![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
Kami bertiga duduk di tepi air terjun yang sejuk. Ibu menyuruh kami untuk duduk karena ingin membicarakan sesuatu.
"Nak, berapa umurmu?" tanya Ibu.
"6 tahun, Nyonya" balas Casilda.
Ibu tersenyum dengan lembut. "Jangan panggil Nyonya, panggil aku 'Ibu', oke?"
Casilda menggeleng. "Tidak bisa, Nyonya. Itu tidak sopan" tolaknya.
Aku terkekeh kecil sembari mengacak-acak rambutnya. Casilda nampak kesal, dan aku tak peduli :v
Ibu menggelengkan kepala karena melihat sikapku yang kelewat aneh, berbeda dengan biasanya.
"Nak, bagaimana kau bisa berpikiran seperti itu? Padahal kan sangat jarang ada anak yang memikirkan hal-hal tentang mental sampai segitunya..." 'Kecuali Iris.'
Casilda menunduk sembari memainkan kedua jari telunjuknya. "Itu... Karena saya pernah membaca suatu buku di perpustakaan. Dan juga, saya tidak pernah bertemu dengan Ibu... Jadi, saya pikir bahwa Nyonya dan Kak Louise seharusnya dapat lebih bersyukur...." balasnya dengan gumaman.
Ibu menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya, kemana ibumu?"
Casilda menggeleng, membuat Ibu sedih.
"Maaf, Nak....."
Casilda kembali menggeleng sambil memegang kedua pipi Ibu. "Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sudah terbiasa.."
Terbiasa? Apa maksudnya?
".... Begitu?..." Ibu nampak tak yakin. Kurasa, Ibu juga bingung, apa yang dimaksud Casilda dengan 'terbiasa'?
"... Jadi, siapa namamu?"
Casilda nampak ragu sebentar. "Nama saya.... Casilda, Nyonya..."
Ibu sangat kaget kemudian memeluk Casilda bersamaan denganku. "Hiks... Hiks... Akhirnya ketemu... Hiks... Iris... Dia telah kutemukan.. Putrimu telah kutemukan, Iris.." Ibu kembali terisak.
Aduh, apa yang harus kulakukan?
"Nyonya? Ada apa? Apa Anda mengenal saya? Atau ibu saya?"
Ibu berhenti menangis dan menatap mata Casilda. Matanya sendu dan sembab. "Sebenarnya, ibumu adalah sahabatku, Nak... Namanya Iris, bukan?"
Casilda mengangguk cepat. Matanya tersirat rasa ingin tahu yang tinggi. Begitu, jadi Casilda adalah anak dari sahabat Ibu....
Ibu pun bercerita tentang sahabatnya itu. Nama sahabat Ibu adalah Bibi Iris, tapi Ibu tidak tahu nama keluarganya. Mereka bertemu saat menjalani Ujian Knight. Bibi Iris menolong seorang rakyat biasa yang dibully oleh seorang bangsawan.
Kata Ibu, Bibi Iris sangatlah baik hati dan rendah hati. Beliau adalah perempuan yang sangat baik yang mau menolong siapapun yang membutuhkan bantuan. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang Ibu punya. Bibi Iris sudah Ibu anggap seperti adiknya sendiri.
Ibu mengatakan bahwa fisik Bibi Iris sangat mirip dengan Casilda. Aku jadi bisa membayangkan bagaimana cantiknya Bibi Iris.
Saat Ujian Knight selesai, Ibu kembali ke Kediaman Citrine untuk meneruskan gelar dan Bibi Iris pergi mengembara. Ibu dan Bibi Iris selalu bertukar cerita lewat surat, hingga suatu hari Bibi Iris menghilang. Ibu mencarinya kemana-mana, namun nihil.
Hingga bertahun-tahun kemudian, Ibu mendengar kabar bahwa Pemimpin Keluarga Emerald memiliki wanita simpanan bernama Iris yang sedang melahirkan. Ibu yang menyadari bahwa itu adalah Bibi Iris langsung pergi ke Kediaman Emerald.
Bukan kabar bahagia yang Ibu dapatkan, melainkan kabar duka. Bibi Iris meninggal karena melahirkan Casilda. Namun, Ibu menyadari bahwa kematian Bibi Iris pasti bukan karena Casilda. Ibu yakin bahwa Bibi Iris diracuni oleh Tunangan Pemimpin Emerald yang terbakar api cemburu.
Mulai saat itu, Ibu memutus hubungan kerja sama dengan Emerald dalam bidang apapun. Ibu selalu mencari cara supaya dapat mengadopsi Casilda, namun Pemimpin Emerald tidak mengizinkannya.
