The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Tahap 2 (Selesai)



"Tidakkah kau merasa kalau ujian tahap kedua ini terlalu mudah?" tanya Eden secara tiba-tiba.


Casilda menoleh seketika. "Bukannya terlalu mudah, tapi memang seperti ini" balasnya. "Ada kalanya kita harus menggunakan otak sebaik mungkin dalam keadaan apapun, dan itu adalah tujuan utama tahap kedua ini."


"Tapi... Bagaimana kalau ternyata memang terjadi sesuatu?" Eden masih khawatir.


"Alah, tenang aja. Ada aku di sini!" ujar Casilda dengan bangga sambil menunjuk dirinya sendiri. "Instingku tak akan pernah salah. Percayalah!"


Eden menghela napas. Bagaimanapun juga, ia tak akan pernah bisa menang dalam perdebatan mereka. "Ya sudah, lah.. Terserah kau saja" jengahnya.


Tak terasa, mereka telah menyelesaikan teka-teki kedua. Barang yang harus mereka ambil adalah telur laba-laba beracun rank-S yang tengah tertidur.


Dan yah, mereka berhasil mendapatkannya. Tak begitu sulit, karena waktu tidur laba-laba beracun itu cukup lama, sekitar 8 jam perhari.


Namun, bukan itu yang mereka permasalahkan. Yang menjadi atensi mereka adalah...


"Eh, nyadar nggak, sih? Telurnya kayak telur burung puyuh raksasa" celetuk Casilda yang memang sedari tadi memperhatikan telur yang mereka ambil.


Eden mendekat ke arah gadis itu. "Ah, kau benar. Aku bahkan baru sadar."


Telur itu berukuran panjang 20 cm dab lebar 14 cm. Coraknya seperti corak pada telur puyuh. Bedanya, pada telur ini coraknya berwarna kemerahan.


"Kalau aku bikin omelet dari telur ini, jadi sebesar apa, ya?.." tanya Casilda sambil membayangkannya. 'Ukhh... Aku jadi ngiler... Kayaknya enak..... Aku mau nyoba...'


Eden pun menatap Casilda dengan wajah datar. 'Ah, dia mulai lagi' batinnya sambil mendengus kesal. 'Tapi, aku akui itu cukup lucu' imbuhnya sambil tersenyum simpul.


"Kakaaaakkk!!!" Charles memekik dari arah datangnya ia. Pemuda tampan bersurai hijau pucat itu baru saja kembali dengan beberapa ranting kayu yang dibawanya. "Aku sudah membawa apa yang Kakak mintaaaa!!"


"Yaaa!!" Casilda juga berteriak. "Bawa ke sini, yaaa!!"


"Oke, Kaaakk!!"


Eden mengangkat sebelah alisnya tak paham. "Untuk apa ranting-ranting itu? Kau ingin membuat api unggun?" tanyanya. "Hah! Atau jangan-jangan... Kau ingin memasak telur itu?!" tanyanya sambil menunjuk telur laba-laba.


Casilda terdiam, lalu menepukkan tangannya sebanyak satu kali. "Ah! Aku nggak kepikiran! Itu ide yang bagus, makasih!" ujarnya sambil memberikan dua buah jempol pada Eden.


"Hey!! Aku cuma bercanda!!"


"Jangan membentak Kakak, brengshake!!" protes Charles kala ia sudah berada di dekat mereka.


"Ya ya ya, terserah." Eden memutar kedua bola matanya. Pandangannya pun tertuju pada Casilda yang lebih pendek darinya. "Jadi, bisakah kau menjelaskan padaku, untuk apa semua ranting ini?"


"Oke." Casilda mengangguk. Ia mengambil sebuah ranting dan menunjukkannya pada Eden. "Ini adalah cara kita untuk menemukan barang pada teka-teki ketiga."


"Oh ya?"


"Yep!" Casilda mengeluarkan secarik kertas yang berisi teka-teki ketiga.


 


Sebenarnya, aku tak kecil. Buktinya, aku bisa untuk berteduh. Sayangnya, ada yang jauh lebih tinggi menjulang dariku.


Aku iri pada ia yang berdiri kokoh tanpa celah. Bahkan ia memiliki rambut berwarna hijau yang selalu cerah karena terpapar matahari. Apa dayalah aku yang hanya seujung kaki dirinya saja.


