![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
••Ujian akan dimulai.•• Casilda men-[Telepati]-kannya pada seluruh anggota kelompok kucing. ••Segera bersiap. Sergap tikus-tikus itu.••
••Siap.••
TEEEETTTT
Sesuai perkataan Casilda, ujian dimulai satu detik setelahnya. Para peserta dari kelompok tikus bersiap siaga. Mereka tak akan gentar walau menyadari betapa berbahayanya kelompok kucing.
Casilda yang masih berada di tempatnya pun berpesan pada rekan satu timnya, "Kalian harus ikuti rencana. Jangan sampai ada yang gegabah. Menger—"
"Berisik kau!" Tanpa menunggu lama lagi, si peserta gemuk melompat keluar dari tempat persembunyiannya, menuju kelompok tikus. "Aku tak memerlukan rencana untuk dapat berada di atas!!"
"Khihihi! Boss memang hebat!!" seru antek-antek si peserta gemuk itu yang mengikuti dari belakang.
"Bo-bodoh! Jangan gegabah!! Aku belum memberitahu kalian berapa jumlah mereka!! Oy!!" Sayangnya, seruan Casilda sama sekali tak digubris oleh mereka. "Cih, nyusahin aja."
Casilda mendengus kesal. 'Tak ada pilihan lain. Keberadaanku di sini pasti sudah diketahui oleh kelompok tikus. Sebaiknya aku pindah ke tempat yang lebih dekat namun tersembunyi saja' batin gadis itu.
Ia kemudian ber-[Teleportasi] ke sebuah dahan pohon yang berada di dekat kelompok tikus. Tentunya ia tak lupa mengaktifkan [Anti Sensorik] dan menyiapkan pedangnya.
'Mereka hanyalah amatiran yang tak mau mendengar perkataan orang lain. Tak semestinya mereka lolos di ujian ini' batin Casilda yang sudah kesal dengan tingkah rekan satu timnya.
Sementara itu, si peserta gemuk dan antek-anteknya sibuk menyerang kelompok tikus. Peserta gemuk itu memukul dan membanting kelompok tikus tanpa ampun, begitu pula antek-anteknya yang melakukan hal serupa dengannya.
"HAHAHAHA!! KROCO-KROCO KAYAK GINI GAMPANG BANGET DIKALAHKAN!!" seru peserta gemuk itu dengan terus memukul peserta-peserta lainnya.
"Khihihi! Boss memang benar!!" sahut antek-anteknya yang juga sedang memukul kelompok tikus.
Peserta gemuk itu menyeringai. Ia melirik ke arah tempat Casilda berada sebelum gadis itu ber-[Teleportasi]. 'Heh, kau sudah melihat kehebatanku, kan? Sudah kubilang, aku tak butuh rencana atau apalah it—loh? Kemana dia?'
Karena terlalu sibuk mencari keberadaan Casilda yang mendadak menghilang seperti tengah dighosting, peserta gemuk itu tak sadar jika ada seorang anggota dari kelompok tikus mengarahkan pemukul besi ke arahnya.
SYATT
"Jangan lengah, bodoh!" Casilda dengan heroiknya menghalangi serangan itu dengan mengayunkan pedangnya yang masih terselimuti sarung pedang ke tubuh seorang anggota kelompok tikus.
Serangan itu memang tak membunuhnya, namun dapat dipastikan jika tulang rusuk anggota kelompok tikus itu ada yang remuk karena saking kuatnya serangan Casilda.
BAGGHHH
Saking kuatnya, anggota kelompok tikus yang memiliki badan besar itu sampai terlempar dari tempatnya berdiri, dengan darah yang keluar dari mulutnya. Ia pingsan seketika, tak tahu kapan ia akan terbangun.
"Dibilangin jangan gegabah, malah ngeyel. Tau sendiri, kan, akibatnya?" omel Casilda sambil memainkan sebuah nomor dada yang ia ambil dari peserta yang diserangnya tadi.
Peserta gemuk itu memerah karena kesal, marah, dan malu yang bercampur menjadi satu. Urat-urat kekesalan tercetak jelas di wajahnya.
Dengan penuh amarah, ia menarik kerah baju Casilda, membuat gadis itu terangkat dari tanah. "Brengshake...." umpatnya.
