The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Perseteruan Eden dan Charles



"Ada apa? Kenapa kau sampai berbohong pada kakakmu seperti itu?" tanya Eden saat dirinya dan Charles sudah cukup jauh dari Casilda.


Charles yang masih berjalan pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Eden. "Kau ingin tahu?"


Eden mendengus kesal sembari memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Ya, dan katakan sekarang" titahnya.


"Justru aku yang ingin tahu, bodoh" desis Charles dengan tatapan tajam ke arah Eden. "Siapa kau ini?"


Pemuda bersurai hitam itu menyeritkan kedua alisnya dengan heran. "Kau kan sudah tahu, aku Eden Onyx. Kenapa kau bertanya hal aneh, sih?"


"Aku memang sudah tahu namamu, bodoh."


"Lalu?"


"Aku hanya bertanya, kau ini apa?" tanya Charles. "Kenapa matamu berwarna emas?"


Eden terdiam. Lalu kemudian ia menyeringai. "Wah, ternyata kau tahu, ya?" tanyanya dengan mata yang bersinar berwarna emas menyala.


Charles memasang kuda-kuda. Diraihnya beberapa jarum beracun yang ia letakkan di pakaiannya.


"Tenang saja, aku ini tetaplah Eden Onyx yang kalian kenal" kata pemuda bersurai hitam itu dengan santai.


"Lalu kenapa matamu berwarna emas?" tanya Charles dengan curiga. "Apa jangan-jangan... Inti kekuatanmu telah bangkit?"


Eden melayangkan senyum simpul. "Ping pong~ Itu benar~"


Charles semakin mewaspadai pemuda bersurai hitam ini. Karena ia tahu, orang yang inti kekuatannya telah bangkit, mereka akan jauh lebih kuat dari siapapun.


Bangkitnya inti kekuatan adalah hal yang sangat langka dan jarang ditemui. Bahkan sampai saat ini belum ada orang yang inti kekuatannya bangkit, kecuali para pemimpin pertama Keluarga Utama .


Menurut mitos, para pemimpin Keluarga Utama adalah orang-orang yang kekuatannya melebihi akal manusia. Kemampuan mengendalikan kekuatan mereka sangatlah hebat dan membuat mereka tak dapat dikalahkan dengan mudah.


Dari apa yang tertulis dalam sejarah, hanya ada 6 orang yang inti kekuatannya telah bangkit, dan itu pun sudah terjadi ribuan tahun yang lalu. Mereka adalah tonggak utama yang menyokong berdirinya kekaisaran.


Nama mereka masih menjadi misteri karena kurangnya informasi tentang abad berdirinya kekaisaran itu. Namun, dapat dipastikan bahwa mereka berasal dari Keluarga Utama dan Keluarga Kekaisaran.


Mereka adalah pemimpin pertama dari keluarga Sapphire—Sang Penghancur, Onyx—Sang Pelahap, Citrine—Sang Penjaga, Tourmaline—Sang Penunggu, Ruby—Sang Pembela, dan Diamond—Sang Pengendali.


Klan Sapphire dengan elemen air sebagai Penguasa Samudra, Klan Onyx dengan elemen gelap sebagai Pemilik Malam, Citrine dengan elemen petir sebagai Pelindung Awan, Tourmaline dengan elemen angin sebagai Penunggu Hutan, Ruby dengan elemen api sebagai Penakluk Magma, dan Diamond dengan elemen cahaya sebagai Pengendali Tatanan.


Masing-masing klan memiliki daerah kekuasaan tersendiri. Biasanya pemimpin klan adalah anggota keluarga inti yang terkuat dan paling pantas untuk berada di posisi itu.


Walau para pemimpin Keluarga Utama telah mencetak banyak prestasi, namun tak ada yang sekuat pemimpin keluarga mereka yang pertama. Hal itu dikarenakan pemimpin keluarga mereka yang pertama telah mengalami kebangkitan pada inti kekuatan.


Inti kekuatan dapat bangkit apabila seseorang telah berada dalam fase tertentu, dan akan berbeda antara satu dengan lainnya. Biasanya diakibatkan oleh stress, ambisi, dan lain sebagainya.


