The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Perjalanan



"Casilda, Charles, kalian benar-benar akan pergi?" tanya Gneer dengan khawatir. Hal itu terpampang jelas di wajahnya.


Casilda dan Charles mengangguk bersamaan. "Kan aku sudah bilang dari dulu, Kak" dengus gadis bersurai safir itu.


"Kau tak usah khawatir, Kakak akan aku jaga dengan baik" ketus Charles dengan wajah sinis kala melihat Gneer. Namun, ekspresinya kembali berubah kala menoleh ke arah Casilda. "Iya, kan, Kak?"


"Um!" Casilda mengangguk. "Kak Gneer nggak usah khawatir, soalnya Charles akan menjagaku. Dia kan anak jenius!" ucapnya sambil menepuk-nepuk punggung sang adik.


Charles seketika memasang wajah meremehkan. 'Kau dengar, kan? Kakak lebih menyukaiku daripada kau. Kenapa? Karena aku j.e.n.i.u.s! Ingat itu baik-baik!'


Gneer sweatdrop seketika. Kenapa kedua saudara tak sedarah ini memiliki sifat yang bertolak belakang, sih?


'Dan kenapa Charles selalu membenciku?! Aku kan tak salah apa-apaa!!' pekik Gneer dengan heran di dalam hatinya.


Jujur, Gneer sedikit takut dengan perubahan sifat Charles. 'Apa lebih baik aku mengganti wajahku dengan wajah Casilda aja, ya, biar Charles nggak marah-marah padaku terus?' pikirnya dengan absurd.


"Bent, Harkin, kalian harus jaga hutan ini dengan baik! Jangan sampai kalian merepotkan Kak Gneer, mengerti?"


"Siap! Mengerti, Nona!" jawab Bent dan Harkin serempak.


"Oke!" Casilda menepukkan tangannya. Barang-barang yang harus mereka bawa sudah diubah oleh gadis itu menjadi partikel-partikel atom.


Kedua saudara tak sedarah itu pun berjalan keluar dari hutan. Di belakang mereka nampak Bent, Harkin, Gneer, dan seluruh anggota Jade Assassin sedang melambaikan tangan mereka.


"Sampai nanti, Nona!! Tuan Muda!!"


"Hati-hati di jalan!!"


"Jaga kondisi, ya!"


"Kami akan merindukan kalian!"


"Kami akan selalu menjaga hutan ini dengan baik! Nona tak usah khawatir!"


"Ya!!" balas Casilda tak kalah semangat. "Kami pergi dulu, ya!! Semoga kita bisa bertemu lagi!!"


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


Angin sepoi-sepoi menerpa helai rambut Casilda yang pendek itu. Jernihnya air laut serta cerahnya langit menemani perjalanan mereka.


Pemandangan dari kapal ini begitu indah dan akan selalu membuat para penumpang betah berlama-lama melihat cantiknya lautan dan langitnya.


"Cuacanya bagus, ya..." gumam Casilda. "Tapi, apa kau baik-baik saja, Charles?" tanyanya sambil melirik sang adik yang berada di belakangnya.


"Aku... Tak apa, Kakak."


"Benarkah?" Casilda curiga dengan alis yang ia naikkan sebelah. "Kau pucat, loh."


"Aku tak apa, Kakak" balas Charles dengan pendirian yang teguh, walau wajahnya sangatlah pucat.


Ya, benar. Charles sedang mengalami mabuk laut.


"Kau tak ingin istirahat?" tanya Casilda.


"Tidak, Kakak. Tugasku di sini adalah untuk menjaga Kakak, bukan untuk istirahat."


"Tapi, keadaanmu buruk, loh."


"Aku baik-baik saja, Kakak" keukeuh pemuda bersurai hijau pucat itu.


"Alah, jangan boong, deh. Mau Kakak kasih support pakai [Heal]?" tawar Casilda.


"Tidak, terima kasih."


"Gpp, atuh. Terima, ya?"


"Tak perlu, Kakak."


"Terima."


"Itu tak per—"


"Terima atau kau akan Kakak kurung di lambung kapal."


"....." Charles diam membisu, ia tak menjawab. Pemuda itu lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain, yang penting menghindari tatapan Casilda.


Gadis bersurai safir itu mendengus kecil. 'Kenapa Charles keras kepala banget, sih? Sifat dari siapa, coba?' herannya di dalam hati.


"Ya udah, kau boleh di sini. Tapi, kalau udah nggak kuat lagi, bilang ke Kakak, ya?" Sembari menghela napas, Casilda tersenyum simpul saat mengatakannya.


Charles langsung mengangguk dengan cepat. "Baik, Kak!!"


"Jangan mengangguk, nanti tambah pusing" tegur gadis itu.


Tak dengar, Charles kembali mengangguk.


