![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
Hal yang kurasakan di dunia ini..... Tidak ada.
Kosong... Semuanya kosong.
Tidak ada warna sama sekali. Hanya abu-abu, abu-abu, dan abu-abu lagi.
Hidupku sangat monoton. Tidak ada niat untuk bertahan hidup.
Bosan.... Hampa.... Sendirian... Kesepian....
Aku tak memiliki perasaan senang akan apapun. Tidak ada.
Aku adalah Louise Citrine, putra tunggal Keluarga Utama, Citrine. Aku disebut sebagai "Pangeran Kuning dari Dataran Barat".
Aku tak memiliki siapapun. Aku kesepian.
Ibu selalu mementingkan berkas dan dokumen-dokumen tentang wilayah kami. Tak pernah sekali pun peduli padaku.
Ayah? Siapa ayahku? Aku tak mengetahuinya dan tak ingin mengetahuinya.
Hidupku biasa saja. Terlalu biasa, hingga membuatku gampang bosan.
Bosan...
Bosan.....
Dan bosan......
Benar-benar menyebalkan.
Dari dulu, aku tak memiliki ekspresi sama sekali. Salahkan ibuku yang tidak pernah memberiku kasih sayang sejak aku lahir. Tidak ada yang secara tulus peduli padaku. Tidak ada, kecuali anak itu...
Hari itu, tepat dimana aku berumur 8 tahun, aku dan Ibu pergi mengunjungi salah satu Keluarga Utama, Emerald. Ibu bilang ada masalah yang harus dibicarakan dengan Pemimpin Emerald pada saat itu.
Aku yang merupakan Pewaris Citrine harus ikut, dan itu sangat menyebalkan.
Aku malas, benar-benar sangat malas. Terlebih lagi saat "satu-satunya" Putri Emerald selalu menempel padaku layaknya lem.
Aku benci itu. Aku benci disentuh. Aku benci perempuan itu.
"Aah, Louise~ Jangan pergi meninggalkan Misha~" rengek perempuan tak tahu diri itu. Cih, sangat menjijikkan. Dia bahkan memanggil dirinya dengan namanya sendiri.
Ew, lebay. Alay. Jijay.
"Eungg~ Ndak mau tahu! Pokoknya Louise punya Misha! Titik!"
Hah?! Aku? Punyanya anak itu?
Ahahahaha!
Nggak lucu.
Aku yang terlalu jijik langsung mendorongnya dan pergi menemui ibuku yang sedang berbincang serius dengan Pemimpin Emerald.
Dari luar ruangan, aku dapat mendengar dengan jelas bahwa mereka sedang bertengkar.
"APA?! JADI KAU MENELANTARKAN ANAKNYA IRIS?! BERANI-BERANINYA KAU!"
Aku mendengar suara Ibu yang sangat marah. Ibu memang tegas, namun Beliau tidak pernah sampai semarah itu.
"MEMANGNYA KENAPA?! DIA CUMA ANAK SAMPAH! WANITA ITU JUGA SAMPAH! BISA-BISANYA WANITA ITU MELAHIRKAN ANAK AIB SEPERTI DIRINYA!" Pempimpin Emerald juga nampak marah.
Ada apa ini? Siapa yang mereka bicarakan?
PLAKK
"JAGA BICARAMU! IRIS ADALAH SAHABATKU, ITU ARTINYA, CASILDA JUGA ADALAH ANAKKU!"
Casilda? Siapa itu Casilda?
Apa dia... Anak yang mereka bicarakan?
"AKU TAK PEDULI! MAU DIA ANAKMU, MAU DIA ANAKKU, TERSERAH! YANG PENTING AKU TAK AKAN SUDI MENGANGGAPNYA SEBAGAI ANAK!"
"JAGA BICARAMU! PADAHAL IRIS SANGAT MENCINTAIMU, DAN KAU MALAH MEMBALASNYA SEPERTI INI?! DASAR BRENGSEK!" Dari celah pintu, aku dapat melihat bahwa Ibu menarik kerah Pemimpin Emerald.
"CEPAT KATAKAN PADAKU, DIMANA DIA BERADA! CEPAT KATAKAN!"
Pempimpin Emerald memalingkan wajahnya sambil berdecih. "SILAHKAN CARI SENDIRI SANA! AKU TAK PEDULI!"
Cari? Apa aku harus mencari anak bernama Casilda itu? Dari apa yang Ibu katakan, Casilda adalah anak dari sahabatnya. Itu artinya, Casilda juga adalah sahabatku!
Aku... Punya sahabat?
Aku punya sahabat!
