The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Tahap 1²



Krieeeetttt


Pintu bangunan itu terbuka dengan suara yang memekikkan telinga. Bagian dalam bangunan itu sangat gelap, tak terlihat apapun.


Paattss


Seketika lentera-lentera yang terpasang di dinding bagian dalam bangunan itu menyala secara bersamaan. Dinding yang kokoh nan tinggi menjulang berada di sekeliling mereka.


Bagian dalam bangunan itu berupa sebuah ruangan yang sangat besar. Tak dapat dibayangkan bagaimana megahnya bangunan ini di masa jayanya dulu.


Banyak pasang mata langsung melirik ke arah datangnya Casilda dan yang lainnya. Ternyata, ada banyak peserta yang sudah menunggu di bangunan itu sebelum mereka.


'A-aura macam apa ini?! Ke-kenapa begitu pekat?!' tanya seorang peserta wanita dari rombongan Casilda yang berhasil selamat.


'Aura mereka begitu berbahaya. Hawa keberadaan yang sangat kentara. Orang-orang ini benar-benar tak boleh diremehkan' batin peserta rombongan Casilda yang lain.


'Jadi, hawa keberadaan yang aku rasakan itu dari mereka? Jumlahnya banyak juga' batin Charles dengan wajah datarnya.


"Baik, karena seluruh peserta dari 4 daerah sudah berkumpul, mari kita mulai tahap pertama ujian ini" kata sang butler saat Casilda dan yang lainnya mulai memasuki bangunan.


"Akan saya beritahu peraturan pada babak pertama ini. Yang pertama, para peserta dilarang saling membunuh dan dilarang melukai peserta lain. Yang kedua, peserta harus dapat bertahan dari rintangan yang harus dilalui."


"Ketiga, peserta yang pingsan atau bahkan terbunuh karena rintangan akan didiskualifikasi. Keempat, peserta yang berhasil bertahan sampai dimulainya tahap kedua akan dinyatakan lolos tahap pertama."


"Dan satu hal lagi" imbuh sang butler sambil mengangkat jari telunjuknya. "Ini adalah ujian ketahanan tubuh dan ujian memperkuat insting."


"Apa ada yang ditanyakan?"


Hening melanda tempat itu, tak ada yang menjawab sama sekali.


"Tak ada? Kalau begitu... Mari kita mulai!"


CTAKK


Butler itu menjentikkan jarinya. "Semoga kalian dapat bertahan."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...BRUKK...


Bahkan ujian tahap pertama baru saja dimulai, namun sudah banyak peserta yang pingsan. Sehingga, jumlah peserta yang masih sadar berkurang.


'Ujian menggunakan [Teleportasi], ya? Wajar aja kalau ini adalah ujian ketahanan. Soalnya, kalau nggak pernah atau tak memiliki ketahanan fisik yang bagus, mereka tak akan bertahan karena perbedaan tekanan' batin Casilda menelisik sekeliling.


'Yang masih bisa bertahan banyak juga, ya. Sebagian besar dari mereka yang masih bisa bertahan adalah anak-anak bangsawan. Hmm, wajar aja kalau mereka dapat bertahan, bangsawan kan kalau pergi kemana-mana selalu pakai [Teleport].' Casilda mendengus kecil.


"Tak disangka, ya" komentar Charles sambil bersedekap dada. "Padahal kukira kita akan diberi serangan dadakan, tapi ternyata kita di-[Teleportasi]-kan. Caranya unik juga."


Pemuda itu pun mengasak poni bagian depannya dan diangkat ke atas, membuat jidatnya terlihat. "Ujian kali ini kayaknya akan menyenangkan" ucapnya sambil tersenyum.


Casilda menatap datar ke arah sang adik. "Charles, padahal udah bagus ada banyak peserta perempuan yang berhasil lolos di tahap ini, tapi kau malah membuat mereka pingsan. Ck ck ck..."


"Huh? Apa maksud Kakak?" bingung pemuda itu.


"Lihat!" Casilda menunjuk ke arah peserta-peserta perempuan yang jatuh pingsan dengan darah yang mengalir dari hidung mereka. "Mereka jadi korban ketampananmu, Charles! Jangan tebar pesona, atuh!"


"Ha? Apa maksud Kakak? Aku tak pernah—"


CTAKK


SYATT


Untuk kedua kalinya, mereka di-[Teleportasi]-kan ke tempat yang berbeda secara mendadak. Kali inu, semakin banyak peserta yang pingsan karena tak kuat lagi.


