The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Kinght: Tahap 4²



Seluruh tim sudah bersiap di tempatnya masing-masing. Mereka memantau dengan serius.


Beberapa saat sebelumnya, Casilda memberi tahu rekan satu kelompoknya dimana letak kelompok tikus berada. Lawan mereka berpencar-pencar ke seluruh penjuru sudut pulau itu, karena mereka tak diperbolehkan keluar dari wilayah itu.


Kelompok kucing berjumlah 17 orang, begitu pula dengan kelompok tikus. Jalannya ujian akan diawasi oleh sang butler dan seorang panitia yang pernah berbicara dengannya beberapa saat yang lalu.


"Huh! Aku akan mengambil semua nomor dada mereka! Lihat saja!" ujar anggota kelompok kucing. Padahal beberapa saat yang lalu, ia juga membual hal yang sama.


Anggota itu memiliki tubuh gemuk nan besar. Ia juga tinggi. Wajahnya benar-benar angkuh dan sombong. Kemungkinan ia adalah anggota bangsawan, entah dari wilayah mana.


Pandangan peserta itu tertuju pada Casilda yang sedang memantau targetnya. Sepertinya, ia ingin dianggap sebagai lelaki yang kuat oleh Casilda.


"Tentu saja, Bos! Kau pasti bisa melakukannya!!" seru salah satu dari antek-anteknya.


Perkataan itu membuat si peserta gendut menjadi besar kepala. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi sambil melirik ke arah Casilda yang masih memantau targetnya.


'Kau sudah dengar kehebatanku, kan? Nah, sekarang, lihat aku!!' batin peserta gemuk itu.


Sayangnya, Casilda sama sekali tak menggubrisnya. Ia hanya fokus pada targetnya, sama sekali tak peduli dengan apa yang ada di sekitarnya.


'Kalau ujian sudah dimulai, dia akan aku "ngep" seketika!' batin Casilda dengan pandangan yang tertuju pada targetnya.


Mengetahui bahwa Casilda tak mempedulikannya, peserta gemuk itu menggeram kesal. 'Syaland... Perempuan itu... Beraninya tak mempedulikanku!... Syaland...'


Dengan perasaan kesal bercampur amarah, ia mendekati Casilda. "Hey, kau tak dengar, hah?!"


Gadis bersurai biru safir itu pun menoleh. "Hah? Apa?"


Kekesalan peserta gemuk itu semakin memuncak. "Syaland.." gumamnya. "Aku bilang, aku akan mengambil seluruh nomor dada mereka!"


"Ooh, bilang dari tadi, dong." Casilda kemudian berjalan melewati peserta itu. "Memiliki target itu memang baik, tapi kau tak boleh meremehkan orang lain" tegurnya.


Bukannya sadar akan kesalahannya, peserta gemuk itu malah semakin kesal. "Dasar perempuan brengshake!! Padahal aku melakukan ini untuk membuatmu terkesan! Dasar tak kenang budi!!"


Peserta gemuk itu pun misuh-misuh sendiri. Antek-anteknya berusaha menenangkannya.


Casilda yang berada di dekat mereka menghela napas dengan jengah. 'Ukh.. Mereka berisik.. Tau gini aku mending sama Eden atau Charles aja...' batinnya.


Gadis itu sedih karena rencananya sendiri. Ia menaruh Charles dan Eden di tim yang berbeda dengannya untuk mengambil nomor dada peserta lain yang berada jauh darinya.


Dengan kata lain, mereka berpencar sesuai dengan jumlah lawan yang akan mereka hadapi. Dan sialnya, ia berada satu tim dengan orang-orang angkuh yang hanya memandang fisik dan materi saja.


'Untuk pertama kalinya, aku menyesal....' batin Casilda dengan aura suram.


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


Padahal ujian belum dimulai, namun Charles sudah tidak mood melakukannya. Bagaimana tidak, ia berada jauh dari sang kakak yang seharusnya ia lindungi.


'Hidup ini benar-benar brengshake syaland. Mati aja kalian!' batin Charles sambil menatap tajam ke arah orang-orang yang berusaha berbicara dengannya.


