![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
PAKK
"Waktu habis!!!" Sang butler menepukkan tangannya, membuat atensi seluruh peserta teralihkan padanya. "Kalian semua, baris sesuai kelompok masing-masing!"
Segera, mereka berbaris dengan rapi. Di kelompok Casilda, gadis itu berada di paling depan barisannya, disusul Charles yang berada di tengah dan Eden yang berada di paling belakang.
Omong-omong soal Eden, ternyata dia jauh lebih tinggi dari yang Casilda duga. Kurang lebih tingginya di atas 190 cm, membuatnya nampak seperti tiang di antara tongkat-tongkat kasti.
Rambut Eden yang bergelombang berwarna hitam legam bak langit malam. Matanya pun berwarna hitam, sama seperti rambutnya. Pakaiannya rapi dengan sebuah kain yang diikat di bagian perutnya.
Matanya tajam bak predator puncak, wajahnya tirus dan tampak cool. Isi pikirannya tak dapat ditebak oleh orang lain, kecuali Casilda yang memiliki insting yang sangat amat kuat.
'Aku baru sadar kalau Eden selalu ditatap oleh peserta wanita yang lain' batin Casilda sambil melirik ke arah seseorang yang sedang ia batin.
Charles melotot kaget. 'Ka-Kakak sedang memikirkan cowok itu?! A-apa Kakak menyukainya?! Ga ga ga!! Ini gak boleh dibiarin!! Aku harus membuat Kakak tak menyukai cowok itu!!' Kemudian, ia menatap Eden dengan aura permusuhan yang terpancar kuat.
'D-dia kenapa, sih? Serem amat. Apa jangan-jangan, dia tahu kalau aku tengah memantaunya?' tanya Eden di dalam hati.
"Sekarang, berundinglah dengan teman sekelompok kalian, mana kotak yang akan dipilih, lalu segera datangi kotak itu. Jangan dibuka dulu!" kata sang butler.
Casilda langsung menoleh ke arah Charles dan Eden. "Kita yang mana?"
"Aku ikut Kakak" balas Charles.
"Aku manut aja" balas Eden.
"..." Casilda menatap mereka dengan tatapan datar. "Oke, kalau gitu, kita ambil sisanya aja" titahnya.
Kemudian, ketiga orang itu pun mencari kotak yang tersisa di sana.
"Oh, itu di sana!" tunjuk Eden.
"Oke, gaskeun." Mereka pun menghampiri kotak itu.
"Semuanya sudah dapat kotak masing-masing, bukan? Sekarang, bukalah kotak pilihan kalian!"
Secara bersamaan, para peserta membuka kotak masing-masing. Di dalamnya terdapat 3 lembar kertas yang berisi teka-teki yang berbeda.
"Segera pecahkan teka-teki itu dan bawa ketiga barangnya, lalu kembali lagi ke sini. Kita bertemu 7 jam lagi." Setelah mengatakannya, butler itu pun menghilang di balik kegelapan.
Mereka bertiga membaca teka-teki pertama dengan teliti, mengabaikan peserta lainnya yang sudah berlari keluar dari mansion tua itu.
Di bawah teriknya sinar matahari yang menyengat, aku berlindung dibalik tanah dan diselimuti oleh kegelapan.
Tak kuasa menahan tangis, aku diam menunduk, melindungi muara tangisku yang tak akan pernah surut.
"Wih, yang buat teka-teki puitis juga, ya" komentar Casilda blak-blakan.
"Ini bukan saatnya memikirkan itu, Casilda.." Eden sweatdrop.
"Ya biarin, lah! Suka-suka Kakak! Emangnya kau siapa? Kau ini cuma orang asing, nggak usah negur-negur Kakak, deh!" protes Charles dengan sinis.
Eden tersentak. 'Loh? Kok malah aku, sih?' Sepertinya, ia masih kaget dengan sifat absurd kedua bersaudara ini.
"Berlindung di balik tanah... Diselimuti kegelapan.." gumam Casilda. "Apa yang dimaksud?"
"Diselimuti kegelapan... Apa jangan-jangan lokasinya berada di bawah pohon?" tebak Eden.
"Bodoh! Itu ada di atas tanah, tahu!" cibir Charles.
"Hey! Umurmu 14 tahun, kan? Aku lebih tua darimu, bodoh!" sewot Eden yang entah mengapa malah menanggapi cibiran Charles.
"Memangnya kenapa? Kau cuma NPC di sini! Jangan ganggu aku dan Kakak!" balas Charles tak kalah sewot.
"Bocah macam kau ini memang perlu diajari sopan santun, ya!💢💢"
"Terserah apa katamu, Cowok Sok Tua!"
"Apa kau bilang?!💢💢"
"Apa? Kau tuli, huh?" sarkas Charles yang langsung menusuk hati Eden.
"Da.. Dasar brengshake💢💢.. MAJU KAU KALAU BERANI!!"
"OKE, SIAPA TAKUT!!"
Kali ini, giliran Casilda yang sweatdrop. Charles memang tempramental dan suka menyindir, tapi seharusnya tak sampai seperti ini.
Apalagi Eden. Padahal Casilda yakin 100% dengan instingnya yang mengatakan bahwa pemuda itu memiliki sifat tenang. Tapi, kenapa dia malah OOC—Out Of Character?!
'Kayaknya, kali ini cuma aku doang yang waras, deh. Tumben banget' batinnya dengan tertekan.