Aku dengan cepat berlari menyusuri wilayah Emerald yang berupa hutan yang sangat lebat. Dimana dia? Dimana Casilda?
Tunggu, tunggu sebentar. Aku kan tidak tahu wajah Casilda.
.
.
.
.
.
.
.
Bodohnya aku....
Tapi, aku tak peduli. Casilda mungkin seumuran denganku, kan? Mungkin ia masih berada di wilayah ini!
Aku segera mencari kemana-mana. Ukh, ternyata sangat sulit untuk menemukannya. Tapi, aku tak akan menyerah! Pokoknya, Casilda akan aku temukan!
Zrasshhh
Hm? Suara apa itu? Air terjun?
Aku mengikuti suara air terjun yang semakin lama semakin kencang.
Woaahh! Sangat indah!
Pemandangannya begitu indah!
Eh tunggu, anak itu... Siapa?
Aku berjalan mengendap-endap ke dekat batu yang di atasnya terdapat seorang anak perempuan dengan rambut berwarna biru safir yang diikat kelabang. Anak itu nampak melakukan sesuatu.
Aku terus mendekatinya diam-diam. Semakin lama, aku mendengar suara perempuan bernyanyi. Apa itu suaranya?
Ia berdiri di atas batu yang terlihat sangat licin.
♪Hewan-hewan laut terbangun dengan pelan, menyambut datangnya sinar mentari♪
Anak itu menari seperti balerina, sangat cantik.
♪Aaah, indahnya dunia ini. Cahaya mentari datang menyinariku, bagaikan seorang dewi♪
Sama seperti yang dikatakannya, cahaya mentari menyinari wajahnya. Aku sekarang dapat dengan jelas melihat mukanya itu.
Wajahnya penuh dengan lebam, namun tak bisa dipungkiri bahwa dirinya sangatlah cantik, seperti dewi.
♪Senandung matahari pagi, menyinari dunia ini. Menggantikan malam yang gerlap penuh bintang-bintang♪
Air terjun memercik dengan kencang mengikuti ayunan anak itu.
♪Nyanyian lagu di penghujung malam membuat diriku seakan terbenam♪
Percikan-percikan air itu membiaskan cahaya matahari, membuat pelangi muncul tiba-tiba.
♪Melukis masa.... Hiasi hari... Dengan lantunan.... Senandung matahari pagi♪
Lagu berakhir bersamaan dengan percikan air yang perlahan mulai tenang. Aku takjub. Siapa sebenarnya anak itu? Apakah dia adalah salah satu dari ras penduduk air? Tapi, kenapa dia bisa di sini? Apa dia tersesat?
Anak itu nampak termenung sesaat lalu menangis dalam diam. Entah mengapa aku menjadi khawatir kepadanya. Tubuhku bergerak sendiri untuk mengelus kepalanya.
Anak itu menengok. Aku sekarang dapat dengan jelas melihat matanya. Berwarna biru safir, sama seperti rambutnya. "...Kakak siapa?" tanya anak itu dengan suara kecilnya.
"Ah, aku cuma tamu di sini. Dan tak sengaja melihatmu bernyanyi" jawabku jujur. Aku memang tak berniat untuk berbohong.
Anak itu terdiam sesaat lalu mengangguk. Ia membenamkan kepalanya ke kakinya yang ditekuk.
"Ada apa? Kenapa kau mendadak sedih?" tanyaku.
"Hiks... Itu... Adalah lagu yang selalu Ibu nyanyikan.. Aku tak mengingat apapun saat aku berada di dalam kandungan Ibu, tapi.. Hiks.. Aku dapat mengetahui bahwa lagu itu selalu dinyanyikan oleh ibu... Hiks." Anak itu sesenggukan. Aku jadi tak tega. Aku menurunkan anak itu dari batu dan memeluknya. Ia langsung menangis.
"Hiks... Aku... Aku ingin merasakan bagaimana rasanya disayang oleh seorang ibu... Hiks... Aku ingin tahu... Hiks" isaknya.
Ah... Anak ini... Tidak memiliki seorang ibu...
Aku... Merasa malu dengan diriku sendiri.
Aku memiliki seorang ibu, walau sama sekali tak peduli padaku. Seharusnya aku bersyukur, bukannya menyalahkan ibuku...
Aku memeluk anak itu dengan erat. "Cup.. Cup... Sudahlah.. Tak apa..." bisikku. Aku kembali menenangkan anak itu sebisaku. Dan tak lama kemudian ia berhenti menangis.
"Nama Kakak siapa?" tanya anak itu dengan wajah polosnya.