"Lah? [Teleportasi]-nya ada lagi? Tak kira cuma sekali doang" celetuk Casilda tanpa sadar.


"Sudahlah, Charles. Kau tak perlu melanjutkan ucapanmu, karena..." Casilda menunjuk ke sebuah arah. "Kita akan dihabisi oleh mereka."


Dari arah yang ditunjuk oleh Casilda, nampak sangat banyak semut raksasa yang datang berbondong-bondong, seolah ingin memangsa siapapun yang datang mendekat.


"Warnanya merah kayak kepiting, cuy! Aah, jadi pengen makan kepiting, tapi mahal..." ujar Casilda tak tahu kondisi.


Karena suara gadis itu terbilang keras, peserta lainnya pun menoleh ke arahnya.


"A-ADA KUMPULAN MONSTER DATANG MENDEKATI KITAA!!" teriak salah seorang peserta.


Yang lainnya pun langsung panik, mereka pun memilih untuk melarikan diri secara tergesa-gesa.


"Apa kita juga mengikuti mereka, Kakak? Atau diam di sini? Atau melawan semut-semut itu?" tanya Charles secara beruntun.


"Aku pilih opsi kedua, diam di sini" balas Casilda sambil duduk di tanah. "Lagipula, kalau kita berlari terlalu jauh, kita tak akan bisa pergi dari tempat ini."


"Apa jangan-jangan, karena butler tadi menggunakan [Teleportasi Titik]?" tebak Charles.


"Yap! Itu benar. [Teleportasi Titik] hanya dapat diaktifkan dalam beberapa saat sekali dan dalam titik yang sama. Batasan lingkup titik ini dapat disesuaikan, dan kurasa lingkup titik kita kali ini memiliki diameter 500-700 meter."


"Artinya, jika kita berlari melebihi 700 meter dari titik ini, kita tak akan bisa di-[Teleportasi]-kan lagi, bukan?"


"Pingpong pingpong!! Adikku pinter banget, deh!!" Dengan bangga Casilda mengacak-acak surai sang adik yang sekarang tengah merona karena perlakuan kakaknya.


"Ka-Kakak, jangan gitu, dong... Aku kan jadi tambah sombong...." ucap Charles dengan malu. Ia kemudian menyadari sesuatu. "Ah, semutnya datang ke sini. Sekitar 500 meter lagi dia akan melahap kita."


"Biarin aja." Casilda dengan santuynya berbaring di atas tanah. "Ada beberapa peserta yang masih ada di sini, kok. Tenang aja. Mereka yang bakal menghabisi semut-semut itu. Kita mah, tingggal nyantuy aja."


Charles menoleh ke kanan dan kirinya. Benar kata Casilda, di sampingnya terdapat beberapa peserta yang sudah bersiap untuk menyerang.


"Mereka adalah peserta berbakat yang langka dengan tekad membara. Aku jamin, mereka pasti bisa menjadi Knight yang hebat" kata Casilda dengan senyum tipis.


Charles terdiam sesaat. 'Kalau Kakak sampai tersenyum kayak gini... Berarti, mereka memang benar-benar hebat.' Pandangannya pun ia alihkan pada beberapa peserta yang sudah berada di depan mereka.


'Ayo kita lihat seberapa hebatnya mereka.' Charles menajamkan matanya.


Salah seorang peserta menyerang semut-semut itu dengan menggunakan [Racun]. Ada juga yang menggunakan [Jarum Tanah], [Sihir Pelahap], [Pedang Air], dan masih banyak lagi.


Mereka semua selalu berada di sekitar Casilda dan Charles, seolah mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan di-[Teleportasi]-kan.


Charles menatap mereka dengan sedikit minat. Apa yang Casilda katakan selalu benar, mereka memiliki bakat masing-masing. Hanya perlu dipoles sedikit dan diberi pengalaman yang cukup.


Casilda menatap mereka sambil rebahan. Sesekali, ia menguap kecil. Semut-semut yang dilawan mereka termasuk ke dalam spesies yang terbilang lemah, sehingga mudah untuk membunuhnya.


"5...." Casilda mulai menghitung sembari menguap. "....4...."


Semut-semut itu datang semakin banyak, namun para peserta yang menyerang masih dapat bertahan.


"..3..."


Dibunuhnya semut-semut itu hingga darahnya muncrat kemana-mana. Pemandangan ini seolah menunjukkan sebuah 'pembantaian'.


