The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Rencana (Selesai)



"JANGAN PURA-PURA TAK TAHU!! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DI TEMPAT INI SENDIRIAN?!"


Rain meringis mendengar suara yang menggelegar itu. Tatapan tajam nan sinis ia peroleh dari ketiga orang yang berada di depannya.


Rasa ingin melepaskan diri terus menyeruak di dalam dirinya. Namun, apa daya, ia kini tengah diikat oleh akar-akar yang mampu menyerap energi kehidupan dari makhluk hidup.


Siapa pelakunya? Tentu saja para Emerald yang berada di depannya ini.


"Sa... Saya juga tidak tahu.." balas Rain dengan jujur. Ia bahkan tak ingat dengan apa yang terjadi padanya.


Tuan Emerald semakin mengencangkan akar-akar yang melilit Rain, membuat pemuda itu meringis. "Kutanya sekali lagi, apa yang kau lakukan di sini?!"


"Sa-saya sedang melakukan shift penjagaan sesuai jadwal. Se-seingat saya, saya memasuki ruang perpustakaan karena saya ditugaskan untuk menyusun buku-buku yang ada di rak. Ta-tapi, saat saya masuk ke dalam perpustakaan, sa-saya tak mengingat apa-apa" balas Rain dengan gugup.


"Huh? Kau pikir aku percaya dengan kata-katamu?" tanya Tuan Emerald dengan aura yang menyeramkan.


"HIYY!!" Tanpa sadar Rain memekik ngeri. "Sa-saya tak tahu apa-apa!! Sa-saat bangun, entah mengapa saya sudah berada di dalam ruangan bawah tanah!! Sa-saya bahkan tidak tahu bagaimana cara membuka pintu ruang bawah tanah."


Tuan Emerald mengangkat sebelah alisnya. Ia merasa janggal dengan apa yang dikatakan oleh Rain. Apa jangan-jangan... Rain berbohong?


"Dia tak bohong, Ayah" kata Misha di tengah keheningan itu.


Tuan Emerald dan Nyonya Emerald sama-sama menoleh pada anak semata wayang mereka. "Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa tahu?"


"Itu." Misha menunjuk akar-akar yang melilit Rain. "Itu adalah tanaman perdu khusus yang dapat mendeteksi kebohongan. Jika seseorang berbohong, maka tanaman itu akan semakin melilitnya. Sebaliknya, jika orang itu jujur, maka tanaman itu akan merenggang."


Tuan Emerald dan Nyonya Emerald kemudian menoleh ke arah Rain yang masih dililit. Benar saja, tanaman itu tak terlalu kencang melilit Rain. Berarti, Rain berkata jujur.


"Darimana kau tahu tentang tanaman itu, Putriku?" tanya Nyonya Emerald penasaran.


Wajah Misha mendadak berubah menjadi berwarna merah seperti tomat. Telunjuknya ia tautkan satu sama lain dan matanya melirik ke arah lain dengan pipi yang bersemu kecil.


"Itu... Ehehe... Tuan Alkemist yang memberitahuku... Hehe...." ujar Misha malu-malu anjing.


Nyonya Emerald tersenyum, namun hatinya kesal. 'Cih, seharusnya aku yang diajari oleh pemuda tampan itu!' geramnya.


Memilih untuk mengabaikan pembicaraan wanita, Tuan Emerald menjatuhkan Rain dari akar-akar yang sebelumnya melilit pemuda itu.


Bruk!!


Rain terduduk di atas lantai keras dengan tak elitnya. Ukh, jika yang berada di depannya ini memiliki posisi yang lebih rendah daripada dirinya, ia pasti sudah misuh-misuh terlebih dahulu.


"Hey, Rain" panggil Tuan Emerald, membuat pemuda dari Klan Amethyst itu menoleh padanya. "Siapa yang membuatmu seperti ini?"


"I-itu... Saya tidak tahu, Tuan..." balas Rain apa adanya. Ia juga tak menyangka akan jadi seperti ini. 'Tuhan, semoga aku tak terkena masalah lagi....'


Tuan Emerald hanya berdehem sambil menelisik sekelilingnya. 'Apa ada yang mencuri barang-barang antikku? Tapi, tak ada yang hilang satupun. Semuanya masih utuh...'


Pria berambut hijau itu mendekati salah satu benda antiknya dan mengelusnya. 'Bahkan posisinya tak berubah sama sekali. Apa benar ada yang mencurinya?'


'.....Kurasa tidak, itu adalah hal yang mustahil dilakukan, karena yang dapat melakukannya hanyalah orang-orang dari Keluarga Utama dan Keluarga Kekaisaran saja. Tapi, mereka semua tak memiliki motif untuk melakukannya.'


'Lagipula, siapa juga yang mau mengambil benda antikku? Mereka kan sudah kaya dari dulu.' Tuan Emerald mengangkat bahunya acuh.


Tempat ini masih tetap bersih, keadaannya masih sama seperti saat ia meninggalkan ruangan ini terakhir kali. Tak ada yang berubah sama sekali, tidak ada.


Hal itu tentu saja membuatnya ragu. Sebenarnya, untuk apa orang itu berada di sini?


Apa motifnya?


Dan juga... Siapa pelakunya?


Tuan Emerald masih belum paham. Wajar saja, dia kan memiliki otak yang sama seperti bintang laut dan udang.