Aku memang tak memiliki rambut yang indah seperti dirinya, namun setidaknya aku memiliki payung yang dapat melindungiku dan para 'formicidae'.


Itu saja sudah cukup bagiku.


Charles sweatdrop membacanya. "Kok rasanya, dia kayak curhat, sih?" ucapnya.


Casilda mengangkat bahunya dengan acuh. "Ntah. Lagi galau, paling" sahutnya absurd.


"Lalu, apa kau tahu jawabannya, Casilda?" tanya Eden. "Ini berhubungan dengan semut, kan?"


"Hah? Kok bisa?" tanya Charles.


"Formicidae adalah nama Latin dari semut, bodoh" ketus Eden.


"Cih!" Charles memalingkan pandangannya dari arah lain. Niat hati ingin menghajarnya, namun masih ingat kalau ada Casilda di sampingnya. Mending dibilang pengecut daripada bikin kakaknya marah.


"Udah, dong! Aku kan pintar!" ujar gadis bersurai safir itu dengan bangga. "Nggak kayak kamu, pfftt..." imbuhnya dengan ejekan.


"Pfftt..." Charles pun ikut mengejek dengan gaya yang sama dengan Casilda.


"Kalian ini...💢💢" Eden menahan kekesalannya. Satu orang saja sudah cukup membuatnya merasa kesal, apalagi dua orang seperti kedua kakak beradik ini.


"Dah dah, jangan marah-marah lagi, dah" lerai Casilda. "Mending kita pergi sekarang, biar kita bisa nyantuy di bangunan itu nanti."


Kemudian, mereka berdua pun berjalan menuju ke tempat dimana benda ketiga berada, dengan Casilda yang berada di depan, memimpin jalannya ekspedisi.


"Jadi, bisa kau jelaskan apa itu?" tanya Eden penasaran.


"Oke" angguk Casilda. "Pertama, sesuai dengan perkataanmu tadi, semut adalah kunci utamanya. Kalau benda itu adalah sesuatu yang memiliki 'payung' yang sekiranya dapat memayungi semut, maka itu adalah salah satu jenis jamur liar yang hidup di sini."


"Ciri-ciri jamur itu adalah bagian tubuhnya yang dikerubungi semut. Tapi masalahnya, di dalam hutan ini ada banyak jenis jamur yang memiliki ciri yang sama. Aku sudah mendeteksinya dengan [Deteksi Hawa] tadi."


"Lalu, bagaimana kita akan pergi ke tempat itu?"


"Jawabannya adalah cahaya matahari" kata Charles yang entah mengapa malah nimbrung pembicaraan mereka.


"Oh! Apa jangan-jangan, jamur itu terletak di bawah pohon yang disinari cahaya matahari?" tebak Eden.


"Yap!! Eden juga benar!! Tempat ini adalah pulau terpencil yang sangat minim akses cahaya matahari yang masuk. Tentunya, akan mudah bagi kita untuk mencari dimana pohon itu berada" kata Casilda.


"Ah! Itu dia!" Gadis bersurai safir itu menunjuk ke sebuah arah. "Kita sudah sampai!"


Mereka bertiga kini telah berada di depan sebuah padang rumput yang hijau nan subur. Berbeda dengan tempat di sekitarnya yang gelap dan suram, padang rumput itu terkena sinar matahari yang menembus awan-awan gelap di sana.


Cahaya matahari yang menembus awan itu terfokus pada satu titik, yaitu sang tokoh utama yang terletak di tengah-tengah padang rumput. Apalagi kalau bukan sebuah pohon raksasa yang rimbun dan tinggi menjulang.


Pohon itu nampak mengeluarkan sebuah aura unik nan menarik, sama seperti air terjun beberapa saat yang lalu. Aura ini 'berwarna' hijau yang menyejukkan mata dan pikiran.


'Kayaknya, aku familiar sama aura dan bau tempat ini' batin Casilda sambil melirik ke arah Charles yang mendadak terdiam membatu. "Charles? Kau kenapa?"


Eden pun menoleh. Sama seperti Casilda, ia melihat ke arah Charles yang diam membisu di tempatnya. 'Tadi Casilda, sekarang Charles. Mereka kenapa, sih? Mereka seolah-olah terpanggil oleh benda-benda aneh. Siapa sebenarnya mereka itu?'


