The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Bertemu Misha dan Viona



Kedua kakak beradik itu memasuki pelelangan. Casilda menunjukkan sebuah tanda khusus kepada penjaga dan langsung diperbolehkan untuk memasuki pelelangan itu. Mereka berdua sengaja datang terlambat. Mereka langsung memasuki ruangan bos dan menjual barang-barang yang akan dilelang.


"Ah, Master Aklemist. Anda datang seperti biasanya." Bos Pelelangan itu menyapa Casilda.


Gadis yang disapa hanya mengangguk dan memberikan barang-barang yang akan ia jual. Namun, ada sebuah barang yang unik, sebilah pedang bulu yang sangat berkilau.


"Hm, Anda belum pernah membawa ini kemari sebelumnya. Apa Anda yakin ingin menjualnya?" tanya Bos Pelelangan.


Casilda mengangguk kecil. Dalam hatinya ia menyeringai.


"Baiklah, seperti biasa, barang-barang yang Anda jual akan ditampilkan di bagian akhir. Anda boleh pergi ke bangku VVIP Anda yang biasanya."


Casilda pergi, diikuti Charles di belakangnya. Mereka masih mengenakan jubah yang sama seperti sebelumnya, membuat orang-orang menatap mereka.


"Charles" bisik Casilda. Sang adik yang dipanggil pun mendekatkan telinganya ke Casilda. "Kau ingin membalas dendam kepada Emerald, bukan?" tanya Casilda berbisik.


Charles mengangguk. "Tentu saja!" Tanpa sadar ia berseru dengan suara keras.


"Kalau begitu, tetap pertahankan wujudmu yang sekarang dan ikuti aku kemanapun. Jika aku membuka penutup jubahku, maka kau juga harus melakukan hal yang sama, mengerti?"


"Tentu saja, Kakak!"


"Oke, sekarang, ayo kita ke bangku VVIP." Casilda dan Charles berjalan bersamaan menuju bangku mereka yang berada di lantai atas.


Setiap orang yang melihat mereka langsung tertuju pada penampilan keduanya. Terkesan misterius, membuat orang-orang itu menjadi penasaran dengan identitas mereka berdua.


"Selamat datang, Master Alkemist" ucap salah satu pelayan di lantai VVIP.


"Seperti biasa" balas Casilda dengan suara laki-laki.


"Baik, saya mengerti." Pelayan itu segera turun menuju dapur.


Casilda dan Charles duduk di bangku yang berada di salah satu ruang tertutup VVIP. Charles yang baru pertama kali diajak ke sini langsung melihat-lihat sekelilingnya. Tirai penutupnya berwarna merah seperti pelelangan-pelelangan lainnya. Bangkunya sangat nyaman dan empuk. Ruangan inu juga kedap suara, benar-benar tenang.


Charles melepaskan penutup jubahnya. "Phuah! Panass" ujarnya sembari mengipas-ngipas lehernya.


"Maaf, Charles. Kau kepanasan, ya?" Casilda menjadi merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, Kak! Ini belum ada apa-apanya dibandingkan pelatihan neraka yang selalu aku jalani!". Charles mencoba menghibur Casilda agar tidak sedih.


Casilda terkekeh kecil. Wajah Charles kini mirip seekor anak kucing yang sedang menatapnya dengan tatapan serius, namun lucu. "Oke, oke.. Kakak nggak sedih, kok.. Hihihi..." kekeh gadis itu.


Tok tok tok


"Master Alkemist, makanan Anda sudah saya bawa."


Charles langsung memakai kembali penutup jubahnya.


"Ya, masuklah."


Pelayan itu masuk dan menaruh makanan-makanan yang Casilda selalu pesan. Ia kemudian pergi dari ruang VVIP tersebut.


"Nah, ayo dimakan, Charles." Casilda menyodorkan sebuah piring kepada Charles.


"Baik, Kak."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Ruangan VVIP yang berada di sebelah sangatlah ramai, membuat Charles menjadi kesal. "Ck, siapa sih, yang bersuara sekencang itu? Seperti berada di pertambangan saja" decak Charles.


Casilda memakan kue keringnya. "Siapa lagi kalau bukan Si Hijau dan Si Ungu" ucapnya.


"Ah, mereka, toh. Wajar saja, sih. Kelakuan mereka kan memang seperti hewan, berisik" cibir Charles sambil bertumpu di meja.


"Sudahlah, biarkan saja. Kita jadi melewatkan beberapa barang karena terus mempermasalahkan mereka." Casilda mengalihkan pandangannya ke podium pelelangan, begitu pula Charles.


Barang yang dilelang sekarang adalah sebuah guci antik yang berwarna hitam kehijauan. Kata pembawa acara, guci itu sudah berumur ratusan tahun.


"Sama sekali tak menarik" gumam Charles yang masih bisa didengar oleh Casilda.