".....Ya udah, lah. Terserah kau saja." Pada akhirnya, Casilda memilih untuk menyerah. Daripada berdebat dengan sang adik yang pasti tak akan pernah berakhir, gadis itu kembali menatap hamparan karpet biru yang terbentang di hadapannya.


'Luas banget... Inikah wilayah kekuasaan Ibu? Apa Ibu nggak capek, ngurusin wilayah sebesar ini?' pikir Casilda di dalam hati.


'Ah, lagi-lagi aku lupa. Sapphire kan udah dibantai dari dulu, berarti Ibu masih belum punya kesempatan untuk mengurusi wilayah ini.' Gadis itu menghela napas. 'Emerald vangke.'


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


Tanpa terasa, malam hari pun tiba. Kapal yang ditumpangi oleh kedua saudara serta beberapa penumpang lainnya itu masih berlayar di luasnya samudra.


Casilda yang berada pada kamar yang sama dengan Charles masih membuka kedua matanya. Ia tak bisa tidur. Diliriknya sang adik yang masih terlelap di dalam mimpi indahnya.


"Ehehehe... Kakak... Jangan puji aku terus, dong... Hehe... Aku kan jadi malu.... Nyem nyem..."


Casilda langsung speechless dengan wajahnya yang datar. 'Sejak kapan adikku jadi kayak gini?!' pikirnya.


Sedetik kemudian, gadis itu tersenyum kecil. Ia bangun dari tidurnya dan beranjak menuju ke arah kasur sang adik. Tangan Casilda mengusap helaian rambut adiknya dengan pelan.


"Padahal kau tadi merengek karena tak bisa tidur. Sekarang kau malah bisa tidur, sementara kakakmu ini tidak. Rasanya gemes banget, deh, sampe pengen cubit jantungmu" ucap Casilda sambil tersenyum lembut.


"Tapi, itu tak masalah. Yang penting kau bisa tidur dengan tenang, aku sama sekali tak keberatan." Gadis itu pun mengecup kening sang adik dengan lembut. "Semoga mimpimu indah selalu, Charles."


Setelahnya, Casilda berjalan menuju pintu kamarnya secara perlahan agar tidak menimbulkan suara sedikitpun. Sebelum keluar dari kamar, Casilda menyempatkan dirinya untuk memandang wajah damai sang adik.


Tersenyum kecil, ia pun keluar dari kamarnya sambil bersenandung kecil. Sungguh, baru pertama kali ia merasakan perasaan berdebar seperti ini hingga tak bisa tidur.


Padahal biasanya, Casilda selalu tidur dimanapun kapanpun dan dalam keadaan apapun, namun kali ini tidak. Mungkin karena ini adalah pertama kalinya ia melewati wilayah klannya sendiri.


'Aroma yang menguar dari laut seolah membawaku keluar dari kapal ini. Apa yang akan mereka sampaikan padaku begitu aku menghirup udara segar di deck kapal, ya?' batinnya sambil terus berjalan.


Tak butuh waktu lama, Casilda sudah sampai di atas dek kapal kayu yang cukup luas itu. Tak ada seorang pun di sana, hanya ada dia, luasnya samudra, dan langit berbintang yang menemani malamnya.


'Tumben banget ada bintang di malam hari. Apa habis ini, Klan Onyx akan mendapatkan cahayanya? Soalnya kan, Klan Onyx itu identik sama malam, dan bintang identik dengan pasangan malam.'


Dipandangnya malam itu. Sungguh syahdu nan candu rasanya. Tapi kemudian, ia terpikirkan hal absurd lainnya. 'Eh bentar, pasangan malam hari itu bulan atau bintang, sih?'


Wuuusssshhh~~


Angin sepoi-sepoi seolah membalas pertanyaan di dalam hatinya. Namun, percuma saja, karena Casilda tak pernah mempelajari bahasa angin.


Casilda berdiri diam di sana. Pandangannya lurus, entah menatap apa. Tatapannya kosong karena melamun, namun masih terlihat jelas kalau ia tetap waspada.


"Ujian Knight, ya? Letaknya dimana?" gumamnya pada diri sendiri. "Kira-kira, aku bisa melewatinya nggak, ya?" imbuhnya lagi.


"Kau pasti bisa, Nona" kata seorang pria tua di belakang Casilda.


Gadis itu sudah menyadari keberadaannya sejak awal, makannya ia melontarkan pertanyaan itu. "Anda siapa?" tanya Casilda sembari melirik ke belakangnya.


"Hoho, aku adalah nahkoda kapal ini, Nona. Panggil saja aku Nahkoda Tua" balas pria tua itu sambil mengangkat topi nahkodanya.


"Nahkoda? Kalau Anda berada di sini, siapa yang mengemudikan kapal?" tanya Casilda lagi. Kali ini, ia sudah sepenuhnya menghadap ke belakang.


