![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
"Kalian semua!! Kita sudah sampai!!" teriak Nahkoda Tua dari ujung kapal.
Casilda yang sedang memakan bekalnya pun menoleh pada sebuah pulau yang menjadi lokasi ujian mereka kali ini.
'Hah? Itu pulau? Kok yang keliatan cuma kabut doang?' batin Casilda dengan heran.
Pulau yang mereka datangi ini nampak seperti gumpalan kabut raksasa bila dilihat dari jauh. Lama-kelamaan kabut itu mulai memudar dan nampaklah sebuah pulau yang bisa dibilang terlihat angker.
'Auranya ngeri, cuy.'
Ada banyak kawanan gagak yang melintas di atas pulau itu. Bahkan awan yang berada di atasnya berwarna hitam gelap.
"He-hey!! A-ada hiu!!" tunjuk salah seorang peserta ke arah laut.
Orang-orang pun melihat ke arah ia menunjuk. Benar saja, di sana ada sebuah sirip ikan hiu yang besar.
"HIYY!! DI SINI JUGA ADAA!!" teriak peserta lain dari arah yang berlawanan. "BAHKAN HIU DI SINI LEBIH BANYAK!!"
Mendengarnya, sebagian peserta menjadi takut. Jangan-jangan, rumor tentang keangkeran dan betapa berbahayanya tempat ini memang benar?
Beberapa dari mereka takut, nyali mereka ciut. Bahkan ada yang sampai berteriak histeris ingin pulang.
"Cih, lemah mental" cibir Charles dengan sinis. "Aku heran, apa dia benar-benar seorang lelaki? Hmph, cowok kok pengecut, sih?"
Casilda tertawa hambar. "Wajar aja, Charles. Dia kan belum pernah berhadapan langsung dengan kematian yang mengintai" ucapnya.
"Huh, Kakak memang selalu benar" kata pemuda bersurai hijau sambil menatap sinis ke arah orang yang berteriak ketakutan tadi.
TAKK
Sebuah suara yang keras mengalihkan atensi mereka. Kini para peserta tengah menatap Nahkoda Tua yang juga tengah menatap mereka sambil membunyikan sesuatu yang mirip dengan kentongan.
"Kalau kalian tak ingin pergi ke pulau itu, silahkan saja. Kalian tak perlu turun jika tak kuat mental. Aku tak akan kembali lagi ke sini sebelum ujian berakhir, jadi segera putuskan hal ini sekarang juga!" titah Nahkoda Tua itu.
Para peserta saling berunding dengan ramai. Mereka takut karena bagian luar pulaunya saja sudah mengerikan, apalagi bagian dalamnya. Tapi di sisi lain, mereka ingin menjadi seorang Knight.
Sementara yang lain berisik, Casilda dan Charles hanya menatap mereka dengan tatapan datar. Casilda menyenderkan punggungnya sambil bersedekap dada, dan Charles juga menyenderkan punggungnya sembari memasukkan kedua tangannya pada saku celana.
"Ck, berisik banget, sih. Dasar Manusia Berotak Udang yang Tak Punya Nyali!" cibir pemuda itu sekali lagi.
"Wah wah, kau ahlinya mencibir, yah, Anak Muda" komentar Nahkoda Tua yang entah kapan sudah berada di dekat Casilda.
"Anj—Hey Kakek Tua! Kenapa kau mengagetkanku, syala—ekhm maksudku Orang Tua?!" latah Charles yang hampir saja mengeluarkan kata-kata kasar di depan Casilda.
"Apa aku berniat mengagetkanmu, Wahai Anak Muda?" Nahkoda Tua itu bertanya balik dengan senyum yang sangat menjengkelkan bagi Charles.
"Ya, itu benar, Kakek Tua💢💢"
"Ada urusan apa Anda berada di sini?" tanya Casilda tak ingin mendengar gerutuan dari Charles.
"Tak apa, aku hanya penasaran saja" sahut pria tua itu.
"Penasaran tentang?"
"Kakak, nggak usah kepoin orang gaje kayak dia" sungut Charles.
"Kenapa kau nampak sangat santai, Nona?" tanya Nahkoda Tua tanpa menggubris perkataan Charles.
"KAKEK TUA SYALA—KAU KENAPA TAK MENGGUBRIS UCAPANKU, HA💢💢?! DASAR BRENG—maksudku, Dasar Kakek Tua!!"
"Charles, diamlah" ucap Casilda dengan pedas.
Seketika Charles pundung di lantai kapal karena ucapan sang kakak yang begitu menusuk hatinya. "....Baik, Kakak...."
"Anda bertanya kenapa kami nampak tenang, kan? Memangnya apa yang perlu kami khawatirkan? Lagipula, kami sudah sering menghadapi sesuatu yang berbahaya. Ini bukanlah hal yang harus ditakuti, toh, manusia akan tetap mati suatu saat nanti, kan?" balas Casilda.
Nahkoda Tua tersenyum. "Kau memang benar, Nona." Ia memandang ke arah lain. "Tak salah aku memilihmu sebagai salah satu peserta terbaik di Ujian Knight kali ini..." gumamnya.