"Ya, melihat barang pelelangan yang tidak sesuai dengan selera memang sangat membosankan. Namun, apa kau tahu, saat melihat barangmu sendiri yang dilelang dengan harga berkali-kali lipat, rasanya sangat menyenangkan." Casilda tersenyum di akhir kalimat.


"Itu memang benar, Kak. Tapi...." Charles berdecih kesal. "Suara makhluk-makhluk jadi-jadian itu benar-benar merusak telinga. Padahal sudah dipasangi mantra peredam, kok masih bisa kedengaran, sih?"


"Entahlah. Mungkin mantra peredam pun tak bisa meredam suara mereka yang seperti gunung meletus" celetuk Casilda.


"Barang selanjutnya adalah sekarung tunas tanpa batas. Memiliki banyak khasiat dan akan sangat berguna jika dirawat dengan baik. Harganya mulai dari 2 juta rupiah!"


"Tunas tanpa batas? Apa itu?" tanya Misha ke Putri Amethyst yang ada di sampingnya.


"Entahlah. Tapi yang penting, kita nggak usah beli. Tunas itu terlihat menjijikkan dan kotor" balas Viona, Putri Amethyst dengan jijik.


"Kau benar juga, ya. Memang menjijikkan, eww..."


'Kalianlah yang menjijikkan(¬_¬)'—Charles.


Para pengunjung saling berpandangan. Untuk apa tunas kotor itu dilelang di sini? Benar-benar tak berguna.


"10 juta!" Sebuah suara membuat orang-orang melihat ke arah sumbernya.


"K-Kakak?!" Charles kaget, karena Casilda membuka penutup jubahnya sembari berdiri di balkon ruangan VVIP milik mereka sambil mengangkat tangannya.


"Ah! Itu Tuan Muda yang dulu! Kyaa! Akhirnya aku menemukannya!" heboh Viona.


"Hah? Tuan Muda yang dulu? Jangan-jangan, dia adalah orang yang selama ini kau cari?" tanya Misha.


"Ya, dan jangan coba-coba untuk merebutnya!" sinis Viona.


"Woah! Master Alkemist mengangkat tangannya! Ini benar-benar keajaiban!" Pembawa acara nampak shock.


Para pengunjung langsung ribut.


"Dia adalah Master Alkemist?!"


"Kyaa!! Tampan sekali!!!"


"Master tampan, jadilah suamiku!"


"Ternyata dia masih muda, kupikir sudah tua."


"Hebat... Anak muda jaman sekarang memang hebat..."


Karena Casilda telah membuka penutup jubahnya, Charles pun melakukan hal yang sama.


'Tapi... Untuk apa Kakak harus membuka penutup jubahnya?' pikir Charles. 'Ukh, Kakak terlalu pintar. Aku tak bisa menebak jalan pikirannya(╥_╥).'


"Apa tidak ada yang menawar lagi?" Tidak ada yang menjawab. "Baiklah, tunas tanpa batas telah terjual dengan harga 10 juta rupiah!"


Casilda memasuki ruangan VVIP-nya lagi, membuat Misha dan Viona mendesah kecewa.


"Kakak, buat apa membeli tunas gaje itu?" tanya Charles penasaran.


"Tunas itu bukanlah sembarang tanaman. Tunas tanpa batas dapat membelah dirinya menjadi beberapa bagian. Jika dialiri sihir, tunas itu dapat membelah hingga ratusan bagian" balas Casilda. "Selain itu, tunas itu dapat digunakan untuk menanam tanaman apapun dalam jumlah besar, dan tidak memiliki batasan. Makannya disebut tunas tanpa batas."


"Dengan adanya tunas itu, kita tak perlu lagi mencari buah-buahan maupun sayuran di pasar. Kita juga tak perlu membeli bahan-bahan herbal lainnya untuk membuat pil. Tunas tanpa batas juga dapat menanam tanaman surga yang mengandung sangat banyak manfaat" imbuh Casilda lagi.


Charles melongo dengan penjelasan Casilda. Ternyata barang yang ia anggap remeh menyimpan banyak kegunaan. 'Kakak memang hebat!!'


Pelelangan dilanjutkan. Pil-pil serta ramuan-ramuan buatan Casilda sangat laris dan terjual dengan harga yang sangat tinggi. Yang membelinya adalah Viona. Gadis itu sangat mengagumi dan mencintai Casilda—yang sedang dalam wujud lelaki—sejak pertama kali mereka bertemu.


'Kira-kira, bagaimana reaksinya saat mengetahui bahwa aku ini perempuan, ya? Pasti seru, hehehe...' batin Casilda jahil.


'Tuan Alkemist, saya sudah membeli seluruh benda yang Anda jual. Anda harus memperhatikan saya walau sebentar! Ayo perhatikan saya!' Viona membatin dengan tekad membara sembari menatap Casilda.


"Kak, wanita terong ungu itu sedang menatap Kakak" ucap Charles sedikit melirik ke arah Viona dengan sinis.