"SYALAND KAU! KAU PIKIR AKU BEGITU LEMAH?! KAU MEREMEHKANKU, WANITA SYALAND?!"
Casilda merengut seketika. "Dih, paan, sih?! Bukannya bilang makasih, malah ngamok. Minimal bilang makasih sama aku, lah!" sewotnya.
Bukannya mereda, amarah peserta gemuk itu semakin menjadi-jadi. "BRENGSHAKE KAU—"
JLEBB
Sebuah jarum yang tak begitu panjang tertancap pada leher peserta gemuk itu. Cengkeraman tangannya pada kerah baju Casilda terlepas.
BOMM
Kemudian, kepala peserta gemuk itu meledak dengan kerasnya. Ceceran darahnya terciprat kemana-mana, termasuk ke wajah antek-anteknya yang tak bisa merespon apa-apa.
Kelompok tikus pun sama kagetnya karena kejadian mendadak yang mengejutkan itu.
Casilda yang terlindungi oleh sebuah barrier pun mendengus kesal. "Nah loh, kena karmanya, kan? Makannya dengerin omongannya orang lain" omelnya. Ia kemudian menoleh ke atas pohon. "Btw, makasih, yaa."
Peserta lainnya pun ikut menoleh ke arah pandangan Casilda. "Si-siapa?!"
"Haahh... Casilda, kalau ada kejadian kayak tadi, kamu seharusnya melawan, dong" dengus Eden sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Hehe, ya maap" sahut Casilda dengan watados.
"Kakak!! Apa Kakak baik-baik saja?!" Charles menghampiri Casilda dengan tergesa-gesa. "Apa ada yang terluka?! Apa tangan busuk itu menyentuh Kakak?! Apa Kakak diperlakukan buruk olehnya?! Oleh mereka?!"
"Oy oy.. Tenang aja, Charles. Kakak gpp, kok" balas Casilda sambil menepuk-nepuk kepala sang adik dengan lembut.
"Makasih udah bantu Kakak, ya..." imbuh Casilda lagi dengan senyum yang sangat menawan. Sementara orang yang diberi senyuman pun menangis terharu.
"Hiks.. Ka... Kakak tersenyum padaku... Hiks... Aku bahagia... Hiks...." tangis Charles sambil tersenyum.
"Btw, Eden, makasih udah melindungiku pakai barriermu. Kalau nggak, aku pasti bakal kena darahnya orang tadi" kata Casilda juga tersenyum pada pemuda berambut hitam itu.
'Hm? Dia kenapa?' batin Casilda dengan heran.
'Ukh... Casilda manis banget!! Cantik banget!!! Perempuan idamanku banget!! Tipikal menantu idaman Ibu!! Ukh... Terlau silau!! Hatiku tersucikann!! AAARRRGGHHH!!!'
Sementara mereka berdua tengah berada di pikirannya sendiri-sendiri, Casilda melirik ke arah peserta lainnya yang ketakutan melihatnya, Eden, dan Charles.
"Bu-bukannya membunuh rekan satu kelompok itu adalah hal yang dilarang?! Ke-kenapa kalian melakukannya?!" tanya antek-antek si Peserta Gemuk dengan gemetar.
Charles mengangkat sebelah alisnya. "Bodoh, emangnya ada peraturan kayak gitu? Kagak ada, lah!" ketusnya.
Eden mengangguk setuju. "Kita diperbolehkan untuk membunuh, kan? Tak ada peraturan khusus tentang siapa yang dibunuh, jadi, membunuh rekan satu tim sendiri bukanlah hal yang dilarang."
"Makannya dengerin!!" omel Casilda lagi. Entah mengapa, hari ini ia seperti ibu-ibu yang selalu mengomel. "Eh iya juga, kok kalian di sini? Gimana ujiannya?" tanyanya pada kedua pemuda yang ada di dekatnya.
"Aku sudah menyelesaikannya, Kakak" balas Charles sambil menunjukkan sebuah nomor dada milik kelompok tikus.
Eden kembali mengangguk sembari menunjukkan sebuah nomor dada. "Aku juga."
"Terus, tim kalian?"
"Nggak tahu. Habis ambil nomor dada ini, aku langsung pergi ke Kakak."