'Huhu... Nggak ada Kakak, aku nggak punya tenaga... Hiks... Kakak... Aku kangen...' rengek Charles di dalam hati dengan air mata bombay yang mengalir di pipinya.


Padahal mereka baru saja berpisah beberapa menit yang lalu, namun Charles sudah mengalami mental breakdance—breakdown—seperti ini. Tak dapat dibayangkan jika ia berpisah alam dengan Casilda suatu saat nanti.


'Kalau Kakak pergi, aku juga akan pergi. Apa susahnya?'—Charles 2k23.


Tapi sayangnya, kali ini ia tak bisa mendampingi Casilda. Kenapa? Tentu saja karena titah sang kakak yang terlampau mutlak baginya.


Walau ini begitu menyakiti dirinya, ia tak masalah. Yang penting, titah dari sang kakak ia laksanakan dengan sepenuh hati tanpa kesalahan sedikitpun.


Itu karena pada tim Charles sebagian besar adalah petarung jarak dekat, alias tank atau warrior. Mereka membutuhkan support, dan Charles adalah orang yang tepat untuk melengkapinya.


Charles dapat menjadi seorang pembunuh dengan damage yang nggak ngotak. Ia dapat mengendalikan racun dan memanipulasi jiwa seseorang. Dan karena ia adalah seorang jenius, dirinya dapat membuat racun yang bisa menyembuhkan orang lain.


Walau ia adalah tipe support, jangan pernah meremehkannya. Charles dapat bertarung dengan tangan kosong karena latihannya bersama Casilda. Ia jenius, ingat?


Charles sama seperti Casilda, seorang support yang dapat menjadi tank atau warrior, atau bahkan mage. Jangan lupakan battle IQ-nya yang tak boleh diremehkan.


Selain itu, anggota tim Charles bisa dibilang.... Kurang kuat. Padahal, mereka membutuhkan orang yang dapat membantu melawan kelompok tikus. Karena lawan Charles kali ini bisa dibilang cukup kuat.


Untuk itu Casilda menempatkan Charles di tim itu, walau ia tak tega melihat aku wajah memelas sang adik saat dipisahkan darinya.


'Maaf, Charles....╥﹏╥' —Casilda.


'Gpp, kok. Aku gpp :)'—Charles.


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


"Eee..... Eden, kau..... Kenapa?" tanya Tuan Tertawa pada pemuda bersurai hitam yang berada di depannya.


Bagi orang lain, Eden mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi Tuan Tertawa yang sudah mengenal Eden cukup lama, pemuda itu tidak terlihat biasa saja.


Bagaimana tidak, aura Eden saja sampai keluar kemana-mana. Gimana nggak ngeri, coba?


"Hey, Eden. Kau ini memiliki inti kegelapan, jangan mengeluarkan auramu kayak gitu, nanti kita ketahuan" tegur Tuan Tertawa.


Mendengarnya, Eden pun menjadi lebih tenang, membuat Tuan Tertawa bernapas lega.


Karena ujian belum dilangsungkan, Tuan Tertawa pun duduk di samping Eden dan bersiap untuk mendengarkan ceritanya. "Katakan, kenapa kau bertingkah seperti ini?"


Eden diam, ia menunduk.


"Kau tak biasanya seperti ini, Eden. Padahal dari dulu kau selalu bersikap tenang dan profesional. Ada apa denganmu sekarang?"


Eden masih diam, membuat Tuan Tertawa berpikir. Kira-kira, apa yang membuat pemuda—yang merupakan jelmaan kutub—ini menjadi seperi seorang sadboy, ya?


'Tunggu, sadboy?!' Tuan Tertawa menengok ke arah Eden dengan gerakan patah-patah. Dari wajahnya, ia nampak shock. "Eden, jangan-jangan kau.... Memikirkan Casilda?"


Eden langsung menoleh dengan cepat. "Bagaimana kau tahu?!"


Tuan Tertawa berkeringat kecil. 'Te-ternyata benar...' batinnya masih shock.


"Sebenarnya... Aku menyukai Casilda."


"APAAA?!"


