia terkejut. Dimana dirinya sekarang?!
Tempat ini sangat berbeda dengan taman di Kediaman Onyx yang dipijaknya dengan Louise. Tempat ini monokrom, hanya berwarna putih.
'Dimana aku? Apa aku berada di dalam alam bawah sadar?' pikir Casilda dengan waspada.
Matanya menelisik ke sana kemari. Kosong, hanya ada dirinya di sana. 'Apa yang sebenarnya terjadi?'
Ia melihat tangannya sendiri dengan kebingungan. 'Apa aku sakit?'
"Kamu tak sakit, Casilda" kata seseorang di belakangnya.
"!?" Sontak Casilda menoleh. 'Se-sejak kapan dia di sana?! Dan juga.. Siapa dia?!'
Sosok yang berada di belakang Casilda adalah seorang wanita sangat cantik nan anggun dengan aura menawan. Rambutnya panjang terurai. Ia memakai gaun berwarna putih panjang yang membuatnya nampak sangat anggun. Rambut dan matanya memiliki warna yang sama, biru safir.
Tunggu, biru safir?!
Wanita itu tersenyum saat melihat wajah Casilda. "Kamu sudah besar, ya.. Putriku."
Casilda terbelalak. Hatinya Knightmenyuarakan banyak rasa. Kesedihan, keterkejutan, dan rasa senang menjadi satu.
"...I ....Ibu?" tanya Casilda dengan suara bergetar. "I-ini benar-benar Ibu?!"
Wanita cantik itu tersenyum sendu sembari mengangguk. "Iya, Casilda Putriku.. Ini Ibu, Nak..."
Setetes air mata lolos dari dinding tebal penghalang kesedihan. Casilda menangis haru dengan isak tangis yang begitu menyayat hati.
"I... IBUUU!!!" Dengan erat, ia memeluk sang ibu, tak peduli dengan air mata yang membanjiri wajahnya. "Hiks.. Kenapa Ibu baru datang padaku? Kenapa Ibu langsung pergi meninggalkanku? Kenapa Ibu pergi menghilang? Hiks... Kenapaa?"
Sama seperti sang anak, Iris pun ikut menangis. "Maafkan Ibu, Nak... Hiks... Maafkan Ibu.. Maafkan Ibu karena membuatmu merasakan penderitaan... Kamu pasti menderita di dekat mereka, ya? Maafkan Ibu..."
"Hiks... HUWAAAAA!!" Tangis Casilda semakin menjadi-jadi. Perasaan yang ia pendam lama akhirnya tercurahkan juga.
Iris berulang kali menggumamkan kata 'maaf' untuk menenangkan sang anak yang semakin menangis. Mereka berpelukan dengan erat, seolah tak ingin terpisahkan lagi.
Akhirnya, impian Casilda untuk bertemu ibunya tercapai.
.
.
.
.
.
Kini, mereka berdua sudah tenang. Iris mengusap air mata yang turun di pipi Casilda dengan lembut.
"Kamu benar-benar sudah besar.. Padahal terakhir kali Ibu melihatmu, kamu masih bayi yang baru dilahirkan.. Dan sekarang, kamu sudah menjadi perempuan yang cantik dan kuat. Rasanya, Ibu begitu menyesal karena meninggalkanmu terlalu cepat..." lirih Iris.
"Ibu juga. Aku sama sekali tak menyangka kalau Ibu adalah perempuan yang sangat cantik. Pantas saja orang itu begitu tergila-gila pada Ibu.." kata Casilda dengan wajah jijik saat ia mengingat orang itu.
Iris terkekeh kecil. "Sudah, sudah, jangan memikirkannya lagi. Itu hanya akan memperburuk kita nantinya.." tegurnya. "Ah iya, apa yang memberimu kalung ini adalah Lucie?"
"Lucie?"
"Iya, Lucie. Lucie Citrine."
"Ah, jangan-jangan itu adalah nama ibunya Kak Lou" simpul Casilda.
"Eh? Benarkah? Lucie sudah menikah dan memiliki anak?" kaget Iris. "Sungguh tak kusangka. Omong-omong, seperti apa Kak Lou itu?"
Casilda berpikir sejenak. "Emm... Dia memiliki wajah dan sifat yang lembut, seperti perempuan. Tapi tubuhnya lebih tinggi beberapa centi daripada aku. Dia baik dan pengertian. Ah iya, Kak Lou juga orang yang narsis!"
Iris tertawa karena perkataan Casilda yang terlalu blak-blakan. "Benarkah? Dia sangat mirip dengan Lucie" kekehnya. "Lalu, apa kamu sudah bertemu dengan Gneer?"
Casilda mengangguk antusias. "Tentu saja!! Kak Gneer sangat baik! Dia selalu membantuku sejak dulu! Kak Gneer juga satu-satunya orang yang mau menampungku di rumahnya!! Aku.. Sangat berhutang budi padanya" sahut Casilda dengan semangat.
Di akhir kalimat, nampak jelas kalau pipi Casilda merona. Gadis itu menggaruk bagian belakang lehernya yang tak gatal. "Aku benar-benar ingin membalas budinya dengan cara apapun" lanjutnya.
Iris tertegun, ia lalu terkekeh. "Casilda sudah besar ternyata.. Wah wah~"
"Hehe~" Gadis itu nyengir. Hatinya benar-benar sangat senang dengan kehadiran sang ibu.
