![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
Tap... Tap .. Tap...
Langkah kaki mereka terdengar bersahut-sahutan di lorong yang cukup gelap itu. Mereka memasuki sebuah goa yang berada tak jauh dari mansion.
Mereka berempat saling diam, tak bersuara sama sekali. Masing-masing fokus dengan pemikirannya.
"Kita sudah sampai" kata Sang Butler ketika mereka berada di sebuah jalan yang buntu.
Charles mendecikkan lidahnya. "Tak ada apapun di sini, dasar" gumamnya yang dapat didengar oleh Casilda.
"Ada, kok, Charles. Di depan kita ada sesuatu" bisik Casilda dengan pandangan yang tertuju pada jalan buntu itu.
Tiba-tiba jalan buntu itu membuka dengan sendirinya, bagaikan sebuah pintu yang dibuka. Asap keluar dari dalam jalan buntu itu.
Saat jalan buntu itu terbuka seutuhnya, mereka dapat melihat sebuah batu kristal yang cukup besar pada tengah ruangan. Batu itu memancarkan cahaya warna warni mirip galaksi yang indah.
"Woaahh..." Mereka bertiga—Casilda, Eden, dan Charles—tak bisa menahan kekaguman itu, karena batu kristal itu benar-benar indah untuk dipandang.
"Nah, silahkan masuk" kata Sang Butler.
Masuklah mereka ke dalamnya. Semakin mereka mendekat, semakin mereka sadar bahwa ada sebuah altar khusus di bawah batu kristal yang melayang itu. Altar itu tertulis beberapa huruf kuno yang rumit.
Casilda yang dapat membaca huruf itu pun langsung membatin, 'Huruf-huruf ini kan....'
Charles sadar. "Ada apa, Kakak?"
"Ah, nggak. Aku cuma menyadari sesuatu dari huruf-huruf ini" balas Casilda apa adanya.
"Oh ya? Kau bisa membaca huruf kuno?" tanya Eden dan dibalas anggukan oleh Casilda. "Woaah! Keren!" kagumnya. 'Ibu pasti akan semakin merestui kami!'
"Memangnya, apa isinya, Kakak?"
"Ini adalah huruf-huruf yang membentuk rune kuno, berupa sihir perjanjian khusus. Aku tak tahu perjanjian apa yang tertulis di sana, namun kurasa akan membutuhkan tetesan darah dari orang yang akan melakukan perjanjian" jelas Casilda sembari menaruh tangannya pada dagunya.
Sang Butler yang mendengarnya dari jalan buntu yang terbuka pun tersenyum simpul. "Baiklah, sudah saatnya aku untuk pergi. Kalian akan dipandu oleh batu kristal itu" katanya.
Mereka bertiga pun menoleh. "Eh sudah pergi? Kenapa?" tanya Casilda.
"Karena ada sebuah peraturan dimana panitia pengawas tak boleh berada dalam ruang pengujian demi menjaga keamanan anggota Knight yang baru" balas butler itu.
"Oohh..." angguk Casilda. "Anu, terima kasih sudah membimbing kami selama ini."
Butler itu kembali tersenyum. "Sama-sama" balasnya. "Dan jangan pernah melupakan bahwa kalian harus menjaga rahasia, ya."
"Eh? Rahasia?"
"Rahasia ap—"
Tanpa membalas pertanyaan yang dilontarkan padanya, butler itu pun menghilang dari sana. Kemudian, jalan buntu yang semula terbuka pun mulai menutup, menyisakan mereka bertiga dan sebuah batu kristal yang melayang di ruangan itu.
"Selamat, kalian adalah orang pertama yang menemuiku di sini" kata batu kristal itu.
Mereka bertiga terkejut karena kristal itu ternyata dapat berbicara.
'Jadi, ini yang dimaksud kalau batu kristal ini yang akan membimbing kami..' batin Eden paham.
"Sebelumnya, kalian harus memahami jika ingin menjadi Knight, kalian harus melewati pengujian" kata batu kristal itu lagi.
"Pengujian seperti apa yang harus kami jalani?" tanya Casilda.
