The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Tahap 4



Tahap ketiga Ujian Knight sudah berakhir. Seluruh peserta di-[Teleportasi]-kan ke tempat semula, bangunan tua bekas mansion.


Ada banyak yang tertunduk lesu karena tak berhasil mengambil barang quest, ada juga yang senang karena telah memenuhi target, dan ada juga yang tak dapat melihat dunia lagi.


Dari 54 peserta yang mengikuti tahap ketiga, kini tersisa 34 orang termasuk Casilda, Charles, dan Eden.


"Padahal tahap ketiga ini terbilang gampang, tapi kok banyak yang nggak lolos, sih?" gumam Casilda terheran-heran.


"Soalnya mereka bodoh" sahut Charles.


"Dan ada orang yang membunuh mereka juga" kata Eden sembari melirik Charles.


"Eeh?~ Bukannya ada orang lain yang juga ikut membunuh mereka, ya?~" balas pemuda berambut hijau itu dengan nada sinis.


"Oh ya? Siapa dia? Aku tak tahu, tuh."


"Hanya orang bodoh yang tak tahu." Charles berucap lagi, kemudian ia terkikik kecil. "Pfft, berarti kau bodoh, dong. Fufufu~"


Eden membalasnya dengan senyum. "Casilda, apa kau punya cermin? Adikmu kurang bercermin kayaknya" tanyanya pada sang pujaan hati.


"Hah?" beo Casilda. Ia tak begitu mendengar pembicaraan mereka berdua. "Oh, aku punya, sih." Disodorkannya cermin kecil miliknya pada Eden.


"Nih, ngaca dulu, ya" ucap Eden sambil memberikan cermin itu pada Charles.


Yang diberi cermin pun ikut tersenyum kesal. "Vvangke💢."


PAKK


Sang butler menepuk kedua tangannya sekali dengan suara keras, membuat atensi seluruh peserta teralihkan padanya.


"Yang lolos tahap ketiga, silahkan mendekat kesini" kata butler itu. Mendekatlah mereka ke arahnya.


Lalu, bagaimana dengan para peserta yang tak lolos?


Entahlah, mungkin mereka akan diurus oleh panitia yang lain.


"Tahap keempat adalah permainan 'kucing dan tikus'. Kalian pasti pernah mendengarnya, kan? Caranya simpel. Kalian akan diberi sebuah nomor dada secara acak."


"Peserta dengan nomor dada ganjil dan berwarna merah akan berada dalam satu kubu. Peserta dengan nomor dada genap dan berwarna biru juga akan berada dalam satu kubu. Kalian akan dibedakan menjadi kubu merah dan kubu biru."


"Perwakilan dari kubu merah dan kubu biru akan suit. Siapapun yang kalah akan menjadi 'kelompok tikus', dan yang menang menjadi 'kelompok kucing'."


"Kelompok kucing harus mengambil nomor dada kelompok tikus dalam waktu 3 jam. Kelompok tikus diperbolehkan untuk melawan ketika kelompok kucing menyerang."


"Jika ada anggota dari kelompok kucing yang tak mengambil nomor dada dari kelompok tikus dalam waktu 3 jam, ia akan didiskualifikasi. Dengan kata lain, seluruh anggota kelompok kucing harus mengambil nomor dada kelompok tikus."


"Dan jika anggota kelompok tikus dapat mempertahankan nomor dadanya sampai akhir waktu, maka ia dinyatakan lolos tahap keempat."


"Dan ingatlah satu hal." Butler itu menatap mereka dengan tatapan membunuh. "Kalian diperbolehkan untuk membunuh."


Sebagian peserta bergidik ngeri. Eden menyeringai lebar, Charles tersenyum kecil, dan Casilda hanya menatap dengan tatapan datar.


"Di belakangku ada 34 nomor dada yang kalian perlukan. Kalian bebas memilih nomor dada sendiri. Silahkan ambil!"


Seketika, para peserta berbondong-bondong untuk mengambilnya. Dalam benak mereka, harus mendapatkan nomor genap dan warna biru untuk menjadi kelompok kucing.


Mereka tentunya tak mau mengambil resiko. Yang penting mereka dapat lolos tahap keempat ini dengan mudah.


Namun sepertinya, mereka lupa bahwa kelompok tikus pun diberbolehkan membunuh kelompok kucing yang mengincar nomor dada mereka.


"Gini nih, kalau manusia nggak ikut pembagian otak. Pada bego semua" komentar Charles dengan pedasnya. Ia, Casilda, dan Eden tengah menandang lautan manusia itu dengan datar.


"Mereka kayak ibu-ibu lagi borong diskon" komentar Casilda tak berniat mengikuti kelakuan para peserta itu.


"Yah, soalnya yang mereka inginkan cuma bagian senangnya doang. Mereka nggak mau jadi orang susah" dengus Eden. "Mereka tak tahu kalau segala sesuatu yang ada di dunia ini mengandung resiko."


"Dah lah, biarin aja. Namanya juga manusia" jengah Casilda. "Btw, kalian ngapain masih di sini?"


"Aku nunggu Kakak."


"Lalu, kamu sendiri ngapain masih di sini?" tanya Eden balik.


"Aku males, mending dapat yang terakhir aja." Casilda menyenderkan punggungnya pada tembok yang berada di belakangnya.


"Kalau kamu dapat kelompok tikus gimana?"


"Ya nggak gimana gimana. Kalau mereka nyerang, tinggal bunuh aja" balas Casilda dengan entengnya.


"Kakak kereeenn!!!!" seru Charles dengan aura 'cling-cling' di sekelilingnya.


