![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
"Woaahh!! Ternyata masih ada lahan yang luas di sini!!" kagum Casilda dengan menggebu-gebu.
Pemandangan bagian dalam gerbang kelima ternyata tak jauh beda dengan gerbang-gerbang lainnya, masih berupa hutan. Bedanya, hutan di bagian dalam gerbang kelima ini tak begitu rimbun. Hanya terdapat pada bagian pinggir saja.
Setelah memasuki gerbang kelima, terdapat sebuah jalan setapak yang lebar, dengan hiasan daun-daun tanaman merambat yang indah. Tanaman merambat itu dibentuk bak sebuah gapura yang berjejer rapi sepanjang jalan setapak.
...(Ilustrasi. Sumber: Pinterest)...
Nuansa hijau nan asri begitu memenuhi pengelihatan mereka bertiga.
'Padahal kukira wilayah Klan Onyx seperti tanah yang tandus dan suram dengan nuansa hitam. Tak kusangka mereka membudidayakan banyak tanaman yang cantik' batin Casilda sembari menengok ke kanan dan kirinya.
'Hmph, boleh juga' komentar Charles tak minat.
Hantu Butler berjalan di depan mereka sebagai penunjuk arah. Tak jarang ia melirik ke arah sepasang kakak beradik itu tanpa ekspresi seperti biasa.
"Liam Hermatite, siapa mereka?" tanya seorang wanita yang berdiri di depan mereka.
Hantu Butler seketika berlutut. "Salam, Nyonya Onyx, Nona Ellen" ucapnya.
Casilda dan Charles tersentak. Mereka kemudian ikut berlutut. "Sa-salam, Nyonya Onyx, Nona Onyx."
Nyonya Onyx menatap mereka bertiga dengan tatapan datar, walau masih nampak menawan karena wajah lembutnya. Di belakangnya terdapat Ellen yang sedang menatap mereka dengan tajam sembari meletakkan tangannya di pinggang.
"Siapa mereka, Liam Hermatite?" tanya Nyonya Onyx dengan dingin.
"Mereka adalah teman dari Tuan Muda, Nyonya" balas Hantu Butler.
'Hermatite? Apa dia adalah sepupunya Lenoir?' pikir Casilda masih berlutut.
"Siapa nama kalian?" tanya Nyonya Onyx pada Casilda dan Charles.
"Saya Casilda, dan ini adik saya, Charles" balas gadis bersurai safir itu.
"...." Nyonya Onyx diam sembari menatap mereka berdua lekat-lekat.
'Sudah kuduga, bahkan ibunya Si Iblis itu juga memiliki kekuatan yang cukup berbahaya. Perempuan yang ada di belakangnya juga. Cih, Klan Onyx memang tak boleh diremehkan' batin Charles was was.
"....Kalian boleh berdiri" titah Nyonya Onyx.
Mereka bertiga pun berdiri.
"Untuk apa kalian datang kemari?" tanya Nyonya Onyx lagi.
"Kami kemari karena ingin mengembalikan barang Eden yang tertinggal" jawab Casilda.
Nyonya Onyx menyeritkan alisnya. "Barang?" tanyanya. 'Eden tak mungkin melupakan barangnya begitu saja. Apa gadis ini berbohong?'
"Apa kau yang membuka gerbang kelima kediaman kami?" tanya Nyonya Onyx lagi.
Casilda mengangguk. "Itu benar."
'Dia yang membukanya? Bukan adiknya?' Nyonya Onyx melirik ke arah Hantu Butler untuk meminta jawaban. Hantu itu pun mengangguk. 'Kalau Liam mengangguk, berarti itu memanglah kenyataan, karena dia tak mungkin berbohong.'
'Gadis ini dapat membukanya? Ini menarik.' Nyonya Onyx pun tersenyum. "Namamu Casilda, kan? Berapa umurmu?" tanyanya sambil berjalan mendekati gadis itu.
"Lima belas tahun" balas Casilda.
"Wah, kau masih muda ternyata" komentar Nyonya Onyx. "Tak baik kalau kita berdiri di sini. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam?"
"Eh? Masuk ke dalam?" kaget Casilda. "Anu, itu tak perlu, Nyonya. Kami kemari hanya untuk mengembalikan barangnya Eden" tolak Casilda.
"Hoho, tak apa, jangan sungkan. Ayo" ajak Nyonya Onyx sekali lagi.
Casilda dan Charles saling melirik.
"Ayolah~"
"...Baiklah.." jawab Casilda sambil menghela napas kecil.
Sedari tadi, Ellen memperhatikan dan mendengarkan percakapan ibunya dengan kedua orang asing itu. 'Apa dia adalah orang yang Kakak sukai?' pikirnya.
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
"Ini adalah arena kami" jelas Nyonya Onyx. "Di sinilah kami melatih para prajurit kami."
"....Kenapa Anda membawa kami kemari? Bukannya letak arena di sebuah kediaman adalah sesuatu yang rahasia?" tanya Casilda.
Nyonya Onyx tersenyum hingga matanya sipit. "Karena aku ingin~" balasnya.
"...." Casilda hanya diam, karena ia tak tahu harus menjawab apa.
"Selamat datang, Bibi—eh? Casilda? Charles? Kalian di sini?" kaget seseorang yang menghampiri mereka.
"Eh? Lenoir?" Casilda pun tak kalah kagetnya. "Kenapa kau di sini?"
"Ini adalah tempatku berlatih" balasnya. "Kau sendiri?"
"Nyonya Onyx mengajakku kemari" balas Casilda.
