The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Kediaman Onyx



"Kakak, ini makanannya."


"Woaaahh!! Makasihhh!!" Casilda terlalu senang dengan makanan yang dibelikan Charles. Ini sangat banyak dan terlihat enak!


"Oh ya, Eden mana?" tanya Casilda.


Charles merengut kesal karena sang kakak ternyata masih mengingat iblis itu. "Dia udah pulang. Nyebelin" dengusnya.


"Ooh, gitu...." Casilda nampak sedih. 'Kasihan banget, pasti Charles kesepian gara-gara nggak ada Eden. Makannya dia sampai kesal sama Eden....'


Charles melihat gerak-gerik Casilda. 'Kenapa Kakak nampak sedih? Apa jangan-jangan... DIA SEDIH GARA-GARA IBLIS ITU?! BISA-BISANYA IBLIS ITU BIKIN KAKAK SEDIH!!'


"Ya udah, deh. Mending kita makan aja" kata Casilda dengan senyum sendu. 'Aku harus membuat Charles tak sedih lagi karena berada jauh dengan Eden.'


Gadis bersurai safir itu langsung memakannya dengan lahap. "Enaaakkk!!" pujinya dengan pipi yang menggembung karena melahap banyak makanan.


Charles tersenyum disertai rona merah. "Syukurlah Kakak menyukainya..." ucapnya dengan aura berbunga-bunga.


Mereka berdua yang sedang duduk di sebuah bangku nampak seperti kedua anak kecil yang sangat menggemaskan.


Pemandangan menggemaskan itu membuat orang-orang yang berlalu lalang ikut merasakan aura damai dan menyenangkan yang terpancar dari mereka berdua.


"Charles mau?" tawar Casilda sambil mendekatkan sebuah makanan seperti sate pada sang adik.


"E-eh? Nggak usah, itu buat Kakak aja" tolak Charles.


"Nggak papa, ini kan dibeli dari uangmu. Makan, ya?" bujuk Casilda dengan wajah lembut.


"Ta-tapi..."


"Ya? Mau, ya? Demi Kakak.." bujuk Casilda kembali dengan wajah memelas.


"B-baiklah..." Tentu saja Charles tak mampu menolaknya. Ia terlalu menurut pada sang kakak. '


AAARRGHHH!! KAKAK MANIS BANGEETTT!! KAKAK YANG SANGAT BAIK SEPERTI MALAIKAT INI SAMA SEKALI TAK PANTAS UNTUK IBLIS ITU!!' pikirnya dalam hati sembari membayangkan wajah Eden yang menurutnya sangat mirip dengan iblis.


Pemuda tampan bersurai hijau pucat itu memakan makanan berbentuk sate yang diberikan oleh Casilda. "Uh! Enak!" ujarnya tanpa sadar.


"Hehe, bener, kan?" kekeh Casilda. "Nih, coba yang lainnya, ya?"


"E-eh?!"


"Ayoo! Harus cobaa!!"


"B-baiklah..." Mau tak mau Charles juga harus memakan yang lain. 'Semuanya enak-enak... Hiks... Kakak memang memiliki hati yang sangat baik, berbeda dengan iblis itu... Hiks... Kakak...'


'Hehe... Charles keliatan seneng banget. Untung aja, kukira dia bakal nggak mood buat makan semua ini. Hehe.... Adikku udah besar...' batin Casilda sembari cengengesan. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap pucuk kepala sang adik dengan lembut.


Pemandangan itu tentunya disaksikan oleh para pengunjung pelabuhan. Mereka saling bercakap-cakap mengenai sepasang kakak beradik itu.


"Hey, lihatlah, mereka sangat akrab."


"Mereka kakak adik? Kompak banget.."


"Jadi iri... Seandainya aku punya kakak sebaik itu.."


"Ya udah, ambil aja dia. Biar aku yang ambil adiknya."


"Mereka puny visual tingkat dewa!! Kyaaa!!!"


"Kakaknya cantik plus tomboy, adiknya ganteng plus lembut!! Kyaa!! Mereka harus jadi keluargaku!! Aaaa!!!"


"Kakak Cantik, jadi kakakku, dong!!"


"Dia ganteng banget!! Jadi adikku, ya?"


Twitch💢💢


Perempatan siku-siku muncul di dahi Charles. Kenapa, sih, setiap ia ingin berduaan dengan kakaknya, selalu saja ada yang menganggu?


Nyebelin, tahu!!


"Apa kalian bisa diam? Mau kujahit mulut kalian dengan jarum beracunku, ha?!" ancam Charles dengan mata melotot dan aura sangar.


"HI-HIYYY!!" Mereka yang ramai pun menjadi takut.


"Enyahlah kalian."


