The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Kediaman Emerald²



Para Emerald kebingungan karena orang-orang dari Jade Assassin tiba-tiba mundur. Mereka penasaran, apa jangan-jangan itu hanyalah pengalihan saja?


Misha, Viona, Casilda, dan Charles menghampiri Pemimpin Emerald beserta istrinya yang sama-sama kebingungan.


"Ayah, kenapa mereka tiba-tiba menghilang?" tanya Misha.


"Aku juga tak tahu" balas Pemimpin Emerald sembari melirik Casilda dan Charles.


"Ah, jadi Anda mencurigai kami, ya?" Casilda bersedekap dada. "Percuma saja, karena putrimu lah yang menarik tanganku pada saat adanya penyusup. Adikku mengikuti kami, jika tak percaya, tanya saja pada Nona Amethyst."


"Itu benar, Ayah! Aku sendiri yang menarik tangan Tuan Alkemist!" pekik Misha. "Seperti ini." Ia menarik tangan Casilda seperti tadi.


'Brengsek.. Beraninya makhluk sepertinya menyentuh tangan Kakak berkali-kali... Tak dapat kumaafkan.' Charles marah dan auranya menyebar kemana-mana. Casilda mengisyaratkan Charles agar berhenti, dan langsung dituruti oleh lelaki itu.


"Itu benar, Paman. Aku mengikuti mereka, dan aku juga melihat adik dari Tuan Alkemist di sana" tunjuk Viona ke arah Charles.


'Jangan tunjuk aku dengan tangan kotormu itu, dasar breng—'


'Charles.'


'Maaf, Kakak.'


Pemimpin Emerald menghela napas dan menatap Casilda dan Charles.


'Apa?! Mau gelut?' sewot Charles.


'Charles....(¬_¬)'


'Maaf, Kakak...(╥_╥)'


"Maafkan saya, Tuan Alkemist. Saya tidak bermaksud untuk mencurigai Anda. Saya hanya—"


"Tak apa. Tak masalah." Casilda mengangkat tangannya. "Lagipula, itu memang wajar, karena saya adalah orang yang asing di sini."


"Sebagai permintaan maaf, bagaimana jika kami menjamu Anda dan adik Anda hari ini?" tawar Nyonya Emerald dengan nada sensual.


"Boleh" balas Casilda cepat. 'Yeay! Makan gratis!!'


Nyonya Emerald tersenyum kecil. Sudut matanya selalu melirik ke arah Casilda yang sedang menyamar. Ia menjilat lidahnya sendiri. 'Hm~ Daun muda memang sangat segar~' batin Nyonya Emerald.


'Dih, dasar wanita tua. Udah punya suami malah cari cowok lain' cibir Charles. 'Terus, om-om ini kenapa, sih? Dari tadi liatin aku melulu. Jijay, tahu!' Charles pura-pura tak menyadari tatapan yang dilayangkan Pemimpin Emerald kepadanya. Wajah pria itu seperti seorang pedofil yang sedang menemukan loli.


'Ew, jijay. Alay. Lebay. Ew' Charles merinding sendiri.


"Nah, kalau begitu, Tuan Alkemist, ayo ke kamarku" ajak Misha sembari memegang lengan Casilda dengan nada menggoda.


"Hmph!" Viona mengerucutkan bibirnya. "Kau tak adil, Misha! Padahal kan, aku yang mau main sama Tuan Alkemist!"


'Aku bukan mainan...'


"Nggak boleh! Ini wilayah Emerald! Aku yang seharusnya main sama Tuan Alkemist, benar, kan, Tuan?" Misha menengok ke arah Casilda.


'Lah, kok aku?!'


"Pokoknya aku!"


"Nggak, aku!"


"Aku!!"


"Aku!!"


"Ak—"


"Kalian hentikan semua ini!" bentak Nyonya Emerald. "Tuan Alkemist pasti sedang lelah, bukan? Lebih baik Anda beristirahat dulu." Ia tersenyum lembut.


"Ah, ya... Terima kasih.." balas Casilda. 'Apaan, tuh?! Kalau sama orang lain baiknya minta ampun, tapi sana anak tiri malah jahat pol. Dasar nenek-nenek bermuka dua!'


Charles mencibir dalam diam, sementara Pemimpin Emerald tersenyum geli saat melihatnya. 'Hihi, lucu...'


'OGAH, TAHU! GUE GA SUDI AMA LO!'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Beberapa saat sebelum perjamuan, Pemimpin Emerald memanggil Casilda ke ruangannya. Charles awalnya ingin ikut, tapi ditolak oleh Casilda.


"Jadi, ada perlu apa, Tuan Emerald?" tanya Casilda to the point. 'Apa dia mau menanyakan tentang kejadian tadi?'


Pemimpin Emerald menaruh cangkir kopi yang baru saja ia minum dan tersenyum ke arah Casilda. "Ada yang ingin saya tanyakan."


Casilda mengangkat sebelah alisnya. "Hm?"


"Adik Anda itu...."


Casilda menajamkan telinganya.


