The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Tahap 2²



"K-Kakak..." panggil Charles. "Kenapa kita di sini?"


Casilda yang mood-nya telah membaik pun menoleh ke arah sang adik. "Buat apa? Tentu saja untuk melewati tahap kedua, lah!"


"Casilda, apa kau yakin di sini tempatnya?" tanya Eden sambil terus memperhatikan tempat itu.


Casilda langsung nyolot, "Kau meragukanku, ha?!"


"Apa?! Kau meragukan Kakak?!" pekik Charles dengan kesal.


"Bu-bukannya meragukan.. Aku cuma—aarggh, sudahlah. Terserah kalian." Eden yang sudah kena mental akibat kelakuan kedua kakak beradik ini pun memilih untuk mengalah.


"Bukannya udah jelas di sini tempatnya? Kalian dari tadi malah sibuk gelut, sih. Makannya nggak kepikiran" dengus gadis itu sedikit menyindir.


"Tapi, darimana Kakak tahu kalau jawabannya adalah..." Charles mendongak guna melihat tempat itu. "...Sebuah goa?"


Casilda mendengus. "Makannya, kalau punya otak tuh dipakai. Jangan cuma buat nyindir orang lain" sinisnya. Tapi kan, kau juga menyindir orang lain...


Charles seakan tertohok oleh ribuan pedang tajam dan terlempar dari atas tebing kemudian terjatuh ke dalam kawah gunung berapi dan berubah menjadi undead yang tak akan dapat mati selamanya.


"Cih, lebay banget."


Dan lagi-lagi, hati Charles tertohok oleh—


"Dah, diem lu."


Charles yang sedang pundung pun menangis di dalam hati. 'Hiks.. Kakak masih marah padaku... Hiks... Aku... Hiks... Aku janji, tak akan membuat Kakak marah lagi... Hiks...'


"Y, terserah." Casilda mengalihkan pandangannya ke arah Eden yang lagi-lagi sedang cengo akibat keabsurdan kedua kakak beradik itu. "Jadi, gimana? Mau dilanjut nggak, penjelasannya?"


"Ah." Eden langsung tersadar dari cengonya. "Y-ya.. Silahkan.."


"Jadi gini.." Casilda mulai menjelaskan. "Kata-kata yang tertulis adalah 'berlindung di balik tanah, diselimuti kegelapan, menahan tangis, dan muara tangis', kan?"


"Iya, lalu?"


"Kalimat 'berlindung di balik tanah' memiliki arti bahwa lokasi itu terletak di bawah tanah. Namun, bawah tanah yang dimaksud bukanlah bagian dalam bumi. Bawah tanah yang dimaksud adalah sesuatu yang tertutupi oleh tanah."


"Lalu, kalimat 'diselimuti oleh kegelapan' memiliki arti bahwa tempat itu sangat gelap, seolah kita berada di bawah tanah. Kalimat ini adalah kunci utamanya."


"Kalimat 'menahan tangis' memiliki arti bahwa tempat itu memiliki air yang terjatuh dari atas tempat itu. Sama seperti air yang jatuh dari atas stalagmit goa."


"Menurutku, arti 'menahan tangis' adalah air yang jatuh dari atas, namun dalam jumlah yang sedikit, seperti air mata kita yang menetes."


"Dan yang terakhir, 'muara tangis' yang kutebak sebagai barang yang harus kita bawa. Kalimat itu mengacu pada sumber mata air yang berada di dalam goa. Kemungkinan besar pada sumber mata air itu terdapat air terjun, makannya disebut dengan 'muara tangis'. Paham nggak?"


Lagi-lagi Eden cengo. Kali ini bukan karena keabsurdan Casilda, namun karena kepintarannya. Ia tak menyangka, gadis bar bar yang terkesan liar itu memiliki otak yang cemerlang.


"Wow..." Bahkan tanpa sadar Eden mengeluarkan bentuk kekagumannya pada Casilda.


Charles auto memasuki mode siaga. Diambilnya sebuah jarum beracun yang berada di bajunya dan bersiap untuk menusukkannya pada Eden.


"Jangan gila, Charles."


Pemuda bersurai hijau itu seketika terdiam mematung, namun masih mengeluarkan aura permusuhan pada Eden yang kembali cengo.


'Casilda benar-benar sangat membantuku di sini. Berkatnya, aku bisa selamat dari Monster Hijau itu. Kurasa, lain kali aku akan membalas budinya' batin Eden dengan sedikit senyuman.


Charles yang merasakan sinyal bahaya pun kembali mengangkat jarum beracunnya.


"Jangan bunuh dia, Charles" cegah Casilda. "Nanti kalau kita tak bisa menjadi Knight, kita tak bisa membalas dendam pada mereka" bisiknya.


Charles sadar, ia kembali menurunkan jarum beracunnya dengan wajah sedih.