"Eh? Bibi kenal Casilda? Apa Eden sudah diberitahu kalau Casilda datang kemari?" tanya Lenoir beruntun.
"Ah, Bibi lupa."
"Kalau gitu, aku akan memanggil Eden dulu. Casilda, kau jangan pergi kemana-mana!! Charles juga!!" Lenoir berlari menjauh menuju pintu arena.
"Kalian saling kenal?" tanya Nyonya Onyx.
"Ya.. Kami berada di dalam Knight yang sama, walau berbeda kelompok" balas Casilda masih melihat ke arah dimana Lenoir keluar.
"..Apa kau sekelompok dengan Eden?"
"Huh? Ya.. Saya dan Charles sekelompok dengannya."
"Begitu rupanya.." Nyonya Onyx tersenyum misterius. Ia menolehkan pandangannya ke arah orang-orang yang sedang berlatih. "Lalu menurutmu, bagaimana dengan para prajurit kami?"
Casilda ikut menoleh. "Saya rasa.. Mereka nampak kuat. Mereka melatih aura masing-masing dengan baik."
Charles menatap Nyonya Onyx dengan heran. 'Apa yang dia rencanakan? Kenapa menanyakan itu?'
Ellen pun menatap Charles juga dengan wajah terheran-heran. 'Kenapa wajahnya kayak gitu? Dia mencurigai Ibu?'
"Casilda..." panggil Nyonya Onyx sembari tersenyum simpul. "Mau mencoba bertarung dengan mereka?" tawarnya.
"!?" Casilda, Charles, Ellen, dan Hantu Butler terkejut dengan pertanyaan Nyonya Onyx.
"I-Ibu, kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Ellen gagap.
"Kenapa? Tentu saja karena aku ingin melihat seberapa hebat kemampuan rekan satu tim Eden" balas Nyonya Onyx dengan santai.
'Nyo-Nyonya bahkan meminta gadis itu bertarung? Ini tak pernah terjadi sebelumnya....' kaget Hantu Butler.
'Ck, jadi ini tujuannya langsung membawa kami kesini? Ibu dan anak sama-sama licik seperti iblis!' sinis Charles dengan wajah mengerut kesal.
"Jadi, bagaimana, Casilda? Mau mencobanya?" tanya Nyonya Onyx. 'Aku ingin tahu apa jawabanmu...'
"....Baiklah." Casilda mengangguk. "Sepertinya Anda takut kalau saya membebani Eden pada pertempuran saat menjadi Knight besok. Saya dapat memahaminya."
"Kakak?!" kaget Charles.
"Wah, ternyata kau memiliki nyali yang besar juga, ya.." puji Nyonya Onyx. "Tapi, apa kau lupa? Ini adalah wilayah musuhmu. Apapun dapat terjadi kalau kau tak berhati-hati" imbuhnya dengan mata coklatnya yang menyala.
"Lalu, kalau ini adalah wilayah musuh, apakah itu dapat menjadi alasan untuk takut?" tanya Casilda dengan wajah datarnya. "Apakah wajah saya terlihat ketakutan?"
'Ga-gadis ini.... Dia benar-benar tak takut!' kaget Nyonya Onyx, Ellen, dan Hantu Butler.
"Seperti inilah yang akan terjadi saat kami menjadi Knight Pengelana. Kami akan diberi misi di kerajaan lain, keadannya sama dengan saya dan adik saya yang berada di Wilayah Onyx ini. Walau kehilangan nyawa, itu tak masalah, karena segala sesuatu pasti memiliki resiko. Dan saya selalu siap menghadapi segaka resikonya."
Nyonya Onyx terbelalak, ia kemudian menetralkan ekspresinya. "Baiklah, kalau kau memang tak takut. Kau akan melawan komandan prajurit kami, apa kau keberatan?"
"Tidak."
"Kenapa? Dia adalah lawan yang kuat, loh. Apa kau meremehkannya?" tanya Nyonya Onyx penuh penekanan.
"Kalau saya meremehkannya, saya tak akan bersikeras untuk bertarung seperti ini. Bukankah sudah menjadi hal yang wajar jika seseorang ingin melawan orang yang lebih kuat darinya untuk dijadikan batu loncatan?" balas Casilda tak gentar.
'Di-dia masih bisa membalas perkataan Ibu?!' kaget Ellen.
"Menjadikannya sebagai batu loncatan? Huh, apa kau yakin bisa mengalahkannya?" tanya Nyonya Onyx dengan wajah remeh.
'Wanita tua ini meremehkan Kakak?! *Dia meremehkan kakakku?! KAKAKKU?! BANG*AT*!!' Charles mati-matian menahan gejolak amarahnya.
"Ini bukan tentang bisa atau tidaknya, melainkan harus. Jika saya tak melawan orang yang lebih kuat, maka saya tak akan dapat bertahan hidup sebagai Knight Pengelana." Casilda masih sanggup membalas Nyonya Onyx.
Wanita bersurai abu-abu gelap itu tersenyum miring. 'Wah wah~ Dia masih bisa membalas perkataanku~ Ini sangatlah menarik. Bahkan dia tak gentar saat aku mengeluarkan aura membunuh. Huh, boleh juga~'
Ellen menatap sang ibu dengan raut khawatir. 'Ibu... Apa yang Ibu pikirkan?'
"Kalau begitu, bagaimana jika kau melawannya sekarang juga? Kau bebas menggunakan kekuatanmu ataupun senjatamu" kata Nyonya Onyx.
"Baik."
'Huh, ini akan sangat menarik~' batin Nyonya Onyx sambil menyeringai.
TBC.