The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Bertemu dengan Louise



"Casilda, Charles, apa kalian benar-benar akan pulang?" tanya Sonya dengan sedih.


Casilda mengangguk sambil memakan makanannya. "Itu benar, Bib—maksudku Ibu. Kami tak bisa merepotkan kalian terus" balasnya.


"Kak Casildaa!! Jangan pulang, laahh" bujuk Ellen sembari memeluk gadis bersurai safir itu. "Tinggalah bersama kami~"


"Nggak bisa, Ellen. Aku punya banyak urusan di rumah" tolak Casilda.


"Ayolah~" bujuk gadis bersurai hitam itu lagi.


"Nggak bisa."


Charles menyeringai kecil. "Hmph, kan udah kubilang, Kakak nggak bisa tinggal di sini" ejeknya.


"Diam kau!" sungut Ellen.


"Dih, ngatur" sewot Charles.


"Kalian akan berkumpul lagi di Pelabuhan Utama, kan? Kenapa tak tinggal di sini selama masa itu? Rumah kalian kan jauh dari sini. Coba pikirkan itu." Masih tak menyerah, Sonya kembali membujuk calon menantunya itu.


"Hmm.. Itu memang benar." Casilda meletakkan tangannya di dagu. "Tapi, kami bisa mencari penginapan di dekat sini. Ibu tenang saja."


Kedua perempuan dari Klan Onyx itu merengut seketika. "Nggak, kami nggak bisa tenang" ucap mereka bersamaan.


"Kenapa Kakak nggak menginap saja? Sekarang kan sudah malam" dengus Ellen dengan pipi yang dikembungkan karena kesal.


"Eh?" Casilda menoleh ke arah jendela. "...Ah, benar. Sudah malam.." beonya baru sadar.


"Benar, kan? Makannya, menginaplah di sini!" bujuk Ellen lagi dengan antusias.


Sonya mengangguk cepat. "Itu benar! Setidaknya, menginaplah sampai kalian bertemu lagi 10 hari kedepan!"


"Itu tidak bisa." Casilda masih keukeuh menolaknya.


Charles mendengus kesal. 'Kenapa mereka maksa banget, sih? Nyebelin' sinisnya.


"Kenapa tak bisa, Casilda?" tanya Deirn yang baru saja datang bersama dengan Eden di belakangnya.


"Saya memiliki banyak pekerjaan, Paman. Kami harus mengurus hutan dan beberapa urusan" balas Casilda.


"Apa kamu nggak bisa tinggal di sini aja, Casilda?" tanya Eden dengan wajah memelas. Tunggu sebentar, sejak kapan dia berada di depan wajah Casilda?!


"Tak bisa, Eden. Kami harus mencari uang" tolak Casilda lagi.


"Uang? Kamu bisa memintanya padaku, aku punya banyak uang" ujar Eden dengan sombongnya.


Charles memasang wajah super jijiknya. "Ew" ucapnya spontan tanpa filter.


"Itu tak bisa, Eden. Itu adalah uangmu, dan aku tak memiliki hak untuk memintanya."


"Tak apa, aku rela memberikannya untukmu."


"Sekali tidak tetap tidak."


Ellen tersenyum. "Dunia serasa milik berdua, ya" komentarnya.


Sonya mengangguk senang. "Yap! Dan Ibu mencium bau-bau musim semi di sini."


Deirn menggelengkan kepalanya, pasrah dengan tingkah laku anggota keluarganya. Ditariknya sebuah kursi yang berada di samping sang istri dan duduk di sana.


"Cih, tukang maksa" komentar Charles dengan suara pelan, dan tentunya hal itu didengar oleh Eden dan Casilda.


"Aku setuju dengan Charles" angguk gadis bersurai safir itu.


"Kalian kejam...." Eden pundung.


"HAHAHA!! Kakak lucu!! BWAHAHAHAHA!!!" Tawa Ellen menggelegar, karena ia baru saja melihat sisi tersendiri dari Eden.


"Diam, kau, Adik Syala—ekhm, maksudku diam, kau, Adik Nakal!!" seru Eden dengan kesal.


"BWAHAHAH!!! Hampir aja toxic di depan ayang. Kalau ampe ketahuan, bisa mati, nih. HAHAHAHA!!" ejek Ellen dengan brutal.


Charles mendadak tertarik dengan percakapan—penghinaan—ini. "Wih, kayaknya seru. Ikut, ah."


Casilda menarik baju sang adik. "Charles, jangan ikutan kesesatannya mereka" tahan Casilda sebelum sang adik terkena keabsurdan itu.


"Oke, balik lagi ke topik" kata Deirn, membuat Casilda dan Sonya menoleh padanya.


Lalu, yang lainnya? Mereka sibuk mengejek Eden.


"Memangnya apa yang kamu lakukan, sampai-sampai ingin segera pulang?" tanya Deirn.


"Katanya kamu melakukannya untuk mencari uang? Kamu sedang menekuni pekerjaan apa?" Sonya juga bertanya.


"Ah, saya cuma menjual beberapa pil dan benda-benda tertentu saja, kok..." balas Casilda sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.


"Eh?! Kamu bisa membuat pil?!" kaget kedua orang tua Eden.


"Y-ya.. Begitulah, hahaha...."


Sonya langsung kagum dengan calon menantunya ini. 'Dia sudah mandiri sejak masih muda, tipikal perempuan mandiri seperti Casilda begitu sulit untuk ditemukan! Aku harus membantu Eden untuk mendapatkan hati Casilda!'


"Kalau kamu mahir membuat pil, berarti kamu selalu mencari bahan-bahannya, ya?" Deirn entah mengapa menjadi antusias.