'*Ukh, lucunya adikkku ini!!'


'Fix, mereka orang-orang teraneh dan terabsurd yang pernah kutemui*.' Setelahnya, Eden pun bertanya pada gadis bersurai biru itu, "Kenapa kau begitu yakin akan analisismu barusan?"


"Kenapa?" Casilda memiringkan kepalanya.


'AKKHH!!! KAKAK IMUT BANGET!!!! SKDBSKAKAKDVAKAJEJA!!'


"Tentu saja, karena aku percaya pada instingku" imbuh gadis itu sambil tersenyum miring.


'Insting?' pikir Eden.


"Hey!! Jangan remehkan insting Kakak, Bodoh!! Kakak itu memiliki insting dan naluri bak hewan buas! Buktinya, Kakak bisa menolong si Tukang Ketawa siapalah itu!" Charles menunjuk-nunjuk Eden dengan marah.


"Sudahlah, ayo kita masuk. Kita harus mengambil barangnya dalam waktu 1 jam" ajak Casilda yang kemudian memasuki goa itu.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Mereka bertiga berjalan beriringan menyusuri bagian dalam goa itu. Gelap, lembab, dan sunyi adalah suasana yang sangat tepat untuk menggambarkannya.


Tetesan air dari stalagmit yang menggantung di bagian atas goa membasahi jalanan berbatu nan licin yang mereka lewati.


Rerumputan liar banyak tumbuh di dalam goa itu. Bahkan tak jarang ada binatang-binatang liar seperti kelelawar, laba-laba, atau bahkan kaki seribu lewat di depan mereka.


Bahkan nyamuk-nyamuk yang jumlahnya cukup banyak berterbangan di dekat mereka.


Tap... Tap... Tap...


Langkah kaki mereka terdengar ke seluruh penjuru goa. Hanya ada mereka di sana, dibekali dengan sihir [Api Biru] yang dikeluarkan oleh Casilda.


'Perasaan, dari tadi Casilda yang melakukan semuanya, deh. Kayaknya dia MVP*-nya. Apa dayalah aku yang hanya seorang NPC....' batin Eden dengan lesu.


(MVP* adalah singkatan dari 'Most Valuable Player' yang memiliki arti 'pemain paling berharga')


Setelah cukup lama mereka berjalan, tak ada satupun muara air yang terlihat.


"Aneh, sampai di sini masih belum ada muara yang terlihat" gumam Eden sambil melihat sekeliling. Tentu saja hal itu didengar oleh Casilda dan Charles.


Pemuda bersurai hijau itu menatap sang kakak dengan pandangan meminta penjelasan, sementara Casilda tengah menutup matanya guna meningkatkan instingnya.


"...." Gadis itu membuka matanya. "Kita harus terus berjalan, intinya sampai tak ada lagi air yang menetes dari stalagmit goa" balasnya sambil melanjutkan perjalanan.


Eden dan Charles—yang entah mengapa menjadi kalem—saling memandang. Mereka pun mengikuti Casilda dari belakang.


Semakin lama, jalanan yang mereka lewati semakin curam dan licin. Jangan lupakan batu-batu berbeda ukuran yang selalu menghalangi langkah mereka.


Udaranya semakin lembab, bahkan [Api Biru] milik Casilda tak dapat menyala lagi karena kelembabannya. Karena [Api Biru] milik Casilda sudah padam, maka Charles lah yang memimpin jalan dengan [Api Jiwa]-nya.


"Ayo, kita harus cepat, udaranya semakin lembab di sini" kata Casilda sembari menaikkan kecepatannya. 'Walau udaranya semakin lembab, tetesan air dari stalagmit masih belum habis. Sampai kapan ini selesai?'


Eden yang peka terhadap sekeliling pun memasang barrier khusus di sekitar mereka bertiga.


"Eh? Barrier apa ini?" tanya Casilda pada sang empu.


"Ini adalah barrier berjalan yang bisa melahap apapun yang berada di dalamnya sesuai dengan kehendakku. Aku menggunakannya untuk melahap kelembaban di sekitar kita bertiga" balas Eden.


"Lah, tumben peduli" celetuk Charles tanpa filter.


"Iya, dong. Lagipula, mana mungkin aku kalah dengan seorang perempuan yang dapat melakukan apapun" lirik Eden pada Casilda yang tengah mengerjabkan matanya tak paham.


"Hah? Kau bicara tentangku?" tanya gadis itu.


Eden tak menjawab, ia lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Katanya disuruh cepet-cepet, ayo!"


"Lah, iya juga, ya. Ayo, Charles, kau yang mimpin jalan" kata Casilda sambil menepuk-nepuk punggung sang adik.


"Baik, Kakak!"


Mereka pun berjalan dengan tempo yang semakin dipercepat.


