![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
Casilda, ia masih celingukan mencari keberadaan sang adik. Ia yakin adiknya berada di dekat sini, namun entah mengapa kemampuan sensorik-nya tak aktif saat ini.
'Kurasa, ada yang aneh denganku' batin Casilda sambil menatap tangannya. 'Tapi, rasanya nggak ada apa-apa, deh.'
Pikirannya pun diselimuti bayang-bayang kalau dirinya menderita suatu penyakit yang serius. Kalau itu memang terjadi, bagaimana dengan Jade Assassin? Siapa yang mengelolanya?
Bagaimana dengan balas dendamnya pada Emerald dan Amethyst?
Bagaimana dengan pekerjaannya?
Bagaimana dengan Hutan Keramat?
Bagaimana dengan Gneer, Harkin, dan Bent?
Bagaimana dengan keinginannya untuk menjadi Knight?
Bagaimana dengan impiannya untuk mengungkap kebenaran yang disembunyikan?
Bagaimana dengan Charles? Siapa yang akan mengurusnya?
Seketika, Casilda mengalami overthinking. Ia khawatir kalau dirinya memang menderita suatu penyakit serius.
Tapi, bagaimana kalau ternyata ia tak hanya menderita satu penyakit saja? Bagaimana ternyata kalau ia memiliki dua penyakit? Atau tiga? Atau empat? Atau lebih?
Membayangkannya saja sudah membuat Casilda pusing. Bahkan dirinya limbung dan hampir terjatuh ke tanah. Untung saja ia sempat berpegangan pada dahan pohon.
'Kenapa aku malah pusing? Apa jangan-jangan, aku beneran punya sebuah penyakit?!' batin Casilda dengan mata yang melotot horor. 'Gi-gimana, nih?...'
Satu hal yang tidak ia ketahui, penyebab kemampuan sensorik-nya tak berfungsi ternyata karena Charles. Ya, sang adik menggunakan [Anti Sensorik] untuk membuat orang lain tak mendengar ataupun ikut campur saat ia berbicara dengan Eden.
[Anti Sensorik] membuat orang yang berada di dalam lingkup jarak tertentu tak akan terdeteksi oleh kemampuan sensorik manapun. [Anti Sensorik] juga dapat membuat orang yang berada di dalam lingkup jarak tertentu tak akan dapat didengar atau dirasakan oleh orang lain.
Bahkan kemampuan sensorik yang sangat hebat seperti milik Casilda pun tak dapat menembus [Anti Sensorik]-nya Charles. Kenapa? Tentu saja karena pemuda itu adalah orang yang jenius.
Dan sepertinya, Casilda lupa bahwa dirinya lah yang mengajari Charles bagaimana mengaktifkan [Anti Sensorik] yang memiliki kesulitan tingkat tinggi itu.
'Kayaknya, aku lupa sesuatu. Tapi, apa?' batin Casilda sambil memegangi kepalanya.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Eden dan Charles masih bertatap-tatapan dengan tajam. Eden yang ingin mendapatkan Casilda, dan Charles yang tak ingin sang kakak dimiliki oleh lelaki jahat seperti Eden.
'Kenapa dia masih belum mengalah?! Seharusnya dia mengalah saja!' batin mereka berdua bersamaan.
Kalau Casilda berada di sini, ia pasti akan berkata "Wih, kalian sehati. Cocok banget, deh."
Di tengah-tengah perdebatan itu, Charles tersentak kecil. Tentu saja hal itu disadari oleh Eden.
"Kau ini kenapa?" tanya Eden dengan heran sembari menaikkan sebelah alisnya. Padahal sebelumnya, Charles menatapnya dengan tajam Tapi sekarang kok malah teralihkan pada hal lain?
Memilih untuk tak menjawab, Charles menengok ke sana kemari guna mencari sesuatu.
"Hey, jawab aku, bodoh!" sentak Eden dengan jengah. "Apa yang kau car—"
"Ah! Kakak!" tunjuk Charles ke arah Casilda yang tengah memegangi dahan pohon.
"Hah? Casilda?" Eden langsung mendorong Charles guna mencari keberadaan pujaan hatinya.
Charles yang jatuh terjerembab karena didororong oleh Eden langsung berdecih kesal. 'Syaland. Kau tak akan pernah aku restui selamanya💢💢' batin pemuda berambut hijau itu.
Eden yang menemukan keberadaan Casilda pun sumringah seketika. Baru aja diomongin, orangnya langsung datang.
'Fix, kita benar-benar jodoh' batin Eden yang membuat Charles semakin kesal.
"Mimpimu ketinggian, bodoh" sarkas Charles yang tak ditanggapi oleh Eden. 'Syaland, malah dicuekin.'
Melihat Eden yang hendak pergi, Charles pun bertanya, "Mau kemana lu?"
Pemuda bersurai hitam itu memutar kedua bola matanya dengan malas. "Apa kau bodoh? Tentu saja menghampiri Casilda" balasnya.
