The Heiress Of The Legendary Family [S1]

The Heiress Of The Legendary Family [S1]
Ujian Knight: Tahap 3



Hanya kurang dari 10 menit lagi tahap ketiga Ujian Knight akan dilangsungkan. Tak terasa kelompok Casilda berada di sana 3 jam lebih awal dari perkiraan.


Dalam waktu itu pula sudah ada beberapa kelompok yang tiba di bangunan itu. Walau sudah berjam-jam berlalu, Casilda masih terheran-heran.


Kenapa kedua orang yang berada di dekatnya ini masih bermusuhan satu sama lain?


'Kayaknya sekarang aku yang tertekan, deh' keluh gadis bermanik safir itu. Matanya memandang jengah ke arah beberapa kelompok yang berada jauh darinya. Sengaja, agar dia tak melihat wajah kedua orang yang mendadak absurd ini.


'Kau masih berani menatapku seperti itu? Memangnya kenapa kalau aku mendekati Casilda? Apa. Ada. Masalah?' tanya Eden dalam hati disertai wajah penuh seringaian.


'Tentu saja ada! Aku di sini untuk melindungi Kakak dari lelaki brengshake sepertimu! Kakakku yang baik dan suci tak boleh dinodai oleh tangan kotormu!' balas Charles dengan wajah kesal.


'Hee~ Memangnya kenapa? Casilda juga tak keberatan, kan?'


'Aku yang keberatan, bodoh!!'


'Memangnya kau siapanya? Kau tak berhak mengekangnya seperti itu.'


'AKU ADIKNYA, BODOH!! KAU TAK TAHU ATAU PIKUN, SIH?! AKU ADIKNYAAA!!'


Perdebatan panas itu masih terus berlanjut, membuat Casilda gerah sendiri. Niat hati ingin pindah tempat duduk, namun ditahan oleh kedua orang yang berada di kanan kirinya.


'Demi makanan, kenapa kalian jadi gila kayak gini? Udah, atuh! Aku capekk!' Untuk pertama kalinya Casilda merasakan hal ini.


'Kayaknya ini yang mereka rasakan kalau aku lagi absurd, deh... Palingan ini karma buatku....' lirih gadis itu sambil menunduk lelah. 'Tapi...' Diangkatnya kepalanya itu guna melihat anggota kelompok lain.


'KENAPA MEREKA MELIHAT KE ARAH KAMI?! APA SALAHKU?! AKU MALU BANGET, WOYY!!!' Casilda menjerit di dalam hati. Apaan, sih? Dia kan nggak ngapa-ngapain. Kenapa diliatin?


'Aku nggak punya salah, woy... Jangan diliatin, atuh.... Aku malu...' Casilda kembali menunduk dengan frustasi.


Padahal dia yang biasanya malu-maluin.


Lalu, apa alasannya orang-orang itu melihat ke arah mereka berdua?


Apa lagi, tentu saja karena fisual mereka yang cetar membahana. Eden dengan aura misterius, Charles yang terkesan cool, dan Casilda yang tomboy namun cantik.


Siapa yang tak ingin melihat orang-orang dengan fisual tinggi, coba?


Casilda mungkin tak begitu mendengarnya, karena pendengarannya tak sebagus Charles. Namun, ia dapat merasakan kalau orang-orang itu sedang membicarakan mereka bertiga.


"Hey, mereka high class banget, ya?"


"He'em, bener banget! Serasa lihat tiga orang bangsawan di antara rakyat jelata."


"Aku iri sama cewek ituu!! Aku kan juga mau berada di dekat cowok-cowok yang kayak pangeran negeri dongeng... "


"Aku juga iri...."


"Hah? Ngapain lu iri? Lu cowok, bego!"


"Lah, iya juga, ya. Hehe..."


"Btw, cewek itu juga high class, ya!"


"Ho'oh. Aku baru liat ada cewek tomboy tapi kesannya lembut gitu. Aah, jadi pengen aku jadiin pacar, deh.."


