The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Perpisahan



Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka pun tiba di Pelabuhan Utama. Sesuai namanya, di sana terdapat sangat banyak kapal, baik kapal kargo biasa maupun kapal pesiar.


'Aku baru tahu kalau ada kapal pesiar di sini...' batinnya dengan pandangan lurus tertuju pada kapal yang besar nan megah itu. 'Apa jangan-jangan aku yang terlalu nolep?'


Charles mengikuti arah pandang sang kakak. Kapal itu mewah dan terkesan mahal. Bagian luarnya kokoh bagaikan dinding yang tak dapat dirobohkan.


Pemuda bersurai hijau pucat itu terdiam sesaat. 'Jangan-jangan... Kakak ingin memiliki kapal seperti itu?' batinnya penasaran.


Tak hanya Charles saja, Eden pun juga mengikuti arah pandang Casilda. 'Apa dia menginginkan kapal seperti itu? Aku bisa membelinya, dia mau berapa, ya?'


Untuk bertanya lebih lanjut, pemuda bersurai hitam legam itu menghampiri gadis pujaan hatinya. "Kamu mau berapa?" tanyanya dengan lembut.


"Hah? Apanya?" beo Casilda tak paham dan tak peka.


"Hey, lihat!" tunjuk Hector. "Ada banyak stan makanan!"


Casilda langsung menoleh dengan cepat. "Semuanya punyakuuuu!!!" Bagaikan kilatan petir yang menyambar, ia melaju dengan sangat cepat ke stan-stan makanan itu dan membeli semuanya.


"....." Kelima orang lainnya terdiam membatu, termasuk Charles sekalipun.


"Apa liat-liat? Mau? Ambil aja" sodor Casilda pada mereka. Gadis itu menawarkan sebuah makanan berbentuk bulat yang nampak menggiurkan. "Btw, ini enak, lho."


Karena penasaran dengan rasanya, Hector pun mencicipinya. "Eh! Enak!" pujinya.


"Kan? Omonganku itu selalu benar!" Casilda menyombongkan dirinya.


"Casilda jadi kritikus makanan cocok kali, ya?" gumam Lenoir.


"Hmm, boleh juga" angguk gadis bersurai safir itu.


"Eh?! Kau dengar?!"


"Yap." Casilda kembali mengangguk. "Btw, mau?" Ia kembali menyodorkan makanan pada mereka, kali ini dengan jenis yang berbeda dari sebelumnya.


"Y-yang tadi mana?" tanya Gale dengan gugup.


"Ah, dah aku habisin" balas Casilda sambil menggaruk bagian belakang kepalanya dengan gugup juga. 'Dia imoed bangettt!!!!' pekiknya di dalam hati.


Lenoir melirik Eden dari sudut matanya. 'Hey, Eden, dia doyan makan?' tanyanya membicarakan Casilda.


Eden hanya membalas dengan anggukan saja, tentu saja dengan wajah datar. 'Dia imut. Banget.'


'Cih, bucin' decih Lenoir di dalam hati. Karena ia sudah lama berteman dengan Eden, dirinya paham betul apa yang tengah dipikirkan oleh temannya ini. 'Haaahh.. Kapan aku bisa kayak gini?....' batinnya dengan frustasi.


"Omong-omong, kenapa kalian nggak pergi? Nyem nyem... Bukannya kalian ada acara, ya? Nyem..." tanya Casilda sambil mengunyah makanannya.


"Kau mengusir kami?" tanya Hector dengan kesal.


"Hmph, bodoh" sinis Charles pada pemuda bersurai merah itu.


"Apa kau bilang HA?!💢💢" Hector menarik kerah baju yang Charles gunakan.


"Aku bilang, kau bodoh. Apa kau tak dengar, hmph? Bodoh~" balas Charles sama sekali tak takut.


Karena tersulut emosi, Hector pun bertengkar dengan Charles. Mereka saling menjambak rambut satu sama lain sambil mengeluarkan umpatan-umpatan kasar.


"Ah, kau benar, Casilda. Sudah saatnya kita berpisah di sini." Lenoir merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik." Setelah mengatakannya, ia pun pergi dari sana.


Casilda memandang kepergian Lenoir itu. 'Sejak kapan dia bawa buku?' pikirnya.


Namun sayangnya Eden salah paham dengan semua itu. Ia mengira Casilda memandang Lenoir karena gadis itu tertarik pada pemuda bersurai abu-abu gelap itu.


Urat-urat kekesalan tercetak jelas di wajahnya, alisnya menukik tajam. Matanya yang berwarna hitam mendadak berubah menjadi berwarna emas menyala. Ia seperti seekor predator yang tengah menahan gejolak amukannya.


