![The Heiress Of The Legendary Family [S1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/the-heiress-of-the-legendary-family--s1-.webp)
Casilda, Eden, dan Charles tengah duduk santai di bawah pohon sembari memakan buah-buahan yang segar dan dipetik langsung oleh gadis bersurai safir itu.
Mereka makan dengan lahap, sama sekali tak peduli apakah rekan satu kelompok mereka baik-baik saja atau tidak.
Casilda membawakan cukup banyak buah-buahan, yang sebagian besar berbeda dengan buah di dunia kita. Ada semangka berwarna merah dengan daging buah yang berwarna hijau, ada pisang berwarna biru, pepaya berwarna pink, dan masih banyak lagi.
Beberapa buah itu ia makan dan sebagian ia simpan untuk dijadikan pil. Karena di kekaisaran, buah-buahan seperti itu tak dijumpai di sana. Buah-buahan ini hanya ditemukan di pulau ini saja.
"Kira-kira, habis ini bakal ada berapa tahap lagi, ya?" tanya Eden sambil mengunyah buahnya. 'Manis, kayak Casilda.'
"Satu tahap lagi, itu jadi babak terakhir" balas Casilda yang sibuk menghitung buah hasil petikannya (curiannya).
"Eh beneran? Akhirnya kita bisa santai..." lega Charles sambil mengelus-elus perutnya yang membesar karena kekenyangan.
"Berapa bulan, Charles?" tanya Casilda.
"Huh? Maksudnya?"
"Gpp." Casilda pun kembali menghitung buah-buahan yang ia petik tadi.
"Nanti, babak terakhir kita disuruh ngapain, ya?" gumam Eden yang dapat didengar oleh Casilda.
"Cepet-cepetan pergi ke bangunan awal" balas gadis berambut safir itu.
"Eh? Darimana kamu tahu?"
"Biasa, insting."
Eden mengangguk kecil. Dipandanginya Casilda yang entah mengapa masih belum selesai menghitung buahnya. 'Aku baru ingat kalau Casilda punya insting yang luar biasa hebat..' batinnya dengan kagum.
"Ekhem!" Charles berdehem kesal. 'Bisa-bisanya dia menatap Kakak di depanku! Nyebelin! Aku nggak suka! Nggak bakal kurestui!'
Eden yang tak menyadari bahwa ia ditatap tajam oleh Charles masih terus memandangi Casilda dengan tatapan memuja.
Charles kembali berdecak kesal. 'Ajg! Syaland!' umpatnya di dalam hati.
"Akhirnya selesai juga... Ternyata buah yang kucuri—eh maksudku kuambil banyak juga.." monolog Casilda.
"Emang mau dipakai untuk apa?" tanya Eden yang masih setia memandang wajah cantik itu.
"Buat pil, terus kujual" balas Casilda menoleh ke arah pemuda bersurai hitam legam itu.
Eden tersenyum lembut. 'Dia bahkan sudah bekerja sendiri. Dia sangat mandiri, Ibu pasti senang memiliki menantu sepertinya...' batinnya penuh dengan aura kegembiraan.
"AKU BELUM MERESTUI KALIAN, AJG!!" sentak Charles seketika.
"!?" Casilda mengalihkan padangannya ke arah lain secara tiba-tiba. Ia memasang kuda-kuda dan menggenggam ujung pedangnya dengan erat.
Eden dan Charles ikut bersiaga. Eden juga menggenggam ujung pedangnya dan Charles bersiap dengan jarum beracunnya.
Krasak krasak...
Semak-semak di depan mereka bergesekan selama beberapa saat, lalu kemudian tak bergerak.
••Di depan kita ada orang, jumlahnya 6. Mereka adalah anggota kelompok tikus. Tiga dari mereka membawa pedang, dua orang adalah 'Mage' dan satunya tipe support•• jelas Casilda lewat telepati.
Eden dan Charles mengangguk. Eden mengeluarkan pedang keduanya. Charles bersiap untuk menggunakan Teknik [Jiwa] miliknya untuk merasuki salah satu di antara lawan mereka.
••Mereka datang! Support-nya bersembunyi di balik semak bersama dengan seorang mage•• kata Casilda. ••Charles, bersiaplah untuk merasuki salah satu di antara kedua orang itu!••
••Mengerti, Kakak!••
••Eden, bantu aku untuk menahan keempat orang lainnya. Aku akan menyibak semak-semak tempat persembunyian mereka agar Charles dapat merasuki salah satu dari kedua orang itu.••
••Aku mengerti.••
Krasak...
SYATT
Muncullah empat orang dari balik semak-semak itu, dengan salah satu di antara mereka berada di barisan belakang.
Zwinggg
Eden memasang tiga buah barrier pada dirinya sendiri, Casilda, dan Charles. Barrier itu berwarna emas menyala dan dalam sekali lihat saja sudah jelas kalau itu kokoh.
Casilda mengayunkan pedangnya untuk menyibak semak-semak tempat persembunyian dua orang lainnya, namun tak ada seorang pun di sana.