Casilda yang mendengarnya langsung melihat ke arah Viona.


'Gila gila gila gila! Tuan Alkemist benar-benar melihatku!!!!'


Casilda tersenyum manis ke arah Viona, membuat gadis itu langsung terkena panah-panah cinta. 'KYAA!! TUAN ALKEMIST SANGATLAH TAMPAN!! HATIKU TAK KUATT!!' pekik Viona dalam hati.


Casilda diam-diam menyeringai. 'Bagus, teruslah tergila-gila padaku. Dengan begitu, aku bisa mendekatimu dan mencari rahasia dan rencara Amethyst serta Emerald dengan mudah. Teruslah tergila-gila, Putri Amethyst... Hehehehehe...'


'Kakak memang hebat! Pesonanya sangat kuat hingga mampu membuat orang lain terkesima!'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Pelelangan berakhir. Seluruh benda yang dilelang oleh Casilda dihargai sebesar lebih dari 1 trilyun. Harga yang sangat fantastis. Casilda tersenyum bangga. Ia sangat pandai mencari uang dan keuntungan apapun. Dirinya harus berterima kasih kepada firasatnya yang tak pernah salah.


"Charles, ayo pulang" ajak Casilda sembari keluar dari ruang VVIP.


"Baik, Kak" balas Charles masih dengan penyamarannya.


"Anu, Tuan Alkemist..." Sebuah suara menginterupsi, membuat Casilda dan Charles menengok ke arah suara itu berasal.


"Ah, Nona Emerald, Nona Amethyst. Ada perlu apa?" tanya Casilda.


"A-anu.." Viona nampak gugup. Ia memainkan jari telunjuknya di depan dada. 'T-Tuan Alkemist jauh lebih tampan saat dilihat secara dekat.... Jantungku tak kuat...' batin Viona malu.


Casilda tersenyum lembut, berkebalikan dengan apa yang ada di pikirannya. 'Ni anak ngapain malu-malu tikus? Aneh banget..' "Ada apa, Nona Amethyst?.." tanya Casilda dengan lembut.


Viona yang disenyumi seperti itu langsung melting. '*-*-*-Tuan Alkemist terlalu tampannnn!! Mulutku sampai tak bisa bicaraaa!!! AAAAAAAA!!!!.'


Charles yang dapat membaca pikiran orang lain langsung merolingkan kedua bola matanya. 'Cuih, gaje, dasar wanita dari rumah bordil' cibirnya dalam hati.


Misha yang menunggu ucapan Viona pun kesal. "Begini, Tuan Alkemist. Kami ingin mengundang Anda untuk datang ke Kediaman Emerald sebagai tamu kehormatan" jelas Misha to the point dengan anggunnya.


Misha sedikit melirik ke wajah Casilda. 'Rupanya ia jauh lebih tampan. Suaranya juga bagus. Wajar saja jika Viona jatuh cinta padanya...' Gadis itu menyeringai diam-diam. 'Tapi, apapun yang dimiliki oleh sepupuku adalah milikku. Aku akan membuat Tuan Alkemist menjadi suamiku!'


"Mengunjungi Kediaman Emerald sebagai tamu kehormatan? Itu terlalu mewah untuk saya, Nona Emerald..." Casilda merendahkan dirinya.


Misha menggeleng sembari menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. "Sama sekali tidak, Tuan. Saya harus menjamu Anda karena kedua orang tua saya sangat mengagumi Anda..."


Casilda pura-pura menimang-nimang. 'Bagus, kalian masuk ke dalam perangkapku. Muehehehe.' Casilda menengok ke arah Charles yang juga melihat ke arahnya. Ia mengangguk ke adiknya itu dan juga dibalas dengan anggukan oleh Charles.


"Baiklah, kami akan pergi ke sana" ucap Casilda dengan senyum. Misha dan Viona yang melihatnya langsung terpesona. Nampak sangat jelas jika wajah mereka berdua memerah.


"Segera beritahu Ayah dan Ibu jika Tuan Alkemist akan berkunjung!" perintah Misha ke salah satu dayang yang ia bawa. Terdengar jelas jika gadis itu sangat senang dengan jawaban Casilda.


"Baik, Nona." Salah satu dayang membungkuk.


Misha merangkul lengan kanan Casilda dan Viona lengan kirinya. Mereka berdua langsung membawa Casilda ke portal teleportasi terdekat.


'Eww, tubuhku sudah tak suci lagi.. Aku disentuh oleh bakteri raksasa.. Hueekkk.' Casilda merasa jijik dengan dirinya sendiri.


'Berani-beraninya mereka memegang Kakak seperti itu! Dasar kuman menyebalkan! Selamanya tak akan pernah kumaafkan!'


Baik Casilda maupun Charles harus dapat menahan rasa jijik mereka demi dapat membalas dendam. Yang sabar, yah, Duo C.


'Y''—Casilda dan Charles.


TBC.