"Casilda, kalung ini adalah satu-satunya perantara antara kamu dan Klan Sapphire. Kamu tak boleh melepasnya, karena kalung ini memiliki kekuatan penghancur yang sangat besar. Jika kamu melepasnya dan orang lain mengambilnya, maka kalung itu akan menciptakan kehancuran yang maha dahsyat. Hanya kita, Klan Sapphire yang dapat menjinakkannya" jelas Iris dengan serius.
Casilda melongo. Ternyata, kalungnya ini hebat juga.
"Dan juga, apa kamu ingin tahu seluruh rahasia dunia, termasuk sejarah pembantaian Sapphire?" tanya Iris.
Casilda mengangguk mantab. "Tentu saja, karena aku ingin membalas dendam pada mereka."
Iris tersenyum berani. "Ini baru putriku" pujinya. "Kalau kamu ingin mencari tahunya, datanglah ke pulau ini." Iris membuat replika kecil sebuah pulau dengan menggunakan kekuatannya.
"I-ini.. Adalah pulau yang kami gunakan untuk mengikuti Ujian Knight!"
"Ooh~ Benarkah?" Iris bersiul kecil. "Kalau begitu, kamu pasti sudah tahu rute perjalanan menuju pulau itu, kan?"
Casilda mengangguk.
"Casilda, dengarkan. Waktu Ibu tak banyak, jadi Ibu tak bisa menanyakan hal-hal tentangmu. Saran Ibu, sebaiknya kamu pergi ke sana untuk menemukan Reruntuhan Sapphire yang tersembunyi di sana. Tenang saja, ada kenalan Ibu yang akan menuntunmu di sana."
Casilda murung. "Apa Ibu... Akan pergi selamanya?" tanyanya dengan sedih.
Iris tercekat, ia sama sekali tak tega melihat wajah sedih putrinya.
"Apa Ibu tak akan pernah kembali dan bercerita denganku?" tanya Casilda lagi.
Iris mengelus pipi putrinya dengan lembut, wajahnya sendu. "Casilda tenang saja, Ibu masih berada di sini, kok. Di kalung ini, hanya saja dalam bentuk jiwa. Kamu tenang saja, Ibu akan selalu berada di sampingmu. Pasti" hiburnya.
Casilda menatap sang ibu dengan penuh harap. "Benarkah?" tanyanya ragu. Ia takut akan kepergian sang ibu untuk kedua kalinya.
Kali ini Iris menepuk pundak Casilda. "Benar, Sayang. Ibu akan selalu menemanimu, menjagamu, dan mengawasimu selalu. Ibu janji."
Setidaknya, Casilda dapat bernafas lega. "Syukurlah..."
"Tapi, Casilda harus ingat kalau kamu tak sendirian di dunia ini. Kamu punya orang-orang dan keluarga yang menyayangimu, kan?"
Perkataan Iris membuat Casilda teringat. Betapa bodohnya dia, bisa-bisanya ia melupakan mereka!
Charles, Louise, Eden, Ellen, Sonya, Deirn, Lucie, Harkin, Bent, dan juga Gneer. Mereka adalah orang-orang yang begitu berarti baginya. Mereka adalah orang yang membawa cahaya pada diri Casilda.
Iris tersenyum lembut. 'Dengan begini, aku tak akan khawatir mengenai keselamatannya. Mereka pasti melindunginya' batinnya penuh dengan senyuman.
"Casilda, maafkan Ibu, ya.. Maafkan Ibu untuk segalanya.. Maaf.." Iris meracau dengan tetesan air mata yang mengalir. "Maafkan Ibu..." Perlahan, tubuhnya mulai menghilang.
Casilda menggeleng lemah. "Ini bukan salah Ibu, tenang saja..." Wajahnya kembali memerah, ia ingin menangis.
"Casilda, ingat pesan Ibu, ya. Kamu harus jaga kesehatan, jangan tidur terlalu lama, jangan pernah melupakan orang yang telah membantumu. Hiduplah dengan bebas sesuai isi hatimu. Jangan ragu untuk curhat pada Ibu kapanpun kamu mau.."
"Em, itu pasti.." angguk Casilda. Kini, ia sepenuhnya menangis.
"Casilda..." Iris kembali mengelus pipi putrinya. "Ibu sangat menyayangimu. Terima kasih telah hadir disaat terakhir Ibu. Kamu adalah harta Ibu yang paling berharga.. Hiduplah dengan bebas, oke?"
Casilda kembali mengangguk. Air matanya semakin mengucur deras.
Di saat terakhir, Iris menyempatkan diri untuk mencium dahi putrinya. "Sekali lagi, maafkan Ibu..."
.
.
.
.
.
Casilda membuka matanya. Ia kini tengah berbaring di atas kasur di Kediaman Onyx. Matanya yang sembab dan hidungnya yang tersumbat karena habis menangis membuatnya kesulitan melihat dan bernafas.
Samar-samar, ia melihat Charles yang tengah tertidur di kasurnya, dengan kepalanya yang berada di atas kasur dan tubuh yang berada di kursi. Sepertinya, Charles terlelap karena menunggunya bangun.
Lalu, ia melihat ke arah lain. Di sana ada Louise yang posisinya sama dengan Charles. Bedanya, Charles berada di sisi kiri Casilda, sementara Louise di sisi kanannya.
Ternyata tak hanya mereka berdua, Eden pun berada di sana. Pemuda itu tertidur dengan posisi duduk di kursi yang tak jauh dari kasurnya.
Melihat hal itu, Casilda tersenyum. 'Benar, aku masih memiliki orang-orang yang peduli padaku...'
TBC.