Kebangkitan inti kekuatan dapat dilihat dari ciri khusus Keluarga Utama, yaitu mata atau rambut. Bila warna mata atau rambut berubah drastis dan menyala, maka itu dapat dikatakan sebagai bangkitnya inti kekuatan.


Hanya anggota dari Keluarga Utama saja yang dapat membangkitkan inti kekuatan mereka. Jika ada seseorang dari golongan rakyat biasa dapat membangkitkan inti kekuatan, maka kemungkinan besar ia memiliki darah Keluarga Utama.


Mereka yang dapat membangkitkan inti kekuatan tak hanya jenius, namun juga sangat cakap. Itu artinya, orang yang dapat membangkitkan inti kekuatan adalah "Sang Puncak" yang memiliki kekuatan maha dahsyat, hingga dapat disamakan dengan pemimpin pertama Keluarga Utama.


Ini buruk.. Benar-benar sangat buruk....


Charles berkeringat dingin. Di depannya telah berdiri "Sang Puncak" yang kekuatannya jauh di atasnya.


Jika seseorang yang belum mengalami kebangkitan dapat menggunakan kekuatannya sebanyak 100%, maka orang yang mengalami kebangkitan dapat menggunakannya sebesar 300%, atau bahkan lebih.


'Dan bisa saja Eden telah membangkitkan potensi asli kekuatan gelap yang sangat berbahaya itu' imbuh Charles di dalam hatinya.


Genggamannya pada jarum-jarum beracunnya semakin erat. Walau keringat dingin mengucur deras, ia tak akan gentar. Karena orang yang sangat berbahaya ini tak boleh berada di dekat kakaknya.


Tak boleh!!


"Hey, jangan takut gitu, dong. Aku tak akan membunuhmu dengan kekuatanku, tahu" kata Eden sembari mengubah warna matanya menjadi hitam seperti semula.


Charles tak lagi memasang kuda-kuda siaga, namun matanya masih memperhatikan gerak-gerik pemuda yang berdiri di depannya itu.


"Kalau dia sudah mengalami kebangkitan, akan sangat sulit untuk melawannya. Bahkan Kakak sekalipun akan kesulitan. Ini buruk.. Apa yang sebenarnya dia inginkan?' pikir Charles dengan keringat yang perlahan mengalir di pipinya.


"Sebenarnya, aku ingin menyembunyikan ini darimu, terutama Casilda. Tapi, karena sudah ketahuan, apa boleh buat." Eden mengendikkan bahunya dengan acuh.


"....Apa maumu sebenarnya?" tanya Charles waspada.


"Mauku? Aku mau kakakmu" ceplos Eden.


"Tak akan kuberikan!!" tolak Charles dengan cepat.


"Kenapa? Apa kau mau kubunuh dengan kekuatanku ini?" tanya Eden dengan matanya yang kembali berwarna emas.


"Ukh..." Charles merasa sesak. 'Auranya membuatku tak bisa bernapas.. Ini menyakitkan.. Tapi...' Tanpa ragu, ia mengangkat kepalanya walau terasa berat akibat aura yang Eden keluarkan.


"Kalau aku mati demi melindungi kakakku, itu tak masalah... Yang penting, aku bisa melindunginya dari orang jahat seperti kau!" kata Charles dengan meremat jantungnya yang sangat sakit.


"....." Eden terdiam. Ia kemudian menarik auranya, membuat Charles dapat bernapas lega. "Sudah kuduga, kau akan mengatakannya untuk Casilda" ucapnya sembari menutup kedua matanya.


Pemuda bersurai hitam itu perlahan menghampiri Charles yang terduduk karena kehabisan napas. "Apa kau tahu? Aku sangat ingin membunuhmu, karena Casilda begitu dekat denganmu. Tapi, kalau aku melakukannya, pasti Casilda akan membenciku selamanya. Jadi, aku tak membumuhmu."


Charles menatap Eden dengan nyalang.


"Walau kau tak merestui hubungan kami, itu tak masalah. Karena aku akan mendapatkannya apapun yang terjadi." Ia tersenyum miring ke arah Charles. "Casilda adalah milikku, dan hanya aku yang boleh memilikinya."


