![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
SYATT
BRUGH
Sebuah badan manusia terjatuh dan menghantam tanah dengan kerasnya. Darah yang keluar dari tubuh itu membanjiri tanah yang semula berwarna hijau segar itu.
Rerumputan yang menghiasi tempat itu berubah menjadi lautan darah segar yang anyir dan amis. Darah yang bercucuran dengan derasnya itu tak hanya berasal dari satu orang saja, namun banyak.
Sang pelaku yang menciptakan pemandangan seperti ini hanya menatap datar ke arah segerombolan orang yang telah dibunuhnya. Ia mengabaikan percikan darah yang ada di pipi dan pedangnya.
Sang pelaku membungkuk, mengambil barang-barang yang ada di saku para mayat itu. Setelahnya, ia mengambil sebuah kantong tanpa batas dan memasukkannya ke dalam sana.
"Sayang sekali, quest ketigaku adalah 'Mengambil benda-benda hasil quest milik peserta lain'. Dan sayangnya kalian adalah peserta terdekat dariku" kata sang pelaku.
"Salahkan diri kalian sendiri yang malah mempertahankan benda-benda hasil quest kalian, padahal sudah jelas kalau aku yang akan menang. Huh, dasar bodoh" imbuh sang pelaku.
"Wah wah, padahal kupikir kau tak akan berani melakukan hal ini. Ternyata, kau adalah orang yang akan melakukan segalanya demi dirimu sendiri, ya..." Seorang pemuda mendatangi si pelaku sambil bertepuk tangan.
Sang pelaku menatap pemuda itu dengan sinis dan tajam. "Apa yang kau lakukan di sini..... Charles?" tanyanya.
"Eh? Memangnya, aku tak boleh datang ke sini, Eden?" tanya Charles balik dengan santai dan sarkas.
"Cih, kau membuang-buang waktuku. Cepat katakan, apa yang kau inginkan sekarang!" ketus Eden sambil berdecih.
"Hmph, akhirnya kau menunjukkan sisi burukmu ini, padahal kukira kau akan selalu menyembunyikannya di depan kami" dengus Charles sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa ini... Karena Kakak?" tanya Charles lagi, dengan tatapan super dingin yang dilayangkannya pada Eden.
Pemuda bersurai hitam itu tersenyum miring, menantang. "Kalau iya, memangnya kenapa?"
"Kau tak boleh melakukannya. Tidak di depan kakakku" balas Charles. "Aku tak ingin Kakak terkontaminasi oleh makhluk tak bermoral seperti kau."
"Huh? Aku? Tak bermoral? Pfftt, lucu banget, sih.." Eden terkekeh kecil. "Bukankah kau juga sama sepertiku, Charles? Kau juga membunuh banyak orang untuk kemenanganmu sendiri, kan?"
"Membunuh pun tak masalah, asalkan aku bisa menjadi seorang Knight bersama Kakak" ucap Charles dengan serius. "Karena aku akan selalu berada di sisi Kakak untuk melindunginya. Selamanya."
Prok prok prok...
"Itu adalah impian yang hebat... Kau pasti sangat menyayangi Casilda, sampai-sampai kau mengatakannya.." ucap Eden sembari bertepuk tangan.
"Tentu saja, Kakak adalah orang yang paling aku sayangi dan satu-satunya sosok yang aku hormati." Charles menutup kedua matanya. "Dan tak akan kubiarkan Kakak berada di tempat yang sama seperti kau."
Tatapan Charles sangatlah tajam dan menusuk. Terlihat dengan jelas kalau pemuda ini ingin membunuh Eden yang telah lancang mendekati sang kakak.
Eden yang ingin dibunuh hanya memasang wajah datar yang terkesan cuek. Ia sama sekali tak takut dengan ancaman Charles.
"Oh ya? Tapi, bukankah seharusnya Casilda sendiri yang menentukannya? Kenapa kau malah ikut campur pada urusan itu?" tanya Eden dengan santainya.
"Karena aku tahu, kau adalah orang yang kotor. Sama seperti sebuah noda besar di atas kertas berwarna putih. Aku tak ingin kau menodai kertas putih yang bersih itu. Tidak sama sekali."
Eden tersenyum miring. "Huh, seperti tak pernah mengaca saja" gumamnya.
"Memangnya, kenapa kau mendekati Kakak? Apa yang kau inginkan?!" tanya Charles.
"Yang kuinginkan dari Casilda? Hmm...." Eden berpikir sejenak. "Tidak ada."
"Haah? Lalu kenapa kau malah mendekatinya?!"
"Ah, itu karena—"
"Apa kau ingin memantaunya?" potong Charles dengan nada datar. "Apa kau ingin memantau kami?" tanyanya lagi dengan sorotan mata yang lebih tajam.
Eden terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Ping pong!! Itu benar!!"
GREPP
"BERANINYA KAU!! DASAR BRENGSHAKE!!" umpat Charles. Ia menarik kerah baju Eden dengan kuat. "KENAPA KAU MEMANTAU KAKAK, HA?!"
Eden kembali tersenyum, kali ini dengan senyuman miring yang nampak sinis. "Sudah kuduga, begitu mudah membuatmu tersulut emosi, ya, Charles" kekehnya.
Eden dengan mudah melepaskan cengkeraman tangan Charles dari kerah bajunya. "Kalau tentang Casilda, kau pasti langsung bertindak cepat. Entah mengapa aku begitu kagum dan iri dengan hal itu."