"B-BAIKKK!!!" Dengan secepat kilat orang-orang itu berlari kalang kabut.


"Nggak usah sampai segitunya, Charles. Nyem nyem... Mereka kan nggak nganggu kita. Nyem..." tegur Casilda sembari mengunyah makanannya.


"Ta-tapi.. Me-mereka bicarain Kakak..." lirih Charles dengan lesu bak anak anjing yang dimarahi majikannya.


"Ya biarin aja, mereka kan emang suka ghibahin orang lain. Daripada diusir, mending dighibahin balik" balas Casilda dengan acuh.


"B-baik..." gumam Charles dengan lesu.


"Dah, dah, ayo makan lagi." Casilda mendekatkan makanan-makanan itu ke Charles. "Eh iya, aku baru ingat. Aku kan masih punya makanan yang tadi."


Gadis bermanik safir itu merogoh saku pakaiannya. "Huh?" Ia menemukan sesuatu. "Lah, ini kan punyanya Eden!" serunya.


"Hah?" Tersirat rasa keterkejutan dan kekesalan dalam pertanyaan Charles. "Kok bisa?"


"Oh, soalnya tadi Eden nitip ke aku. Eh dianya malah pulang duluan."


'Tadi? Apa jangan-jangan waktu iblis itu mendekati Kakak sebelum kusuruh pergi ke stan makanan?' pikir Charles.


"Mau gimana lagi, kita harus balikin ke Eden" kata Casilda memutuskannya.


"Harus?" tanya Charles dengan kesal. Jujur, ia sangat malas bertemu dengan Eden. Apalagi lelaki itu benar-benar berbahaya dan dapat melakukan hal-hal yang buruk pada Casilda.


Sang kakak mengangguk. "Ini adalah barang berharga milik Eden. Bisa aja dia membutuhkannya sekarang" balasnya.


"Tapi, kita kan bisa mengembalikannya saat bertemu di sini 10 hari lagi" dengus pemuda tampan itu.


"Nggak bisa, Charles. Kita harus mengembalikannya sekarang" putus Casilda.


Kekeraskepalaan sang kakak membuat Charles menaikkan sebelah alisnya dengan heran. "Kenapa?"


"Entahlah. Instingku mengatakan kalau kita harus mengembalikannya sekarang."


Charles menghela napas. Kalau insting Casilda sudah berkata seperti itu, apa boleh buat. Pasti ada sesuatu yang penting yang akan terjadi.


"Tapi, nanti aja, deh. Makan dulu."


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


.......


.......


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


"Rumah mereka dimana, ya?" gumam Casilda sembari menengok ke sana kemari. "Charles, apa benar Eden tadi lewat sini?"


"Iya, Kakak. Aku tadi berpisah dengannya di sini. Dia lewat jalur ini" balas sang adik.


"Ya udah, kita ikuti aja jalurnya."


Mereka berdua berjalan dengan kepala yang menoleh kesana kemari. Mereka telah berjalan dari Pelabuhan Utama, dan kini mereka tiba di sebuah pasar yang terbilang besar.


"Kok malah ketemu pasar? Kamu yakin, Charles?"


"Iya, Kak. Tadi dia beneran lewat sini."


"Hmmm.." Casilda memejamkan matanya. Ia harus berkonsentrasi untuk dapat mengaktifkan [Mode Sensorik]-nya.


Setelah cukup lama memejamkan mata, ia membukanya. Kini, nampak jelas sebuah jejak berwarna keemasan di tanah yang berada di jalan itu.


'Warnanya emas, tapi dari auranya.. Ini milik Eden' batin Casilda. "Ayo, Charles. Kita lewat sini."


Mereka berdua menyusuri jalanan pasar yang ramai itu. Untuk pertama kalinya pandangan Casilda tak tertuju pada makanan yang dijual, karena ia tengah berpikir keras.


'Kenapa aura milik Eden berwarna emas? Seharusnya aura Klan Onyx berwarna hitam pekat. Apa dia bukan berasal dari Klan Onyx? Tapi kan, batu kristal sudah menunjukkan identitas aslinya.'


'Dan juga, mustahil ada rakyat biasa yang memiliki aura berwarna keemasan. Aku bahkan tak pernah melihat aura keemasan pada orang lain. Kurasa, hanya Eden yang memiliki aura seperti itu.'


'Tapi, kenapa? Kenapa auranya berwarna emas dan bukam hitam? Ah iya! Barriernya waktu itu juga berwarna emas, bukan hitam! Kok bisa? Seharusnya Klan Onyx memiliki inti kekuatan kegelapan. Apa Eden berbeda?'


Casilda masih terus berpikir dengan keras. Tak peduli lagi dengan mereka yang sudah melangkah jauh dari pasar.