Charles seketika menoleh sambil melotot, begitu pula Eden. "Siapa tadi yang bilang?!" tanya mereka bersamaan.


"Hiyy!!" Orang yang tadi ingin menjadikan Casilda sebagai pacarnya pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. 'Pawangnya serem-serem, cuy! Ngeri!!'


Casilda yang tak paham pun hanya bisa cengo. "Hah? Apaan? Ngapain pada liatin aku?" tanyanya pada Eden dan Charles.


"Kakak! Pokoknya, Kakak nggak boleh menjalin hubungan dengan cowok lain!! Nggak boleh!!" tegas Charles sambil menatap Casilda dengan serius.


"Hah?" beo Casilda.


"Kau tak boleh dekat-dekat cowok lain! Kalaupun boleh, kau hanya perlu dekat denganku saja!" kata Eden juga dengan wajah serius.


"Hah?"


"HEY!! SEMBARANGAN LU!!" tunjuk Charles pada Eden. "Mau gelut, ha?!"


"Oke, siapa takut!!"


Kedua pemuda itu lantas berdiri dan saling menatap tajam satu sama lain. Casilda yang masih duduk pun menepuk keningnya, ia lelah mental.


"Kyaa!! Dia diperebutkan dua cowok!!" pekik salah seorang peserta wanita dari jarak jauh.


"Yang hijau itu adiknya, jadi dia masih bisa aku jadiin pacar!! Uwoohh!! Cogan!!!"


"Kalau gitu, yang hitam buatku aja!"


"Ogah! Yang hitam juga punyaku!!"


"Dih, maruk!"


"Biarin!!"


Sementara para peserta wanita sedang memperebutkan cogan, para peserta pria sibuk memandang wajah Casilda yang begitu cantik nan anggun.


Sesekali mereka curi-curi pandang ke arah gadis bersurai biru safir itu. Mereka tak berani menatap karena takut dengan keganasan kedua lelaki yang berada di dekat gadis itu.


"Wah, kalian akur banget, ya." 'Tuan Tertawa' datang menghampiri mereka bertiga dengan senyum yang selalu merekah.


"Ah, Tukang Ketawa." Charles mengalihkan pandangannya ke arah 'Tuan Tertawa', karena ia terlalu bosan bertatap-tatapan terus dengan Eden. "Kenapa kau ke sini?"


"Ngapa? Nggak suka? Dih ngusir" sewot peserta lain yang berada dalam kelompok yang sama dengan 'Tuan Tertawa'.


"Hah? Kau siapa?" beo Charles, membuat mereka menepuk jidat secara bersamaan.


"Dia yang berantem denganmu waktu itu, Charles" jelas Casilda.


Charles mencoba mengingatnya. Ah, dia adalah orang yang berdebat dengannya karena telah mengejek Casilda.


Kretek kretek


"Oh, jadi kau yang waktu itu mengejek Kakak, huh?" tanya Charles sambil membunyikan buku-buku jarinya, bersiap memukul orang itu.


"He-hey, tenang, Bung!" Orang itu nampak sedikit khawatir dengan aura yang Charles keluarkan.


"Jangan bertindak sembrono, bodoh. Kau adalah lawanku" kata Eden, membuat atensi Charles teralihkan padanya.


"Hoo~ Kau masih ingin melawanku?~" tanya Charles dengan pelototan.


"Tentu saja, aku bukanlah pecundang, bodoh" balas Eden juga sambil melotot.


Mereka berdua pun kembali bertatap-tatapan dengan aura kurang mengenakkan.


'Tuan Tertawa' dan kedua anggota kelompoknya pun memandang Casilda, seolah menanyakan, 'Apa mereka memang seperti ini?'


Casilda mengangguk kecil. "Yep, dan aku benar-benar tertekan karena mereka."


Ketiga orang itu pun tertawa hambar. Padahal sebelumnya mereka berpikir bahwa Eden dan Charles adalah orang dengan kepala dingin dan tenang, tapi ternyata mereka berdua begitu OOC sekarang.