Charles berdiri dengan berani. "Kakak bukanlah milikmu! Dia itu miliknya sendiri! Kau tak berhak mengatur hidupnya!" tuturnya dengan lantang. "Kakak adalah seorang ratu yang tak memerlukan raja untuk berada di sisinya, dan kau tak boleh menjadi rajanya."


Eden memandang remeh Charles. "Kenapa tak boleh? Aku memiliki segalanya. Uang, kekuasaan, segalanya!"


"Justru karena kau memiliki segalanya, kau tak membutuhkan Kakak! Kakak bukanlah orang yang selevel denganmu! Kakak sama sekali tak pantas untuk lelaki angkuh sepertimu!" tegas Charles.


"Aku... Tak memerlukan Casilda?" tanya Eden dengan mata berwarna emasnya yang melotot tajam. "Katamu.... Aku tak memerlukan Casilda? Omong kosong macam apa itu?"


"Kau bilang ini omong kosong? Hmph, ini bukan omong kosong, bang*at" balas Charles dengan mengeluarkan auranya juga.


'Bocah ini.... Benar-benar menjengkelkan' batin Eden dengan guratan-guratan kemarahan yang tercetak di wajahnya.


Charles tersentak kecil. Benar juga, kenapa ia malah lupa?


"Nih, ambil saja." Eden memberikan sekantung besar uang pada Charles.


"Ha? Untuk apa ini?" heran Charles. "Berat... Apa ini koin emas? Tapi, kenapa sebanyak ini?'


"Untuk membeli makanan kakakmu."


"Kenapa kau melakukannya?"


"Tentu saja karena aku harus menafkahi Casilda, kan?" balas Eden dengan senyum miring. Setelahnya, ia pergi dengan menggunakan [Teleportasi].


Charles berkedut kesal. "AKU BELUM MERESTUI KALIAN, BODOH!! JANGAN KABUR, WOYY!!"


Percuma saja, Eden telah pergi. Charles yakin pemuda bersurai hitam itu telah pergi jauh dari tempatnya berdiri sekarang.


Charles memandang kantung berisi koin emas itu dengan jengah. 'Apa yang harus aku lakukan dengan ini? Apa harus kubuang? Jangan, nanti Kakak marah gara-gara membuang uang. Apa ini harus kugunakan untuk membeli makanan Kakak? Jangan, uang ini terlalu kotor. Terus, aku apain, dong?'


Charles berkedip beberapa kali dengan wajah datarnya. 'Au ah, bodo amat. Mending kusimpen aja. Barangkali nanti ada yang mau dapet sedekah.'


Setelahnya, ia pun pergi ke beberapa stan makanan demi membelikannya untuk sang kakak yang sangat disayanginya.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Selamat datang, Tuan Muda." Puluhan pelayan membungkuk di hadapan tuan muda mereka.


"Mana Ibu?" tanya Sang Tuan Muda.


"Nyonya berada di taman, menemani Nona yang sedang berlatih seperti biasa" balas pelayan yang berada di barisan paling depan.


"Hm." Setelah mengatakannya, tuan muda itu pun berjalan menuju taman tempat dimana ibunya berada.


"Ah, Eden, kamu sudah pulang ternyata." Sang ibu menyapa anaknya dengan hati senang.


Tuan muda itu—Eden— tersenyum menanggapi sapaan sang ibu.


"Bagaimana ujiannya? Apa ada sesuatu yang bagus?" tanya sang ibu lagi.


"Ujiannya biasa saja, tak ada yang menarik."


"Begitu, ya..."


"Tapi, ada sebuah hal yang sangat menarik di sana" kata Eden lagi dengan senyum lembut disertai rona merah yang terlihat di kulit pucatnya.


Sang ibu yang melihat raut wajah anaknya pun terkejut bukan main. Karena untuk pertama kalinya putra semata wayangnya itu tersenyum sampai merona.


"Benarkah? Apa itu?" tanya sang ibu dengan antusias.


"Akan aku ceritakan saat dia berada di sini."


"Huh?" Sang ibu bingung. "Apa maksudnya itu?"


Eden terdiam sesaat, lalu memberanikan diri untuk berkata, "Akan ada tamu dalam waktu dekat ini. Aku yakin, kalian akan sangat menyukainya."


TBC.