"..2..."


Para peserta semakin mundur ke arah Casilda dan Charles, begitu pula semut-semut yang semakin berlari ke arah mereka.


Para peserta itu memasang sikap waspada, sementara Charles memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Alah, tenang aja. Nggak usah serius-serius banget, tahu."


"...1."


CTAKK


SYATT


Bertepatan dengan perkataan Casilda, mereka pun di-[Teleportasi]-kan ke tempat yang berbeda. Bukan hanya Casilda, Charles, dan para peserta yang menyerang semut-semut tadi saja, ada beberapa peserta lain yang juga ikut di-[Teleportasi]-kan.


"Hmph, padahal mereka nggak ngapa-ngapain, tapi malah bisa lolos. Cih" cibir Charles dan salah seorang peserta penyerang semut-semut tadi.


"Lah, kok bareng?" tanya mereka berdua bersamaan. "Lah?"


"S-semut semut tadi u-udah nggak ada lagi, kan?" tanya salah seorang peserta yang melarikan diri dengan gugup. "Syu-syukurlah aku selamat...."


"Cih, bisa lolos modal hoki aja bangga, padahal nggak ngapa-ngapain" sarkas Casilda sambil bersedekap dada.


"Hey, padahal kau juga tak melakukan apa-apa!" protes salah satu peserta penyerang semut.


"Yang penting, aku ngasih tahu kalian tentang rahasia [Teleportasi] tadi, kan?" Casilda menyunggingkan senyum miring. "Aku juga yang ngasih tahu kalian kalau ada semut-semut yang mau menyerang kita."


"Kalian menggunakan Kakak sebagai titik acuan [Teleportasi] tadi, kan? Kalian juga menguping pembicaraan kami, dan kalian malah menyebut Kakak tak melakukan apapun?" Dilayangkannya tatapan tajam ke arah peserta yang tadi menyindir Casilda. "Kau ini benar-benar tak kenang budi."


Mata Charles dan mata orang tadi saling berhadapan dengan kilatan listrik tanda permusuhan. Aura mereka mengintimindasi peserta-peserta yang melarikan diri.


"Dah, dah, jangan tatap-tatapan, nanti malah suka" lerai Casilda di tengah-tengah mereia.


"Mana sudi aku sama dia!! Kami ini cowok!!" protes mereka bersamaan. "Hah?! Kenapa kau ikut-ikut omonganku lagi, sih?!"


Salah seorang peserta penyerang semut terkekeh kecil. "Mereka lucu banget, ya."


"Ya." Pemuda tinggi berambut hitam yang berada di sampingnya mengangguk kecil. Matanya menelisik ke arah Casilda dan Charles secara bergantian. 'Aura mereka seperti Keluarga Utama. Apa benar?'


Casilda tersentak kecil, ia merasa sedang dibicarakan oleh seseorang yang berada di sini, lebih tepatnya berada di belakangnya. Namun, ia memilih untuk diam karena dirinya menyadari bahwa orang itu berbahaya.


"Ada apa, Kakak?" tanya Charles dengan khawatir.


Casilda menggeleng kecil dengan senyum tipis. "Nggak, kok" balasnya. "Btw, 20 detik lagi kita akan di-[Teleportasi]-kan ke tempat lain lagi. Bersiaplah kalian."


"Nah, kalian dengar, kan, Peserta-Peserta Pecundang?" tanya orang yang berselisih dengan Charles tadi sembari menatap tajam orang-orang yang ia sebut. "Jangan sampai kalian mengganggu keberhasilan kami."


"Dia benar." Orang yang tadi terkekeh ikut menimpali. "Kalian jangan menyusahkan kami lagi. Mulai sekarang, kita dipisahkan oleh kubu yang berbeda, oke? Kami, kubu penyerang, dan kalian, kubu pecundang" sinisnya.


'Oy oy, apa ini nggak berlebihan?' Casilda speechless. 'Lah, terus, aku sama Charles di kubu mana?'


Seolah menyadari pertanyaan Casilda, orang yang terkekeh tadi menjawab, "Kau dan adikmu berada di kubu kami." Ia pun menarik tangan Casilda agar lebih dekat dengannya.


"Hey!! Singkirkan tanganmu dari Kakak!!" seru Charles dengan marah.


Salah seorang dari kubu pecundang menggertakkan giginya geram. "Syaland..." lirihnya dengan kesal sambil mengepalkan tangan kanannya.


TBC.