"Ah, saya tak semahir itu, kok.. Dan ya, saya dan Charles sering mencari bahan bersama-sama, dan terkadang kami masuk ke dalam dungeon untuk mencari bahan tambahan. Begitulah cara kami mendapatkan beberapa benda temuan" balas Casilda merendah.


'Perempuan suka petualangan dan menjelahahi dungeon?! Ini benar-benar tipe yang sangat langka! Aku harus membantu Eden untuk mendapatkan hatinya! Casilda adalah menantu idamanku!' batin Deirn penuh ambisi.


DEGG


Charles seolah terkena serangan jantung. Tapi, ia yakin kalau ini bukanlah serangan jantung. 'Perasaan ini... Aku pernah mengalaminya. Ini adalah perasaan tak tenang saat Kakak sedang diincar untuk dijadikan calon menantu! Aku tak akan membiarkan Kakak direnggut dariku!!'


Charles yang semula sedang mengejek Eden pun kembali duduk di samping Casilda dan memeluk gadis itu dengan erat. "Kakak punyaku, jangan diambil" ucapnya tanpa takut pada kedua orang tua Eden yang speechless.


"Kamu kenapa, Charles?" Casilda masih tak peka.


"Nggak papa, cuma pengen meluk Kakak" balas sang adik sambil mendusel-duselkan kepalanya pada kakaknya.


Eden cemberut seketika, dan Ellen menggunakan kesempatan itu untuk mengejek kakaknya lagi.


"Kasihan~ Kalah start sama adik ipar sendiri~" ejek Ellen dengan wajah mengesalkan.


"💢💢" Eden hanya mampu menahan kekesalannya dengan mengepalkan tangan kanannya kuat-kuat. Kalau saja Casilda tak ada di sini, ia pasti sudah mengeksekusi adiknya yang satu ini.


"Ya sudah, intinya, kalian berdua harus menginap di sini walau hanya semalam" titah Sonya.


"E-eh, tapi—"


"Tak ada penolakan" kata keempat anggota Klan Onyx secara bersamaan dengan penuh penekanan.


"B-baiklah..." Casilda pun hanya bisa pasrah.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Keesokan harinya...


"Ellen, gerakanmu terlalu kaku! Angkat sedikit pedangmu!" perintah Casilda, kali ini ia kembali melatih calon adik iparnya, tentu saja atas keinginan keempat anggota Klan Onyx itu.


Ellen dengan susah payah mengikuti apa yang Casilda ajarkan. Sementara itu, Eden yang tengah duduk santai tersenyum puas.


'Rasakan. Salahmu sendiri berani menghina kakakmu' ejek Eden pada Ellen.


'Kakak anj—'


"Ekhem." Casilda berdehem dengan kesal. "Jangan lengah!"


"B-baik!!" Ellen kembali mengayunkan pedangnya. 'Ini semua salah Kakak!'


Eden terkekeh puas. Akhirnya ia berhasil membalas dendam pada sang adik lewat Casilda. 'Fix, Casilda bener-bener istri idaman' batin pemuda bersurai hitam itu.


Charles memutar kedua bola matanya dengan jengah. 'Orang-orang stress' batinnya..'Kecuali Kakak tentunya, hehe..'


Tiba-tiba, Casilda menoleh ke suatu arah dengan wajah terkejut. Mereka pun mengikuti kemana Casilda menoleh.


"Itu.. Arah gerbang kelima?" bingung Eden. "Ada apa dengan gerbang kelim—"


DUNGG


Sebuah suara menggelegar terdengar hingga memenuhi telinga mereka. Bagi Casilda dan Charles, suaranya seperti bunyi gong yang ditabuh. Lain halnya dengan Eden dan Ellen yang sudah mengetahui suara ini.


"Gerbang kelima dibuka?!" kaget Ellen.


"Benarkah? Dibuka siapa?" tanya Charles yang entah mengapa peduli. "Dibuka oleh Paman Deirn?"


"Bukan" balas Casilda. "Ada seseorang memasuki gerbang kelima, dan itu bukanlah orang dari Klan Onyx" lanjutnya. 'Aura ini.. Rasanya familiar.'


seorang pelayan berlari tergesa-gesa ke arah mereka. "Tu-Tuan Muda, Nona Ellen!!"


"Ada apa?" tanya Eden mencoba untuk tenang.


"A-ada seorang pria asing yang memasuki gerbang kelima, dan dia sedang bertemu dengan Tuan Besar dan Nyonya."


"Apa?!"


.


.


.


.


.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Deirn dengan serius pada lawan bicaranya. "Kenapa kau tak membuat janji terlebih dahulu?"


"Maaf karena sudah datang mendadak, karena keperluan ini memang datang tiba-tiba.." balas orang itu dengan sedikit menyesal.


Sonya menatap lawan bicara mereka dengan rasa kekhawatiran yang sedikit terbesit. 'Dia dijuluki "Si Jenius dari Dataran Barat". Walau masih muda, aku tak boleh meremehkannya. Tapi, apa keperluannya datang kemari?'


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa urusanmu?" tanya Deirn dengan kesal. Seperinya ia sebal karena gerbang kelimanya dapat ditembus dengan mudah oleh orang ini.


"Aku hanya ingin bertemu dengan adikku saja, kok" balas orang itu sambil tersenyum.


Deirn dan Sonya menaikkan sebelah alis mereka. "Adik?"


Bertepatan dengan itu, pintu terbuka, menampilkan Eden, Casilda, Charles, dan Ellen yang baru datang.


"Ah, itu dia orangnya." Orang itu tersenyum saat melihat sosok yang sangat dikenalinya.


"Eh?" Casilda kaget. "Kak Lou?"


TBC.