Namun, sedetik kemudian wajah kesalnya itu diganti dengan seringaian miring. Dengan mata yang masih berwarna keemasan, ia melihat Casilda sembari menyeringai.


Gadis yang ditatap sama sekali tak menyadarinya. Ia sibuk melihat-lihat stan makanan yang belum dikunjunginya. 'Aku mau makan lagi....' batinnya sambil meneguk ludah kasar.


Gale menyadari raut wajah Eden yang berubah sangat drastis. Pemuda bersurai kuning itu menatap takut ke arah Eden. 'Ada apa dengannya?' batin Gale penasaran.


"A-anu..." Gale berucap, membuat Casilda dan Eden menoleh ke arahnya. "A-aku juga akan pergi. K-kalian berhati-hatilah" katanya dengan gugup karena tatapan Eden yang begitu buas.


"Oke" angguk Casilda singkat.


"Kau juga akan pergi, Gale?" tanya Hector sambil mengusap bagian bawah bibirnya yang sedikit berdarah karena pertengkarannya dengan Charles. "Aku ikut" imbuhnya.


Charles yang juga lecet berdecih. "Ck, bilang saja kau ingin lari dari pertengkaran kita, kan? Dih, pecundang lemah" sindirnya.


Mata Hector berkedut kesal. Niat hati ingin kembali memukul Charles, namun Gale malah menarik bagian belakang kerah bajunya untuk menghindari pertengkaran mereka.


"HEY!! LEPASKAN AKU, GALE! AKU INGIN MEMUKUL WAJAH SOMBONGNYA ITU!! OY!!" Hector meronta-ronta ingin dilepaskan. Gale bukan hanya menarik bagian belakang kerah bajunya, namun juga menyeretnya. Namun apa daya, ia tak mampu bersaing dengan kekuatan Gale.


"Ck, awas kau, Charles! Kalau kita bertemu lagi, aku akan membunuhmu!!" desis Hector.


"Heh." Charles memasang wajah meremehkan yang sialnya membuatnya semakin tampan. "Coba aja kalau bisa" tantangnya dengan mengangkat jari tengahnya.


"BANG*AT!! BAJI***N!! BANG*E! AS*!!" Dan masih banyak lagi umpatan-umpatan yang Hector layangkan pada Charles.


Gale yang tertekan tak bisa menahan rasa malunya saat mereka berdua menjadi pusat perhatian. "He-Hector.. Di-diamlah.. Ki-kita jadi pusat perhatian karenamu.." lirih Gale yang tak didengar oleh pemuda bersurai merah itu.


"Hahaha! Pergi aja, syaland!" Charles memberikan seruan perpisahan pada mereka. Jangan lupakan jari tengahnya yang ia angkat tinggi-tinggi agar Hector kembali tersulut emosi.


"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Casilda pada Eden yang entah mengapa sedang menatapnya.


Eden tersenyum kecil. "Aku akan ikut berburu makanan denganmu sebelum kembali ke kediamanku" balasnya.


Pemuda bersurai hitam itu terkikik geli. "Tentu saja."


Charles memandang mereka berdua dengan kesal. Ia kemudian menarik lengan Casilda agar lebih dekat dengannya. "Jangan dekati kakakku, brengshake!" desisnya pada Eden.


Sang Pewaris Onyx itu hanya tersenyum simpul sembari memandang Charles dengan matanya yang berkilat keemasan.


Casilda mungkin tak menyadari perubahan warna pada mata Eden, namun Charles menyadarinya. '


Ma-mata itu....' Charles semakin waspada pada Eden. 'Dia.. Jauh lebih kuat dari yang aku duga. Apa dia menyembunyikan kekuatannya dari kami?'


"Huh? Kalian kenapa? Kok diem?" tanya Casilda yang sama sekali tak peka.


Eden menatap Casilda dengan senyum yang masih tertengger di wajahnya. "Nggak papa, kok. Benar, kan, Charles?" Saat dirinya bertanya pada Charles, matanya kembali berkilat keemasan.


"....." Charles terdiam dengan waspada. "Kakak mau kami belikan makanan?" tawarnya.


"Eh? Boleh, nih?" Casilda bertanya dengan antusias.


Charles mengangguk dengan senyum lembut. "Tentu saja, akan kami belikan. Benar, kan, Eden?" Ia melayangkan tatapan tajam pada Sang Pewaris Onyx itu.


Eden paham bahwa Charles ingin berbicara berdua dengannya, jadi ia mengangguk pelan. "Ya" balasnya. Ia kemudian menoleh ke arah Casilda dengan senyum lembutnya. "Kamu tunggu aja di sini, oke?"