Charles mencoba menenangkan pikirannya, walau hatinya meronta-ronta ingin segera mengantar Eden ke hadapan Tuhan.
"Kau tahu, Charles? Sepertinya...." Eden menengadahkan kepalanya menghadap ke langit biru yang membentang di angkasa. "...Aku menyukai Casilda."
Mata Charles seketika membola, bersamaan dengan keluarnya aura mengerikan darinya. Urat-urat kemarahan tercetak jelas di wajahnya.
Ia marah, kesal, dan merasa langsung ingin membunuh Eden saat itu juga.
"Aku.. Baru pertama kali melihat perempuan seperti itu. Padahal, selama ini, aku tak memiliki perempuan lain di hatiku selain ibu dan adikku. Tapi, dengan lancangnya Casilda merebut kursi ketiga di hatiku" jelas Eden.
"Lancang?" tanya Charles sambil menunduk. "Kau bilang kakakku adalah orang yang lancang? Hey... JAGA BICARAMU, BED**AH!! KAU INI HANYALAH MAKHLUK SYALAND YANG MEMASUKI KEHIDUPAN KAKAKKU TANPA PERMISI, TAHU! BRENGSHAKE KAU!"
Charles langsung mengambil ancang-ancang untuk memukul Eden, tak peduli apapun resikonya, walau ia mengetahui bawa pemuda yang berada di depannya ini jauh lebih kuat daripada dirinya.
"Ya.. Aku tahu, aku memang menyebalkan.." lirih Eden.
Seketika, pukulan yang Charles layangkan berhenti. Pemuda bersurai hijau itu menyeritkan alisnya bingung.
Sebenarnya, Eden ini kenapa, sih?
"Padahal, aku tahu kalau aku mulai tertarik padanya, tapi aku malah menyangkalnya dan berpikir bahwa hal itu adalah sesuatu yang harus berlalu. Padahal, tujuan utamaku adalah memantau kalian, tapi setiap kali aku melihat wajahnya, aku seolah terjatuh ke dalam lubang hitam yang tak berdasar.."
"Pada saat itu, aku paham kalau aku mulai tertarik padanya. Dan dengan bodohnya aku malah mencoba untuk mengujinya. Aku sama sekali tak menyangka bahwa ia tak menyukai sifatku yang seperti itu, padahal kukira dia akan memberikan pil-pil itu padaku. Ternyata, aku salah."
"Hey, Charles" panggil Eden. "Kurasa, kau benar. Aku hanyalah orang syaland yang memasuki kehidupannya tanpa permisi."
Charles masih menyeritkan alisnya. Ia kemudian menghela napas. "Aku sama sekali tak paham, apa yang kau bicarakan di sini. Tapi syukurlah kau sadar akan posisimu saat ini, Pak Tua" sindirnya di akhir kalimat.
"Huh, sindiranmu masih sama seperti saat kita bertemu dulu. Padahal kukira kau akan langsung merestuiku dengan Casilda" kata Eden.
"JANGAN HARAP, SYALAND!!"
"Huuh, ayolah. Kenapa kau tak merestui hubungan kami saja?" tanya Eden yang mulai OOC.
"Karena aku tak suka ada lelaki yang mendekati Kakak" ketus Charles.
Eden speechless. 'Emangnya kau sendiri bukan lelaki?'
"Apa begini saja, kalau aku berhasil merebut hati Casilda, kau akan merestui hubungan kami, bagaimana?" tawar Eden.
Charles merengut dan membuang wajahnya ke arah lain. "Hmph, aku tak akan menjual kakakku sendiri. Cari perempuan lain aja sana! Aku akan mencarikan jodoh yang sesuai untuk Kakak!"
Eden menggeram kecil. Ternyata, mendapatkan hati Casilda tak semudah itu. Ia harus melewati 2 tembok besar, yaitu Charles dan ketidakpekaan gadis itu.
'Ini akan menjadi perjuangan yang sulit, tapi aku pasti bisa.' Senyuman menantang pun ia sunggingkan tanpa ragu. 'Karena bagaimanapun juga, Casilda akan menjadi milikku!'
Charles yang menyadari perubahan ekspresi Eden pun kembali merengut. 'Hmph, aku tak akan kalah! Aku akan selalu melindungi Kakak dari lelaki jahat seperti dirinya!'
Dan dengan begini, pertarungan antara Eden dan Charles pun dimulai.
Sementara itu, si empu yang sedang dibicarakan bersin hebat. "Hatsyii!!"
Casilda mengelap hidungnya. 'Ukh, kenapa Eden sama Charles bicarain aku? Padahal udah cukup Kak Lou aja yang bicarain aku' batin gadis itu.
Sembari menghela napas, ia berjalan. Beberapa detik yang lalu ia di-[Teleportasi]-kan ke tempat ini, membuatnya senang karena dapat terbebas dari curhatan maut Hantu Bergaun Hitam, Hayaleth.
Tujuan utamanya kali ini adalah mencari keberadaan dua orang yang selalu bertengkar kalau disatukan itu. Menurut instingnya, mereka berdua berada di sekitar sini.
'Tapi, mereka dimana? Jago banget petak umpetnya' batin Casilda sambil mencari Charles di balik sehelai daun yang jatuh. "Charles, kau di sini? Ah, nggak ada."
Gadis itu menghela napasnya dengan kasar. 'Perasaan, aku nggak pernah ngajarin Charles cara main petak umpet, deh.'
TBC.