Charles berdiri dengan kesal sambil mengepalkan tangannya. "Aku tak bodoh, syal—"
"Hey, kau lihat perempuan itu?" tanya seorang peserta kepada peserta lain yang berada di dekatnya.
Eden dan Charles yang berada di dekat peserta itu langsung menoleh. Beberapa orang peserta tengah memandang sebuah objek yang sama.
'Casilda?'
'Kakak?'
'Kenapa mereka menatapnya?' batin Eden dan Charles bersamaan.
Kedua pemuda itu memasuki mode siaga, terlebih lagi saat mereka melihat wajah orang-orang itu yang terlampau aneh.
Para peserta itu tentunya tak menyadari keberadaan Eden dan Charles karena [Anti Sensorik] yang masih aktif. Mereka masih memandang Casilda dengan tatapan yang.... Aneh.
"Dia boleh juga, kan?"
"Kau benar. Wajahnya cantik dan terkesan tomboy. Dia adalah tipeku."
"Kudengar kemampuannya juga hebat, padahal dia itu perempuan."
"Warna rambutnya juga unik, kan? Dia seperti makhluk dari tempat yang berbeda dengan kita."
"Ya, apalagi badannya yang indah itu. Lihatlah betapa indahnya dia, hahaha."
"Kau benar!! Hahahaha!!"
Para peserta itu tertawa bersamaan.
Sementara itu, Eden dan Charles mengepalkan tangan mereka dengan aura kemarahan yang terpancar jelas. Mereka marah, sangat marah.
Perempuan yang mereka sayangi tengah ditatap oleh sekumpulan orang-orang brengshake, tentu saja mereka sangat marah.
"Hahahah!! Aku jadi ingin merasakan—"
BUAGHHH
Tubuh peserta itu terpental dengan sangat kuat hingga membuatnya hancur. Darahnya tak sengaja terciprat ke peserta lainnya.
"Tak akan kubiarkan kalian membicarakan kakakku dengan mulut kotor itu!!" Sang pelaku yang membuat seorang peserta terbunuh—Charles—memandang para peserta itu bak melihat seekor serangga.
"Si-siapa itu?! Cepat tunjukkan dirimu!!" Peserta lainnya pun memasang wajah siaga. Saat ini, mereka tak bisa melihat Eden dan Charles karena [Anti Sensorik] yang masih aktif.
"Berisik" gumam Eden dengan penuh penekanan.
Dalam sekali tebasan pedangnya, Eden berhasil membelah para peserta itu menjadi dua bagian. Ia memandang mayat mereka dengan tatapan datar namun penuh dengan kemarahan.
'Orang-orang syaland ini menghina perempuan yang kusukai. Benar-benar bed**ah!' batin Eden sambil menginjak kepala salah satu mayat itu.
Bertepatan dengan itu, Charles menonaktifkan [Anti Sensorik]-nya dan membuat seorang peserta yang dibiarkan hidup melihat wajah mereka.
"Si-siapa kalian?!" tanya peserta yang masih hidup sambil gemetar ketakutan. Ia bagaikan seekor lalat yang diincar oleh kedua predator puncak. Tatapan mereka berdua membuat nyalinya ciut seketika.
"Aku adalah adik dari orang yang kalian bicarakan itu" balas Charles, membuat wajah peserta itu pucat seketika. "Kenapa kalian tadi membicarakan kakakku, hmp?"
"I-itu... Ka-kami cuma mengaguminya saja!! I-iya!! Ha-haha.."
"Kagum? Bukankah kalian tadi ****ingin melakukan sesuatu yang buruk padanya****?" kali ini Eden yang bertanya.
"Ti-tidak!! Me-mereka yang bilang!! Bukan aku!!" elak peserta itu.
"Diamlah!" bentak Eden, membuat peserta itu mematung seketika.
"Hmph, kau ini hanya seorang NPC. Tak semestinya kau mengatakan seperti itu tentang kakakku." Charles pun mengarahkan jarum beracunnya pada peserta itu. "Dan seorang NPC tak diperlukan pada sebuah game."
"Ma-maafkan aku!! Aku tak akan melakukannya lag—AAAARRGGGHHHH!!"
Tanpa ampun, Charles membunuh NPC berkedok peserta Ujian Knight itu. Ia tak peduli, semua orang yang berkata hal-hal buruk tentang kakaknya akan dia bunuh, tak peduli siapapun orangnya.
"Kau sadis juga" komentar Eden.
"Ya, dan tak kusangka kau juga marah karena kakakku dibicarakan oleh mereka" kata Charles tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Memangnya siapa yang tak tahan kalau orang yang disukainya dibicarakan seperti itu?"
Charles memicingkan matanya. Jarum beracun yang ia pakai untuk membunuh peserta tadi sekarang sudah berada di depan leher Eden.
"Aku tetap tak akan merestuimu dengan kakakku!" kata Charles. "Dan kalau kau masih berangan-angan untuk menjadikan kakakku sebagai milikmu, maka bersiaplah mati dengan jarumku ini."