"Diamlah! Nanti kau malah membuat mereka tahu keberadaan kita, bodoh!" Eden menutup mulut Tuan Tertawa dengan kasar.


"Ini salahmu sendiri, bodoh!" ujar Tuan Tertawa dengan sedikit berteriak.


"Jangan lebay."


"Kau yang membuatku seperti ini, tahu!" Tuan Tertawa mencoba menetralkan emosinya. "Haahh.. Lagipula, kenapa kau malah mendadak menyukainya, sih?"


"Huh? Emangnya siapa yang mendadak menyukainya?" tanya Eden balik.


"Hah?"


"Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku sudah tertarik padanya, tuh" kata Eden.


Tuan Tertawa cengo, ia shock. Sejak kapan Eden yang sangat tertutup malah menceritakan hal ini pada orang lain?!


"Dari awal, aku sudah merasa kalau auranya sangat berbeda. Auranya seperti auraku, dan entah mengapa aura kami dapat menyatu satu sama lain. Ini adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya..."


Tuan Tertawa mengangguk mengerti. Memang benar, aura Eden tak pernah menyatu dengan siapapun, termasuk keluarganya sendiri. Ini adalah fenomena yang aneh.


"Lalu, aku memutuskan untuk memantaunya" imbuh Eden.


"Dan kau malah semakin tertarik padanya, begitu?" tebak Tuan Tertawa.


Eden kembali menoleh padanya. "Kok tahu?"


"Itu mudah ditebak, tahu."


"Ya, itu memang benar..." Eden menatap tanah yang ia pijaki. "Dan setelahnya, aku mencoba untuk mengujinya. Lalu, pada akhirnya, aku sadar kalau aku tertarik padanya."


Tuan Tertawa mengangguk kecil. Secara garis besar, ia paham dengan apa yang terjadi.


"Eden, apa kau menyukainya?"


"Ya."


"Apa kau mencintainya?"


"Ya."


"Apa kau akan melakukan segalanya demi dia?"


"Ya."


"Apa kau rela mati demi dirinya?"


"Ya."


"Apa kau merasa tak nyaman kalau berada jauh darinya?"


"Ya."


"Lalu...." Mata Tuan Tertawa memicing. "Apa kau ingin memperkenalkan dirinya pada ibumu?"


"Ya." Tanpa ragu Eden mengangguk pasti.


Tuan Tertawa kembali mengangguk. "Kurasa, aku tahu apa yang terjadi padamu..." ucapnya.


"Eh? Benarkah?"


"Ya." Tuan Tertawa kembali mengangguk. "Kau yang sangat menyayangi ibumu tentunya tak akan pernah memperkenalkan orang lain padanya, termasuk aku sendiri."


Eden mengangkat sebelah alisnya. "Lalu? Apa hubungannya?"


"Tentu saja ada!" Tuan Tertawa pun berdiri. "Aku, sebagai Pujangga Cinta akan memberitahukan padamu kalau....."


Glup..


"Ka-kalau?"


Tuan Tertawa menepuk-nepuk pundak Eden. "Kau telah menderita sindrom bucin, Eden."


"Ooh, gitu..." Eden mengangguk.


"...."


"Eh? Apa?"


.


.


.


.


.


"Hatsyii!!" Casilda bersin dengan hebatnya, padahal ia berada di dekat targetnya. Untung saja ia mengaktifkan [Anti Sensorik] beberapa saat yang lalu, sehingga tak ada yang mandengar suara bersinnya.


Sembari mengusap hidungnya yang gatal, ia bergumam, "Siapa yang bicarain aku, sih? Gabut banget, dah."


"Oh." Gadis itu menyadari sesuatu. "Eden sama Tukang Ketawa, ya? Ngapain mereka ngomongin aku?"


Dan kemudian, giliran Eden yang bersin di tempatnya.


'Aku... Bersin. Pasti Casilda memikirkanku saat ini!!... Aku terharu.... Aku sangat senang...' Berkat itu, suasana hati Eden membaik.


Tuan Tertawa yang memandangnya pun speechless.


'Kenapa orang bucin itu biasanya pada nggak ketulungan, sih?'


TBC.