"Apa dia sudah menikah?"


".....Apa?"


Pemimpin Emerald menggaruk bagian belakang kepalanya. "Yah, apa adik Anda sudah menikah?"


Casilda cengo. Hah? Pertanyaan absurd macam apa ini? "Memangnya kenapa, Tuan? Apa Anda ingin menjodohkan seseorang dengannya?" tanya Casilda mencoba untuk tenang. 'WOY! LU MAU APAIN ADEKKU, HA?!'


"Y-ya, begitulah..." Pemimpin Emerald menjawab dengan gugup.


Casilda tersenyum. "Sayangnya adik saya berkata bahwa dia tidak ingin menikah sebelum waktunya" balasnya dengan senyum ramah. 'Dia gugup? Ih, serem..'


Pemimpin Emerald tersenyum kikuk. "Be-begitu, ya... Sayang sekali..." ujarnya sambil melihat lantai.


'Cih, belum mau menikah katanya? Aku tak peduli! Aku harus mendapatkan dirinya, karena dia milikku!' Lain halnya dengan ucapan, pemikiran Pemimpin Emerald benar-benar sangat terbalik.


DEGG


'Ish, kok merinding, ya?' pikir Charles yang sedang dikerumuni oleh perempuan-perempuan kurang belaian.


"Hei, hei... Kira-kira, apa yang disukai Tuan Alkemist, ya?" tanya Viona penasaran.


"Makanan" balas Charles singkat.


"Makanan apa?"


"Apapun." Lagi-lagi Charles menjawab dengan singkat dan datar.


'Dih, najis.'


"Nak, umur kakakmu berapa?" tanya Nyonya Emerald dengan wajah seperti seorang pelacur.


'Ew, jijay.' "15 tahun."


Mereka bertiga kaget. "Apa?! 15 tahun?!" pekik mereka.


'Gila, calon suamiku ternyata masih semuda itu! Walau begitu, dia benar-benar sangat tampan! Kyaa!!'—Viona.


'Baru berumur 15 tahun sudah menjadi master alkemist? Bakatnya benar-benar luar biasa! Dia harus menjadi suamiku!'—Misha.


'Tuan Alkemist benar-benar daun muda.. Dia masih terlalu muda untuk menjadi simpananku, sih. Tapi tak masalah, aku tak keberatan. Ohohoho...'—Nyonya Emerald.


'Ya, kau yang tak keberatan. Tapi aku sangat keberatan!'—Charles.


'Lagipula, mana mungkin aku menyetujui pernikahan Kakak. Dia kan masih terlalu muda!' Charles menghela napas. "Sayang sekali Kakak sedang tidak ingin menikah. Kakak ingin mencari jodoh yang sesuai untuknya, entah kapan" balas Charles datar.


"Yaahh..." Mereka bertiga lemas. 'Tak masalah! Aku akan melakukan segala cara agar membuatnya menjadi milikku!'


'Yaelah. Dasar bucin(¬_¬)' sindir Charles. 'Dan aku juga sama, hehehe.. Dih, aku gaje.'


Nyonya Emerald tersenyum misterius. 'Kalau begitu, aku tinggal memaksanya saja, kan ada cara itu...' Ia mengelus perutnya yang rata.


Charles menyadari gerak-gerik aneh dari Nyonya Emerald. 'Dia benar-benar wanita murahan' dengusnya. "Sayangnya Kakak sangat membenci orang yang berbuat 'curang' padanya. Ia hanya akan menikahi orang yang benar-benar dicintainya, tanpa adanya paksaan" ujar Charles acuh dan cuek.


Nyonya Emerald tersentak. "A-ahahaha.. Be-begitu, ya?.." Ia tertawa hambar. 'B-bagaimana dia tahu kalau aku ingin melakukan itu?!'


Charles memandang Nyonya Emerald dengan jengah. 'Ya tahu, lah. Kau kan wanita murahan.' Ia melirik ke arah Misha yang tengah berbincang dengan Viona. 'Dan aku tak yakin anakmu itu benar-benar anak dari pria itu.'


Charles menutup matanya untuk menenangkan diri. Menjadi perempuan ternyata menyusahkan juga.


"Apa aku lama, Charles—ah maksudku Charla?" tanya Casilda hampir keceplosan. Di belakangnya terdapat Pemimpin Emerald.


Charles mengelus dadanya dengan lega. "Tidak, kok" balasnya sambil tersenyum. 'Kakak begitu mengagetkanku. Tapi nggak papa, yang penting Kakak udah ada di sini bersamaku.'


'Ah, jadi namanya Charla. Nama yang bagus' batin Pemimpin Emerald.


'Cuih, aku tak sudi dipuji sama pedo kayak elu!' hardik Charles dalam hati.


"Sudah, sudah.. Ayo kita makan.." Nyonya Emerald menarik tangan Casilda dengan manja, tak menyadari mata Charles yang melotot ke arahnya sejak tadi.