'Walau terkesan masih bersih, tak ada salahnya kalau aku memasang sihir penjagaan di sini. Karena aku tak boleh percaya pada siapapun, termasuk mereka..' Diliriknya Misha dan Nyonya Emerald yang masih bercengkerama membicarakan Casilda.


"Hey, kau!"


"B-baik, Tuan!!" Rain langsung duduk dengan tegak.


"Pergilah dari sini dan jangan ceritakan kejadian ini pada siapapun, mengerti?!"


"B-baik!! Sa-saya permisi dahulu!!" Dengan kecepatan yang mungkin melebihi cahaya, Rain berlari keluar dari ruangan itu.


Sepertinya, ia memiliki trauma baru, yaitu trauma pada ruang bawah tanah Emerald.


"Apa yang kau lakukan, Suamiku? Kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja?" protes Nyonya Emerald sambil berjalan mendekati sang suami.


Tuan Emerald mendengus kasar. Wanita ini, cukup menyebalkan juga. "Dia tak bersalah" balasnya singkat.


"Kau bilang dia tak bersalah?! Bagaimana jika barang-barang ini ternyata sudah diubah dengan barang palsu oleh pesuruh tadi? Bagaimana dengan nasib kita?!"


"Hmph, itu tak akan terjadi." Tuan Emerald berbalik badan membelakangi istri dan anaknya.


"Apa?"


"Aku sudah mengeceknya, tak ada kepalsuan sama sekali pada barang-barang itu. Lagipula, kita tak boleh seenaknya saja menyalahkan Rain, karena Klan Amethyst akan protes dan mengamuk nantinya" kata Tuan Emerald.


Wah, tumben bijak :v


"T-tapi...." Nyonya Emerald masih tak terima. 'Bagaimana nasibku jika ternyata barang-barang ini adalah benda palsu? Apa yang harus aku lakukan untuk bertahan hidup?'


"Sudahlah, kau tak perlu memikirkannya lagi. Ini bukanlah urusan yang harus kau perhatikan" sinis Tuan Emerald.


'Memang benar, aku memaksanya untuk mencintaiku sejak datangnya Misha di dunia ini. Dan memang benar, ia menjadi lebih lembut daripada saat bersama wanita syaland itu. Tapi... Kenapa sekarang ia berbeda?'


'Apa penyebabnya? Kenapa dia seperti ini? Apa dia kehilangan rasa cintanya padaku? Karena apa? Bagaimana bisa?'


Sementara Nyonya Emerald masih termenung dalam pemikirannya, Misha menatap mereka berdua dengan wajah gelisah. Tidak, ia tak khawatir dengan hubungan antara kedua orang tuanya. Yang ia khawatirkan adalah...


'Bagaimana ini? Kalau Ibu berpisah dengan Ayah, bagaimana warisan yang seharusnya diberikan padaku? Nggak boleh, ini tak boleh terjadi. Bagaimanapun juga, aku harus mempertahankan warisan Emerald yang sangat banyak itu!' batin Misha.


"Ibu...."


Nyonya Emerald menoleh ke arah putrinya.


"Tenang saja, Ibu. Misha yakin, Ayah pasti sedang banyak pikiran. Ayah masih mencintai Ibu, kok. Tenang saja..." ucap gadis bersurai hijau itu menenangkan ibunya.


Nyonya Emerald tersenyum. "Kau benar, Putriku. Setidaknya, Ibu masih memilikimu di sisiku..." 'Sebagai sebuah pion yang tak boleh kubuang.'


Misha pun ikut tersenyum. "Tentu saja, Ibu boleh mengandalkanku selalu!" 'Dan tentu saja aku akan lebih mengandalkanmu sebagai batu lompatanku, Ibu..'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Pfftt...." Casilda menahan tawanya yang hampir keluar. Ternyata ini lebih lucu dari apa yang dibayangkan.


"Ada apa, Kakak?" tanya Charles yang berada di sampingnya.


Casilda mengusap air matanya yang keluar karena saking lucunya. "Gpp, kok, Charles. Kakak cuma ngakak aja. Ternyata, pisau juga bisa menusuk sisinya yang tumpul, yah..."


Charles terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia ini pintar, tak sulit baginya untuk mengetahui apa yang dibicarakan Casilda. Siapa lagi, tentu saja Casilda tengah membicarakan orang-orang berambut hijau itu.


"Padahal niatnya aku cuma mau tahu, rencanaku berhasil atau nggak, eh ternyata malah dapat yang lebih menarik lagi" ucap Casilda dengan seringai senang.


"Tak hanya rencanaku saja yang berhasil, aku juga mendapatkan sebuah informasi yang sangat fatal bagi mereka. Ihihi, pasti tak ada yang menyangkanya, termasuk aku.. Hihihi..." Gadis bersurai safir itu terkikik kecil.


Melihat kakaknya terkikik senang, Charles pun tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. "Untung saja mereka itu otak udang, kalau nggak, mereka pasti sadar kalau dari dulu Kakak selalu menguping pembicaraan mereka. Hahaha!!"


"Eits! Bukan nguping, tapi mencari informasi! Ingat itu!" ralat Casilda.


"Siap, Bos!!" seru Charles sambil berlagak layaknya seorang polisi.


Casilda kemudian berdiri sembari menepuk-nepukkan pakaiannya yang kotor karena debu. Setelahnya, ia menoleh ke arah sang adik yang tengah menatapnya.


"Ayo kita pulang sekarang, Charles. Kita harus menghitung berapa besar pendapatan kita hari ini!"


TBC.