"Yang sabar, ya..."


"Makasih, aku se-terong, kok" balas Casilda sambil tersenyum. "Stress tak tertolong" imbuhnya lagi.


...༺♥༻...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...


...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...


...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...


...༺♥༻...


Seluruh kelompok berbaris rapi seperti awal ujian tahap kedua. Sepuluh menit telah berlalu, dan ada beberapa kelompok yang gugur karena tidak tepat waktu.


Ujian tahap kedua ini terbilang simpel, namun memerlukan kecerdasan untuk dapat menyelesaikannya. Jika mereka tak dapat menyelesaikan teka-tekinya, maka tak ada kesempatan bagi mereka untuk lolos ke babak berikutnya.


Karena sebagian besar orang percaya bahwa kekuatan adalah segalanya, padahal tak selalu seperti itu. Percuma saja memiliki kekuatan jika kemampuan otak dibawah rata-rata.


Itulah arti dari ujian tahap kedua ini. Tahap kedua ini membuktikan bahwa kepintaran juga tak kalah penting dari kekuatan.


Karena tahap kedua sudah selesai, sekarang adalah saatnya memulai tahap ketiga. Dari 25 kelompok, kini tersisa 18. Jumlahnya berkurang cukup banyak.


Sang butler pun menjelaskan ujian tahap ketiga ini. Kali ini, ujian dilaksanakan secara individu. Setiap peserta akan diberikan sebuah quest utama, yaitu mengambil beberapa barang sesuai apa yang terulis.


Tingkat kesulitannya pun berbeda-beda dan akan diacak. Setiap peserta akan diberikan 6 buah quest yang berbeda.


Mereka akan di-[Teleportasi]-kan ke sebuah tempat. Dalam jangka waktu tertentu mereka harus berhasil mendapatkan barang itu. Lalu, tanpa aba-aba, mereka akan di-[Teleportasi]-kan lagi ke tempat lain untuk mengambil benda kedua.


Dengan kata lain, mereka akan di-[Teleportasi]-kan ke 6 tempat yang berbeda. Minimal mereka harus mengambil 5 benda yang tertera di dalam quest untuk dapat melaju ke babak berikutnya.


Untuk ujian kali ini, para peserta diperbolehkan untuk membunuh satu sama lain. Apa yang terjadi pada arena bukanlah tanggung jawab panitia, itulah yang dikatakan sang butler.


'Jadi, ini yang dimaksud oleh Kak Lou waktu itu? Fyuuh, untung saja aku sudah bersiap-siap' batin Casilda.


Untuk mempersiapkan tahap ketiga, para peserta diberi waktu untuk beristirahat sebelum ujian dimulai. Hal ini dimanfaatkan oleh Casilda untuk berbicara dengan sang adik di sudut bangunan yang sepi.


"Kali ini, kita tak bisa bersama. Kau harus bisa menjaga dirimu, jangan sampai kenapa-napa" kata Casilda pada sang adik. "Jangan nekad, jangan sembrono, jangan mudah terpancing amarah, dan usahakan jangan membunuh. Apa kau mengerti?"


Charles mengangguk. "Mengerti, Kakak" balasnya. "Tapi, kalau aku terpaksa membunuhnya bagaimana?"


"Ya udah, bunuh aja" kata Casilda dengan enteng. "Itu sudah hukum alam, dimana yang kuat akan berkuasa. Tapi, kalau memang tak terpaksa, jangan sampai membunuh."


"Baik."


"Dan ini." Casilda memberikan sebuah kantong yang cukup besar pada sang adik. "Kau pasti tahu apa isinya. Itu adalah kantong tanpa batas, kau bisa memakainya sesukamu."


Charles terkejut. "Ta-tapi ini kan sangat berharga, Kakak!"


"Justru karena itu sangat berharga, jadi kuberikan padamu. Karena kau jauh lebih berharga daripada itu, Charles" kata Casilda dengan senyum yang lembut.


Senyuman gadis itu pun langsung membuat orang-orang yang memang sengaja memandangnya merona berat. Tak terkecuali Eden yang sudah seperti tomat matang.