'HEY! LU NGAPAIN KAKAK GUA, HA?! BISA-BISANYA LONT3 KAYAK ELU MAIN PEGANG AJA!! NENEK ITU BENAR-BENAR PENGEN GUA BUNUH, HAH?!' Charles mengamuk dalam hati.


'Tenanglah, Charles... Jika kau mengamuk, Kakak juga yang kena masalah...' batin yang Charles pada akhirnya menenangkan dirinya. 'Dan juga...' Ia melirik ke arah Pemimpin Emerald yang tampak tak masalah dengan perlakuan istrinya itu.


"Hm? Apa?" tanya Pemimpin Emerald dengan senyum.


"Ah, tidak..." ujar Charles sembari memalingkan wajahnya. 'Walau dia tahu kalau istrinya itu murahan, dirinya tak mempermasalahkan hal itu. Kenapa, ya? Padahal kan, mereka seharusnya saling cinta. Apa mereka dijodohkan?'


Pemimpin Emerald yang sedari tadi memandangi wajah Charles yang selalu ditekuk pun tersenyum sendiri. Ah, calon istrinya ini benar-benar sangat manis... Ia tak peduli dengan Nyonya Emerald yang sedang menggoda Casilda. Lagipula, mereka dijodohkan, bukan menikah karena cinta.


'Kau telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama, Charla. Akan kubuat kau jadi milikku selamanya' batin Pemimpin Emerald dengan mata yang berkilat penuh obsesi.


'Brrrr.. Kenapa aku merinding lagi, dah?'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘᴋᴀɴ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Bagaimana makanannya, Tuan Alkemist?" tanya Nyonya Emerald saat mereka mengantar Casilda dan Charles menuju gerbang luar hutan.


"Hm, lumayan." Casilda bermonolog.


Nyonya Emerald hanya tersenyum tipis, sementara Pemimpin Emerald sedari tadi melihat Charles yang sedang menggenggam ujung pakaian Casilda. 'PAK TUA ITU NGAPAIN LIATIN AKU KAYAK GITU, SIH?! JIJAY, TAHU!' maki Charles dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya.


Mereka pun sampai di gerbang luar, dan Casilda serta Charles menunduk untuk keformalan. "Terima kasih atas perjamuannya, kami akan selalu mengenang hal ini" kata Casilda. 'Dan aku akan selalu mengingat sikap kalian yang bermuka dua itu..'


"Wah wah, tentu saja, Tuan Alkemist" balas Nyonya Emerald dengan menaruh kipas yang ia bawa di depan bibirnya. "Lain kali datang lagi ke sini, ya..."


"*-*-*-Tuan Alkemist, ha-hati hati di jalan!" gagap Viona.


Casilda melirik sekilas dan menyunggingkan senyum, membuat Viona, Misha, Nyonya Emerald, dan beberapa pelayan terpukau.


'AKEDNJSKKSJEBXJ GANTENG BANGET JODOHKU!!'—Viona.


'UKH, AKU BAPERRR'—Misha.


'Daun muda memang tak pernah mengecewakan, kufufu...'—Nyonya Emerald.


'ARGH! SILAUU!!'—Para pelayan.


Setelah Casilda dan Charles pergi, mereka pun kembali ke kediaman Emerald dalam diam.


PRYANGG


"HEI! KENAPA MAKANANNYA TAK ENAK KAYAK GINI, SIH?! KAU ITU BISA MASAK NGGAK?!" marah Misha kepada salah satu koki.


"Sudahlah, Misha. Sampah memang seperti itu, kan?" Viona menutup matanya dengan bersedekap dada sembari mengejek koki itu.


"Hmph, padahal sudah dibayar dan diberi kebanggaan sebagai koki di Keluarga Emerald. Kau ini tak pernah bersyukur" sindir Nyonya Emerald dengan dingin.


"Kau memberi kami makan murahan seperti itu?! Dan juga, tadi Tuan Alkemist dan adiknya datang kemari. Mau ditaruh dimana muka kami?!" Pemimpin Emerald marah, tapi berusaha untuk tetap tenang.


Koki yang dimarahi gemetaran. "T-tapi.. Uang untuk membeli bahan-bahannya tidak cukup..."


PRANGG


Pemimpin Emerald membanting sebuah gelas kaca di dekat koki itu. "Cih, dasar sampah. CEPAT USIR DIA DARI SINI! AKU TAK MAU MELIHAT WAJAH BUSUKNYA LAGI!" perintah Pemimpin Emerald dengan marah.


"T-Tuan, saya mohon, jangan pecat saya..." Koki itu bersujud di lantai.


BUGH


Pemimpin Emerald menendang koki itu hingga tersungkur. "AKU TAK PEDULI! POKOKNYA KAU HARUS PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!"


Para pengawal segera membawa koki itu keluar, walau sang koki sempat meronta.


"Hmph, akhirnya sampah itu pergi juga" ucap Misha. Gadis bersurai hijau itu yang semula marah mendadak tersenyum lembut saat mengingat Casilda.


'Tuan Alkemist, kau hanya milikku. Tak akan kubiarkan orang lain memilikimu!'


TBC.