Tak merasa takut, Eden membalasnya dengan seringaian. "Wah~ Seramnya.. Aku takut~" ejeknya.
Charles semakin kesal. "Kau ini—"
"Akhirnya kalian kutemukan juga!" seru Casilda yang sudah berada di samping mereka. "Aku mencari kalian kemana-mana, tahu!'
Eden dan Charles tersentak. "Casilda/Kakak?!" kaget mereka.
Charles langsung menyembunyikan jarum beracun yang tadi berada di depan leher Eden. "Kakak sudah mencari kami sejak tadi?" tanyanya berusaha membuat Casilda tak menyadari bahwa ia hendak membunuh Eden.
"Iya, tahu! Padahal aku sudah yakin kalau kalian ada di sini, tapi dari tadi nggak ketemu juga. Heran aku."
Charles berkeringat. Ia melirik ke arah lain. Ia tahu penyebab kenapa kakaknya tak dapat menemukan dirinya. Pasti karena [Anti Sensorik]
"Kupikir kalian kenapa-napa. Fyuuhh... Untung aja nggak papa." Casilda mengelus dadanya dengan lega.
Charles terharu, sementara Eden merona.
"Kakaaakkk!! Aku sayang Kakakk!!" Charles memeluk Casilda saking terharunya.
'Ternyata... Casilda mengkhawatirkanku... Aku senang... Sangat senang!! Apakah dengan begini, kami saling menyukai?' Ia menatap Casilda dengan tatapan memuja.
'Aku dan Casilda.. Saling menyukai? Saling suka? Kami?' Seketika, wajah Eden merona dengan hebatnya. 'Kami saling sukaa!!'
Casilda yang melihat tingkah laku aneh dari Eden pun hanya bisa mengangkat alisnya dengan heran.
'Dia kenapa? Kok aku jadi merinding, ya?'
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Tahun ini ada beberapa peserta dengan potensi yang hebat, ya.." kata seorang panitia pada sang butler yang tengah memantau jalannya ujian.
"Ya, itu benar" balas sang butler.
"Hey hey, kau merekomendasikan yang mana?" tanya panitia itu lagi.
"....Kau tak perlu tahu."
"Kau kejam, ih!!" seru panitia itu.
"Ya, dan kau menjijikkan."
Jlebb!
Hati panitia itu langsung terkena heart attack. Damage-nya nggak ngotak.
"Aku kan cuma tanya...." lirih panitia itu dengan kepala tertunduk, ia pundung.
"......" Butler itu terdiam sesaat. "Aku merekomendasikan pemuda berambut hijau itu."
Sang panitia mengangkat kepalanya. "Ooh, yang itu. Siapa namanya? Charles?" tanya panitia itu di akhir kalimat. "Kenapa kau merekomendasikannya?"
"Dia punya potensi yang hebat. Dalam sekali lihat, aku tahu kalau dia adalah seorang jenius. Dia juga dapat menjadi orang yang tepat karena memiliki kesetiaan yang sangat besar" jelas sang butler.
"Lalu, kenapa kau tak merekomendasikan perempuan berambut biru itu? Bukannya dia juga tak kalah hebat?"
"Dia sudah direkomendasikan oleh Nahkoda Gila."
"Eeh?? Benarkah??!" Panitia itu nampak kaget. "Padahal dia tak pernah tertarik pada orang lain, Loh! Pasti perempuan itu menarik, kan? Kan?"
"Bagaimana denganmu?" tanya sang butler. "Siapa yang akan kau rekomendasikan?"
"Hmm... Kalau aku...." Panitia itu berpikir sejenak. "Kurasa pemuda berambut hitam itu" balasnya.
"Dia juga memiliki potensi yang hebat. Mereka bertiga dapat menjadi tim yang sangat hebat jika berhasil lolos ujian ini. Kau juga melihatnya, kan? Dia tertarik pada perempuan itu. Pemuda berambut hijau juga sama."
"Dengan kata lain, kau ingin membuat mereka menjadi satu kelompok setelah mereka lolos sebagai Knight, begitu?" tebak sang butler.
"Ping pong!! Benar!!" Panitia itu pun tersenyum. "Mereka adalah tim yang akan saling melengkapi. Pemuda berambut hitam sebagai penyerang, perempuan berambut biru sebagai support, dan pemuda berambut hijau sebagai penyerang dari belakang. Tim yang sempurna, kan?"
"Padahal mereka belum tentu lolos ujian kali ini. Kenapa kau begitu yakin?" tanya sang butler.
"Kau juga yakin, kan?" Panitia itu bertanya balik. "Memangnya siapa yang mau melepaskan orang-orang dengan potensi langka sepeti itu? Kalau aku, sih, nggak bakal mau melepaskan mereka."
"...Ya. Aku juga setuju. Mereka akan menjadi tim yang paling hebat yang pernah kuketahui..."
"Yap! Itu sudah pasti!!"
TBC.