"Namaku Louise Citrine, Adik Kecil" balasku dengan senyum lembut. Ah, ini pertama kalinya aku tersenyum kepada orang lain. "Namamu siapa, dan berapa umurmu?" tanyaku lagi.
"...Aku.... Namaku... Casilda.. Umurku 6 tahun..." balasnya.
Tunggu, Casilda?!
Jadi, dia yang dicari-cari oleh Ibu?!
"Hah? Namamu Cas—"
"Louise Citrine! Ternyata kau disini! Padahal Ibu mencarimu kemana-mana! Dasar anak nakal!"
Tiba-tiba Ibu berada di belakangku dan menarik telingaku.
Ukh... Sakit..
"Kau kan tahu sendiri, Ibu sangat sibuk. Dan kau malah membuang-buang waktu di sini! Benar-benar nakal!"
"I-Ibu... Lepaskan..." Aku meronta.
"Bukannya minta maaf malah mencoba untuk lepas! Kau itu anaknya siapa, sih? Bisa-bisanya kau berada di sini, kalau terjadi apa-apa bagaimana coba?!" Ibu semakin kesal, gawat..
SRETT
"Eh?" Tiba-tiba tanganku ditarik oleh Casilda.
Anak itu menyembunyikan tubuhku di belakang punggungnya yang kecil.
"Ja... Jangan marahi Kak Louise! Kakak kemari karena aku! Akulah yang membuat Kak Louise kesini! Seharusnya Nyonya marahi aku saja!" pekik Casilda tanpa takut.
Wah... Anak ini... Membelaku... Keren!!!
Ibu nampak gelagapan. "N-nak.."
"Lagipula, walau Nyonya sangat sibuk, seharusnya Anda meluangkan waktu bersama Kak Louise. Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh kedua orang tuanya. Jika Kak Louise tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup, maka dirinya tidak akan bahagia!"
"Selain itu, seharusnya Nyonya jangan menarik telinga Kak Louise seperti itu! Hal itu akan mempengaruhi kondisi mentalnya saat sudah besar! Kak Louise akan selalu trauma dan parahnya lagi, dia akan memperlakukan keturunannya seperti itu!"
"Dan juga, bukan salah Kak Louise jika dia mencoba lari dari Anda. Jika Anda selalu mengatainya dengan sebutan 'Anak Nakal', secara tidak langsung alam bawah sadarnya akan melakukan hal yang sama seperti anak nakal pada umumnya..."
"Jadi, kesimpulannya adalah, Anda tidak boleh membiarkan Kak Louise begitu saja! Nyonya harus meluangkan waktu Anda untuknya! Karena...".Casilda memegang pakaiannya dengan erat.
"... Karena... Seharusnya.. Anda bersyukur karena dapat melihat Kak Louise tumbuh besar..." imbuh Casilda lagi dengan suara pelan.
Aku termenung, begitu pula dengan Ibu. Sebenarnya... Bagaimana bisa ada anak sekecil ini dapat memahami hal-hal berbau kesehatan mental? Kok bisa?
Dan ini... Untuk pertama kalinya.... Aku dibela oleh orang lain. Rasanya... Sangat senang, aku terharu...
Ibu membolakan matanya dan kemudian menatap Casilda dengan tatapan lembut. "... Kau benar, Nak..." ucapnya.
Ibu kemudian menengok ke arahku dan memelukku dengan erat. "Louise... Maafkan Ibu, ya, Nak... Hiks... Ibu benar-benar sangat kejam padamu... Hiks... Maafkan Ibu..."
Aku tak dapat berkata apa-apa. Ibu menangis, aku harus menenangkannya! "Tidak apa-apa, Ibu... Aku.. Hiks .. Aku.... Hu-HUWAAAA!!!" Tanpa sadar aku menangis kencang.
Aku dapat melihat bahwa Ibu sedang menenangkanku, tapi tak berhasil.
Lalu, aku melihat Casilda menatapku dan—
Hug
—Langsung memelukku.
Aku kaget dengan tindakannya.
Casilda menenangkan diriku. Punggungku ditepuk-tepuk olehnya agar aku tenang.
Entah mengapa air mataku berhenti dan aku menjadi lebih tenang. Ibu nampak lega. Tapi... Kenapa, ya, saat aku bersama dengan Casilda, hatiku menjadi lebih tenang? Padahal kan, kami baru bertemu.
Aku..... Merasakan kehangatan di pelukannya. Casilda, dia..... Tulus.... Aku benar-benar sangat tersentuh.
Terima kasih, Casilda....
Kau adalah cahayaku, untuk sekarang dan selamanya..
TBC.