Casilda mengangkat jempolnya. "Oke."


"Ah, sebelum itu..." Eden merogoh sakunya. "Apa aku boleh titip sesuatu padamu? Aku takut kalau akan dicuri orang lain saat kami membeli makanan. Instingku tak sehebat dirimu, Casilda."


"Boleh aja, mana barangnya? Biar aku masukin ke saku."


Eden menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan ukiran aneh berwarna emas.


"Kayaknya ini mahal, deh" gumam Casilda. "Tenang aja, nggak bakal aku curi, deh."


Eden terkekeh pelan. "Kamu curi juga nggak papa, kok. Itu barang murah" ucapnya.


Casilda mematung seketika. Ini?! Barang murah?! Mustahil! Bahkan instingnya saja berkata bahwa ini adalah barang yang sangat berharga, loh! Mana mungkin ini barang murah!


"Hoy, Eden! Cepatlah! Jangan dekati kakakku terus!" kesal Charles sembari mendesis.


"Ah, adikmu sudah memanggilku. Aku duluan, ya." Eden pun menghampiri Charles yang sudah menunggu dengan kesal.


Casilda melihat ke arah mereka, lalu menelisik sekelilingnya. Pelabuhan ini lebih ramai dari sebelumnya.


"Nona" panggil seseorang dari arah kapal.


Casilda menoleh. "Ah, Anda adalah nahkoda yang dulu, kan?" Ia mengenali orang yang berbicara dengannya.


Nahkoda Tua terkekeh. "Ternyata Nona masih mengenaliku yang sudah tua ini.. Nahkoda Tua ini benar-benar senang.." ucapnya.


"Apa kabar, Pak?"


"Hoho... Aku baik.." balas Nahkoda Tua itu. "Omong-omong, dimana adikmu?"


"Ah, Charles sedang membeli makanan untukku. Nanti dia dan seorang teman kami akan kembali lagi ke sini" jawab Casilda.


Nahkoda Tua tersenyum. Tubuhnya yang gemuk dan lebih pendek dari Casilda berdiri di hadapan gadis itu. "Nona sudah diterima menjadi Knight, kan? Biar kutebak, Nona berada di Knight Pengelana, kan?"


Casilda melongo. "Darimana Bapak tahu?"


"Ohoho.. Tentu saja Nahkoda Tua ini tahu. Hal itu terlihat jelas dari wajahmu, Nona."


"Wajahku?"


"Benar, wajahmu menunjukan bahwa dirimu tak suka dikekang dan menyukai petualangan. Wajar saja kalau Nona memilih Knight Pengelana."


Casilda menggaruk bagian belakang lehernya. "Be-begitu, kah?.."


"Ya, itu benar." Nahkoda Tua mengangguk. "Tapi, Nona harus berhati-hati, karena menjadi Knight Pengelana benar-benar pekerjaan yang mempertaruhkan nyawa melebihi apapun. Jika Nona tertangkap pihak musuh, maka hukuman yang diterima adalah kematian. Itupun yang paling ringan."


Casilda mengangguk pasti. "Saya sudah tahu resikonya, Pak. Dan saya yakin akan kemampuan saya. Karena jika saya tidak memilih menjadi Knight Pengelana, maka ambisi saya tidak akan pernah tercapai" balasnya.


"Apa ambisimu itu adalah untuk menjadi lebih kuat?"


"Ya."


"..Begitu.. Aku mengerti. Memang benar, menjadi Knight Pengelana dapat meningkatkan kemampuan seseorang secara drastis, namun dengan resiko yang sangat besar. Apa Nona benar-benar yakin?" tanya Nahkoda Tua sekali lagi.


Casilda menangguk dengan mantap. "Tentu saja. Karena hanya ini yang dapat saya lakukan untuk keluarga saya."


Nahkoda Tua menatap lurus ke arah mata Casilda. Tak ada keraguan sama sekali. Yang ada di matanya hanyalah tekad yang kuat dan sebuah kebencian yang kentara.


"....Sepertinya, Nona ingin balas dendam, ya?"


Casilda diam, tak menjawab.


Nahkoda Tua menghela napas kecil. "Kalau itu yang Nona pikirkan, Nahkoda Tua ini tak memiliki hak untuk mencegahnya. Nahkoda Tua ini hanya dapat berdoa agar Nona dapat menyelesaikan ambisi itu."


Casilda tersenyum simpul. "Terima kasih."


Nahkoda Tua tertegun melihat senyum Casilda. Senyum itu... Mengingatkannya pada seorang malaikat dari laut yang telah menyelamatkannya saat ia masih kecil.


'Dia benar-benar anak dari malaikat itu...'


TBC.