Ibu hanya bisa mencari jalan supaya dapat mengadopsi Casilda, dan itu membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun. Posisi Citrine di bawah Emerald, membuat Ibu hanya bisa menunggi waktu agar Emerald sedikit goyah supaya bisa membawa Casilda tanpa hambatan.
Dan kini, kami berada di depan Casilda. Anak ini sangat kurus dan kecil, penuh bekas luka, dan apa ini?! Bajunya sangat lusuh dan compang-camping! Padahal Casilda adalah anak pertama, tapi kenapa ia diperlakukan seperti ini?! Pemimpin Emerald benar-benar sangat bodoh dan keterlaluan!
Aku tak akan memaafkannya!
Walau baru saja bertemu, Casilda sudah aku anggap seperti adikku sendiri, sama seperti Ibu yang menganggap Bibi Iris seperti adiknya sendiri. Dan aku tak akan membiarkan Casilda hidup dalam bayang-bayang hutan yang tak terhitung luasnya.
Aku tak ingin ranting-ranting pohon menusuknya dan membuatnya tersiksa. Aku tak ingin!
Oleh karenanya...
"Casilda, ayo pergi ke Kediaman Citrine. Aku janji, kau pasti akan hidup aman dan tenang di sana" ajakku kepada Casilda.
Ibu mengangguk dengan cepat, menyetujui apa yang aku bicarakan. Casilda nampak terdiam sesaat sebelum pada akhirnya menggeleng. "Maaf, Kak Lou... Tapi, aku masih ingin tinggal di sini" tolak Casilda dengan lembut.
Aku langsung kaget. "E-eh?! Kenapa?!"
Casilda tersenyum sendu. "....Aku... Ingin memberikan Ayah kesempatan lagi.. Aku yakin, Ayah pasti akan menyayangiku seperti dia menyayangi Misha" balasnya dengan suara kecil.
Suaraku seperti tercekat di ujung tenggorokan. Aku tak sanggup mengatakan apa-apa.
"Kalau itu yang Casilda inginkan, ya apa boleh buat." Ibu menghela napas. "Kau terlalu dewasa, Casilda...."
"Terima kasih, Bibi..." Casilda tersenyum kecil.
"Eh?! Ibu!" Aku memekik. Kenapa Ibu mengiyakan ucapan Casilda, sih? Nanti kalau dia disiksa lagi sama anak tak tahu diri—Misha—dan Keluarga Emerald lainnya gimana, dong? Aku sangat khawatir!!
"Louise, Casilda bukanlah anak yang bodoh dan lemah. Kau tahu sendiri, bukan?" ucap Ibu sembari mengelus kepalaku. Walau Ibu berkata seperti itu, tetap saja aku khawatir... Aku khawatir akan kehilangan sosok adik, sama seperti Ibu yang kehilangan Bibi Iris.
Aku terdiam sesaat, berpikir. Yah, kurasa itu bukan ide yang buruk.. "Baiklah." Aku menengok ke arah Casilda. "Bagaimana? Apa kau setuju?" tanyaku.
Casilda mengangguk. "Ya.. Lagipula, jika aku tak setuju, pasti Kak Lou akan menghalangiku, bukan?" ujarnya pasrah.
Aku terkekeh kecil. 'Kak Lou' adalah panggilan dari Casilda, ia baru saja membuatnya. Hanya Casilda saja lah yang boleh memanggilku dengan sebutan itu.
Hanya dia!
Kami bertiga menghabiskan waktu bersama di tempat itu. Untuk pertama kalinya aku dan Ibu menjadi akur seperti ini, dan ini semua berkat adanya Casilda.
Tak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat. Ibu harus segera pulang untuk menyelesaikan berkas-berkas. Aku juga harus pulang karena berada di wilayah Emerald diluar batas waktu merupakan bentuk kejahatan.
Dengan berat hati kami pergi dari wilayah Emerald. Aku sempat melirik Casilda yang melambaikan tangannya ke arah kami. Tenang saja, adikku. Aku pasti akan membawamu pergi dari neraka berkedok hutan rimbun ini!
Pasti!
Tanpa terasa, satu tahun berlalu, dan sekarang saatnya untuk kami menemui Casilda lagi. Dengan semangat aku memakai pakaian terbaikku dan duduk dengan ceria di samping Ibu.
Semenjak disadarkan oleh Casilda, Ibu menjadi semakin dekat denganku. Ibu bahkan rela kerja lembur hanya demi menghabiskan hari Minggu yang tenang bersamaku. Baik Ibu maupun aku sangat tidak sabar mendengar kata "ya" yang keluar dari mulut Casilda.