Gadis itu pun menyadarinya. ••Charles, mereka menggunakan [Ilusi Tipe I] untuk menjebak lawan mereka. Untuk dapat melihat kedua orang itu, kau harus merasuki tubuh seorang mage yang berada di garis belakang itu.••
••Baik, Kak.•• Charles mengangguk. Ia kemudian melihat seorang mage yang berada di belakang tiga orang lainnya.
"[Perpindahan Jiwa]." Tubuh Charles menghilang seketika dan jiwanya merasuki mage itu. Ketiga teman mage itu tak menyadari hilangnya , keberadaan Charles karena terlalu fokus menyerang Casilda dan Eden.
"Hanya segini kemampuan kalian? Hmph, lemah~" ejek Casilda dengan wajah menyebalkan. Ia melakukannya agar musuhnya tak menyadari hilangnya keberadaan Charles.
Dan rencana dadakan itu berhasil. Mereka tersulut amarah dan menyerang Casilda. Namun sebelum itu terjadi, Eden menghalangi serangan mereka.
"Jangan sakiti Casilda" ucap Eden dengan wajah yang menggelap.
"Ihihi, makasih, Eden!" Casilda memanfaatkan itu untuk menebas lawan mereka.
"KHUAKKHH!!"
"Ihihihi, berhasil" ujar gadis itu dengan senang, tak peduli dengan darah yang terciprat di wajahnya.
Deg degg
Jantung Eden seakan berdetak dengan sangat kencang. Casilda begitu indah dan menawan dengan darah di pipinya itu!!
Sementara Eden sibuk berdebar-debar, Charles yang kini berada di dalam tubuh sang mage pun melirik ke belakang, lebih tepatnya ke arah semak-semak tempat persembunyian kedua orang itu. Dan benar apa kata Casilda, ia dapat melihat keberadaan kedua orang itu dengan tubuh mage ini.
Tanpa suara, Charles mengelurarkan jarum beracunnya tanpa disadari oleh mereka.
"Ukh, kenapa lukanya sulit kusembuhkan? Padahal itu hanya luka tebasan saja" heran seorang support yang tengah memberikan [Heal] pada temannya yang terkena tebasan Casilda.
"Tentu saja, karena pedang milik Kakak dapat menyerap apapun, termasuk skill [Heal]-mu yang rendahan itu" balas Charles.
"Eh?" Kedua orang itu kaget, dan di tengah kekagetan mereka, Charles melempar sebuah jarum beracunnya hingga menembus kepala kedua orang itu.
Brukk
Tubuh mereka berdua ambruk ke tanah, Charles hanya menatapnya dengan tatapan datar. Kemudian, ia mendekati kedua orang lainnya yang masih tersisa.
Sepertinya mereka sedang dipermainkan oleh Eden dan Casilda. Nampak jelas jika Eden dan Casilda sama sekali tak serius melawan mereka.
"Ah? Norb? Kenapa kau kemari?" tanya salah satu pemegang pedang pada Charles, atau lebih tepatnya tubuh yang digunakan Charles. "Tapi, tak masalah. Cepat bantu kami."
"Oke..." balas Charles dengan suara rendah. "Akan aku bantu kalian menghadap Tuhan lebih cepat" imbuhnya.
"Hah? Ap—AKKKHHH!!"
Tanpa ampun, Charles menusukkan banyak jarum beracun pada tubuh kedua orang itu dalam waktu bersamaan.
Brukk
Mereka berdua pun terjatuh ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.
"[Keluar]." Jiwa milik Charles pun keluar dari tubuh mage itu dan membentuk wujud Charles yang berdiri di samping Casilda.
Sang Mage yang sudah mendapatkan kesadarannya pun terkejut melihat teman-temannya yang sudah tak bernyawa lagi. "Ap-apa ini?.." tanyanya sambil gemetar ketakutan.
Ia jatuh terduduk, begitu shock melihat ketiga temannya yang berbaring penuh darah di depannya. "Mu.... Mustahil.." Ditengoknya kedua temannya yang bersembunyi di balik semak. Matanya membola ketika melihat mereka juga tak bernyawa lagi.
"Si... Siapa?.." lirihnya dengan gemetar.
"Eehh?~ Kau tak tahu?~ Itu kan perbuatanmu sendiri~" kata Casilda sambil terkikik geli. "Ihihi~ Bodoh~"
"I-itu... ITU MUSTAHIL!! MA-MANA MUNGKIN AKU MEMBUNUH TEMAN-TEMANKU SENDIRI!?" sengak mage itu dengan kasar.
"Hmph, sadarlah. Kau yang membuat mereka mati, bodoh" sinis Charles. 'Walau aku yang menggunakan tubuhmu, sih.'
"Mu... Mustahil...." Mage itu kembali bergetar ketakutan. 'Te-ternyata memang benar... Me-mereka bertiga... Sa-sangat berbahaya!'
"..Aa...... Aaaa..." Mage itu tak dapat berkata-kata lagi, ia terlampau takut.
"Gimana kalau kami yang membawamu pergi bersama mereka?" tawar Casilda dengan senyum cerah hingga matanya tertutup. "Kalau begitu..." Ia membuka kedua matanya yang kini bersinar indah.