"Hanya sesuatu yang mudah. Kalian hanya perlu meneteskan setetes darah pada altar yang berada di bawahku. Di situlah identitas kalian akan terdaftar di Pasukan Knight."
Mata Casilda dan Charles membola seketika. Apakah itu artinya identitas mereka akan terkuak?
"Tapi tenang saja, yang akan mengetahui identitas kalian hanyalah aku dan rekan satu tim kalian saja."
Perkataan batu kristal itu membuat Casilda dan Charles menghela napas lega. Setidaknya, mereka masih memiliki kesempatan untuk membalas dendam, karena identitas mereka belum terkuak.
"Namun, kalian harus ingat bahwa ini adalah perjanjian yang sangat sakral. Karena, jika kalian melanggar perjanjiannya, maka jiwa kalian akan hancur dan tak akan pernah terlahir kembali."
Mereka bertiga saling berpandangan lalu mengangguk secara bersamaan. "Apa syarat yang harus kami lakukan?"
"Itu mudah. Pertama, kalian harus menutup mulut mengenai apa yang terjadi di dalam ruangan ini. Kedua, kalian harus menjaga identitas rekan satu tim kalian. Ketiga, kalian harus dapat menerima identitas rekan satu tim kalian. Apa kalian bersedia?"
"Aku bersedia" balas Casilda.
"Kalau Kakak bersedia, aku juga" imbuh Charles.
"Aku juga" kata Eden.
"Wah, kalian kompak, ya! Bagus, sekarang, ikuti perintahku. Teteskan darah kalian pada altar di bawahku. Jangan banyak-banyak, satu tetes saja. Dan jangan sampai darah kalian tercampur, ya!"
Casilda menggigit jempolnya hingga berdarah. Charles menyayat telunjuknya dengan jarumnya yang tak diolesi racun. Eden menyayat telapak tangannya dengan pedangnya. Mereka kemudian meneteskan setetes darah masing-masing di titik yang berbeda.
Sring... PYAAATTSSS
Sebuah cahaya yang berasal dari altar itu menerpa mereka. Percikan-percikan cahaya berterbangan di udara. Cahaya itu bersinar selama beberapa detik, lalu kemudian meredup.
"Baiklah, aku sudah mengetahui jati diri kalian masing-masing. Selamat bergabung di Knight, Casilda Sapphire, Charles Tourmaline, dan Eden Onyx."
Ketiga orang itu tersentak dan saling memandang dengan kaget.
"Kau berasal dari Klan Onyx?!" tanya Casilda dan Charles bersamaan.
"Kalian dari Klan Sapphire dan Tourmaline?!" pekik Eden.
"..." Mereka bertiga pun terdiam. "....Tak kusangka..." ucap mereka secara bersamaan.
"Pantas saja Kakak merasa yakin kalau kau tak akan membeberkan identitas kami, ternyata karena kau juga memiliki identitas tersemunyi rupanya" dengus Charles. "Kalau begini, pertanyaanku mengenai kekuatanmu selama ini telah terungkap."
Casilda mengangguk. "Sayangnya itu benar. Dan tak kusangka kau berasal dari Klan Onyx yang menutup diri dari dunia luar" balasnya. "Ternyata dunia ini penuh dengan plot twist."
Pemuda bersurai hitam legam itu menepuk keningnya sendiri. "Pantas saja aura kalian mirip dengan anggota Keluarga Utama, ternyata memang benar. Bahkan aku sempat curiga pada kalian. Maafkan aku...." Ia menyesal di akhir kalimat.
"Gpp, aku kan strong" balas Casilda sama sekali tak terbebani.
"Justru aku yang curiga padamu" ketus Charles. "Darimana kau tahu kalau Tourmaline adalah anggota Keluarga Utama? Orang-orang generasi sekarang mana tahu tentang klan itu."
'Gaya bicaramu seolah-olah kau sudah sangat tua, Charles..' komentar Casilda di dalam hati.
"Tentu saja aku tahu, karena ini tertulis di dalam perpustakaan milik Klan Onyx" balas Eden.