TAKK
Nahkoda Tua kembali membunyikan benda mirip kentongan itu. "Waktu sudah habis! Segera ambil keputusan kalian!!"
"Se-sejak kapan dia di sana?!" Para peserta terkejut akan perubahan tempat Nahkoda Tua itu.
"Itu tak penting" ketus si pria tua. "Yang ingin melanjutkan ujian, silahkan turun dari kapalku sekarang juga! Yang tak ingin melanjutkan ujian, diam di sini!"
"Sudah waktunya, ayo kita pergi, Charles" ajak Casilda.
Charles mengangguk kecil dan berdiri dari posisi jongkoknya. "Baik, Kak."
"Hey, kalian berdua" panggil Nahkoda Tua pada kedua anak dari Klan Tourmaline itu.
Yang dipanggil pun menoleh. "Kami?" tanya Casilda.
".....Berjuanglah." Setelah mengatakan itu, Nahkoda Tua pun pergi meninggalkan mereka.
"Hah?" Casilda yang masih cengo pun memiringkan kepalanya tak paham.
"Kakak, kapal akan berlayar sebentar lagi. Sebaiknya kita segera turun" kata Charles yang sudah menuruni tangga kapal.
"Ah eh? Lah, tunggu, atuh!!" Casilda pun menyusul sang adik yang sudah hampir sampai di daratan.
Nahkoda Tua yang melihat kejadian itu dari atas kapal tersenyum simpul. "Semoga berhasil, Dua Peserta Terbaikku."
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
Langkah kaki beberapa orang terdengar di hutan yang gelap itu. Tak ada cahaya matahari yang masuk lewat celah-celah daun, dan hutan itu dipehuni oleh kabut yang cukup tebal.
Suasana sunyi dan gelap mereka rasakan. Begitu mencekam, seolah-olah mereka sedang berpetualang di film horor.
Hanya ada ⅓ peserta yang memilih untuk melanjutkan ujian, termasuk Casilda dan Charles. Tentunya ⅞ dari peserta yang ikut itu berjenis kelamin laki-laki.
'Bahkan perempuannya cuma ada kami berempat. Keren' batin Casilda sambil melirik ke arah peserta perempuan. 'Hmm, kemampuan mereka masih agak kurang, sih. Nggak sebanding sama cowok-cowok di sini.'
Berbeda halnya dengan Casilda yang sibuk melirik peserta perempuan, Charles menelisik ke sekeliling hutan yang tengah mereka lewati.
'Rasanya cuma ada kami yang lewat di sini, tapi kok kayak ada banyak orang di pulau ini, ya?' pikirnya. 'Nggak mungkin kalau ada hantu di sini, kan?'
"Kakak, ini cuma perasaanku doang, atau memang ada orang lain selain kita di pulau ini?" bisik Charles pada Casilda.
"Hm? Emang ada orang lain, kok. Para panitia, sama beberapa peserta dari cabang daerah lain" balas Casilda.
Charles manggut-manggut. Benar juga, kenapa ia lupa? Kan masih ada kapal dari daerah-daerah kekuasaan Keluarga Utama yang lain, bukan cuma dari daerah mereka saja.
Tak berbicara lagi, mereka berjalan menuju satu tujuan, yaitu bagian tengah pulau.
'Untuk saat ini, masih belum ada rintangan apapun. Kalau memang belum ada, kenapa "mereka" ada di sini?' Casilda melirik ke kanan dan kirinya, dimana ia menemukan beberapa makhluk halus yang tengah mengintai mereka.
'Dah lah, lupain aja.'
Tanpa terasa, mereka sekarang sudah berada di depan sebuah bangunan tua yang sangat megah. Arsitekturnya begitu menawan, namun sayangnya telah ditutupi lumut nan akar-akar pohon.
"Selamat atas keberhasilan kalian" sapa seorang pria kurus yang berpakaian seperti seorang butler di depan pintu bangunan yang tertutup. "Kalian adalah orang-orang beruntung yang dapat melewati 2 tahap bonus."
Salah seorang peserta bertanya, "Dua tahap bonus?"
"Benar" jawab butler itu. "Tahap pertama, dimana kalian mengarungi luasnya samudra dan memantapkan tekad untuk datang ke tempat yang menyeramkan dengan banyak hewan buas, dan tahap kedua...."
"Apakah kalian merasa telah kehilangan sesuatu?" tanya butler itu.
"Eh?" Para peserta sontak melihat barang bawaannya. "Tak ada yang hilang, tuh."
"Hah!" Casilda tersentak. "Ada!!" Teriakannya membuat para peserta lainnya kaget. "Dimana peserta lain yang tadi berjalan bersama kita?!"
Pertanyaan Casilda membuat para peserta tersadar, bahwa jumlah mereka saat ini lebih sedikit daripada tadi.
"Ya, benar kata nona itu. Tahap bonus yang kedua adalah kemampuan bertahan pada satu tujuan, karena hutan ini dapat menyesatkan siapapun yang tak fokus pada tujuannya."
Para peserta menatap butler itu sambil berkeringat. Ternyata, tempat ini lebih berbahaya dari apa yang mereka duga.
"Nah, sekarang... Saatnya memulai tahap pertama dalam Ujian Knight ini!!"
TBC.