"Hm, sama."
Casilda mengangguk kecil. "Oke, oke.. Aku paham... Berarti, kalian nggak tahu keadaan tim kalian sendiri, ya?"
Mereka berdua mengangguk bersamaan. "Habis, nggak ada peraturan yang menyuruh kita untuk mempedulikan rekan satu tim, kan?" ceplos Charles.
"Iya, sih... Tapi, Si Tukang Ketawa itu gimana? Teman-temannya juga gimana?"
"Kamu tak usah memikirkan mereka. Mereka tak selemah itu" balas Eden. Alisnya menukik, ia tak suka Casilda mementingkan lelaki selain dirinya.
"Oh oke" angguk Casilda. 'Dari auranya, Si Tukang Ketawa sama temen-temennya emang udah kelihatan kuat, sih' imbuhnya di dalam hati.
"Lalu...." Charles melirik ke arah peserta lainnya yang masih berada di sekitar mereka. "Apa yang sebaiknya kita lakukan pada mereka?"
Casilda dan Eden menoleh, membuat para peserta mematung seketika. Niat hati ingin kabur, namun apa daya, mereka tak bisa bergerak. Mereka terlalu ketakutan pada ketiga orang yang berada di depan mereka ini.
'Monster..... Mereka bertiga... Adalah monster...' begitu isi pikiran para peserta.
"Oh, iya juga. Kira-kira, kita enaknya ngapain, ya?" Casilda meletakkan tangannya di dagu. Eden dan Charles dengan setia menunggu.
"Biarin mereka hidup aja, lah" ucapnya setelah beberapa menit berpikir.
"Apa kamu yakin?" tanya Eden.
Casilda mengangguk kecil. "Yep, aku juga lagi mager bunuh orang. Lagipula, kita udah mendapatkan barang yang diperlukan, buat apa bunuh mereka? Ga ada gunanya."
Gadis itu pun melenggang pergi dari sana, diikuti kedua bulol—bucin tolol—nya yang selalu mengekorinya kemanapun.
Para peserta hanya diam melihat kepergian mereka, karena tak ingin berurusan dengan ketiga monster itu.
Namun tidak dengan salah satu antek-antek Si Peserta Gemuk. Ia mengambil sebilah pisau dari saku celananya dan berlari maju untuk menusukkan pisau itu ke tubuh Casilda.
"MATILAH KAUUU!!!"
BUAGHH
Antek-antek itu terpental jauh akibat tendangan yang Casilda layangkan ke ulu hatinya. Sama seperti peserta yang tadi diserang oleh Casilda menggunakan pedang, ia juga pingsan dengan tulang rusuk yang remuk.
"Bodoh" sinis Casilda dengan tatapan tajam. "Kau kurang pintar untuk dapat membunuh orang lain."
Eden dan Charles menatap antek-antek itu dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. Casilda hampir dilukai, tentu saja mereka sangat marah!
"Sudahlah, tak ada gunanya memikirkannya lagi. Tujuan kita hanya untuk lolos sebagai Knight, bukan untuk membunuh peserta lain" kata Casilda, membuat Eden dan Charles mau tak mau harus menurutinya.
Casilda berjalan menjauhi mereka terlebih dahulu, disusul Charles yang berada di belakangnya. Eden masih berada di tempat yang sama sembari memandangi peserta lainnya yang sudah sangat gemetar.
"Hey, dengar. Casilda adalah perempuan yang kusukai, satu-satunya orang yang aku cintai. Dan jika aku melihat kalian atau orang lain mencoba untuk melukainya, maka... Aku tak akan segan untuk membuat mereka sengsara. Apa kalian mengerti?!" Setelah mengatakannya, Eden pun melenggang dari sana menyusul kedua kakak beradik yang sudah cukup jauh di depannya.
Para peserta sontak meneguk ludah kasar, tak berani berbicara sedikitpun. Kini, mereka tahu bahwa Casilda lah yang seharusnya paling ditakuti, karena gadis itu dapat mengendalikan monster lainnya yang berada di sekitarnya.
Benar, Casilda adalah puncak rantai makanan, itulah yang mereka semua pikirkan.
TBC.
(Antek-antek si gendut mau bunuh Casilda)