Namun, ekspetasi tidak semulus realita...
"Ah, anak aib itu? Aku sudah mengusirnya dari sini. Dia hanyalah sampah tak berguna yang harus disingkirkan secepat mungkin."
Aku sama sekali tak bisa tak terkejut saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Pemimpin Emerald.
Apa katanya? Casilda diusir?!
Adikku.... Adikku yang manis... Diusir?!
BERANI-BERANINYA KAU!
Aku ingin menghajar Pemimpin Emerald, tapi Ibu sudah melakukannya untukku.
PLAKK
"DASAR BEDEBAH! AYAH MACAM APA KAU INI?!"
Ibu marah. Aku juga marah. Kami marah. Casilda hanyalah anak yang tak bersalah, dan dia malah mengusirnya?!
Sungguh terlalu kejam!
Aku dan Ibu bergegas pergi dari Kediaman Emerald untuk mencari Casilda. Aku yakin, Casilda masih dekat dengan sini. Aku yakin.
Aku mencari dengan menggunakan sihirku. Nihil. Tak ketemu. Ibu melakukan segala cara agar Casilda dapat ditemukan. Namun, itu juga gagal.
Casilda.. Menghilang.
Aku takut. Bagaimana jika Casilda berakhir sama seperti Bibi Iris?
Aku terlalu khawatir. Casilda itu anak yang masih kecil. Dunia ini terlalu kejam untuknya. Karena terlalu frustasi, sikapku mulai berubah. Ekspresiku kembali datar dan kehidupanku monoton, sama seperti dulu sebelum aku bertemu Casilda.
Aku menjalani tugas sebagai Pewaris Citrine dengan sungguh-sungguh. Aku ingin menjalin hubungan diplomasi dengan Keluarga Utama lainnya—kecuali si brengshake Emerald—untuk meluaskan area pencarian Casilda.
Aku selalu berusaha dengan sangat giat. Aku yakin, kami dapat bertemu dengan Casilda lagi. Hingga 6 tahun berlalu. Sudah 6 tahun Casilda menghilang. Aku tak tahu dia pergi kemana.
Umurku sekarang 15 tahun, pasti umurnya sekarang adalah 13 tahun. Dia sudah cukup besar. Pada saat berkeliling wilayah Citrine, hatiku menyuruh tubuhku untuk pergi ke pelelangan paling terkenal di Dataran Barat.
Entah apa yang merasukiku hingga aku melakukan hal seperti ini. Bahkan Ibu terheran-heran padaku.
Ya jangan tanya aku, lah, Bu.. Aku sendiri juga nggak tahu, aku kan orang.
Pelelangan berjalan dengan santai dan membosankan. Tidak ada yang seru. Kecuali satu hal. Tempat VVIP di samping kiriku sangatlah aneh. Di sana ada seseorang, tapi dia sama sekali tak bersuara. Apa dia mati?
Pada akhirnya, sosok itu bersuara saat menawar batu kristal. Hanya tangannya saja yang terlihat. Dilihat dari ukuran tangannya, pemiliknya pasti masih muda.
Aku cukup kagum, karena ia berani melawan Keluarga Amethyst yang terkenal tirani dan seenaknya. Aku penasaran, siapa dia? Dan kenapa ia bisa tidak takut dengan Keluarga Amethyst itu?
Aku selalu memperhatikan dan mendengarkan pengucapan harga yang mereka tawarkan. Pada saat sudah mencapai angka yang besar, sosok itu diam. Aku yakin, dia diam bukan karena kekurangan uang. Tapi karena ia hanya ingin memancing Keluarga Amethyst saja.
Aku terus memperhatikan tirai itu. Cih, seandainya aku bisa melihat secara tembus pandang, aku pasti dapat melihat wajah orang itu. Tapi, tunggu sebentar. Kenapa aku menjadi sangat penasaran seperti ini?
Ini aneh. Aku tak mengenal sosok itu, namun hatiku seperti familiar dengan auranya. Hatiku menjadi hangat, semakin menghangat.
Angin berhembus pelan dan membuat tirai itu terbuka sedikit. Aku dapat melihat sosok yang berada di dalam tirai itu. Sosok itu membuka penutup jubahnya dan tengah memakan makanannya.
Rambut berwarna biru safir dengan mata yang sama. Rambutnya pendek seleher dengan bagian poni yang lebih panjang. Sosok itu adalah perempuan. Ia tersenyum kecil.
Walau sedikit berbeda, namun aku mereka seolah-olah adalah orang yang sama.
Sosok itu adalah......
Casilda?
TBC.