"Ah, ya. Benar juga, dulu kan Onyx dan Sapphire bersahabat. Lalu Tourmaline dan Sapphire juga bersahabat. Wajar saja kalau Onyx mengetahui tentang Tourmaline, karena Onyx menganut prinsip 'Orang terdekat dari teman kami adalah orang terdekat kami juga'. Pasti Onyx menganggap Tourmaline adalah teman mereka, sama seperti Sapphire" jelas Casilda.
"Ya, itu benar" angguk Eden. 'Casilda sangat pintar, ia bahkan tahu tentang keluargaku.. Hehe.. Pasti Ayah dan Ibu akan setuju... Hehe..'
Charles melayangkan aura permusuhan pada Eden. 'Aku tahu apa yang kau pikirkan, bodoh! Awas saja kau!'
"Yah, karena kita sudah mengetahui identitas masing-masing dan telah menjadi rekan satu tim, mohon bantuannya, ya, Eden." Casilda mengulurkan tangannya guna berjabat dengan pemuda bermanik hitam itu.
"Ya, aku juga." Eden membalas uluran tangan Casilda. 'Walau aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar rekan satu tim...'
Kemudian, Eden mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Charles.
'Apa lo?! Kagak usah sok asik, deh! Sana pergi! Lo kotor!' sinis Charles di dalam hati.
Eden speechless. Sepertinya akan sulit baginya untuk mendapatkan kepercayaan penuh dari Charles.
"Apa kalian sudah selesai berbincang?" tanya batu kristal itu yang merasa diabaikan.
"Ah, iya. Maaf" balas Casilda.
"Kalau begitu, ambillah." Sebuah cahaya muncul dan membentuk tiga buah kertas yang masing-masing berada di hadapan mereka bertiga. "Itu adalah rincian identitas kalian. Dijaga baik-baik, jangan sampai hilang."
Casilda mengambil kertas yang berada di hadapannya. Kertas itu memiliki lambang batu kristal dan mengandung aura khusus. 'Kayaknya lambang dan aura ini berfungsi agar rincian identitasku tak bisa dipalsukan' batin gadis itu.
Nama: Casilda Sapphire
Ras: Mermaid (Punah)
Kemampuan Khusus Ras: Bernafas di dalam air, mengendalikan air, penyembuhan.
Nama Ibu: Iris Sapphire (Meninggal)
Nama Ayah: Samuel Emerald (Adopsi Ilegal)
Nama Paman: Aiono Sapphire (Adik pihak ibu) (Meninggal)
Nama Saudara:
-Charles Tourmaline (Adik angkat)
-Orion Sapphire (Adik sepupu)
-Misha Emerald (Ilegal)
Kekuatan: [Atom]
Elemen: Air
Skill Khusus:
-Kemampuan berpedang (S+)
-Penyerapan partikel (SS+)
-Insting super (Unknown)
-Tipe sensorik (Unknown)
-Tenaga super (S+)
-Pembuatan pil (SS+)
Rank: SS+ (Sangat berbahaya)
Casilda yang melihatnya terkagum-kagum sendiri. Ternyata, ia kuat juga, ya. Diliriknya kedua pemuda yang berada di sampingnya. Mereka pasti tak kalah kuat darinya.
Kemudian, matanya tertuju pada sebuah informasi. 'Paman dari pihak Ibu? Itu berarti, aku punya keluarga lainnya? Dan juga... Aku punya adik lain!! Yeaayy!!' sorak Casilda di dalam hati. 'Tapi sayangnya mereka telah pergi... Hiks..'
"Untuk itu, tenang saja, Casilda Sapphire."
"Eh?" Gadis bersurai biru safir itu menoleh pada batu kristal yang tengah berbicara padanya.
"Keluargamu memang sudah tiada, namun jiwa mereka masih berada di dunia ini, menunggu kedatanganmu."
"Be-benarkah itu?!"
"Ya, itu benar. Kau akan dapat merasakannya."
Casilda menyunggingkan senyum lebar. Ia masih memiliki harapan. "Baik! Terima kasih! Akan aku cari mereka walau membutuhkan waktu yang lama!"
"Keputusan yang bagus."
TBC.