'Di-dia sangat sempurna!' batin Eden di dalam hati.


Tentu saja, memangnya siapa yang bisa menolak aura pemikat dari Klan Sapphire? Sampai saat ini, masih belum ada orang yang tak terpikat dengan aura itu.


Di mata Eden, Casilda adalah sosok yang paling sempurna yang pernah ia temui. Dia adalah perempuan yang jauh lebih sempurna dari ibunya.


Wajah Casilda yang cantik namun tampak tegas, mata tajam bak predator, rambut lembut yang sedikit berantakan membuat gadis itu nampak berbeda dari perempuan lainnya.


Potongan rambut yang pendek membuat Casilda terlihat seperti gadis tomboy dengan badan berbentuk jam pasir. Tubuh tinggi tegap dan langkah kaki kuat membuatnya tak sama seperti perempuan lain.


Senyumannya yang begitu lembut melihat Eden mengerti bahwa Casilda dapat menjadi seorang wanita yang penuh dengan kekuatan, namun memiliki sisi keibuan yang terpancar.


Apa yang ada pada diri Casilda adalah tipe ideal bagi Eden. Pemuda itu sama sekali tak mempermasalahkan tentang wajah. Yang ia cari adalah seorang perempuan yang menyamai atau bahkan lebih hebat daripada sang ibu.


Dan Casilda lah orangnya. Ia adalah perempuan yang pintar, kuat, peduli, jago memasak—karena saat tahap kedua mereka memakan masakan Casilda sembari menunggu peserta lain—percaya diri, dan masih banyak lagi.


Sifat nekad, bar bar, dan keabsurdannya adalah nilai plus bagi Eden. Sangat sulit menemukan perempuan dengan sisi humor namun dapat melakukan apapun seperti Casilda.


Menurutnya, Casilda adalah perempuan yang paling sempurna. Perempuan pertama yang dapat membuatnya sampai merona seperti ini.


Tapi, hanya itu saja tak cukup. Eden masih belum mengetahui tentang Casilda secara pasti. Ia tak boleh langsung jatuh pada pesona orang lain begitu saja.


Oleh karenanya, Eden berjalan mendekati mereka sembari menyiapkan rencana untuk mengetahui apakah Casilda adalah sosok yang 'bersih' atau tidak.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Eden.


"Ah, aku sedang menyemangati Charles" balas Casilda yang sedang mengelus kepala sang adik.


'Cih, ngapain dia ke sini? Ganggu aja' decih Charles dari dalam hati.


"Hmm.." Eden membalasnya dengan deheman. "Lalu, apa itu?" tanyanya sambil menunjuk kantong yang Charles bawa.


Seketika saja Charles langsung memeluk kantong itu dengan erat. "Ini pemberian Kakak! Jangan diambil!!" serunya.


"Ooh, itu cuma beberapa pil yang kuberi untuk jaga-jaga" balas Casilda dengan jujur. Karena ia merasa Eden dapat mendeteksi kebohongan.


"Hmm..." Eden kembali berdehem. Matanya menatap mata Casilda dengan lekat. 'Dia tak bohong. Kenapa? Padahal biasanya orang lain akan langsung berbohong. Tapi, kenapa dia tidak?'


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Casilda yang melihat Eden terdiam selama beberapa saat.


"Ah, nggak.."


Charles memicingkan matanya. Eden nampak begitu aneh hari ini.


"Kalau misalnya aku minta pil itu, boleh?" tanya Eden pada Casilda disertai senyuman.


Charles melotot seketika. 'Jangan, Kakak!! Jangan sampai Kakak memberikan pil padanya! Nanti Kakak malah suka sama dia!! Jangan!!'


Casilda menunduk, dan Eden dengan sabar menunggu jawaban dari gadis itu. 'Nah, kira-kira, apa yang akan kau katakan? Aku begitu penasaran...'