'Duh, waktunya udah berkurang agak banyak, nih. Moga-moga aja kami bisa ambil air itu dalam waktu 20 menit' batin Casilda sambil melihat jam sakunya.


Sebenarnya, waktu yang mereka miliki masih 50 menit lagi untuk mengambil benda pada teka-teki pertama. Namun, Casilda memotong batasan waktu yang telah dibuatnya untuk berjaga-jaga.


Karena terlalu fokus pada jam sakunya, Casilda tak sadar kalau Eden terus menatapnya dari tadi.


'Perempuan ini, ia bisa menggunakan [Api Biru] yang memiliki kemampuan setara dengan elemen api milik Klan Ruby. Tapi, walau bentuknya menyerupai api, aku tahu kalau itu bukanlah api. Kemampuan seperti ini tak mungkin dimiliki oleh rakyat biasa. Apa dia adalah salah satu anggota Keluarga Utama?'


'Kalau dia adalah anggota Keluarga Utama, ada kemungkinan kalau adiknya juga sama. Rambut hijau, mirip Klan Emerald. Tapi, warna rambut Klan Emerald tak sepucat milik Charles. Dan juga, aku tak pernah melihatnya berada di lingkungan sekitar Klan Emerald.'


Pandangannya kemudian terarah pada jalanan yang mereka lewati. 'Kemungkinan besar, mereka menyembunyikan identitas. Kalau seandaianya mereka terpilih menjadi Knight, aku bisa mengetahui identitas asli mereka setelah pengecekan oleh kristal sihir.'


'Walau hanya sekilas, aku merasakan kekuatan dan potensi yang begitu besar dari mereka. Aku tak boleh sampai bermusuhan dengan mereka, terutama Casilda. Karena, Charles akan selalu menuruti apa kata Casilda, dan aku yakin dia akab tetap menuruti apa kata kakaknya walau harus membunuh orang lain sekalipun.'


Eden menyunggingkan sebuah senyum, entah dirinya sadar atau tidak. Diliriknya kembali Casilda yang berada di depannya. 'Dia adalah perempuan yang sempurna, seperti keinginan Ayah dan Ibu..' batinnya tanpa sadar.


'Tunggu, apa yang aku pikirkan barusan?!'


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


Setelah melalui perjalanan yang panjang, mereka akhirnya sampai di depan sebuah air terjun yang indah.


Entah karena sihir atau apa, air terjun di sini mengeluarkan gemerlap cahaya yang indah. Air itu juga mengeluarkan sebuah aura yang unik. Aura yang membuat Casilda entah mengapa ingin mendekatinya.


"Fyuhh, akhirnya kita sampai juga. Perjalanannya lama banget" keluh Charles sambil mengelap keringatnya.


Eden terdiam menatap air terjun itu. 'Air ini.. Mengandung sihir penyembuh yang hebat. Apa jangan-jangan, ini adalah air mitos itu?'


Sementara itu, Casilda juga menatap air itu. Ia tak berkedip sama sekali. Air itu membawa perasaan familar yang hangat dan langsung menyeruak begitu saja di dalam hatinya.


'Air itu memiliki aura yang hangat... Aku ingin menggapainya...' batin Casilda secara tak sadar. Kakinya melangkah maju, sementara pikirannya kosong. Bahkan mata yang selalu memancarkan cahaya kini nampak kosong, seolah sedang dikendalikan.


"Aku... Ingin..." gumam gadis itu.


Charles yang mendengar gumaman sang kakak pun menoleh. "Kakak? Kenapa—loh?! Ka-Kakak?!" Ia terkejut karena Casilda tiba-tiba saja berjalan menuju air terjun itu sambil melantur layaknya orang setengah sadar.


"Huh?" Eden pun ikut menoleh. Alis matanya terangkat sebelah kala melihat mata Casilda yang kosong. 'Ada apa dengannya?'


"Kakak, hati-hati!! Di sana lici—"


GUBRAK!!


BYURR!!


"KAKAAAAKK!!" Charles memekik histeris saat Casilda nyebur ke dalam muara itu. Segera, ia mendekati sang kakak yang sedang memegangi kepalanya yang sakit. "Kakak!! Kakak nggak papa?"


"Eh? Lah?" Casilda ngelag sebentar. "NGAPAIN AKU MANDI DI SINI?!"


"K-Kakak tadi terjatuh di sini.."


"LAH, NGAPAIN AKU NYEBUR DI SINI?!"


Eden menatap pemandangan itu dengan wajah datarnya. Sepertinya, ia sudah dapat beradaptasi dengan tingkah absurd mereka yang keterlaluan.


'Kurasa, mereka tak akan pernah kehilangan tingkah absurd itu, deh..' batinnya sambil menghela napas lelah.


'Dah lah, aku capek. Mau resign aja dari dunia'—Eden 2023.


TBC.