Eden mengangguk setuju dengan perkataan Charles. 'Pujaan hatiku memang sangat unik! Dia bahkan tak takut dengan segala resiko. Tak salah aku memilihmu!'


"Hey, aku masih belum merestui kalian, tahu💢💢."


Tiba-tiba dari arah kerumunan para peserta itu terlempar tiga buah nomor dada ke arah Casilda. Dengan santai gadis itu menangkap ketiga nomor dada yang terlempar ke arahnya.


"Huh? Nomor genap warna biru?" gumam Casilda saat melihat ketiga nomor dada itu.


"Siapa yang lempar?" tanya Charles ikut melihat nomor dada itu.


"Ah, itu aku" kata salah seorang peserta dari kerumunan orang-orang.


Ketiga orang itu pun menoleh ke sumber suara. "Lah, Tukang Ketawa?" beo Casilda.


"Kemarin 'Tuan Tertawa', sekarang 'Tukang Ketawa'. Sebenarnya, namaku siapa, sih?💢" Ia tersenyum getir.


"Kenapa kau melempar ini ke arah kami?" tanya Eden pada Tuan Tertawa.


"Apa lagi? Ya biar kalian masuk ke kelompok kucing, lah" balas Tuan Tertawa dengan santai. "Biar seluruh Regu Penyerang menjadi kelompok kucing" imbuhnya lagi.


Casilda melihat dua orang yang berada di belakang Tuan Tertawa. Mereka adalah orang yang sama, yang menjadi Regu Penyerang sekaligus rekan satu kelompok Tuan Tertawa.


"Cih, kau lagi." Charles berdecih kesal saat ia melihat orang yang dulu menghina sang kakak ternyata berada di dalam kelompok yang sama dengannya.


"Jangan salahkan aku. Salahkan bocah ini" tunjuk orang yang dulu menghina Casilda ke arah Tuan Tertawa.


"Aku lebih tua darimu, tahu💢." Masih dengan senyuman kesal, Tuan Tertawa berkata pada orang itu, "Dasar anak muda jaman sekarang."


"Ucapanmu seolah kau adalah orang yang sudah sangat tua, ya" komentar Casilda dan Charles bersamaan.


"Pfft." Eden tertawa mengejek.


Dan Tuan Tertawa pun masih tersenyum kesal. 'Syaland kalian.'


"Y." Ketiga orang itu pun memakainya.


Hal itu membuat orang-orang semakin bergidik ngeri. Anggota Regu Penyerang yang sudah pasti kuat-kuat berada dalam satu tim yang sama. Apalagi mereka berada di tim kucing.


Para peserta pun berlomba-lomba mengambil nomor dada genap dan berwarna biru untuk menghindari bertarung dengan keenam orang itu.


Sang butler yang mengawasi jalannya kegiatan itu tersenyum samar untuk pertama kalinya.


'Sudah kuduga, mereka memiliki potensi yang mumpuni. Akan sangat bagus jika mereka berenam berada di dalam divisi dan kelompok yang sama.'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Lokasi tahap keempat ini berada di sebuah sudut pulau itu. Uniknya, tempat itu memiliki beberapa spot lingkungan yang berbeda.


Ada yang berupa hutan belantara, ada yang berupa padang pasir, padang rumput, tebing-tebing, dan hutan dengan rawa yang menyeramkan.


Para peserta bebas pergi ke mana saja, yang penting harus memenuhi target untuk dapat lolos ke tahap terakhir.


Sebelum tahap keempat dimulai, mereka berkumpul sesuai kelompok masing-masing. Anggota kelompok kucing lainnya diisi oleh orang-orang yang terlihat kuat, namun belum tentu benat-benar kuat.


"Aku akan mengambil seluruh nomor dada kelompok tikus!" ujar salah satu anggota mereka.


"Tidak, aku yang akan mengambilnya!" kata yang lain.


"Sayang sekali aku yang akan melakukannya!"


"Bukan, tapi aku!!"


Regu Penyerang memandang mereka dengan jengah. Bahkan saking jengahnya Casilda sampai memakan jajanan yang ia beli beberapa hari yang lalu.


'Manis..' batin Casilda.


"Hey, Casilda" panggil Tuan Tertawa. "Kau akan mengambil berapa nomor dada?"


"Aku? Nyem nyem.... Hmm... Kayaknya... Nyem... Satu?"


"Eh? Cuma satu?" tanya orang yang dulu menghina Casilda.


"Kalau dua, aku males" balas gadis itu, membuat kelompok Tuan Tertawa speechless seketika.


'Dia.... Malas?!' batin ketiga orang itu.


"Aku ikut Kakak."


"Aku juga" angguk Eden.


'Mereka juga ikutan?!'


Tak mempedulikan ketiga orang yang masih cengo, Casilda melanjutkan makannya sambil melirik kelompok tikus yang tengah berbicara sambil menatapnya.


"Pokoknya, kita tak boleh sampai berpapasan dengan perempuan itu!"


"Apalagi mereka, kita tak boleh sampai bertemu dengan Regu Penyerang."


"Benar!! Mereka itu kawanan monster!!"


"Kalau kita sampai bertemu mereka, kita pasti akan mati!"


"Aku nggak mau mati... Aku masih mau melihat dunia... Hiks.. Mamaaa..."


Begitulah yang didengar oleh Casilda melalui telinga dan insting tajamnya.


Ia menghela napas. 'Emangnya siapa juga yang mau melawan beban kekaisaran? Aku mah males.'


TBC.