'Apa jangan-jangan... Eden mengalami perubahan pada tubuhnya? Tapi... Apa?'


"Kakak" panggil Charles, membuat Casilda tersadar dari pikirannya.


"Ya?"


"Kita sekarang berada di depan hutan yang lebat" kata sang adik sembari melihat rimbunnya hutan yang berada di depan mereka.


Casilda menoleh. Pohon-pohon yang menjulang tinggi menjadi hal yang pertama kali ia lihat. Tinggi, hijau, dan rimbun, membuat gadis itu teringat pada Hutan Keramat, tempat mereka tinggal.


Setelahnya, ia tersentak. Casilda segera menoleh ke satu titik dengan cepat. Charles yang kaget pun ikut menoleh ke arah yang sama.


Di titik yang mereka lihat terdapat sesosok makhluk halus yang mengintai mereka. Ia adalah seorang pemuda dengan tubuh yang cukup tegap. Matanya menatap Casilda dan Charles tanpa emosi.


"!?" Charles tersentak kecil. Ia dapat berbagi pengelihatan dengan Casilda, dan dirinya jarang melihat hantu seperti itu. Itu karena Casilda jarang mengaktifkan kekuatan [Transfer Indra] padanya.


"Siapa.... Kalian?" tanya hantu itu.


"Aku Casilda, dan ini adikku, Charles. Kami di sini untuk mencari Kediaman Onyx" balas gadis bersurai safir itu.


"...Kalian mencari siapa?"


"Eden, kami mencari Eden."


Hantu itu terdiam dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Kiel" panggil Eden saat ia berada di depan hutan itu.


Hantu yang bernama Kiel muncul. "Ada apa, Tuan Muda?"


"Kalau ada perempuan dengan rambut pendek berwarna biru bernama Casilda, dan adiknya dengan rambut hijau bernama Charles datang mencariku, antarkan mereka ke pintu terluar kediaman, oke?"


"....Baik."


"Tuan Hantu? Kau baik-baik saja?"


"...Ya." Hantu itu mengangguk. "Ayo, aku antarkan kalian ke pintu gerbang Kediaman Onyx."


"Eh? Langsung boleh?" kaget Casilda.


Hantu itu mengangguk. "Ini adalah perintah Tuan Muda, dan aku harus mematuhinya" balasnya.


"Oohh" angguk Casilda.


Charles berdecak kecil. 'Ck, sepertinya dia memang sudah merencanakan semua ini. Dasar Iblis Nyebelin!'


Perjalanan mereka sama sekali tak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka saling diam. Kiel—Sang Hantu—hanya berekspresi datar dan tak memikirkan apapun.


Sementara itu, Casilda tengah berkutat dengan pikirannya mengenai Eden yang memiliki aura emas. Charles tengah menyumpah serapahi Eden dengan nama-nama hewan yang ada di kebun binatang.


Perjalanan mereka cukup lama, dan di sekeliling hanya ada pepohonan, pepohonan, dan pepohonan saja. Ah, jangan lupakan beberapa—banyak—hantu yang tengah menatap mereka penasaran.


Warna hijau memenuhi pengelihatan Casilda. Matanya menjadi fresh sekarang. Bahkan Hutan Keramat saja tak sehijau ini. Dan ia yakin Hutan Keramat tak akan sebesar ini.


'Dari tadi kami berjalan, tapi nggak sampai-sampai juga. Kalau di Hutan Keramat, perjalanan kayak gini udah mengelilingi sisi hutan mah' batin Casilda antara kagum dan speechless.


Bahkan setelah mereka berjalan lebih dari 10 menit, pintu gerbang Kediaman Onyx masih belum nampak.


'Kapan sampainyaaa?' rengek Casilda.


'Ck, nggak cuma orangnya aja yang bikin kesel, kediamannya juga. Cih, nyebelin' desis Charles dengan urat-urat kekesalan di wajahnya.


Pada akhirnya, mereka bertiga dapat melihat sebuah pintu gerbang dari kejauhan. Casilda dan Charles menghela napas lega. Akhirnya mereka akan tiba di kediamannya Eden!!


"Selamat datang di pintu gerbang terluar Kediaman Onyx. Tugas saya hanya mengantar sampai di sini. Setelah ini akan ada hantu lain yang akan memandu kalian" kata Kiel dengan ekspresi datar seperti biasanya.


"Bentar bentar bentar, kau bilang ini pintu gerbang terluar?" tanya Casilda.


"Ya."


"Emang ada berapa gerbang?"


"Lima gerbang."


Casilda dan Charles berkedut kesal.


OMONG KOSONG MACAM APA INIIII?!?!?!?!


TBC.