Memilih untuk mengabaikan kedua orang yang masih bertengkar, Casilda kembali membaca teka-teki itu.
Berlindung di balik tanah... Diselimuti kegelapan... Menahan tangis... Dan muara tangis. Apa arti semuanya?
'Yang bikin teka-teki terlalu puitis, nggak seru, ih' dengus gadis itu di dalam hati. 'Tapi, aku yakin, "muara tangis" yang dimaksud di sini adalah barang yang harus kami bawa.'
Casilda mengambil jam sakunya. Ternyata, waktu sudah berlalu 10 menit, kurang 6 jam 50 menit lagi untuk dapat menyelesaikan tahap kedua ini.
'Kalau kami memiliki waktu 7 jam, seharusnya kami dapat menyelesaikan teka-teki ini maksimal dalam waktu 2 jam 20 menit. Dan sekarang sudah berlalu 10 menit, kurang 2 jam 10 menit lagi untuk menyelesaikan teka-teki pertama.'
"Charles, Eden, ayo kita—" Ucapan Casilda terhenti kala melihat kedua orang yang sedang ia panggil sedang saling menjambak rambut satu sama lain dengan luka di wajah mereka. Jangan lupakan pakaian mereka yang sudah kotor.
"—Mencari barang itu sekarang" imbuh Casilda dengan wajah yang menggelap. Aura mengerikannya—bak seekor predator puncak di atas predator puncak—seketika keluar.
"K-Kakak..." Charles terpaku dengan wajah pucat, begitu pula Eden.
"Ka-kami bisa jelaskan.." ucap mereka berdua bersamaan.
"Tak ada yang perlu dijelaskan LAGI!!"
BUAGHH BAGHH BAKK BRAKK
"Ma-maafkan kami...." lirih kedua orang itu.
"Hmph!" Casilda memalingkan wajahnya ke arah lain, ia ngambek.
Sementara itu, sang butler yang tengah menyaksikan kejadian menggelikan lagi memilukan itu menepuk keningnya dengan pasrah.
"Hadehh.. Padahal mereka memiliki kekuatan yang sangat hebat dan sangat pas jika ditempatkan dalam satu tim yang sama. Tapi sayangnya, mereka masih memerlukan waktu untuk saling memahami satu sama lain, ya..." gumamnya.
"Tapi, tak masalah. Mereka adalah ketiga orang yang akan aku rekomendasikan sebagai Knight di masa depan." Butler itu tersenyum. Ia lalu menoleh ke arah Casilda yang kini sedang menyeret kedua orang lainnya keluar dari bangunan.
"Kau merekomendasikan Nona Rambut Biru itu, kan, Andros si Nahkoda Perkasa?"
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Kakaaaakk... Ampuni aku, Kakak...." rengek Charles sambil menangis bombay. Sangat OOC. "Ampuni aku, Kakak... Aku aja, jangan orang ini juga..." tunjuknya ke arah Eden.
"Hey! Apa maksudmu, ha?!" Eden yang sebelumnya juga menangis bombay pun tak terima.
"DIAM!! JANGAN BERISIK!!"
Kedua pemuda berbeda umur itu pun langsung terdiam. Mereka pasrah membiarkan kerah baju bagian belakang mereka digeret oleh Casilda, entah kemana.
Gadis bersurai safir itu terus menyeret mereka, tak peduli dengan auranya yang bahkan sudah menakut-nakuti para penunggu hutan di pulau itu.
"Ka-Kakak? Ki-kita akan kemana?" tanya Charles dengan takut-takut, khawatir jika Casilda akan mengamuk lagi.
"Dah, diem aja" titah Casilda, membuat Charles diam seketika.
'K-Kakak kalau marah nyeremin banget... Ini pertama kalinya Kakak marah padaku... Ini semua gara-gara si Edan Syaland itu!!'
'Ca-Casilda kalau marah serem, euy. Dan juga, namaku Eden, bukan Edan, bodoh! Kau mau kubunuh?!' Entah bagaimana caranya, Eden dapat mengetahui isi hati Charles.
'Ayo! Aku gak takut! Gara-gara kau, Kakak jadi marah padaku!! Sini kau, kalau berani!!'
'Oke, ayo maju! Aku tak mungkin mundur dari bocah ingusan seperti kau!!'
"DAH DIBILANGIN DIEM YA DIEM! JANGAN GELUT TERUS BISA NGGAK?!" sentak Casilda dengan kesal.
Mereka berdua pun kembali terdiam dengan keringat bercucuran dengan derasnya.
'Udah, deh. Aku kapok....' batin kedua pemuda itu secara bersamaan.
Sementara itu, Casilda yang sedang menyeret mereka masih memikirkan jawaban teka-teki tadi. 'Apa yang dimaksud, sih? Aku nggak paham gara-gara diganggu dua orang ini. Ck, mana waktunya udah berkurang banyak, lagi.'
'Berlindung di balik tanah, diselimuti kegelapan, menahan tangis... Dan muara tangis.... Bentar bentar, aku kayak pernah liat—OOH! AKU TAHU!!"
Segera, Casilda berlari sembari menyeret kedua orang tadi, membuat kaki kedua pemuda itu terbentur tanah berkali-kali.
'Kakaaaakkk.. Udah, doooong... Huweeee...'
'Kenapa tenaganya mirip gorilaaa?? Ini sakiiitt!!'
Mari kita doakan, semoga mereka berdua baik-baik saja sampai tujuan.
TBC.