"Ah, Kakak! Itu jamurnya!" pekik Charles tiba-tiba sambil menunjuk ke arah pohon itu. Matanya yang tajam dapat melihat ke segala penjuru bahkan titik terkecil sekalipun dengan mudah.


"Oh? Benarkah?"


Charles mengangguk kecil. "Um! Aku melihat beberapa jamur berwarna putih kemerahan di sana" balasnya.


"Oke, kuy ambil." Casilda pun mendekati pohon itu, disusul oleh Charles dan Eden. Sesampainya mereka di sana, Casilda mengambil beberapa jamur itu.


"Heemmm... Kalau dijadiin omelet topping jamur enak juga, ya" ujarnya.


"Ayo kita buat, Kakak!!" seru Charles setuju.


Eden kembali menatap mereka dengan wajah datar. 'Mulai lagi...' Namun, sedetik kemudian, bibirnya mengulas senyum kecil.


'Tapi, aku akui, ini membuatku terhibur. Mereka adalah orang-orang yang menarik...'


"Nah, kita udah menyelesaikan teka-tekinya, kuy balik" ajak Casilda.


Grepp


Tangan kanannya menggenggam tangan Charles, dan tangan kirinya memegang tangan Eden.


"E-EH?!" Eden yang terkejut pun seketika merona. Ia shock karena Casilda tiba-tiba memegang tangannya.


"Kenapa? Ini kan cuma buat [Teleportasi]" kata Casilda tak paham. Di belakangnya terdapat Charles yang tengah mengeluarkan aura negatif yang super pekat.


'Ngapain lu liatin kakak gue, ha?! Mau berantem sekarang?!' Begitulah pertanyaan yang Charles katakan lewat tatapannya.


"O-oh, ng-nggak, kok. Haha...." Eden tertawa hambar sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Oke." Casilda mengangguk kecil. "Pegangan yang erat!"


Kedua pemuda itu menggenggam tangan Casilda dengan erat. Jangan lupakan aura permusuhan yang Charles layangkan pada Eden.


"[Teleportasi]"


SYATT


Seketika, mereka bertiga sudah berada di bagian dalam bangunan tua yang mereka datangi saat pertama kali menjejakkan kaki di pulau ini.


'Ah, aku sudah sampai' batin Eden sembari melirik Casilda. 'Kemampuannya benar-benar hebat. Siapa dia sebenarnya?'


Prok prok prok


Sang butler keluar dari kegelapan sambil bertepuk tangan. "Selamat, kalian adalah kelompok pertama yang berhasil tiba di sini."


Casilda mengangguk kecil. "Ini taruh mana?" tanyanya sambil mengangkat ketiga benda yang telah mereka temukan.


"Bawa padaku."


Gadis itu pun menghampiri sang butler dan menyerahkan ketiga barang itu. Setelahnya, gadis itu menceritakan kronologi bagaimana mereka mendapatkan barang-barang itu.


Sementara itu, Eden menatap tangannya yang dipegang oleh Casilda. 'Aku baru sadar. Gadis barbar dan nekad itu memiliki tangan yang kecil. Tangannya juga..... Lembut. Aku... Ingin menyentuhnya lagi....'


Seolah paham, Charles langsung melotot pada pemuda bersurai hitam legam itu. "Jangan berpikir kalau kau dapat melakukan itu, bodoh!" Ia menghampiri Eden dan mencengkeram kerah bajunya dengan kuat.


"Karena selama aku ada di sini, tak akan kubiarkan laki-laki lain menyentuh Kakak, termasuk kau!" imbuh Charles.


Eden lantas menyunggingkan seringai sinis yang sangat menyebalkan di mata Charles. "Oh ya? Memangnya kau yakin, kalau kau lebih kuat daripada aku?" tanyanya dengan nada mengejek.


Urat-urat kemarahan muncul di pipi Charles. "Tentu saja!! Dan tak akan kubiarkan lelaki brengshake sepertimu menyentuh Kakak!"


"Hmph, coba saja" tantang Eden masih dengan seringainya.


Mereka berdua saling bertatap-tatapan dengan tajam. Tak ada yang ingin mengalah di antara mereka.


Casilda yang sedang menghampiri mereka pun terdiam melihat aura permusuhan kedua orang itu.


'Mereka ngapain tatap-tatapan kayak gitu? Mereka nggak saling suka, kan?'


TBC.