"Matilah."
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...༺♥༻...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...꧁ ༺ ᴛʜᴇ ʜᴇɪʀᴇꜱꜱ ᴏꜰ ᴛʜᴇ ʟᴇɢᴇɴᴅᴀʀʏ ꜰᴀᴍɪʟʏ༻ ꧂...
.......
.......
...『"ᴘᴏᴋᴏᴋɴʏᴀ, ꜱᴇʟᴜʀᴜʜ ᴋᴇʙᴜꜱᴜᴋᴀɴ ᴋᴀʟɪᴀɴ ᴀᴋᴀɴ ᴀᴋᴜ ᴜɴɢᴋᴀᴘ!"』...
...。☆✼★━━━━━━━━━━━━★✼☆。...
...༺♥༻...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
"Haahhh..." Untuk kesekian kalinya, Casilda menghela napas lelah. "Padahal niatnya cuma mau ambil satu nomor dada, eh malah dapat lebih" keluhnya.
"Ya nggak papa, kan? Anggap aja kita dapat bonus dadakan" ucap Eden.
"Haaisshh... Iya, deh. Iyaa..."
*TEEEETTTT
"Waktu habis! Kalian semua, berhenti bertarung*!" Sebuah suara yang diyakini milik sang butler menggema di seluruh wilayah itu.
"Kalian yang berhasil bertahan, baik dari kelompok kucing maupun kelompok tikus, akan mengikuti ujian tahap terakhir."
"Ujian tahap ini sangat simpel, kalian hanya harus sampai ke mansion awal dalam waktu 30 menit. Tak ada syarat khusus. Dimulai sekarang!"
Para peserta yang berhasil bertahan langsung panik setengah mati. Perjalanan mereka dari tempat ini sampai mansion membutuhkan waktu yang lama, mana mungkin bisa sampai hanya dalam waktu 30 menit saja!
"Wah, ujiannya benar-benar disuruh pergi ke mansion" ujar Eden.
"Dah, yok pergi." Casilda menggenggam tangan Eden dan Charles. Tentunya pemuda berambut hitam itu memerah padam.
"E-eh?!"
"Paan? Kan cuma [Teleportasi]" ucap Casilda.
Charles merengut. 'Deja vu...'
Eden tersentak kecil. Benar juga, kenapa dia tak kepikiran? Casilda kan orangnya polos dan tak peka minta ampun. Dan juga, mereka kan pernah melakukannya dulu, kenapa ia begitu kepedean?
"Ekhem, maaf. Lanjutkan" dehem Eden dengan genggaman pada tangan Casilda yang semakin dieratkan.
Charles mencibir kesal. 'Vvangke lu.'
SYATT
Dalam sekejap mata, mereka bertiga sudah berada di mansion itu.
Prok prok prok..
"Sudah kuduga kalian yang datang pertama" kata Sang Butler sambil bertepuk tangan tepat di depan mereka.
"AJG KAGET!!"
"Ya, dan sudah kuduga Anda akan berdiri di depan kami seperti hantu" angguk Casilda.
"Kenapa nggak bilang dari tadi?!"
"Soalnya kalian lucu kalau kaget."
Seketika kedua pemuda itu merona malu bak seorang perawan yang digoda oleh lelaki tampan.
"K-Kakak bisa aja.. °/////°"
"C-Casilda... °///-///°"
Casilda cengo. 'Me-mereka kenapa? Kayak cewek kurang belaian aja' komentarnya di dalam hati.
"Ekhem!" Sang Butler berdehem, membuat atensi ketiga orang itu tertuju padanya. "Karena kalian yang datang pertama kali, kalian harus menyerahkan identitas dan melakukan beberapa pengecekan."
"Oke, siapa dulu yang mau dicek?" tanya Casilda pada kedua pemuda yang berada di dekatnya.
"Kalian bisa melakukan pengecekan secara bersamaan" kata Sang Butler.
"Eh? Kenapa?"
Sang Butler pun tersenyum. "Karena aku telah merekomendasikan kalian sebagai satu kelompok, dan itu sudah disetujui oleh atasan" balasnya.
"Oh oke, jadi dimana kami melakukan pengecekan?"
"Ikuti aku." Mereka pun mengekori butler itu untuk melakukan pengecekan.
••Kakak, bagaimana kalau mereka berdua mengetahui identitas asli kita?•• tanya Charles lewat [Telepati]
••Yang akan tahu hanya Eden, karena butler itu tak memiliki akses untuk mengetahui identitas kita•• balas Casilda. ••Dan untuk itu, tenang saja. Aku yakin 100% kalau Eden tak akan membocorkan identitas kita••
Charles pun menjadi heran. ••Kenapa Kakak begitu yakin?••
Casilda tersenyum ke arah sang adik. ••Kau akan tahu nanti, Charles.••
Pemuda bermanik heterokrom itu hanya bisa mengangguk saja, tak memiliki pilihan lain selain menunggu apa yang dimaksud oleh kakaknya ini.
Kemudian, Charles melirik Eden yang fokus pada jalan yang mereka lalui.
'Kenapa Kakak begitu yakin padanya?'
TBC.