Setelah beberapa saat terdiam, Casilda akhirnya berbicara, "...Memangnya...." Wajahnya ia angkat, dan matanya langsung bertatapan dengan mata Eden.


"Memangnya kau ini siapaku?"


DEGG


Jantung Eden seolah berhenti berdetak. Apa ini?! Kenapa Casilda menatapnya dengan tatapan aneh?


"Huh?" Eden tak mengerti.


"Aku tanya lagi, memangnya kau ini siapaku? Bisa-bisanya kau datang padaku untuk meminta pil milikku. Kau itu hanyalah orang asing yang bukan siapa-siapaku, tahu. Jadi, jangan bertindak seolah-olah kau adalah orang terdekatku. Paham?"


Eden terdiam kaget, begitu pula Charles yang sama sekali tak menyangka bahwa sang kakak akan mengatakan hal seperti itu. Apa yang dikatakan Casilda adalah sesuatu yang tak pernah mereia sangka sebelumnya.


"Pfftt...." Eden tertawa. "Ahahahaha!! Tak kusangka kau akan mengatakan itu, Casilda!!"


Gadis bersurai safir itu masih menatap Eden dengan waspada dan serius bak seekor predator yang tengah memburu mangsanya.


"Kau ini sungguh menarik!!" kata Eden lagi.


"Oh, makasih." Kini, raut wajah Casilda kembali seperti semula.


Eden kembali terkejut, lalu tertawa untuk kedua kalinya. Tawa yang tulus, seolah mendapatkan sesuatu yang belum pernah didapatkannya.


Bahkan para peserta wanita pingsan karena tawanya.


"Ahahaha! Kau ini memang selalu memberiku kejutan, Casilda!" kata Eden lagi. "Omong-omong, soal pil tadi, aku cuma bercanda. Tenang aja~"


"Lah? Cuma bercanda? Tau gitu aku nggak perlu marah" ucap Casilda sedikit merasa bersalah, walau ekspresi wajahnya tak berubah sama sekali.


Charles yang berada di samping Casilda pun menjadi kesal. 'Bisa-bisanya dia membuat Kakak marah!! Tak akan kumaafkan!!'


Eden tersenyum lembut ke arah Casilda, senyum yang belum pernah ia perlihatkan pada siapapun kecuali ibunya. Tangannya yang besar itu pun menepuk-nepuk kepala Casilda dengan lembut.


"Ternyata ini alasan kenapa Charles begitu menjagamu. Kamu adalah orang yang dapat menggoyahkan hati orang lain, yah.." kata Eden dengan nada yang lebih lembut. Ia bahkan menggunakan 'aku-kamu' pada Casilda.


"Hah?" Casilda nge-blank.


Charles mematung.


Para peserta wanita yang telah siuman memekik histeris.


Para peserta pria juga mematung dengan hati yang hancur.


'Tuan Tertawa' yang telah mengenal Eden terlebih dahulu langsung mendapatkan kapal baru, kapal Eden x Casilda.


Para penunggu hutan yang tengah mengintip pun saling meng-ghibah.


Bahkan sang butler yang datang untuk memulai tahap ketiga pun juga mematung kaget.


Mengabaikan hal itu, Eden mengelus pucuk kepala Casilda dengan lembut juga. "Semangat menjalani ujian, ya, biar kita bisa bertemu sebagai Knight."


"Aku tak sabar melihatmu memakai seragam Knight, Casilda. Jangan sampai kalah, ya. Aku akan menunggumu." Setelah mengatakannya, Eden pun pergi menjauhi mereka berdua.


"HEY!! LU TADI NGAPAIN KAKAK GUE, HAAA?! MAU MATI, LU?! SYALAND LU BRENGSHAKE!!!" Dengan penuh amarah Charles mengejar Eden.


Sementara Casilda yang ditinggal pun masih terdiam di sana.


"Ngapain dia nepuk-nepuk kepalaku? Aku kan bukan anak kecil lagi." Sayangnya, Casilda terlalu tidak peka..


Semangat untuk membuat Casilda jadi peka, yah, Eden!!


TBC.