"Tidak ada yang mengemudikannya, Nona."


"Anda.... Tak takut?"


"Ohoho, takut kenapa? Tak ada yang aku takuti di dunia ini, selagi aku berada di atas laut, Nona" kekeh Nahkoda Tua. "Itu karena aku percaya pada penguasa samudra."


Casilda tersentak kecil. 'Penguasa samudra?!'


"Ya, benar. Penguasa samudra" kata Nahkoda Tua seolah mendengar suara batin Casilda. "Aku percaya dengan Klan Sapphire yang sudah menjaga lautan ini selama ratusan tahun."


"Percaya? Kenapa Anda percaya? Bukankah keberadaan Sapphire saat ini masih belum diketahui? Kenapa Anda percaya begitu saja?" tanya gadis itu secara beruntun.


"Entahlah, karena aku percaya saja." Nahkoda Tua itu berjalan dan berdiri di samping Casilda dengan tangan yang ia taruh di belakang tubuhnya. Matanya yang sudah tak setajam dulu menatap pantulan cahaya bintang yang tercermin di lautan.


Casilda terdiam, ia masih memproses perkataan pria tua ini. Siapa dia? Kenapa dia mengajaknya berbicara? Apa mereka saling kenal? Apa dia memiliki hubungan dengan Sapphire? Atau jangan-jangan, dia memiliki hubungan dengan Emerald, Amethyst, atau bahkan Diamond?


"Hohoho, aku tahu kau pasti bertanya-tanya, siapa aku sebenarnya, bukan?" Nahkoda Tua terkekeh kecil di tengah keheningan yang melanda.


Entah karena terlalu jujur atau apa, Casilda mengangguk kecil.


"Aku hanyalah seorang anak kecil yang sekarang sudah tua, Nona. Anak kecil yang pernah diselamatkan oleh malaikat dari bawah laut" jelas Nahkoda Tua.


Casilda menyeritkan alisnya. Anak kecil? Diselamatkan? Malaikat dari bawah laut? Hah! Apa jangan-jangan....


"Nona, apa kau tahu, kau sangat mirip dengan malaikat yang telah menyelamatkanku itu" ucap Nahkoda Tua sambil menatap Casilda lekat-lekat. "Mata dan rambutmu mengingatkanku padanya. Terlebih lagi, auramu juga sama persis seperti dirinya."


Casilda masih terdiam, ia menunggu perkataan nahkoda ini.


"Nona, apa kau adalah keturunan dari malaikat itu?" tanya Nahkoda Tua.


".....Entahlah... Aku juga tak tahu..." balas Casilda apa adanya.


Nahkoda Tua tersenyum kecil. Memori masa lalu terputar kembali karena balasan yang Casilda lontarkan tadi.


"Nak, kenapa kau berada di sini?" tanya seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut berwarna safir dan warna mata yang sama dengan rambutnya. "Dimana orang tuamu?"


Anak itu terdiam tak menjawab. Bibirnya terbuka, namun tak ada suara. Ia terlalu terpana akan kecantikan wanita itu. "Kakak.... Apakah Kakak adalah malaikat?"


Wanita itu terdiam, kemudian tersenyum. "Ya, itu benar. Aku adalah malaikat dari dasar laut" kekehnya pelan.


"Woaaahhh!!!" Dengan polosnya, anak itu memekik kagum. "Ternyata dugaanku memang benar!! Malaikat memang benar-benar ada!! Woaaahh!!"


"Jadi, Nak, apa yang kau lakukan di sini?" tanya wanita itu sekali lagi.


"Kakak, aku punya pertanyaan." Sepertinya anak ini tak mendengar pertanyaan dari wanita itu. "Apa aku bisa menjadi nahkoda yang hebat dan bertemu Kakak di lautan suatu saat nanti?"


"Tentu saja bisa!" Wanita itu tersenyum sambil mengelus kepala anak itu.


"Kenapa Kakak bilang kayak gitu?"


"Eh?" Wanita itu bingung. Kenapa anak itu malah bertanya?


"Ayah dan Ibu bilang kalau aku tak akan bisa menjadi nahkoda. Kenapa Kakak bilang kalau aku bisa melakukannya?" tanya anak itu lagi.


".....Hmm....." Wanita itu menatap bulan purnama yang berada tepat di atas samudra. "...Entahlah.. Kakak juga tak tahu..."


Kemudian, wanita itu kembali memandang anak kecik tadi. "Kakak hanya yakin, itu saja, hehe."


Pertemuan tak terduga itu membawa perubahan bagi takdir anak yang sekarang telah menjadi seorang nahkoda senior. Ia tak akan melupakan kejadian beberapa puluh tahun yang lalu itu.


'Nona, kurasa kau memang keturunan dari malaikat bawah laut itu. Aku yakin akan hal itu. Percayalah.'


TBC.